Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 153


__ADS_3

Enji menunggu lama di dekat sekolah Bayu. Untung saja ada cafe kecil di dekatnya, jika tidak akan mati kebosanan Enji. Hari ini Bayu pulang pukul 13.30, karena ada jadwal ekskul yang dilanjut 30 menit setelah jam pulang sekolah.


Enji dengan kacamata bertengger di hidung dan tatapan pada laptop dengan sesekali melihat ke arah gerbang. Lima menit lagi Bayu akan pulang. Terlihat mobil yang biasa menjemput Bayu sudah datang dan parkir. Sopirnya yaitu Pak Anto keluar dan berdiri di samping mobil. 


Enji melepas kacamatanya dan menghabiskan minuman yang ia pesan. Tak lupa membayar dan membereskan laptopnya.


Enji lantas melangkahkan kakinya menuju gerbang ketika pintu gerbang dibuka dan anak murid berjalan keluar dengan teratur.


"Bayu," panggil Enji kala Bayu ingin masuk ke dalam mobil. Gerak Bayu terhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Terlihat wajah bingung Bayu. Ia mengerutkan dahinya.


"Saya," jawab Bayu datar namun tetap sopan.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Enji penuh harap.


"Maaf Tuan, Anda siapa? Saya ataupun Tuan muda tak mengenal Anda, maaf kami tidak bisa memenuhi hal itu," tegas Pak Anto melarang.


"Benar, saya tidak mengenal Anda, jika Anda ingin bicara, ikutlah ke rumah. Bicara bersama Mama dan Papa serta kakak saya," tambah Bayu. Enji tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah foto.


"Aku Enji, adik kakakmu," ujar Enji menyodorkan fotonya dengan Karina.


"Enji?" beo Bayu. Bayu mencoba mengingat. Cukup lama otaknya mencari memori itu. 


"Tapi bukannya Anda sudah tiada?" tanya Bayu bingung.


"Akan aku jelaskan, jika memang harus bertemu dengan Mama dan Papa, maka ayo. Naiklah aku akan mengikuti dengan motorku," ujar Enji. 


Bayu mengangguk. Pak Anto segera menjalankan mobil setelah Bayu duduk anteng di mobil.


Enji mengikut di belakang. Setelah 30 menit perjalanan, tibalah mereka di kediaman Wijaya. 


Amri dan Maria juga baru kembali dari kantor. Pekerjaan di kantor tidak menumpuk sebab dikerjakan bertiga. Oleh Maria, Amri dan asistennya Amri.


Maria dan Amri mengernyit melihat Enji yang memakai helm. Membelalakan mata setelah helm Enji terlepas. 


"Dia?" gumam kaget Amri dan Maria.


Enji tersenyum manis. 


"Jeon Jungkook?" tanya Maria ragu. Senyum Enji pudar digantikan dengan senyum masam.


"Nyonya, apa Anda tak bisa membedakan yang mana Kookie dan Enji?" tanya kesal Enji.


"Enji?" tanya Amri. Amri ingat. Enji adik Karina. Tapi kan sudah tiada, kok bisa berada gagah di depan mereka? 


Malah Karina dan Arion tak ada konfirmasi lagi. Kan bingung jadinya.


"Mama tahu dari mana Jeon Jungkook?" tanya Bayu yang dari tadi menyimak.


"Itu Bik Susan, asal selesai tugas pasti kerjanya lihat instagram, youtube, twitter, google," terang Maria.


"Ngapain Ma?" tanya Amri.


"Stalking dengan BTS," jawab Maria.


"Ohh." Amri dan Enji ber-oh-ria.


"Emm." Enji berdehem mengingatkan tentang keberadaannya. 

__ADS_1


Ketiga orang itu menatap Enji. Bayu merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ingin memeluk namun malu dan takut. 


"Ayo masuk, kita bicara di dalam," ajak Amri seraya menggiring anak dan istrinya masuk. Enji mengangguk dan segera mengikut. Sesampainya di ruang tamu, Bik Susan langsung menyuguhkan hidangan tamu. Enji segera menceritakan apa yang sebenarnya dari A sampai Z kecuali Bayu yang adalah anaknya. Dipenggal dulu, biar misterius begitu.


