Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 264


__ADS_3

Kebahagian terpancar jelas dari keluarga Wijaya. Keluarga itu kini tengah menyusuri mall dengan penuh canda tawa, kecuali Karina. Karina hanya tersenyum tipis menanggapi setiap ucapan yang diucapkan keluarganya. Enji dan Arion bertugas sebagai pembawa barang belanjaan, Maria dan Bayu sebagai pembeli, Karina sebagai penilai dan Amri sebagai kartu uang mereka sekaligus pengasuh Alia.


Dilihat dari banyaknya paper bag yang dibawa Arion dan Enji, pasti banyak juga kas yang keluar dari dompet Amri. Walaupun begitu, Amri tidak masalah. Yang terpenting keluarganya bahagia. Materi tidak sebanding dengan senyuman lebar anggota keluarganya.


Tanpa terasa, sudah waktunya makan siang. Mereka memasuki salah satu restoran seafood untuk mengisi perut mereka yang lapar selesai berbelanja ria. 


Arion segera memesan menu makan siang. Tidak perlu ditanya, sebab ia sudah tahu apa pilihan keluarganya. 


"Jadi kapan kalian membeli peralatan bayi? Dua bulan waktu yang singkat loh. Mama tidak mau kalian gelagapan nantinya. Lekas putuskan hari dan waktunya. Mama siap membantu kalian. Mama juga ingin berbelanja untuk kedua cucu Mama," ucap Maria.


Memang tadi Maria mengajak Arion dan Karina ke toko peralatan bayi. Tapi kedua orang itu menolak dengan tegas dengan alasan masih ada waktu. Maria tidak bisa memaksa.


"Karina belanja langsung ke produsennya Ma," sahut Karina yang baru saja menelan makanannya.


"Ya sudah, Mama tetap ikut. Mau kamu belanja di mana pun Mama ikut, sekalipun itu ke luar bumi," ucap Maria tegas. 


"Kalau ke Mars, Mama mau ikut juga?" tanya Arion yang mulai nyeleneh meladeni ucapan Maria. Maria mengangguk pasti.


Bayu dan Enji acuh dan fokus pada makanan mereka. Karina melirik Arion sekilas. Amri geleng kepala dengan ucapan Maria dan Arion.


"Terus siapa yang ngurus Papa dan Alia kalau Mama ke Mars? Memangnya Mama mau jadi astronot yang meneliti luar angkasa? Lagipula mana ada mall di sana. Batuan meteor yang banyak," omel Amri. Maria mendengus tidak suka.


"Kan bisa saja mahkluk sana buat mall untuk tempat belanja mereka," sahut Maria kesal. 


"Alien juga mahkluk hidup, pasti butuh mall," timpal Bayu yang membuat Enji menyentil pelan kening Bayu. 


"Aduh mengapa jadi bahas alien sih? Ya sudah kalau Mama mau ikut, nanti Ar sama Karina kabarin," putus Arion yang jelas dengan obrolan non manfaat. 


"Sudah, jangan bantah lagi, ayo habiskan makanan kalian," tegur Amri saat melihat Maria dan Bayu hendak buka mulut. 


Kedua orang itu refleks menutup mulut dan mulai menyantap makan siang mereka. Saat sebentar lagi makanan Arion habis, handphone miliknya berdering menandakan ada panggilan masuk. Segera Arion meraih gawainya. Arion mengeryit melihat siapa yang menelepon dirinya.


"Ada apa Fer?" tanya Arion. Karina menoleh ke arah Arion, penasaran apa yang disampaikan Ferry. 


Dahi Arion semakin berkerut, raut wajahnya berubah menjadi tidak suka dan menggelap. Setelah panggilan berakhir, Arion langsung izin pergi duluan, dan tanpa menunggu jawaban Arion langsung beranjak keluar restoran. Panggilan Karina bahkan tidak ia gubris.


"Perusahaan ada masalah ya, Pa?" tanya Maria penasaran.


"Setahu Papa enggak ada Ma, selain masalah kemarin semua sudah aman terkendali," jawab Amri sesuai dengan laporan yang ia terima.


"Coba cek kanal berita deh, biasanya kalau ada masalah besar maupun kecil ada di sana," saran Enji. Serentak, Karina, Amri dan Maria meraih handphone mereka dan mencari berita bisnis terbaru. 


