Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 54_Menyingkirkan Sampah Perusahaan_


__ADS_3

"Untuk apa saya minta maaf? Seharusnya Nona ini yang meminta maaf pada kita atas dasar mengganggu meeting ini Tuan William, "ujar Andreas berkelit seraya mencari muka. 


Brakk ….


Suara meja yang Karina pukul hingga keras. Matanya menatap emosi Andreas.


"Selain dia dan kepala divisi personalia serta William, yang lain keluar. CEPAT!" bentak Karina emosi.


William segera memberi kode pada kepala divisi yang tidak disebutkan oleh Karina untuk segera keluar dari meeting room.


Satu persatu kepala divisi meninggalkan meeting room. Tinggallah Karina, William, Andreas dan juga kepala divisi personalia.


Karina menepuk kedua tangannya, Lila dan Raina segera masuk dengan beberapa berkas di tangan mereka. Karina meminta salah satu berkas dan melemparkannya ke wajah Andreas dan Willy, kepala divisi personalia.


"Apa ini?" tanya Andreas mengambil berkas itu. Matanya membulat melihat isi berkas itu.


"Penggelapan dana perusahaan pada bulan Desember tahun lalu, Maret dan juga Juni. Selanjutnya kau bukannya melindungi aset malah mengusik aset yang sudah diwakafkan oleh Ayahku sepuluh tahun lalu, kemudian kasus penyuapan proyek reklamasi di pantai utara kau juga lakukan, dengan tujuan mengambil keuntungan yang besar dan banyak lagi yang lain!" ucap Karina dingin. 


Andreas berkeringat dingin, seluruh tubuhnya gemetar. Berkas di tangannya terjatuh ke lantai. Matanya menatap takut wanita bertopeng yang duduk dengan bertopang dagu itu.


Hilang sudah keangkuhannya. William terperajat mendengar ucapan Karina, hatinya kini semakin diliputi rasa takut dan was-was membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.


"Semua itu ulahmu kan?" tanya Karina.


"Dari mana kau tahu?" tanya Andreas mulai menunduk takut.


"Tentu saja aku tahu. Seperti yang kau tanyakan. Apakah perusahaan ini milikku? Jawabannya iya. Aku pemiliknya," tegas Karina.


Brukk .…


Secara naluriah, Andreas dan Willy langsung berlutut. Tubuh mereka lemas tak bertenaga. 


"Maaf-maafkan saya Nona. Saya lancang dan sangat berani," mohon Andreas terbata-bata. Karina tertawa kecil namun menyeramkan bagi yang mendengarnya.


"Karena kelancanganmu nama perusahaan yang selama ini aku jaga dengan baik kini tercoreng. Raina …," geram Karina.


Raina memberikan sebuuh map pada Karina. Karina kembali melemparnya ke hadapan Andreas yang masih berlutut. Itu adalah surat pemecatannya.


"Kau dipecat secara tidak hormat. Seluruh asetmu akan aku tarik untuk mengganti kerugian perusahaan akibat ulahmu,"ucap Karina tegas tak dapat dibantah. Andreas menggeleng tidak ingin. 


"Panggil keamanan untuk menendang sampah ini keluar!" perintah Karina pada Raina.


Raina segera menelpon keamanan. Tak lama dua pria berbadan besar dan berbaju serba hitam dengan kacamata yang bertengger manis di kepala mereka tiba di ruang meeting.


Dengan cepat mereka menyeret Andreas keluar. Andreas meronta dan berteriak minta ampun pada Karina namun apa daya suara dan tenaga tak sebanding dengan dua orang yang menyeretnya.


Selepas kepergian Andreas, Karina menyilangkan tangannya dan tersenyum ke arah Willy yang masih tertunduk.


"Kau tahu apa kesalahanmu sehingga kau tertahan di sini?" tanya Karina dingin. Willy menggeleng tak tahu. 


"Baiklah akan aku jelaskan.  Kau melakukan nepotisme. Kau melakukan itu tanpa melihat mereka. Aku tak akan marah, jika mereka sangat berkualitas namun sayang sekali kebanyakan dari mereka sombong dan semena-mena dengan karyawan yang jabatannya di bawah mereka. Kau malah menempatkan karyawan yang berpotensi dan berkualitas di posisi yang paling rendah. Sungguh kaulah yang rendahan. Belakangan ini, performa divisi yang kau pimpin menurun. Sungguh aku kecewa denganmu, Wiliam. Bagaimana bisa kau angkat orang seperti ini jadi kepala divisi?" jelas Karina panjang lebar. 


