
"Ah … sakit Sam. Sakit sekali," pekik Lila saat tubuhnya dan Sam menyatu. Sam merasakan ada yang menghalangi perjalanannya. Sedangkan perjalanan masih panjang.
Melihat air mata Lila, Sam mengurungkan niatnya untuk lanjut. Ia memilih menarik dirinya yang membuat Lila berhenti merintih dan menatap heran Sam.
"Kamu kok berhenti?" tanya Lila heran.
"Aku gak bisa lihat air mata kamu jatuh. Pasti rasanya sakit ya? Jika kakak ipar tahu kalau kamu nangis gara-gara aku, bisa-bisa besok aku tinggal nama," jelas Sam menunduk sedih. Lila tersenyum, dengan cepat memegang tangan Sam.
"Sepertinya aku pernah baca, jika malam pertama itu memang sakit, apalagi yang masih disegel kayak aku. Masih ada selaput dara dan itu harus dirobek oleh milikmu. Air mata bagi kami, itu wajar, dari yang ku baca sih gitu," ujar Lila memberi semangat pada Sam agar tak menyerah.
"Benarkah? Coba lihat?" tanya Sam dengan wajah mulai berseri.
Lila mengambil handphone di atas nakas dan menunjukkan screenshot tentang apa yang ia baca pada Sam. Sam membacanya dengan teliti. Senyumnya mengembang. Itu artinya, dia tak perlu takut.
Sam meletakkan kembali handphonenya. Menatap Lila dengan senyum menggoda.
"Jika begitu aku tak akan sungkan lagi," ujar Arion langsung menerjang Lila dan memulai lagi usaha mereka.
Setelah sekian lama berjuang akhirnya tetesan darah suci menetes di sprei putih ranjang mereka.
Masing-masing pengantin baru mengarungi malam dengan gairah penuh. Semangat membara akibat rintihan wanita yang di bawah tubuh Sam dan Calvin termasuk salah satu alasannya. Apalagi dengan Calvin, yang gas terus sampai efek jamunya habis.
***
Sayup-sayup suara azan yang keluar dari handphone Karina membangunkan Karina dari tidurnya. Karina memejamkan matanya sebentar dan segera menyingkirkan tangan Arion dari pinggangnya.
Karina mengamati kamar ini. Tangannya menyentuh kelopak mawar tanpa sengaja.
Sejak kapan aku suruh mereka taruh mawar di ranjangku? batin Karina belum tahu apa yang ia perbuat. Karina ingat dirinya dengan langkah gontai masuk ke kamar dan langsung tidur.
Ingat. Mengingat kembali. Sontak matanya membulat.
Gila. Kamar pengantin aku tiduri.ringis Karina dalam hati.
"Ar, bangun," ujar Karina menggoyangkan pundak Arion.
"Hmm?" gumam Arion membuka satu matanya dengan malas sebab masih ngantuk.
"Bangun. Shubuh dulu yuk," ajak Karina. Arion membuka kedua matanya dan duduk, bersandar pada kepala ranjang.
"Shubuh?" tanya Arion.
"Iya. Ayo," balas Karina.
Hari Arion penuh tanda tanya. Ia segera bangkit dari ranjang dan membersihkan badannya di kamar mandi. Karina mengernyitkan dahinya melihat ada bekas lima jari di pipi Arion.
"Nyamuk? Jadi nyamuknya suamiku sendiri?" gumam Karina terkekeh.
Karina tak menyangka jika dua pukulan yang ia lakukan saat tidur adalah untuk suaminya sendiri.
Kalau nyamuknya begituan sih gak heran kalau mesum, batin Karina.
__ADS_1
Tak memakan waktu lama, Arion telah bersiap. Air wudhu membasahi wajahnya. Segera mengambil sarung dan baju kokoh yang tersedia di lemari kamar. Serta sadajah yang ia bentangkan di atas permadani menghadap kiblat.
Tak berapa lama, Karina selesai berwudhu. Mengambil mukena dan memakainya. Sajadah untuknya sudah Arion gelarkan duluan. Sholat subuh berjamaah segera mereka laksanakan.