"Masalah kemarin bocor dan harga saham merosot … Papa harus bantu Arion," ucap Amri berdiri dengan wajah serius. 


"Papa pergi dulu," ucap Amri segera keluar restoran. Tinggalkan Karina, Maria, Enji dan Bayu. Keempatnya terdiam sejenak. Maria tampak khawatir sedangkan Karina biasa saja. 


"Apa Ayah enggak ikut bantu?" tanya Bayu, Enji menatap wajah Bayu datar.


"Karina juga pamit duluan ya Ma, Zi, Bayu," ucap Karina membereskan tasnya. Maria tersadar dari lamunannya.


"Loh, kamu sama siapa, Sayang? Bareng Mama dan Enji saja ya," tanya Maria. Karina menggeleng.

__ADS_1


"Pak Anton sudah menunggu di bawah, Karina duluan ya, assalamualaikum," pamit Karina.


"Eh, ya sudah hati-hati, waalaikumsalam," ucap Maria. Karina mengangguk dan segera keluar restoran. 


"Kalau begitu Enji antar Mama dan Bayu pulang dulu baru ke perusahaan Wijaya," ujar Enji. Maria setuju, ia sedikit tenang karena ketiga pria handalnya bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain. 


"Tapi ini siapa yang bayar? Kak Arion pergi, Kak Karina juga diam saja, Papa apalagi, masa' Bayi sih yang bayar, duit dari mana?" Bayu memecahkan suasana tegang. Maria menatap Enji dengan tatapan datar, Enji mendengus.


"Ayah yang akan bayar, kamu jangan bohong ya, kamu kira ayah enggak tahu kamu punya tabungan hah anak kecil?"


Enji mencubit hidung Bayu. Bayu meringis dan menatap ketus Enji. Maria terkekeh, anak dan ayah ini memang selalu saja berdebat. 


Buaya kok dikadalin, untung buayanya baik, kalau enggak kadal ini pasti dilahap sampai habis, batin Maria.


*


*


*


Setibanya di bandara, Karina masuk ke pesawat duluan. Tidak lama menunggu, Li, Elina dan Gerry datang. Gerry dibopong oleh Li sebab tidak sadarkan diri, entah memang pingsan atau diberi obat tidur, secara perintah Karina Gerry harus tidak sadarkan diri.


Li dan Elina sangar penasaran kemana tujuan mereka. Li membawa Gerry untuk ditidurkan di kamar. Elina duduk di samping Karina. Li bergabung setelah menidurkan Gerry.


"Ke mana tujuan kita?" tanya Li.


"Cukup diam dan amati saja," jawab Karina.


"Urusanku lebih penting dari masalahnya. Kerjakan yang bisa kalian kerjakan, jangan mengganggu dan banyak tanya!" tegas Karina seraya menghidupkan laptopnya.


Berdecak lidah, Elina berdiri dan mengambil berkas yang dibawa Li untuk ia kerjakan. Li dan Elina akhirnya mengerjakan pekerjaan mereka. 


Setengah jam penerbangan, pesawat mendarat di kota S. Karina menyuruh Li dan Elina tetap di pesawat. Keluar bandara, sebuah mobil putih berhenti di hadapan Karina. Seorang pria muda turun dan membungkuk hormat pada Karina.


"Silahkan Queen," ucapnya membukakan pintu untuk Karina. Karina masuk, mobil melaju.


Setelah menempuh perjalanan singkat, mobil putih itu berhenti di sebuah pemakaman umum. Karina keluar dengan mengenakan kacamata hitam. 


Pria yang bertindak sebagai sopir itu memayungi Karina saat Karina berjalan menuju hamparan makam. 


Tibalah Karina di empat makam yang merupakan makam keluarganya. Karina langsung membersihkan keempat makam, hanya sebentar saja sebab makan sudah bersih. Tak lupa menyertakan doa untuk keluarganya yang sudah berbeda alam.


Karina mengusap lembut nisan yang bertuliskan nama mamanya.


"Mom, happy brithday and happy mother day," ucap lirik Karina, mengusap setitik kristal yang keluar dari matanya. 


*


*


*

__ADS_1


"Aku menyerah memahami pola pikir Karina. Queen mu itu memang berbeda dari kebanyakan pemimpin," ujar Elina menghempaskan pelan tubuhnya di kursi pesawat. Li menoleh dan tersenyum pada Elina.


