
"Wis, jaga pandangan istrimu. Jangan ngelirik suami orang," ucap Karina dingin, posesif dengan Arion.
"Iya," jawab singkat Darwis.
"Enak saja. Suami kamu tuh suruh jaga aurat, aurat diumbar," sahut Joya, memeluk Darwis dari samping.
Karina melirik Arion. Arion menelan ludahnya dan tersenyum.
"Sudah-sudah, kalian itu sudah punya pasangan masing-masing. Ngapain ngelirik pasangan orang?" lerai Amri, mendamaikan Karina dan Joya.
Karina dan Joya sama-sama mendengus.
"Kalian ini aneh loh, ini mau jenguk apa mau ngelud sih?" heran Maria.
"Ngelud? Ayo," sahut Bayu bersemangat.
Enji dengan cepat menutup mulut Bayu, agar tak tambah panas.
"Aih, lebih baik kita makan saja. Kalian menginap kan?" ucap Darwis mencairkan suasana yang hening.
"Nggak!" jawab Arion dan Karina bersamaan.
Amri dan Maria terkekeh tanpa suara sedangkan Joya dan Darwis saling tatap dan menaikkan bahu mereka.
Bayu mengusap bibirnya setelah mulutnya dibuka oleh ayahnya.
"Kami masih ada urusan. Jadi setelah makan kami pulang," jawab Arion.
"Ya. Lagipula hanya menjenguk Joya. Hm, kebetulan aku kemari, berkas laporan mana? Aku akan memeriksanya sekarang. Bukankah ini sudah akhir bulan?"
Karina menatap Darwis meminta laporan tentang kasino.
"Ada di ruang kerjaku," jawab Darwis.
Karina dan Darwis kemudian undur diri menuju ruang kerja Darwis. Sedangkan Joya tersenyum canggung pada kedua mertua dan adik Karina. Mencairkan suasana, Maria mengajak Joya mengobrol, yang kadang Amri dan Enji ikut menimpali. Sedangkan Bayu fokus pada handphonenya.
Di ruang kerja Darwis, Karina duduk di kursi kerja Darwis dan membaca laporan bulanan langsung. Karina membaca lembar demi lembar dengan serius. Meneliti dan mencemati apakah ada hal yang janggal.
Lima menit kemudian Karina menandatangi berkas kemudian menutupnya dan tersenyum.
"Seperti biasa," ucap Karina.
"Hm," sahut Darwis senang dan lega.
Selepas itu mereka semua menuju meja makan dan makan bersama. Satu jam kemudian Karina dan keluarga pamit pulang.
Bersamaan dengan Karina dan Arion yang hendak memasuki mobil, sebuah mobil masuk dan berhenti tak jauh dari mobil mereka.
Pintu mobil tersebut terbuka dan turunlah Satya dan Rian dengan setelan kasual mereka.
Mereka melemparkan pandangan heran dengan banyaknya mobil di rumah. Tatapan mereka terhenti pada Arion dan Karina. Mereka membuka kacamata yang mereka kenakan.
"Karina?" seru mereka tak percaya.
Karina memutar bola matanya malas. Dan menutup pintu sebelum ia masuk.
Dengan segera Rian dan Satya berlari mendekati Karina.
"Karina? Kau di sini? Mengapa tak mengabari kami?" tanya Rian, memeluk Karina.
Bergantian dengan Satya. Arion menatap datar hal tersebut.
"Kau menjenguk Joya?" tebak Satya menjawab pertanyaan Rian.
Karina mengangguk.
"Sudah selesai dinas luar negerinya? Ada kendala?" tanya Karina.
"Ada sih. Tapi sudah kami selesaikan. Masa' kami disuruh tidur dengan anak gadisnya supaya bisa menjalin bisnis. Ckck pak Tua itu sungguh mata duitan," terang Rian, merasa geli dengan apa yang ia alami.
"Oh, jadi kau tidur dengannya? Kalau hanya tidur tak apa. Yang penting jangan begitu bangun minta kalian menikahinya. Jika ia campakkan saja mereka ke laut!" komentar Karina, santai dan mengangkat satu alisnya.
"Oh, itu sadis dan sayangnya kami melakukannya," ujar Satya, tanpa rasa bersalah dan tersenyum.
"Keluarga seperti mereka tak akan bisa jadi bagian dari Pedang Biru dan kami," ujar Rian.
Berdarah dingin, bahkan bawahannya saja menuruni sifatnya. Tapi ya salah mereka juga sih. Sudah tahu Rian dan Satya itu siapa, malah main api dan akhirnya mereka terbakar sendiri, batin Arion, menyandarkan tubuhnya ke mobil.
