Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 50


__ADS_3

"Rayuanmu semakin sering saja," komentar Karina merebut tissue yang dipegang Arion. 


"Biarin," balas Arion mendekatkan wajahnya ke wajah Karina.


"Mau apa lagi?" tanya Karina menjauhkan wajahnya. Arion malah menahan kepala Karina dari belakang.


Cup.


Cup.


Cup.


Cup.


"Kecupan selamat pagi Sayang," jawab Arion mengelap bibirnya dengan ibu jari tangannya.


"Huh telat! Ayo cepat kita ke bandara," gerutu Karina. 


"Iya-iya istriku Sayang," ujar Arion tersenyum manis.


***


Empat puluh lima menit kemudian mereka tiba di bandara. Lima belas menit lebih awal dari waktu yang ditentukan.


Di bandara Ferry telah menunggu dengan koper di tangannya. Pagi itu ia menggunakan pakaian kasual.


"Sudah siap semua?" tanya Arion. Tangannya tak pernah lepas dari Karina setelah keluar dari mobil.


"Sudah Tuan Muda. Sepuluh menit lagi kita berangkat," jawab Ferry memberitahu.


"Bagaimana dengan hotel?" tanya Arion lagi.


"Semua sudah beres Tuan Muda," jawab Ferry.   


Arion mengangguk puas. Sepuluh menit kemudian mereka menaiki pesawat pribadi keluarga Wijaya yang akan segera take off menuju negara A.


Perjalanan membutuhkan waktu sekitar tiga jam penerbangan. Selama di pesawat, Arion sibuk membahas pekerjaan dengan Ferry. Sedangkan Karina diam mengamati dan mendengarkan, sesekali ia memainkan handphonenya.


Tiga jam sudah berlalu. Pesawat yang mereka tumpangi mendarat sempurna di bandara kota A di negara A. Ternyata Lila dan Raina menunggu Karina di bandara. Karina segera memberi kode agar membuat dirinya pisah dari Arion.


"Karina kami sudah lama menunggumu," seru Lila memeluk Karina.


"Cepat kita pergi dari sini," bisik Karina di telinga Lila. Lila mengangguk kecil.


 


"Hmm ...  Tuan Arion kami pinjam istrimu sebentar ya …," ujar Lila langsung menarik Karina masuk ke luar bandara menuju mobil.


"Eh … tunggu aku ikut," seru  Arion.


Kopernya ia serahkan pada Ferry. Melihat itu dengan sigap Raina menghalanginya.


"Tuan kami cuma pinjam sebentar kok. Sebelum makan siang, kami akan mengantar istri Anda ke hotel. Lagian kita kan satu hotel," cegah Raina.


Arion berpikir sejenak. Lagian dia juga akan membahas pekerjaan dengan Ferry dan juga relasi bisnisnya di negara A. Jadi apa salahnya membiarkan Karina pergi bersama sahabatnya daripada kebosanan menunggu dirinya selesai bekerja.


"Hmm … baiklah. Tapi ingat, jangan sampai dia tergores sedikitpun apalagi sampai terluka," ancam Arion. Raina tersenyum dan langsung menyusul Karina dan Lila ke mobil. 


Arion ikut berjalan keluar bandara menuju mobilnya dengan Ferry yang membawa dua koper. Koper miliknya dan milik Arion.


Sesampainya di mobil, Raina langsung mengambil posisi mengemudi. Di sampingnya ada Lila sedang di bangku belakang adalah Karina yang duduk dengan menyilangkan kakinya.


"Ke perusahaan," perintah Karina.


Mobil melaju perlahan meninggalkan bandara menuju perusahaan KS Tirta Grub di negara A.


Karina mengambil wine yang terdapat di kulkas mini yang menyatu dengan pintu mobil. Tanpa menuang ke gelas Karina langsung menengguk wine langsung dari botol.


"Nona lebih baik Anda jangan melanjutkan minum. Sebentar lagi kita sampai di perusahaan," ujar Lila memberi peringatan. 


Karina yang pada dasarnya memiliki toleransi yang tinggi terhadap alkohol mengabaikan peringatan Lila.


"Sudahlah. Hanya satu botol," lirik Karina menengguk kembali winenya.


Lila dan Raina hanya dapat menghela nafas dan berpandangan satu sama lain.


