Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 103


__ADS_3

Siang yang sejuk di villa, pucuk-pucuk pohon pinus bergerak mengikuti arah angin. Para pekerja perkebunan sibuk silih berganti memetik, menyortir dan mengangkat hasil panen strawberry. 


Terlihat sepasang anak manusia berjalan menyusuri jalan setapak, tawa menghiasi perjalanan. Mereka melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Berjalan membahas masa depan. 


Tapi mereka melupakan satu hal, yaitu tentang Joya. Karina lupa sesaat akan hal itu. Arionpun tak membahasnya, tak ada lagi hubungan di antara mereka.


"Nona, ada yang datang!" pekik salah seorang pekerja Karina dengan menunjuk ke arah langit. Arion dan Karina menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pekerja dan ke langit.


Terlihat sebuah helikopter bergerak turun, Karina menajamkan penglihatannya.


"Kau mengatakan susuatu pada sahabatmu?" tanya Karina menatap Arion.


"Ya. Aku bilang perkebunanmu sangat indah. Jadi mereka ingin kemari, aku tak bisa melarang. Kau tidak masalah bukan?" tanya Arion memeluk pinggang Karina.


Karina menggeleng menandakan tidak keberatan. Lagipula, mereka memakai helikopter perusahaan, terlihat lambang mawar biru di pintu body helikopter.


"Siapkan landasan," titah Karina pada pekerja itu. Setelah landasan siap dilandasi, helikopter segera turun. Baling-baling menerbangkan dedaunan kering di tanah.


Klik.


Pintu helikopter terbuka, baling-baling berhenti berputar. Yang pertama keluar adalah Calvin, diikuti Raina, Lila dan Sam.


Raina dan Lila segera membungkuk hormat pada Karina. Karina mengangguk dan memeluk keduanya. Tentu saja Raina dan Lila tertegun.


Sam dan Calvin bergantian memeluk Arion, memberi selamat atas kehamilan Karina. 


"Selamat Ar," ujar Calvin.


"Thanks Vin."


Arion mengucapkan terima kasih pada sahabatnya.


"Nona, apakah kita akan segera punya pewaris?" tanya Lila berbisik setelah mencuri dengar pembicaraan Arion, Sam dan Raina.


"Ya, begitulah," jawab Karina.


"Ayo masuk," ajak Karina pada kelimanya.


Serentak kelima orang itu mengangguk. 


"Pipin, bawakan tasku," seru Raina yang berjalan mendahului Calvin. 


"Eh, Oke Ra," sahut Calvin pasrah.


Tas hitam nan berat kepunyaan Raina digendong di punggungnya. Sedangkan di bagian depan, membawa tas kecil miliknya sendiri.


"Pipin? Nama dari Raina?" tanya Sam menahan tawanya, mensejajarkan langkah dengan Calvin, sedangkan Arion berjalan cepat menyusul Karina.


"Begitulah. Seperti sebelum menikah aku harus memotong kambing dulu. Ganti nama jadi Pipin Adijaya Alantas," terang Calvin dengan nada memelas, Sam menggelengkan kepalanya pelan, membayangkan bagaimana jadinya jika namanya juga diganti oleh Lila.


Sesampainya di ruang tengah, Calvin dan Sam menjatuhkan tubuh mereka di atas lembutnya sofa.


"Kakak ipar memang terbaik," puji Sam.


"Terbaik apanya?" tanya Karina duduk di sebelah Arion, Arion meletakkan tangannya di belakang sandaran Karina.


Para pelayan dapur segera menyiapkan cemilan dan minuman ala kadarnya. Termasuk cemilan dan minuman hasil perkebunan. Ada cake, jus, susu, dan lainnya, ditaruh dalam posisi mini dan secukupnya. Raina mencomot cake, Lila mencomot salad buah.


"Hampir semuanya, Kakak ipar kaya, bawahan yang sangat setia dan royalitas. Suami dan mertua juga yang sangat mencintaimu," jelas Sam setelah menenggak tandas jus.


Karina mengulas senyum senang. 


"Benar apa yang dikatakan Sam Kakak ipar, kau juga sangat murah hati, andaikan saja kau masih marah pasti kami sudah hancur sekarang," tambah Calvin, membuat Arion teringat sesuatu. Karina hanya mengangguk saja. 

