Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 346


__ADS_3

Kebahagiaan tentunya melingkupi keluarga besar Karina dan Arion. Kabar mengenai Karina yang telah melahirkan kedua pewaris telah menyebar dengan cepat. Seluruh jajaran yang berada dalam kendali mereka tentunya sangat bersuka cita. Pewaris yang telah dinantikan akhirnya lahir. 


Posisi keduanya yang sama-sama pengusaha besar, membuat lantai tertinggi rumah sakit ini, tempat Karina beristirahat melepas lelah penuh dengan aneka jenis bunga yang melambaikan kebahagiaan. Karina memang tidak menggunakan kamar pasien, ia punya lantai pribadi sendiri. 


Bahkan di luar rumah sakit, papan bunga berjajar memenuhi bagian depan rumah sakit melebar sampai ke jalan. 


Bersamaan dengan kabar yang telah tersebar, pengamanan terhadap Karina dan kedua anaknya diperketat, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Lift menuju lantai pribadi Karina dijaga dengan ketat. Begitu juga dengan pengamanan rumah sakit. Karina dan Arion menitahkan pada bawahan mereka menjaga setiap sudut rumah sakit. 


Untuk tamupun diseleksi. Sasha dan Aleza bertugas sebagai penerima tamu. Mereka mendapat tempat duduk di depan lift menuju lantai tertinggi. Jika tidak masuk daftar, maka tidak diperbolehkan naik. Tapi kebanyakan hanya mengirim karangan atau bucket bunga. 


Di dalam kamar, Karina duduk bersandar pada kepala ranjang, makan dengan disuapi Arion. Amri dan Maria tak henti-hentinya memuji dan mengagumi kedua cucu kembar mereka. Bintang, bayi perempuan itu mirip dengan Arion sedangkan Biru lebih mirip ke Karina. Bintang lebih aktif daripada Biru yang anteng. Bahkan saat Bintang menangis haus, Biru hanya melirik sekilas.


"Ngomong-ngomong Bintang dan Biru punya inisial nama yang sama. B-C-T-W," tutur Amri.


Arion tersenyum tipis menanggapinya.


"Benarkah?"


Maria baru sadar. Amri mengangguk.


"Bintang Calysta Tirta Wijaya dan Biru Candra Tirta Wijaya," jelas Amri.


"Sebenarnya nama kedua mereka aku tukar," ujar Arion.


"Ditukar?" 


Amri dan Maria bertanya menatap Arion bingung.


"Kami tidak tahu siapa dulu yang akan lahir, Bintang atau Biru. Tapi karena nama mereka dari awal sudah ditempatkan Bintang dan Biru, maka aku mencari nama kedua yang cocok dengan nama pertama. Jika yang lahir duluan Biru maka ia akan bernama Bintang Chandra Tirta Wijaya sedangkan Bintang menjadi Biru Calysta Tirta Wijaya. Nama Bintang dan Biru cocok  dipasangkan dengan nama kedua yang manapun," papar Arion.


Karina sedikit tercengang. Amri dan Maria mengangguk mengerti. 


"Papa kira namanya memakai Putra dan Putri. Rupanya Tirta," ucap Maria.


"Tentu saja. Mereka berdua adalah pewaris untuk perusahaan dan organisasiku."


"Untuk Wijaya Grub, anak ketiga kami kelak yang akan mewarisinya," tambah Arion.


"Kami tidak masalah mau anak mana yang mewarisi Wijaya Grub. Papa yakin kalian akan mendidik anak kalian sama rata dan pasti memiliki kemampuan," sahut Amri.


Li, Elina, Gerry, dan Mira masuk ke dalam kamar Karina. Li dan Gerry baru bisa datang di malam hari karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Elina menunggu Li sedangkan Mira harus bekerja dan mengurus pasien lain.


Mira sendiri baru pulang seminggu yang lalu. Pulang dengan membawa kabar bahagia terutama untuk Gerry. Akhirnya Gerry akan menjadi seorang ayah. Mira sedang hamil tiga minggu. 


Kedua sahabat Arion sendiri datang menjenguk sekitar pukul 16.00 bersama dengan istri mereka. Mereka hanya tinggal sebentar karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.


Li meletakkan bingkisan berisi buah di meja sofa. Gerry menghampiri Karina yang menatapnya dengan satu alis naik, menggoda Gerry. Gerry menatap Karina dengan malu dan bahagia.


"Ah ayolah. Usiamu sudah hampir kepala tiga, harapanmu sudah terkabul mengapa masih malu-malu?"kekeh Karina.