"Oke, bagus! Dan setelah ini kirim laporannya ke emailku. Batasnya jam 18.00, selamat bekerja," titah Karina, membuat Rian dan Satya tersedak dan menatap Karina tak percaya.
"Jangan membantah. Aku mau pulang," tegas Karina.
Dengan menarik nafas kasar keduanya mengangguk dan tersenyum lalu membungkuk melepas kepergian Karina dan keluarga pulang ke negara Y.
__ADS_1
"Ayo Ar. Kita sudah terlambat," ajak Karina.
Arion mengangguk dan membukakan pintu untuk Arion.
"Kami pulang, sampai jumpa lagi," ucap Arion.
Satya dan Rian mengangguk. Keduanya melambaikan tangga saat ketiga mobil itu bergerak melaju meninggalkan rumah mereka.
"Kalian sudah pulang?"
Suara bariton Darwis membuyarkan lamunan Rian dan Satya. Kedua berbalik dan mendapati Darwis berdiri di depan pintu.
"Ya, sudah selesai. Untuk apa lama-lama?" jawab Rian.
"Nggak bawa yang lain? Kalian tangan kosong?"
Darwis meneliti Rian dan Satya.
"Ada nih berkas. Tapi nggak bisa dimakan cuma bisa jadi uang," jawab Satya menunjukkan tas di punggungnya.
"Oh, sudah ayo masuk. Lihat hari air langit sudah turun," ajak Darwis, melihat rintih halus hujan yang turun.
"Ya ayo. Kita juga harus segera mengirimkan tugas kita," setuju Rian.
Setibanya di ruang tengah mereka mendapati Joya tengah membaca majalah tentang ibu hamil. Darwis bergabung sedangkan Rian menuju Dapur dan Satya menaiki tangga menuju lantai atas.
*
*
*
"Ayo dong Vin, kok macet di situ saja?" semangat Raina, melihat Calvin yang kesusahan memanjat.
"Licin Ra," keluh Calvin.
"Ayolah, itukan ada tangganya," ucap Raina menunjuk cekungan di batang pohon kelapa sebagai tangga alami.
"Sakit. Tajam pinggirannya," ujar Calvin, merasa sakit pada telapak kakinya.
"Ckck, nggak sakit loh. Memang begitu. Hm andai saja aku tak sedang hamil, pasti aku yang akan memanjatnya."
Raina meledek Calvin.
Andai saja kau tak hamil, aku tak perlu memanjat pohon ini. Oh Tuhan berikanlah aku kekuatan. Selama ini aku tak pernah memanjat pohon kelapa. Lebih baik memanjat pohon beringin saja, cetus Calvin dalam hati, berusaha mati-matian memanjat kelapa.
Calvin yang sudah separuh jalan, menoleh dan tanpa sengaja kakinya kehilangan pijakan dan akhirnya jatuh ke tanah.
"Aduh! Patah pinggang aku Ra," ringis Calvin.
"Vin," pekik Santi dan Raina bersamaan.
Raina dan Santi mendekat dengan wajah khawatir.
Raina dengan segera membalikkan tubuh Calvin dan memberikan pijatan pada pinggang Calvin.
"Gimana? Enakan?" tanya Raina cemas.
"Ya, lumayan," ucap Calvin duduk dan bersandar pada pohon kelapa.
"Makanya jangan meleng. Fokus! Mau masuk rumah sakit lagi?" tanya Santi, dijawab jawaban gelengan Calvin.
Santi menghela nafas dan melenggang masuk kembali ke dalam rumah. Tinggallah Calvin dan Raina yang saling pandang.
"Aku nggak mau masuk rumah sakit lagi!" ucap Calvin.
"Ya pakai tangga saja, biar cepat," ucap Raina.
Calvin mengiyakan dan segera berdiri menuju gudang mengambil tangga.
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul 17.00 waktu negara Y. Sam menghentikan laju mobilnya di depan lobi perusahaan KS Tirta Grub.
Sudah dua hari ini Lila pulang kerja sore setelah menikah. Lima menit kemudian, Lila muncul keluar dari pintu masuk bersama dengan Aleza dan Sasha.
"Kak, suami tercinta jemput tuh," ucap Sasha menyenggol Lila.
Lila tersenyum dan melambaikkan tangannya pada Sam yang bersandar pada body mobil.
__ADS_1
Sam membalasnya dan tersenyum manis.
"Hai kak Sam," sapa Aleza dan Sasha bersamaan.
"Hai Leza dan Sasha," jawab Sam.
"Yang," ujar Sam, mencium kening Lila setelah Lila mencium telapak tangan kanannya.