"Begitu toh, kamu ini memang aneh, sama seperti kakakmu," kekeh Amri.


"Anda bisa saja," malu Enji.


"Oh ya, tidak mungkin kan kamu datang ke sekolah Bayu dan ikut kemari untuk mengatakan hal itu saja, penting sih, tapi pasti ada yang lebih penting lagi," terka Maria. Bayu bergabung dengan mereka setelah ganti Bayu, sholat dan makan siang. 


"Anda benar sekali Nyonya," sahut Enji.


"Heit! Panggil kami Mama dan Papa, jangan Nyonya dan Tuan. Kamu kan memanggil Karina kakak, jadi kamu adalah anak kami," ujar Maria. Amri setuju.


"Hmm boleh. Hal terpenting yang mau saya sampaikan adalah tentang Bayu," ujar Enji.


"Bayu?" beo Amri dan Maria.


"Saya?" heran Bayu.


"Ya, sebenarnya saya adalah ayah dari Bayu," ucap mantap Enji menatap Bayu penuh kasih dan cinta. Amri dan Maria saling pandang. Bayu membeku dalam diamnya. Mencerna pengakuan Enji.


"Kamu adalah anak saya," ujar Enji lagi penuh tekanan.


"Tunggu!" seru Amri. 


"Saya tidak paham dengan ini. Karina membawa Bayu dari negara dengan status adik. Dan kini kamu katakan dia anakmu. Jadi Karina adalah tante Bayu dan kami adalah kakek dan nenek begitu?" tanya Amri.


"Yap, benar. Ini adalah semua bukti. Asli tidak diubah," ujar Enji mengalihkan layar laptop ke arah Maria dan Amri. Mereka membacanya.


Tak lama, panggilan terjawab dan menunjukkan Karina tengah berada di pantai. Pasirnya putih dan terlihat pepohonan serta saung di sekitarnya.


"Apa apa Ma, Pa?" tanya Karina menunjukkan wajahnya dan Arion. Arion tersenyum.


Amri menceritakan apa yang terjadi. Karina dan Arion mendengarkan dengan teliti. 


"Apa itu benar Kak?" tanya Bayu, nadanya penuh harap dengan jawaban iya.


"Benar Bayu. Dia ayahmu. Enji Tirta Sanjaya," jawab Karina serius.


Sontak saja air mata yang sejak tadi ditahan meluap dan jatuh. Enji langsung menghampiri Bayu dan memeluknya erat.


"Maafkan Ayah, Sayang," pinta Bayu.


Bayu diam tak menjawab dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Enji. Terisak menumpahkan kesedihan dan kebahagiannya. Karina tersenyum bahagia dan mengusap air mata di sudut matanya. Amri dan Maria berpelukan, ikut bahagia.


Enji melepas pelukannya dan mencium kening serta pipi Bayu.


"Maafkan Ayah, Nak," pinta Enji sekali lagi.


"Bayu maafkan Ayah, tapi Bayu minta penjelasan tentang mengapa Ayah meninggalkan Bayu dan Ibu," ucap Bayu mengusap air mata Enji.


"Pasti akan Ayah ceritakan," janji Enji menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingnya Bayu.


Sekali lagi mereka berpelukan. 


"Oh ya, Karina sama Arion ada kabar baik lagi loh," ucap Karina.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Maria penasaran.


"Arion sudah dapat donor mata dan operasi tiga hari mendatang!" jawab Arion bahagia Amri dan Maria membekap mulut mereka dan mengangguk. Bahagia, putra mereka akan kembali normal. Tidak kekurangan fisik lagi.


"Selamat Nak," ucap Amri.


"Selamat juga untuk Papa," balas Karina.


"Loh kok Papa?" tanya Maria.


"Ya iyalah Pa, kan kalau Arion sembuh nanti, Papakan gak repot-repot lagi ke kantor," jawab Karina.