Gerry memegang jemari Karina. Mira sudah rusak cemburuan lagi. Gerry dan seluruh bawahan Karina memang mencintai dan menyayangi Karina. Cinta yang sangat tulus, ingin menjaga dan melindungi, bukan memiliki. Cinta yang normal untuk ukuran adik dan kakak.


"Selamat my Queen. Putra mahkota kita telah lahir," ujar Gerry.


"Putra mahkota kita?"


Arion mengeryit tidak suka.


"Ya kita. Pedang Biru," sahut Li meredakan aroma cemburu yang mulai menguap.


"Pilar pertama kedua juga akan segera lahir bukan?"


Karina menatap Elina yang melihat kedua anak Karina bersama  dengan Mira, Amri, dan Maria.

__ADS_1


"Benar. Ali akan segera lahir," balas Li ikut menatap Elina.


"Apakah pilar pertama anak Darwis dan Joya?"tanya Arion memastikan.


"Hm. Gibran," jawab Gerry.


"Aku tahu namanya!"sahut Arion.


"Queen kami menambah pengaman lagi di rumah sakit ini," ujar Li serius.


"Ada masalah apa?"tanya Karina penasaran.


"Kami menangkap pergerakan dari Scorpio. Aku juga sudah mengirim pasukan elit untuk menemukan dan menangkap mereka," jelas Li.


"Selain itu kami juga menambah penjagaan di rumah Anda," tambah Gerry.


"Tidak perlu dicari. Mereka akan datang sendiri. Kalian bawa kedua anakku ke ruang rahasia cafe. Aku dan Arion akan menghadapi mereka," tegas Karina. 


"Tidak Karina. Kami yang akan menghadapi mereka. Lebih baik kau dan mereka yang bersembunyi!"tolak tegas Gerry.


"Ini perintah! Bukan permintaan! Lakukan perintahku! Bawa istri kalian, Aleza, dan Sasha juga. Tetap di sana sampai aku memberi kabar. Aku sudah menyiapkan susu jika mereka haus. Pergilah setelah azan!"tegas Karina.


"Lakukan perintah itu! Aku dan Karina yang akan menghadapi mereka. Keselamatan anak kami lebih penting!"tegas Arion.


Pasangan itu menatap Li dan Gerry dengan tatapan tidak menerima penolakan. Li dan Gerry mengangguk dengan terpaksa. 


"Bawa juga Alia bersama dengan kalian. Kami akan ikut membereskan parasit yang mengganggu hidup kehidupan Arion dan Karina!"ujar Amri.


Diikuti oleh anggukan Maria. Arion dan Karina menatap Amri dan Maria dengan tatapan rumit.


"Empat lebih kuat dari dua. Kalian tenang saja, kami ikut karena kami mampu!"ucap Amri lagi.


Karina dan Arion hanya mengangguk. Elina dan Mira pada awalnya saling tatap dengan tatapan tidak mengerti. Tapi pada akhirnya mereka mengerti.


"Kami akan menjaga Bintang dan Biru dengan nyawa kami, Queen!"ucap Li, Elina, Gerry, dan Mira serentak. 


Karina dan Arion tersenyum. 


Bintang dan Biru dalam keadaan tidur saat digendong oleh Li dan Gerry. Mereka turun menuju basement pribadi Karina. Keberadaan basement ini rahasia. Hanya Karina yang tahu. Untuk keluar dan masuk dibutuhkan kartu akses yang hanya ada pada Karina. Di sana sudah terdapat sebuah mobil hitam dengan kaca gelap. 


Keenamnya langsung masuk dengan Li yang menyetir. Melewati lorong panjang dengan cahaya yang redup. Lorong yang sangat panjang. Lima menit berlalu dengan kecepatan pelan, belum juga mencapai ujung lorong. 


Hingga akhirnya mereka tiba di jalan buntu. Tidak ada jalan lain. Li memajukan mobil, hampir menabrak pembatas. Terdengar suara klik!


Pembatas itu terbuka. Li kembali melajukan mobil. Mengamati pintu keluar lorong tersebut. 


"Ini?" 


Li dan Gerry terperangah kaget.


Tembusan lorong tersebut adalah jalan buntu di belakang Cold Cafe.


Malam semakin larut. Suasana rumah sakit sunyi senyap. Lorong-lorong yang sepi dengan pencahayaan sedikit redup menambah suasana suram. 


Di luar, angin dingin bertiup dengan kencang, membuat para pengawal yang menjaga di luar rumah sakit merapatkan baju mereka. Tetap waspada, semakin waspada.