"Hm,"sahut Lila.
Wajah Aleza dan Sahsa memerah samar. Dengan segera mereka izin undur diri. Sedangkan Lila dan Sam tertawa pelan.
"Sudah yuk, kita pulang," ajak Lila.
"Hm," jawab Sam.
Membukakan pintu untuk Lila.
"Thanks, Samsyul!"ucap Lila.
"Samuel Anggara," ucap Sam tegas menyebutkan nama lengkapnya.
Lila tertawa renyah.
Di perjalanan Lila melempar pandang keluar dan melihat abang tukang bakso lengkap dengan gerobak dan isi dagangannya berjejer rapi di kaki lima. Ada juga tukang sate, mie ayam, dan sejenisnya.
"Sam, makan dulu yuk, aku ingin bakso," ujar Lila, menatap Sam yang sedang fokus mengemudi.
"Bakso? Yang di sana?" tanya Sam, mengingat tempat biasa mereka makan bakso.
"Hm, boleh," jawab Lila semangat.
"Ya sudah. Tapi jangan nambah banyak ya," peringat Sam, yang mendapat balasan cemberut dari Raina.
"Ikh, kamu mah, aku kan lagi hamil, masa' nggak boleh nambah sih? Tega kamu," kesal Lila, memukul keras lengan Sam.
Sam meringis dan tetap kekeh pada ucapannya.
"Oke, boleh. Tapi jangan pedas. Saosnya cukup sejumpit saja," ucap Sam yang jengah dengan rengekan Lila.
Lila tersenyum.
"Nggak janji, oke," jawab Lila.
Setiba di tempat langganan abang bakso mereka, Lila dan Sam langsung memesan.
Saat pesanan datang, Lila langsung menambahkan kecap dan sedikit saos sambal. Namun, tatapan Sam lengah saat Lila mulai makan. Untuk bakso miliknya, Sam hanya menambahkan kecap. Ia kebalikan dari Lila yang tidak suka pedas.
Saat Sam lengah, Lila menambahkan cabai yang disembunyikan di belakang bajunya dan langsung memcampurnya. Keringat membasahi wajah Lila karena rasa pedas yang ia rasakan.
Sam yang sudah menyelesaikan makannya, mengeryit melihat Lila yang keringatan dan kepedasan.
Sam lalu menilik bakso Lila. Kuahnya benih, kalau dirasapun tak pedas. Sam lalu mengedarkan pandangannya ke arah meja. Meja hanya terdapat gelas, air minum, botol kecap, dan saos, tisu, tusuk gigi serta sate kerang dan telur puyuh.
Nggak ada mangkok cabai, kok dia keringatan, batin Sam, langsung merebut mangkuk bakso Lila.
Lila menatap Sam kesal dan memelototkan matanya.
"Astaga! Pedas sekali, kamu nggak bisa dilarang ya?" pekik Sam, merasa lidahnya dan kerongkongannya kepedasan.
Sam lantas lansung menenggak habis air putih di gelas.
"Kenapa? Kata kamu kan nggak boleh makan saus banyak-banyak. Tapi kalau cabai kan nggak dilarang," sahut Lila ketus, merebut kembali mangkuk baksonya dan memakannya membelakangi Sam.
"Sama saja! Itu satu artian. Lila, kasihan anak kita. Itu pedas sekali loh," bujuk Sam, memegang pundak Lila.
"Nggak! Ini maunya anak kamu. Nanti anak kamu ileran sama ngences mau hah?" jawab Lila, tegas.
"Ya nggak maulah. Tapi pakai ukuran dong," jawab Sam.
"Apa yang mau diukur? Sudah habis, ayo pulang," ujar Lila, meletakkan kasar mangkuk bakso yang telah kosong.
Mengambil tasnya dan melenggang keluar menuju mobil. Meninggalkan Sam yang melongo.
"Tumben cuma satu mangkok, biasanya paling sedikit dua mangkok. Duh pasti marah dianya nih, ck ah bodoh sekali kau Sam."
Dengan bersungut-sungut, Sam memesan satu mangkok bakso lagi namun untuk dibawa pulang. Dengan saos dan cabai terpisah.
Setelah membayar semuanya, Sam kembali ke mobil dengan menenteng plastik berisi satu bungkus bakso.
"Nih. Jangan ngambek lagi. Tapi habis ini jangan makan yang pedas-pedas lagi," pinta Sam, menyodorkan plastik yang ia bawa.
Lila meliriknya dan langsung menyambar.
__ADS_1
"Nggak janji," jawab Raina.
Sam mendengus dan segera menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan parkiran kembali ke rumah.