Sepuluh menit kemudian mereka tiba di parkiran khusus CEO perusahaan. Gedung perusahaan tampak menjadi bangunan tertinggi di sana.


Bangunan setinggi 70 lantai itu berdiri kokoh dan megah. Lantai dan pilar lobby terbuat dari marmer putih. Sebelum keluar dari mobil Karina menggunakan topeng untuk menyembunyikan identitasnya. 


Karina diikuti Lila dan Raina segera menuju lift khusus Presdir untuk naik ke lantai di mana ruangannya berada. Tak sampai satu menit mereka sudah sampai di lantai 70.


"Panggil William segera ke ruanganku!" tegas Karina.


Ruangan CEO  tampak bersih tanpa debu karena rutin dibersihkan walaupun tidak ditempati. Hanya sekali dalam setahun Karina memeriksa setiap anak cabang perusahaannya di negara lain.


Lila segera menghubungi William yang merupakan penanggung jawab perusahaan di kota A. Karina menghidupkan komputer di meja kerjanya. Tak lama, William datang dengan was-was ke hadapan Karina.


"Maaf saya tidak mengetahui kedatangan Anda, Nona," sesal William takut. Karina tersenyum tipis di balik topengnya dan menyangka dagunya.

__ADS_1


"No problem," ujar Karina.


"Kirim semua data perusahaan ini kepadaku," perintah Karina. William mengangguk dan segera keluar dari ruangan Karina. 


Tak lama semua data perusahaan cabang kota A sudah masuk ke email Karina. William kembali lagi  ke ruangan Karina dengan membawa berkas tertulis.


"Periksa berkas tertulis itu. Saya ada urusan penting!" perintah Karina pada Lila dan Raina. Sedangkan William menunduk takut.


Karina segera berdiri dan melangkah keluar. Namun, sebelumnya ia meminta kunci mobil pada Raina. 


***


Karina melajukan mobilnya menuju markas Pedang Biru di kota A. Li dan Gerry sudah lebih dulu tiba. Sesampainya di markas, Karina disambut oleh Li, Gerry, Sasha dan jangan lupakan Miu. Karina segera melangkahkan kakinya menuju ruang pengawasan.


"Retas seluruh CCTV kota," perintah Karina. Gerry dan Sasha segera bekerja. Karina menunggu dengan tidak sabaran. Kembali satu botol wine berada di genggamannya.


Lima belas menit kemudian, seluruh CCTV kota A sudah berhasil diretas. 


"Queen gawat. Ada peringatan dari kepala pengawas kota," seru Sasha panik. Karina meletakkan winenya dan berjalan mendekati layar monitor.


"Balas saja peringatannya. Katakan jika aku yang meretasnya untuk mencari buronan nomor berapalah itu tapi yang pasti dia incaranku selama 10 tahun," jawab enteng Karina.


"Baiklah Queen," jawab Sasha


Tak lama ada balasan dari kepala pengawas kota. Ia mengatakan bahwa mereka akan ikut membantu. Karina tersenyum tipis.


"Segera temukan Berto sebelum pertemuan berlangsung. Aku yakin dia pasti akan keluar dari persembunyiannya," perintah Karina.


Li, Gerry dan Sasha segera memantau seluruh  kota melalui CCTV. Sudah dua jam lebih mereka memantau namun apa yang dicari tak kunjung muncul. Karina menguap bosan. Botol wine yang ia pegang sudah kosong melompong.


Karina melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Akhirnya Karina memutuskan untuk pulang ke hotel.


"Lanjutkan pemantauan kalian. Kabari aku jika ada hasilnya," ucap Karina keluar dari ruang pemantauan untuk kembali ke hotel di mana Arion menginap.


***


Di sebuah kamar hotel, seorang pria mondar-mandir resah seperti menantikan seseorang. Berulang kali ia melihat handphonenya berharap ada notifikasi pesan atau panggilan masuk.


"Ke mana dia pergi?" gumamnya.


Lelah mondar-mandir, pria itu mendaratkan tubuhnya di ranjang. Saat matanya mulai terpejam pintu kamar terbuka. Pria itu bangun dan melihat siapa yang datang.


"Akhirnya kau pulang Sayang. Ke mana saja dirimu?" seru pria itu memeluk orang yang dipanggil sayang itu.