Karina menjelaskan itu bukan tanpa alasan. Sewaktu ia berada di lift, ia sempat satu lift berdua dengan office girl yang setia membawa alat-alat kebersihan.


Karina yang bosan sempat berbincang dengan office girl itu mengenai bisnis. Tak disangka ternyata jawaban dan perkataannya sangat terlatih dan profesional.


Karina yang heran langsung bertanya mengapa orang berpotensi seperti dia bisa berada di posisi office girl? Office girl itu menjawab kemungkinan ia belum beruntung. Karina mengepalkan tangannya erat. Mereka berpisah di lantai 20 dimana office girl itu segera keluar dari lift. 


"Maafkan saya Nona. Saya berjanji akan lebih teliti lagi. Saya mohon maafkan saya Nona," mohon Wily tak tahu harus berkata apa lagi. 


"Kesalahanmu cukup fatal. Tapi tenang saja aku tak akan memecatmu melainkan akan menurunkan posisimu menjadi office boy. Itu hukuman untukmu," ucap Karina berdiri dan meninggalkan ruangan meeting diikuti Lila, Raina dan juga William meninggalkan Willy yang menyesali perbuatannya.


***


Ruangan Karina. Karina duduk di kursi, di samping kananya adalah Lila sedangkan di samping kirinya Raina.


Tepat di hadapannya adalah William yang menunduk takut. Suasana yang hening bertambah mencekam oleh suhu udara yang dingin serta aura Karina yang mencekam.


"Aku sungguh kecewa denganmu, William!!!" ucap Karina menatap tajam William. William diam tak menjawab.


"Sekarang tinggal pilih kau mau kemana? Kutub Utara, Kutup Selatan atau turun jabatan disertai pemotongan gaji sebesar 50%?" tanya Karina lagi.

__ADS_1


Willy menatap Karina tanpa bisa berkata-kata. Pilihan yang sangat sulit baginya. Willy menimbang segalanya dengan matang.


"Saya memilih turun jabatan disertai pemotongan gaji Nona," jawab Willy pelan.


"Oke. Itu pilihanmu. Sekarang kemasin barang-barangmu dan pindah ke kepala divisi Credit Risk. Ku harap ada perubahan yang signifikan," jelas Karina.


Willy mengangguk dan segera permisi keluar dari ruangan Karina.


Selepas kepergian William, Karina segera memerintahkan Lila memanggil office girl dengan nama Nina ke ruangannya. Lila segera keluar untuk memanggil Nina.


"Nona apa Anda tak khawatir mengenai Pak Andreas?" tanya Raina memecah keheningan.


"Apa yang harus khawatirkan?" tanya Karina menoleh ke arah Raina.


"Nona begitu mudah membiarkan penjahat itu pergi. Sebagai mantan kepala divisi Credit Risk, penjahat itu pasti memiliki informasi penting mengenai perusahaan yang tidak terungkap ke publik," terang Raina mengutarakan kekhawatirannya.


"Aku memang membiarkannya pergi tapi bukan melepaskannya. Penjara biasa terlalu ringan untuknya," ucap Karina menyeringai. Raina diam tak bisa berkata lagi.


***


Sedangkan di kamarnya, Arion sedang uring-uringan. Bagaimana tidak setelah selesai membuat makan siang dengan usaha keras, Arion malah disambut dengan surat di nakas bertuliskan 'Aku pergi dulu.'


Ingin rasanya menangis tetapi air matanya tak mau keluar. Arion terduduk lemas di ranjang. Makan siang yang ia buat dengan penuh perjuangan ia letakkan di meja dekat sofa.


"Apa aku tak berharga di mata ya?" lirik sedih Arion. Terlintas kenangan saat bersama Karina pagi tadi.


Tawa lepas Karina membuatnya nyaman. Kelakuan jahil plus ngeselin pun ikut terbayang.


"No. Aku gak boleh nyerah. Aku harus mendapatkan hati Karina," tekad Arion. Ia mengambil handphonenya dan menghubungi Karina. 


Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.


Bukannya suara Karina yang terdengar melainkan suara operator.


"Aih kemana dia? Sayang cepatlah kembali," harap Arion.


Arion kini menunggu dengan sabar Karina di dalam Kamar. Sesekali ia membuka pintu dan melihat kanan-kiri mencari Karina.


"Ferry? Karina mana?" tanya Arion.


"Nona muda? Bukankah dari tadi Anda bersama dengannya?" tanya balik Ferry.


"Iya tadinya. Tapi sewaktu aku memasak di dapur ia pergi dengan meninggalkan surat di nakas," jawab Arion yang membuat Ferry terheran-heran.


Sejak kapan Tuan Muda bisa masak? Kira-kira itulah maksud dari keheranan Ferry.


"Ada apa?" tanya Arion kembali fokus pada Ferry.


"Kita harus segera ke ruang meeting, Tuan Muda," ujar Ferry.


"Bukankah itu lima belas menit lagi?" tanya Arion melirik jam tangannya. 


"Anda benar Tuan. Tapi sebaiknya kita tiba lebih dulu yang menunggu mereka. Saya tidak ingin kejadian Minggu semalam terulang," jelas Ferry sopan.


"Baiklah tunggu sebentar," jawab Arion menutup pintu dan segera bersiap.


Arion mencium aroma tubuhnya kemudian menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Kemudian arion mengganti sandalnyal menjadi sepatu kerjanya dan sebagai penutup, Arion menyambar jas di atas ranjang. Di tangannya sudah terdapat berkas-berkas yang dibutuhkan.


"Ayo kita berangkat," tegas Arion berjalan keluar dari kamar dan melangkah mendahului Ferry. Ferry segera mengekor.


***


Sekarang tinggal tersisa Karina dan office girl yang dipanggil Lila tadi. Sedang Lila dan Raina sudah pergi lima menit yang lalu. Office girl itu meremas ujung seragamnya dengan kepala tertunduk.


Jujur saja ia masih bingung mengapa ia dipanggil. Jika keruangan kepala divisinya mungkin ia maklum.


Namun, sekarang ia berada di ruangan pemilik perusahaan ini. Sedang wanita bertopeng di hadapannya menatap dirinya datar.


"Ganti seragammu dengan ini," perintah Karina melemparkan paperbag pada Nina.


Dengan sigap, Nina menangkap paperbag itu. Nina melihat isinya. Ternyata itu seragam kantor yang sangat cantik dan bermerk.

__ADS_1


"Maksudnya apa ya Nona?" tanya Nina tak paham.


"Ganti saja dulu. Nanti ku jelaskan," jawab Karina menunjukkan kamar mandi yang ada di ruangannya.


Dengan penuh tanda tanya, Nina segera berganti pakaian. Tak lama ia keluar dari kamar mandi dengan blazer dan rok di bawah lutut. Ukuran pakaianya sangat pas di tubuhnya.


"Sekarang posisimu bukan lagi office girl tetapi adalah kepala divisi personalia," ujar Karina membuka topengnya dan tersenyum ke arah Nina.


Mata Nina membulat bukan karena perubahan jabatan melainkan wajah Karina. Nina ingat ia pernah bertemu dan berbincang dengan Karina di lift.


"Anda?" tanya Nina.


"Saya pemilik perusahaan ini. Selamat bekerja. Saya tunggu performa dalam waktu tiga bulan," tutur Karina berjalan mendekati Nina yang masih terdiam.


"Nina? Bagaimana kau puaskan dengan jabatanmu?" tanya Karina. Refleks Nina mengangguk saat pundaknya ditepuk oleh Karina.


"Good. Sekarang pergilah ke HRD untuk membahas kontrak kerja serta gajimu," perintah Karina langsung keluar dari ruangannya dan menuju lift khusus CEO untuk kembali ke hotel.


Nina yang baru tersadar setelah Karina pergi langsung sujud syukur. Harapannya terkabul. Tak sia-sia pendidikan starta satunya dengan peringkat sempurna.


Awalnya ia berharap bisa menjabat sebagai salah satu karyawan bagian pemasaran namun apa daya ternyata bagian personalia memposisikannya sebagai office girl. Tentu saja Nina tak puas bukan karena posisinya melainkan atas sikap kepala divisi personalia terdahulu yang nepotisme.


