
Arion dan Karina kini berada di markas Black Diamond. Arion hendak memeriksa perkembangan organisasinya secara langsung.
Karina berada di kamar Arion, sedangkan Arion sendiri keluar untuk memeriksa. Di kamar, Karina setelah memeriksa email langsung menonton drama. Drama baru yang sesuai dengan salah satu genre usahanya. Karina dengan serius mengikuti jalan cerita.
Hanya perusahaan kurang ajar yang menyembunyikan tangan usai melakukan uji coba maut. Untung ini hanya drama, jika benar ada di dunia nyata, aku akan melakukan hal sama dengan yang dilakukan tokoh utama. Kembang api raksasa.
Aku saja yang mafia melarang segala sesuatu yang berhubungan dengan narkoba. Dimanapun itu, narkoba adalah sebuah larangan. Narkoba berkedok obat pereda nyeri. Dasar! Ingin sekali aku meremas wajah mereka.
Karina mengepalkan tangan erat. Karina merasa geram dengan para produsen, pengedar, dan pemakai obat-obatan terlarang. Padahal sudah jelas itu dilarang, kecuali dosis kecil dalam hal kedokteran, itupun ada aturannya.
Walaupun sudah ditekan dan diberantas, kasus mengenai narkoba ini seakan tidak pernah absen dari dunia berita barang sehari.
Ku rasa mereka sudah buta indera. Otak buntu, hati tertutup.
Karina menggelengkan kepala, menghela nafas mengurangi kekesalannya mengenai narkoba. Karina menutup laptop ketika mendengar suara pintu terbuka, menoleh ke arah pintu.
Arion masuk dengan wajah yang tampak sedikit lelah. Arion langsung mengambil tempat duduk di samping Karina.
"Bagaimana?" tanya Karina.
Arion tersenyum.
"Tentu saja aman. Suamimu ini perencana yang hebat. Tidak ada masalah yang tidak bisa ku selesaikan."
Arion berujar dengan nada bangga. Karina memutar bola mata, heran dengan merak Arion yang tidak pernah hilang.
"Ya. Walaupun terlambat yang penting selesai bukan?" sahut Karina.
"Yap. Yang penting selesai!" balas Arion.
"Hm. Kau lagi memikirkan apa? Kau bisa memanipulasi ekspresi di depan orang lain. Tapi aku sudah sering melihatnya, kau lagi kesal bukan?" terka Arion.
"Instingmu semakin tajam saja," puji Karina.
"Insting? No Sayang. It's adalah ketajaman mataku," ralat Arion.
"Ya apapun itu intinya sama."
Karina menceritakan kekesalannya. Arion mendengarnya dengan seksama. Di akhir cerita, Arion mengusap punggung Karina, serta merayu Karina agar hilang kekesalan tersebut. Ibu hamil tidak boleh sering merasa kesal. Perasaan sangat mempengaruhi kehamilan.
"Bagaimana bisa selesai? Keduanya berjalan di arah yang berbeda. Hukum dibuat untuk menciptakan ketertiban dan kenyamanan. Tapi setiap hukum pasti ada pelanggarnya. Jika semua taat pada hukum, maka penegak hukum tidak diperlukan. Mereka hanya makan gaji buta jika tidak ada kejahatan di muka bumi ini. Tapi Sayang, aku rasa itu tidak mungkin karena kejahatan sudah ada sejak dulu, sejak ada pembunuhan pertama kali di muka bumi ini," papar Arion.
Karina mengangguk menyetujui.
"Ya itu benar. Tapi aku masih bingung dengan mereka yang menerima uang panas atau mengambil uang yang bukan hak mereka. Apa gaji mereka tidak cukup? Apa sumpah mereka saat dilantik itu cuma waktu pelantikan? His … para sampah itu juga membuatku geram."
Kini Karina tidak hanya kesal mengenai narkoba, tetapi juga kepada mereka yang melakukan suap menyuap, korupsi, serta nepotisme.