Selesai menjalankan kewajiban, tak lupa berdoa kepada Tuhan. Terakhir ditutup dengan meminta kebahagian di dunia maupun di akhirat kelak. Tak lupa juga Karina mencium tangan Arion dan Arion mencium kening Karina.
Selepas sholat dan berdoa, Karina melepas mukena dan membereskan sajadah yang mereka gunakan.
"Sayang, kamu tidur lagi gih. Kamu cuma tidur kurang lebih lima jam Sayang. Kasihan anak kita," ujar Arion mengusap lembut rambut Karina.
"Hmm. Okelah. Tapi bangunin aku jam 06.00 ya. Aku mau jalan-jalan pagi alias lari santai di sekitar hotel," sahut Karina.
Arion mengangguk. Karina kembali tidur dengan Arion yang masih mengusap lembut rambutnya.
"Kau ini memang aneh," gumam Arion tersenyum lembut menatap Karina. Kekagumannya bertambah.
Pemikirannya lagi-lagi meleset. Mafia, kuat hubungan dengan dunia gelap. Tetapi satu leader mafia ini juga menguatkan hubungan dengan Sang Pencipta.
Hari ini, Karina membuka matanya lebar-lebar. Bahwa sekejam apapun manusia, memiliki kekuasaan yang besar dan dingin sekalipun, tetap saja tunduk dan memohon pada Sang Pencipta.
Tapi Arion masih penasaran, dari mana asalnya sikap Karina selama ini? Jika dari keluarga, orang tua Karina sudah meninggal, memang apa adanya.
Karina bahkan tak pernah membawanya ke makam keluarga Karina. Gak salah Karina juga sih, sebab Karina kan orangnya penuh rahasia, jika tak ditanya yang Karina diam saja.
***
Ballroom yang semula berantakan setelah acara satu harian sampai tengah malam kemarin mulai dibersihkan. Meja kursi dirapikan. Sampah-sampah sekecil apapun dibuang. Botol-botol kaca dikumpulkan menjadi satu. Pihak hotel dan WO bekerja sama dalam hal itu.
Para Pengantin baru? Ya jangan ditanya. Masih berada di bawah hangat selimut dengan berpelukan. Orang tuanya kedua mempelai lelaki? Mengikut saja, malam pengantin anak ya malam pengantin mereka juga. Mumpung gratis, hehehe. Benar, Karina membebaskan segala biaya untuk tempat pernikahan. Hanya biaya tempat saja, lainnya yang pihak lelaki yang membayar.
Kakek Tio dan nenek Asmina? Sudah bangun dan berbenah menyambut hari. Mandi pagi, gosok gigi dan menikmati cahaya mentari pagi dari balkon kamar hotel. Kebetulan posisi kamar mereka berada di pinggir jadi ya kamarnya terdapat balkon.
***
Di taman yang terletak di antara hotel dan patung kota, di salah satu bangku taman Arion dan Karina duduk dengan meluruskan kaki mereka. Embun-embun pagi masih menetes walaupun sedikit dari atas pohon akibat tertiup semilir angin.
Arion menyodorkan botol air mineral, Karina menenggaknya hingga tinggal separuh. Keringat mengucur deras dari tubuh ke duanya. Arion mengambil handuk putih kecil yang menggantung di lehernya dan mengusap keringat Karina.
"Sayang, aku boleh gak ziarah ke makam orang tua kamu? Aku sebagai menantu belum pernah mengunjungi mereka," tanya Arion pelan. Karina tersedak dan menoleh ke arah Arion. Arion panik dan melakukan pertolongan pertama pada orang yang tersedak.
Wajah Karina menjadi suram. Sudah tujuh bulan dia tak berkunjung. Biasanya sekitar 3-4 bulan sekali ia pasti mengunjungi makam keluarganya.
"Sayang? Bolehkan?" pinta Arion dengan penuh harap. Ia baru ingat bahwa ia belum meminta restu walaupun hanya berbicara di depan pusaran dan nisan bertuliskan nama orang tua Karina.
Karina mengubah raut wajahnya menjadi datar namun resah dalam hati.
Jika Karina membawa Arion ziarah ke makam keluarganya, otomatis identitas sebenarnya bahwa dia adalah putri bungsu keluarga Tirta Sanjaya akan terbongkar.