"Jangankan dirimu, aku saja yang sudah tahunan ikut dirinya masih belum mengerti," sahut Li santai.


"Hm," balas Elina seraya mengambil cemilan di atas meja.


"Ke mana kira-kira dirinya?" tanya Elina penasaran.


"Ziarah, ke makam keluarganya," jawab Li. Elina membulatkan matanya.


"Benarkah? Mengapa dia tidak mengajak kita?" Elina mendekatkan diri pada Li. Li mengangkat kedua bahunya. Dia saja belum pernah.


Obrolan mereka terhenti saat Karina kembali dan perjalanan dilanjutkan.


"Kalian terlalu cerewet, membuatku kesal jika membawa kalian ke sana!"


Karina berujar tanpa menatap lawan bicaranya. Elina dan Li memutar bola mata mereka malas dan hanya mengiyakan saja. Mereka takut bertanya, terlebih melihat wajah tidak bersahabat Karina, mereka menerka ada masalah baru  yang muncul.


*


*


*


"Bagaimana? Ketemu siapa pelakunya?" tanya Arion pada Enji yang masih sibuk dengan laptopnya. Enji tidak menjawab. Arion menunggu seraya menyilangkan tangan menatap laptop Enji. 


Amri duduk di kursi CEO seraya menuliskan sesuatu di kertas kosong. Goresan tangannya sangat cepat, tulisannya bahkan tidak bisa dibaca karena hanya ada garis saja.


Masalah tentang kecelakaan di proyek yang sudah dianggap selesai kini malah terekspos ke publik, sialnya lagi ada pihak korban yang mengaku bahwa kecelakaan bukan dikarenakan pekerja melainkan material yang tidak berkualitas serta kontruksi yang tidak sesuai standard. Ditambah bubuk peledak dari musuh mereka, berita miring tentang perusahaan pun tersebar. 


Padahal aslinya memang kelalaian pekerja, untung perusahan tidak menuntut ganti rugi, sekarang malah ditikam oleh pekerja itu. Arion mengertakkan giginya saat melihat siapa pemain di balik kerusuhan yang terjadi. 


"Gawat Tuan, beberapa perusahan lain juga berniat membatalkan kerja sama dengan kita. Mereka komplain dan takut kejadian serupa terjadi pada proyek mereka," lapor salah satu bawahan Arion. Arion mengepalkan tangannya.


"Tangani mereka! Cegah sampai kami menyelesaikan semuanya!" titah Arion tegas. Ia mengusap kasar wajahnya.


"Ayo lah sedikit lagi!" gumam Enji tidak sabar. Kemampuan hackernya sebanding dengan Karina. 


"Dapat! Akhirnya ketahuan siapa biang keroknya!" pekik Enji melempar kedua tangannya ke atas dengan menari nafas lega. Arion berhenti mondar-mandir dan melihat ke arah layar laptop Enji. 


Matanya menatap tajam foto yang tertera di layar, aura membunuh terpancar jelas dari tubuh Arion. Enji saja sampai mengusap tengkuknya. Amri mendekat, membawa serta kertas coretan yang ia buat. 


"Siapa dia? Apa kau pernah berurusan dengannya?" tanya Amri mengeryit dengan foto seorang pria yang usianya sekitar 26 tahunan. Arion mengangguk. 


"Baji*gan Tidak tahu diri. Lebih baik ku selesaikan saja kemarin riwayatnya. Tidak ada gunanya dia hidup, parasit harus dibasmi!" jawab Arion dingin. 


"Dan ada satu fakta lagi, semua kejadian di lokasi proyek adalah rencananya. Pria ini cukup berani dan mengancam," ucap Enji seraya memutar kursinya bergerak ke kanan dan kiri lalu berputar.


"Tidak heran dia memang seorang lulusan terbaik, sayang akhlaknya kurang," sahut Arion dingin. Enji mengangguk menyetujui.


Amri agaknya mulai paham alur masalahnya dan menyerahkan kertas pada Arion. Arion menerima dengan sedikit bingung lalu membacanya. Perlu kejelian dan latihan khusus untuk membaca tulisan itu. Tulisan Amri mirip tulisan dokter, yang bisa dibaca oleh apoteker.

__ADS_1


__ADS_2