__ADS_1


"Ah ya bagaimana dengan Ketua muda Black Tiger Mafia?" tanya Arion tiba-tiba membuat suasana canggung seketika.


Karina sangat sensitif dengan nama itu. Arion mulai blak-blakan masalah rencana balas dendam yang sudah dibatalkan.


Sam menegaknya tubuhnya, menatap, serius satu-persatu wajah yang satu ruang dengannya.


"Kami sudah memberitahunya tentang itu. Reaksinya, dia diam dan pergi begitu saja. Tak tahu apa yang ada di pikirannya. Aku khawatir dia yang akan mengulah," ucap Sam mengutakan opininya.


Karina hanya diam menarik senyum tipis. Lila dan Raina paham arti senyum itu. Nonanya sudah punya persiapan matang. 


"Sayang, kau punya kartu As untuk masalah ini?" tanya Arion yang mendapati senyum itu.


"Tunggu dan lihat saja nanti," jawab Karina.


Arion mendengus kesal. Jalan pikiran Karina adalah salah satu hal yang tidak apa Arion terka.


Karina selalu mengubah rencana walaupun waktunya sangat tidak mungkin menurut banyak orang.


"Nona, kamar tamu sudah siap dihuni," ujar pelayan.


"Terima kasih," ucap Karina melambaikan tangannya.


"Kalian pasti lelah, istirahatlah dulu, atau kalian mau makan siang dulu?" tanya Karina sembari melihat jam.


"Kami ke kamar saja Nona," jawab Lila dan Raina bersamaan.


Karina mengangguk. Raina segera meminta tasnya pada Calvin, Lila jalan duluan.


"Ra kamu bawa apa sih di tas ini? Bom apa?" tanya Calvin.


"Iya. Bom untuk kamu, supaya jangan macam-macam, jika tidak saat itu juga aku bunuh kamu pakai bom ini," sahut ketus Raina yang dengan mudahnya membawa tasnya. Membuat Calvin terbengong dan Sam serta Arion terkekeh melihat itu.


"Hati-hati kamu Vin," peringat Sam menepuk pundak Calvin.


"Kakak ipar, kami berjanji sehidup semati bersama pasangan kami," ikrar Sam mengangkat telunjuknya.


"Tapi jika kamu mati aku cari yang lain." Terdengar suara Lila menyahut dari kamar.


"Kejamnya," gumam Sam.


"Sabar Sam," ujar Arion.


"Aku ke kamar dulu," ucap Karina melangkahkan kakinya menuju kamar tanpa persetujuan Arion.


"Ya sudah. Istirahat yang cukup ya Sayang," ujar Arion.


Selepas kepergian Karina, Arion, Sam dan Calvin mengobrol riang, di akhir obrolan mereka membahas rencana untuk menghadapi Joya jika wanita itu mengulah.


Arion yang mulai mengantuk, izin duluan ke kamar, tidur siang bersama Karina. 


"Sam, keluar yuk. Penasaran gue sama perkebunan ini," ajak Calvin berdiri.


"Oke. Tapi ganti sepatu dulu gue," ujar Sam membuka tasnya dan mengeluarkan sandal gunungnya.


Membuka sepatu putih serta kaus kaki dan meletakannya di bawa lemari.


"Taruh kamar Sam, Kakak ipar bisa ngamuk nanti," seru Calvin tak suka.


"Iya. Gue khilaf," sahut Sam berdiri dan menuju kamar sekalian membawa tasnya dan tentunya tas Calvin juga.


Tak lama, Sam kembali dengan celana ponggong, kaos oblong, dan sendal gunungnya, tak lupa topi hitam bertengger manis di atas kepalanya.


"Ya elah, kita di gunung woi."

__ADS_1


Calvin berdecak sebal. Sam terkekeh pelan. 


"Mau di manakah? Gue harus tetap setel habis," sahut Sam.


"Terserah loe," ketus Calvin.


Mereka langsung keluar villa, Sam berdecak kagum, membayangkan omset perharinya perkebunan ini. Calvin berjalan mendekati para pekerja.


"Permisi, bisa kami ikut memetiknya?" tanya Calvin ramah.


"Bisa Tuan, Anda tamu Nona ya?" terka pekerja itu.


"Ya, saya dan dia adalah sahabat suami Nona kalian," jelas Calvin.


Pekerja itu memberikan sarung tangan kepada Calvin, bertanda menyetujui permintaan itu. Calvin dengan senang hati mengambil dan mengenakannya.