"Aku merindukanmu," bisik pria itu.


"Apa salahnya kau kan istriku!!" jawab Arion santai namun penuh tekanan.


"Tapi kau tak mencintaiku," ketus Karina melewati Arion hendak menuju kamar mandi. Arion menahan tangan Karina.


"Karena aku mulai menyukaimu, Karina," tutur Arion memeluk Karina lagi. Karina terdiam dalam pelukan Arion mencerna penuturan Arion.


Wajahnya menggelap seketika. Karina meronta dan berusaha melepaskan diri dari Arion. Arion semakin memeluk erat Karina lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Karina. Arion lantas mencium bibir Karina dengan penuh kasih sayang.


Karina semakin meronta. Tubuhnya terasa lemas sehabis meminum dua botol wine seorang diri. Tak kehabisan akal, Karina berusaha melepaskan diri dari Arion dengan cara sederhana.


**Bruk ….


Argh** ….


Karina menendang sela*gkangan Arion dengan lututnya dan berlari ke kamar mandi. Arion berlutut memegang apa yang ditendang Karina tadi.


"Masa depan kita bisa hancur Karina," ringis Arion.


Di dalam kamar mandi, Karina memegang dadanya yang seakan hendak pecah. Jantungnya berdebar-debar. Karina kemudian menghidupkan shower berusaha mengurangi kegugupannya.


"Tidak! Aku tak boleh jatuh cinta sebelum dendamku terbalaskan," lirik Karina.


Seluruh tubuhnya basah kuyup. Karina memutuskan segera menyelesaikan acara mandinya. Karina menarik nafasnya panjang sebelum keluar dari kamar mandi. Karina melihat Arion yang duduk di ranjang. Karina ikut duduk ikut Arion.


"Apa masih sakit?" tanya lirik Karina. Arion memalingkan wajahnya menatap Karina.


"Sudah tidak lagi," jawab Arion.


"Maaf. Aku belum menyukaimu sedikitpun," ujar pelan Karina namun bagi Arion itu sangat menyakitkan. Dadanya sesak seakan ada beban yang sangat berat menimpa dirinya.


"Mengapa?" tanya Arion menundukkan kepalanya. Karina memejamkan matanya sejenak.


"Alasannya tidak bisa aku ungkapkan, Arion. Aku punya banyak rahasia dalam hidupku," jawab Karina.


"Kalau begitu berbagilah denganku agar aku dapat meringankan beban rahasiamu," ujar Arion. Tangannya menyentuh tangan Karina dan menggenggamnya. Karina tersenyum tipis mendengar itu.


"Jika kau menyukaiku bagaimana dengan Joya? Apa kau akan meninggalkannya? Jangan katakan suka atau cinta jika di hatimu masih ada wanita lain. Sudahlah aku lelah," ujar Karina melepaskan genggaman tangan Arion kemudian membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.


Arion masih termenung dalam pikirannya. 


"Aku memang masih mencintai Joya. Tapi kau istriku. Aku menyukaimu Karina," gumam Arion.


Tangan Arion terulur menyentuh wajah Karina.

__ADS_1


"Bagaimana caraku melelehkan kedinginanmu ini, Karina?" tanya lirik Arion.


"Dengan pembuktian. Buktikan dirimu memang menyukaiku dan mulai mencintaiku," jawab Karina dengan mata yang masih terpejam. Seakan ada dorongan, semangat Arion kembali hadir. 


"Baiklah," ucap Arion tersenyum lebar.


Arion menundukkan kepalanya hendak mengecup kening Karina namun lagi-lagi ada yang mengusik.


***Tok.


Tok.


Tok***.


Terdengar suara pintu kamar mereka diketuk. Arion berdiri dan segera membuka pintu.


"Surprise …." seru Calvin dan Sam bersamaan.


"Kalian? Ngapain kemari?" heran Arion.


"Kenapa gak boleh. Kita kan juga dapat undangan pertemuan CEO," jawab Sam berkacak pinggang.


Arion menepuk dahinya pelan.


"Sorry gue lupa." Sam berdecak sebal.


"Kakak ipar mana?" tanya Calvin yang tak melihat Karina bersama Arion.


"Tidur," jawab Arion singkat.