Ini belum saatnya. Tunggu sampai Karina menuntaskan dendam dalam hatinya baru ia akan membongkar identitasnya dengan sendirinya.
Karina menghembuskan nafas pelan. Ia tersenyum.
__ADS_1
"Boleh kok. Tapi gak bulan ini ya. Masih ada yang belum aku selesaikan hingga tuntas. Kamu mau menunggu dan bersabar kan?" sahut Karina.
Arion mendesah kasar.
Urusan apalagi? pikir Arion.
"Ar, kamu gak papa kan?" tanya Karina.
Arion diam sebentar.
Tak apalah. Yang penting Karina sudah setuju walaupun tak sekarang, batin Arion.
"Ya. Gak papa kok. Asalkan kamu sudah berjanji pasti akan kamu tepati," ujar Arion dengan senyum lebar. Karina tersenyum.
Hatinya sedikit rasa bersalah. Ia tahu seluk beluk suaminya namun suaminya tak tahu seluk beluk kehidupannya.
"Eh? Ar, Karina kalian lari pagi juga?" Suara akrab menyapa keduanya. Arion dan Karina mencari sumber suara. Pencarian mereka terhenti melihat Maria yang melambaikan tangannya.
Arion dan Karina masih diam tak menyahut, hanya menatap langkah Maria, Amri dan Bayu yang menghampiri mereka.
"Kok diam sih? Jawab dong," ujar Maria.
"Iya Ma. Kita lari pagi juga," jawab Arion terbata.
"Mama ini aneh juga. Sudah lihat pakaiannya khas jogging malah ditanya ngapain lagi," keluh Amri.
Maria terkekeh. Bayu duduk di samping kiri Karina.
"Hai ponakan om, apa kabar kamu di dalam sana?" tanya Bayu dengan senyum khas dirinya serta mengusap lembut perut Karina.
"Aku baik, Om Bayu," sahut Arion dengan nada khas anak balita ikut mengusap lembut perut Karina.
"Kok yang jawab kak Ar sih? Kan aku nanyanya sama ponakan aku?" kesal Bayu merajuk. Arion tersenyum bingung. Maria, Amri dan Karina terkekeh.
"Kak Arion mewakili anaknya menjawab kabar, Bayu. Ponakan kamu belum bisa berbicara," jelas Karina mengusap rambut Bayu. Maria dan Amri mengambil tempat duduk di depan bangku yang tersedia di hadapan Arion dan Karina.
"Iya tuh Bayu," timpal Arion.
"Begitu ya." Bayu mengangguk dan masih mengusap lembut perut Karina.
Mereka melanjutkan istirahat sejenak, sepuluh menit kemudian, mereka mulai beranjak dan kembali lari pagi dengan tempo santai. Arion selalu siap sedia di sisi Karina. Mereka masih menyusuri area taman.
"Bakpau, bakpau, ibu bapak, adek kakak, yuk beli bakpaunya. Dijamin sehat bersih dan pastinya yang bikin kantong kering. Cuma lima ribu saja nikmati bakpau buatan saya. Yuk ayuk, ibu bapak, beli, beli yuk. Ada kacang merah, daging ayam, kacang hijuu, kelapa, cokelat, keju. Murah, murah, cuma goceng saja." Suara penjual bakpau dengan gerobaknya menyapa pendengaran Karina dan keluarga. Karina mencium aroma bakpau kukus yang nikmat.
Perutnya lapar. Dia dan anaknya butuh asupan. Karina menghentikan langkahnya. Otomatis langkah keluarganya juga terhenti.
"Kamu mau bakpau?" terka Arion. Karina mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah. Sarapan dulu yuk. Kayaknya enak deh. Papa juga sudah lama gak makan bakpau," imbuh Amri.
Mereka segera berjalan menuju penjual bakpau. Keadaan taman yang memang ramai dengan orang yang berolahraga, entah itu lari pagi, jalan pagi mengelilingi tamam, bersepeda, ataupun hanya sekedar lewat ataupun pemanasan di tempat alias senam. Banyak juga komunitas yang melakukan aktivitas di sini, terutama yang berhubungan dengan senam.
__ADS_1