Amri mengangguk. Setelah berbicara lebih dari sepuluh menit, barulah panggilan video berakhir. Kini Bayu duduk di pangkuan Enji. Berbicara dari hati ke hati antara ayah dan anak. Maria dan Amri lebih memilih membiarkan keduanya bicara empat mata. Mereka pergi ke kamar.


***


Di saat semua member bermain dengan ceria, hanya ada satu yang gabut. Setelah mengumpulkan satu ember kepiting yang tidak akan ia masak, Koya muter-muter bingung.


Buku, Koya butuh buku, tapi perutnya juga lapar. Melihat ke arah member lain yang bermain di air pantai, bukan bermain sih tapi mencari ikan.


Tentu saja dengan bantuan para anggota Pedang Biru yang lebih ahli. Melihat Karina, Arion dan tiga bawahan yang duduk di saung dengan hidangan kelapa muda, tapi ia lapar bukan haus.


Akhirnya Koya memutuskan pergi sendiri. Mengambil peta di kantongnya.


"Astaga, lecek seperti ini," gumam Koya melihat peta yang melunak gara-gara terendam air.


"Ah permisi, di mana saya bisa menemukam dapur?" tanya Koya pada salah anggota yang lewat di depannya.


"Ini jalan lurus ke sana, nanti ada perempatan, belok kanan. Ada pertigaan kedua belum kanan lagi, nah dapur ada di dekat kebun sayur," jelas anggota itu.


"Terima kasih," ujar Koya menepuk pundak anggota itu. Anggota itu mengangguk dan segera melanjutkan perjalanan. Koya pun memulai langkahnya.


"Perempatan belok kanan," gumam Koya.


"Ini pertigaan pertama, berarti yang kedua nanti baru belok kanan lagi," lanjut gumam Koya.


Di samping kebun hidroponik, bangunan bernamakan Blue Kitchen. Koya segera masuk. Dapur sepi, hanya satu dua orang di ruangan besar itu.


"Yang simple saja lah." Koya melangkah menuju dan mencari lemari makanan siap saji dalam beberapa menit. Aneka jenis mie terdapat pada satu rak seperti rak pada supermarket. Ada yang cup, kemasan, goreng serta kuah. Pandangan Koya tertuju pada cup goreng. Koya mengambilnya.


"Siwon?" gumam Koya melihat tampilan kemasan. Koya mengeryit. Baru tahu bahwa Siwon jadi endors mie goreng cup.


Perut sang leader berbunyi. Ia segera membuat mie untuknya.


***


Joya termenung di dalam kamarnya. Karina tak jadi berbicara dengannya dan menyuruh pengawal membawanya kembali ke kamarnya. Tak lupa Joya juga dibantu berganti pakaian dan diperiksa oleh dokter. 


Joya menghela nafas panjang. Hidupnya kini bagai misteri. Ingatan tentang lukisan hari itu juga mengusik pikirannya. Joya belum sadar bahwa Darwis sedang menjalani hukuman. Pikirannya kini tertuju pada kata-kata Karina sebelum ia kembali.


"Bagaimana jika kita ini saudara? Bagaimana jika Ibumu masih hidup? Dan bagaimana jika aku ingin membunuh ayahmu? Apa yang akan kau lakukan Joya Argantara? Oh tidak Joya Sanjaya?"


Pertanyaan Karina terus terngiang di kepalanya. Joya memejamkan matanya. Menjawab satu demi satu pertanyaan. Jika mereka saudara, darimana jalannya. Dan memang dua belas tahun lalu nama belakangnya adalah Sanjaya. Joya tak terlalu peduli dengan itu. Ia penurut para Ayahnya. 


Dan jika mereka saudara pasti jalannya adalah Karina anak dari pamannya, Tirta Sanjaya. Tetapi ia tahu bahwa Pamannya itu hanya punya anak kembar. Tewas semua pula. Joya tahu bahwa Ayahnya lah yang menghabisi keluarga itu. Tetapi ia bungkam. Joya tahu resiko jika ia buka mulut. 


Dan Karina mau membunuh ayahnya? Berarti Karina tahu masalah itu. Tidak. Joya harus memberitahu hal itu pada Ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2