Wajahnya berubah jadi muram yang membuat Calvin dan Sam bertanya-tanya. Merasa tak nyaman berbicara di depan pintu, Sam mengajak keduanya nongkrong di cafe terdekat. Calvin dan Arion setuju akan itu.


Mereka segera mencari cafe terdekat yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Tak sampai lima menit mereka masuk ke cafe yang menarik perhatian tiga CEO muda itu.


Setelah memesan menu, Arion segera menceritakan perihal rasa sukanya yang ditolak oleh Karina. Bukannya prihatin Calvin dan Sam malah tertawa.


"Ada yang lucu apa?" ketus Arion.


"Bukan itu masalahnya. Loe nyatain rasa suka setelah loe mati-matian belain Joya agar gak dijodohin. Ya jelaslah Kakak ipar gak nerima rasa suka loe," terang Calvin.


"Dan loe harus lupain Joya apapun alasannya!" timpal Sam serius dan berhenti tertawa.


"Hmm … gue paham. Gue harus nyakini dan buktikan sama Karina kalau gue benar-benar suka dan cinta dia. Seperti jawabannya tadi," semangat Arion.


***


Rumah Karina sebelum menikah. 


Semenjak tinggal di rumah Karina, kakek Bram merasa hidupnya kembali berwarna. Ia bahagia ada yang selalu memperhatikan dan merawatnya sepenuh hati, siapa lagi kalau bukan Nita.


Nita dengan telaten merawat kakek Bram serta selalu mengajak kakek Bram berkeliling baik di sekitar rumah Karina maupun keluar dari rumah Karina seperti pantai.


Hari-hari kakek Bram juga diisi dengan berkebun di sepetak tanah yang masih kosong di halaman belakang.


Seluruh seluk-beluk rumah Karina sudah ia kunjungi. Tinggal satu lagi yang tersisa yaitu garasi bawah tanah Karina. Baik Nita maupun Bik Mirna tak pernah menyinggung soal itu.


Di Senin sore yang cerah, kakek Bram asyik memberi makan ikan cu*ang di kolam. Warna-warni ikan membuat hatinya bahagia. Nita selalu standby di samping kakek Bram.


"Nita ada yang ingin aku katakan padamu," ucap kakek Bram pelan.


"Apa itu Kakek?" tanya Nita penasaran.


"Aku harap kau tak masalah ya …," pinta kakek Bram ragu. Nita berpikir sejenak kemudian mengangguk.


"Aku ingin kau menjadi istriku," ujar kakek Bram mantap. Nita terperajat namun tetap diam menunggu ucapan kakek Bram selanjutnya.


"Sejak aku melihatmu aku merasa bahagia dan nyaman bersamamu. Mungkin saja aku akan mewujudkan ucapan putraku tentang kawin lari denganmu," lanjut kakek Bram tersenyum.


Di usianya yang menginjak 60 tahun, kakek Bram masih tampak sehat dan bugar. Namun satu hal sakit yang pasti adalah hatinya. Sepeninggalan istrinya, kakek Bram selalu murung namun tetap menjaga kesehatannya.


"Saya tidak berani mengambil keputusan kakek. Hidup dan kebebasan saya adalah milik Nona Karina," ujar Nita memberi penjelasan.


Mata kakek Bram berbinar seketika. Ia menemukan sebuah cela.


"Artinya jika cucu menantu merestui kau bersedia menjadi istriku?" tanya kakek Bram memastikan. 


"Mungkin," jawab Nita simpel.


Di usianya yang menginjak 30 tahun, Nita masih saja betah melajang. Setiap ditanya alasannya pasti jawabannya 'Nonalah yang akan mencarikan jodoh untuk saya.'


Kakek Bram melonjak senang, sangking senangnya hampir saja ia jatuh masuk ke kolam. Untung ada Nita yang menarik tangannya.


Bruk.


Kakek Bram dan Nita tak sengaja berpelukan. Hal itu tak sengaja terlihat oleh Pak Anton. Cukup lama Kakek Bram dan Nita berpelukan. Pak Anton mengeluarkan handphonenya untuk memotret mereka berdua lalu mengirimnya pada Karina. Selepas itu ,Pak Anton langsung pergi menjauh.


Jantung Nita berdegup kencang apalagi kakek Bram. Sudah mau pingsan rasanya.


Tbc...🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2