Tapi semua keheningan itu pecah ketika alarm kebakaran berbunyi dengan nyaring. Membuat para pengawal berlari masuk untuk mengecek. Para pasien dan perawat yang mendapat giliran jaga malam langsung panik. Perawat bergegas membantu para pasien keluar dari rumah sakit. 


Di kamar, Karina dan Arion saling lirik. Karina menggeleng pelan.


"Ini hanya pengalihan, Ar!"ucap Karina setelah melihat jam tangannya.


"Sudah dimulai. Tetap waspada, Sayang!"sahut Arion, mengisi amunisi ke dalam pistolnya. 


Karina telah berganti pakaian. Celana dan kaus hitam. Karina juga mempersiapkan pistol miliknya. 

__ADS_1


Boom.


Para pasien berlarian takut saat mendengar suara ledakan di lantai tertinggi, lantai 5. Para pengawal yang awalnya tidak terlalu panik dengan alarm kebakaran di mana mereka tahu itu cuma tipuan, langsung bergegas membantu dengan cepat, sebagian dari mereka menuju lantai 5, memeriksa.


Di atas rooftop, terlihat sebuah helikopter mendarat. Enam orang berpakaian hitam dan bersenjata turun dan masuk melalui lubang yang disebabkan oleh ledakan tadi.


Lampu lantai lima sengaja tidak dinyalakan. Membuat para penyusup itu lebih waspada dan melangkah dengan hati-hati. 


"Hanya enam orang. Cari mati kalian!"desis Karina.


"Kamu dan Mama tetap di dalam. Buat aku dan Papa yang menangani mereka!"ucap Arion hendak berdiri namun ditahan oleh Karina.


"Pengawal kita sudah cukup untuk mereka!"tahan Karina.


"Aku yakin ini baru pembuka. Pria tua itu tidak mungkin hanya mengirim enam orang payah!"lanjut Karina.


"Kita tunggu saja."


Karina mengenakan kacamatanya. Begitu juga dengan Amri dan Maria. 


Benar saja ucapan Karina. Saat para pengawal yang diluar sibuk dengan membantu para pasien dan perawat ke tempat yang aman, ada segerombolan pria berbaju hitam masuk ke dalam rumah sakit lengkap dengan pistol mereka. 


Rumah sakit benar-benar diserang. Arion mengirim pesan pada Calvin dan Sam agar membantu mereka.


Lorong lantai lima kini terang dengan lampu senter yang dinyalakan oleh penyusup. 


Perkelahian dan baku tembak dengan para pengawal pun tak terelakkan. Suara tembakan dan teriakan menggema diikuti dengan satu persatu dari mereka tumbang.


Karina berdecak sebal. Berdiri diikuti Arion, Amri, dan Maria. 


"Papa dan Arion akan keluar. Mama dan Karina tetap di dalam," ujar Amri bersiap keluar diikuti dengan Arion.


"Hati-hati!"ucap Karina dan Maria bersamaan.


Di luar, Amri dan Arion melihat banyak tubuh tergeletak tak bernyawa di lantai. Melangkah waspada, menilik sekeliling.


Boom!


Keduanya terperanjat saat mendengar suara ledakan. Dari kamar Karina!


Saat keduanya hendak berlari menuju kamar, mereka tertahan dengan beberapa penyusup. Mereka melawan. Semakin lama semakin banyak seakan tak ada habisnya.


Amunisi mereka habis. Bertarung dengan tubuh adalah bagian selanjutnya. Untung saja di dalam kamar Karina terdapat beberapa macan senjata.


Di dalam kamar, Maria dan Karina beradu tembak dengan penyusup yang masuk dari lubang ledakan yang langsung masuk ke dalam kamar. 


"Sial!"


Karina kehabisan amunisi. Maria bersembunyi di belakang lemari, mengisi amunisinya.


Uh. Sialan!


Karina memegang lengannya yang terkena tembakan. Mengerahkan robot nyamuknya itu menyuntikkan racun kepada para penyusup.


"Ah!"


Karina terkesiap mendengar teriakan Maria.


"Keluar kau anak ingusan! Ibumu ada padaku! Keluar jika ingin melihatnya hidup!"


Suara berat yang membuat Karina bergetar. Dengan terpaksa Karina menampakkan diri dengan kedua tangan terangkat ke atas. 


"Karina!"


Maria berteriak. Ia sendiri dipegangi oleh dua orang juga akan tetapi kepalanya ditudongkan pistol.

__ADS_1


"Ah. B*engsek!"


Karina mengumpat saat ia dipaksa berlutut dengan kedua dipegangi oleh dua orang. Kondisi tubuh pasca melahirkan yang masih lemah ditambah luka tembak di lengan membuat Karina sedikit tidak berdaya. 


__ADS_2