"Terima kasih Tuhan. Doaku telah kau kabulkan," ucap pelan Nina. Nina segera keluar dari ruangan Karina menuju HRD.


***


Kita kembali melihat apa yang terjadi di kediaman Wijaya setelah Maria dan Amri mendengar keinginan kakek Bram memperistrikan Nita. Kakek Bram dan Amri bersitegang dengan keputusan masing-masing.


"Aku tak setuju!! Ayah sadar umur dong. Bahkan ia cocok menjadi anak Ayah bukan istri Ayah!" teriak Amri emosi. Maria berusaha menenangkan suaminya.


"Kalau kau tak setuju itu bukan masalah. Aku pulang hanya memberi tahumu saja," sahut kakek Bram tenang. Tak ada rasa khawatir ataupun sedih di wajahnya.


"Ayah apa kau sadar akan usiamu?" tanya Amri mulai melemah.


"Aku sadar. Sangat sadar. Tapi aku menyukainya dan nyaman bersamanya," terang kakek Bram.


"Ayah. Kau sudah melupakan ibu? Kemana cintamu yang dulu sering kau ucapkan untuk ibu?" tanya Amri lagi berusaha menahan emosinya.


"Cinta? Aku sangat mencintai istriku. Tapi keadaanlah yang membuatku jatuh hati pada Nita. Usiaku semakin bertambah. Apa aku akan pergi tanpa ada yang menemaniku di saat terakhir? Kalian tak merasakan kesepian bertahun-tahun tanpa orang yang kita cintai. Dan sekarang aku jatuh hati kalian melarangku?" jawab kakek Bram menunduk lesu.


"Jika itu masalahnya Ayah tinggallah bersama kami agar ayah tak merasa kesepian," saran Maria yang sedari tadi menyimak.


Kakek Bram menggeleng dan berjalan mendekati jendela menatap taman kecil di halaman.


"Itu berbeda Menantu. Kau pasti akan merasa pria tua ini sebagai beban. Apalagi jika ke depannya aku sudah tak berdaya," jawab kakek Bram menitikkan air mata.


"Tidak akan Ayah. Aku akan merawatmu sepenuh hati sampai maut memanggil," ujar Maria menggeleng pelan.


"Apapun alasannya aku tak akan pernah merestui ayah menikah lagi dengan pelayan itu siapapun itu," tegas Amri melepaskan pegangan tangan Maria dan berjalan cepat menuju kamarnya. 


"Aku tak perlu restumu. Hidupku aku yang memutuskan," tegas kakek Bram ikut pergi menuju kamarnya meninggalkan Maria yang bingung harus menenangkan yang mana, suami apa ayah mertuanya.


Akhirnya, Maria memutuskan menenangkan suaminya terlebih dahulu. Sesampainya di kamar, kakek Bram langsung menghubungi seseorang kemudian memutuskan untuk tidur.


Sedangkan, di kamarnya Amri melempar dan membanting apa yang ada di hadapannya ke lantai. Emosi menguasai dirinya.


Pecahan guci berserakan di lantai bahkan berhamburan sampai ke ranjang menandakan betapa emosinya Amri. Amri duduk lemas di sofa setelah puas melampiaskan emosinya. Kamar yang tadinya rapi serapi rapinya kini berantakan bak kapal pecah.


Maria menggelengkan kepalanya saat memasuki kamar. Dengan hati-hati ia berjalan menghindari pecahan guci mendekati suaminya.


"Pa …," panggil Maria pelan menyentuh pundak suaminya.


Amri menoleh ke arah istrinya. Matanya memerah menahan tangis. Tangan Amri bergerak memeluk istrinya dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Maria.


"Apa Papa salah ya? Papa gak mau Ibu dimadu walaupun ibu sudah meninggal," tangis Amri. Maria mengelus rambut suaminya.


"Mama rasa sikap Papa tadi agak keterlaluan," lirik Maria.


Amri mengangkat wajahnya menatap Maria. Maria menengguk ludah paham akan arti tatapan Amri.


"Mama kan tahu papa ini sensitif apabila kepala Papa dielus. Sekarang Mama harus tanggung jawab," seru Amri parau.

__ADS_1


__ADS_2