Sam yang masih berdecak kagum melangkahkan kakinya lebih jauh menyusuri perkebunan. Hingga ia tiba di tempat pengumpulan akhir strawberry, tempat pembungkusan buah menjadi siap jual, baik ke luar maupun dalam negeri.


Terlihat, buah-buah yang segar baru dipetik bergerak di mesin berjalan untuk siap dibungkus. Semuanya serba teknologi, manusia tinggal mengoperasikannya saja.


Cukup lama kedua beraktivitas dengan itu, setelah puas mereka kembali ke villa, membasuh tubuh hingga bersih dan menuju alam mimpi.


***


Kediaman Wijaya.


Di gerbang terlihat seorang wanita muda yang memperhatika kediaman Wijaya, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal, marah dan malu.


"Mengapa mereka pakai acara ke luar negeri?" gumamnya masuk ke dalam mobil. Sang pemilik pergi, tentu saja tak boleh orang lain masuk kediaman.


"Tenanglah Nak, Mama pasti akan mendapatkan Papa terbaik untukmu," gumam Wanita itu mengelus perut datarnya.


Ya dia adalah Joya, awalnya ia berniat mengaduh pada Amri dan Maria mengenai kehamilannya dan pelakunya adalah Arion.


Namun, sayang Amri dan Maria serta Bayu sudah berangkat ke negara A, menyusul Arion dan Karina. Joya yakin, jika rencananya tadi berhasil maka kemenangan ada di depan mata, pasalnya Amri adalah tipe orang yang menjaga nama baik keluarga, sedangkan di tangannya ada bukti bagaimana caranya dia hamil.


Amri setidaknya akan menyuruh Arion bertanggung jawab, suka maupun tidak, setuju ataupun tidak.


Kesal kembali datang, Joya menghidupkann mesin mobil dan melajukannya pergi dari depan gerbang kediaman Wijaya. Di tengah jalan ada yang mencegat mobilnya, hampir saja perutnya terbentur, bisa hilang nyawa janinnya


Joya membuka sabuk pengaman dan keluar mobil dengan berkacak pinggang.


"Hei keluar kamu, nyetir pakai mata dong," seru Joya. Bukannya menjawab, Joya malah dilempari gas bius. Joya yang masih mengamati sontak terkejut dan menutup hidupnya, terlambat kesadarannya mulai terenggut dan akhirnya pingsan.


Dua orang berbadan kekar keluar dari mobil yang mencegatnya tadi, menggendong Joya masuk ke mobil itu. Salah seorang dari mereka masuk ke mobil. Satu lagi masuk ke mobil Joya, membawanya mengikuti mobilnya tadi.


"Hmm … jangan harap kau bisa lari dariku, sweetheart," gumam seorang pria mengelus rambut Joya yang di letakkannya di pahanya.


Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan bangunan mewah. Pria itu turun dan menggendong Joya memasuki bangunan itu.


Mobil Joya diparkirkan tak jauh dari mobil pria itu. Pria itu membuka kamar, membaringkan Joya di sana. 


"Haruskan kita lakukan itu lagi, sweetheart?" tanya pria itu lirik membelai kasih wajah Joya.


"Tidak. Kau lagi hamil, nanti saja jika kandunganmu sudah kuat, akan aku lakukan lagi," pria itu kembali bergumam. Mencium singkat kening Joya dan pergi keluar kamar.


"Wis, kamu ngapain bawa Wanita itu?" tanya seorang pria lain.


"Ada dua jawaban, yang pertama, dia mau mengaduh pada kedua mertua Karina, untung saja mereka pergi ke luar negeri. Yang kedua, dia hamil anakku bukan anak suami Karina," terang pria itu yang tak lain adalah Darwis.


"Yakin sekali jika itu anakmu, Wis," celetuk Li.


"Tentu saja, jika itu anak Arion pasti usianya baru 2 minggu sedangkan usianya sudah lebih dari dua minggu. Tentu saja itu anakku," jawab Darwis bangga.

__ADS_1


Li terkekeh pelan, betapa percaya dirinya rekannya ini. Li merangkul Darwis, mengajaknya menyusuri koridor markas, menuju arena bela diri. Hari ini adalah waktunya latih tanding anggota Pedang Biru, baik anggota kelas A sampai S.


__ADS_2