"Itu adalah rahasia umum. Itu bisa diminimalisir tapi sulit bahkan mustahil untuk dihilangkan. Ah sudahlah mengapa memikirkan itu? Buat sakit kepala. Kita sebagai seorang pemimpin harus mengawasi jalannya perusahaan kita dengan baik. Juga mencegah adalah tangan jahil yang merugikan perusahaan," jawab Arion.
Karina bergumam sebagai jawaban. Saat Karina memejamkan mata, dahi Karina mengeryit tipis dengan tangan berada di dada.
"Uh."
Karina memukul pelan dadanya, merasa sesak. Arion yang melihat langsung mengusap punggung Karina, juga mengecek suhu tubuh Karina. Arion panik, tapi harus tetap tenang.
"Ada apa? Dadamu sakit?"
"Tidak tahu. Aku punya firasat buruk," jawab Karina, kepalanya terasa pusing.
Rasa yang sama saat khawatir dengan Enji saat malam pernikahannya. Pikiran Karina langsung tertuju pada Enji dan Bayu.
"Cepat ke kamarku!"
Arion menyuruh dokter markas ke kamarnya, untuk memeriksa kondisi Karina. Karina menahan tangan Arion yang hendak membuka pintu.
"Hubungi, hubungi Enji atau Bayu! Cepat!"
"Enji? Baik."
Arion langsung mencari kontak Enji, menghubunginya.
"Tidak dijawab?"
"Handphonenya tidak aktif, aku akan hubungi Bayu."
Sama seperti Enji, Bayu juga tidak bisa dihubungi. Karina memijat dahi antara kesal dan khawatir. Dokter masuk, Arion membuka pintu dengan remote control.
"Tidak usah. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh kepastian keadaan mereka. Dimana handphoneku?" tolak Karina.
Karina mencari handphone. Arion menepuk dahinya pelan, ia lupa bahwa Karina tidak suka diperiksa oleh orang lain. Arion melambaikan tangan menyuruh dokter itu keluar.
Dokter berjenis kelamin perempuan itu menunduk hormat kemudian keluar tanpa suara.
"Dimana handphoneku?" tanya Karina lagi, mengedarkan pandangan mencari benda pipih itu.
"Kalau tidak salah tasmu kau tinggal di mobil," jawab Arion.
"Tolong ambilkan. Aku harus memeriksa keberadaan mereka," pinta Karina.
__ADS_1
Arion langsung bergegas keluar kamar menuju mobil. Tak butuh waktu lama, Arion sudah kembali. Karina langsung menghubungi Enji.
"Ck. Mengapa tidak tersambung juga? Mereka kenapa?" bingung Karina.
"Jamnya juga mati?" tanya Arion.
Karina mengangguk. Baik handphone maupun jam keduanya mati.
Karina meletakkan handphone, beralih membuka laptop. Melacak keberadaan Enji dan Bayu.
"Tidak terdeteksi?"
Apa mereka memasuki daerah yang memakai pemancar sinyal?
Karina mendengus.
Saat Karina sibuk menduga kemana Enji dan Bayu pergi, handphone Karina berbunyi nyaring.
"Syaka," ujar Arion menyerahkan handphone pada Karina.
Karina langsung menjawab.
"Ada apa?"
"Queen gawat! Tuan Enji dan Bayu dalam bahaya. Mereka diculik oleh kelompok perdagangan organ manusia!" pekik Bayu dengan nada sangat khawatir dan takut.
"Apa?!"
Mata Karina melebar.
"Kapan itu terjadi?" tanya Karina.
"Tadi siang. Saat makan siang Tuan Enji dan Bayu bertengkar. Bayu pergi sendiri. Kami kira ia ke panti. Tuan Enji kemudian menerima telpon dari orang yang menculik Bayu. Tuan Enji berpesan apabila dia tidak kembali dalam dua jam ke depan, maka ia dalam masalah. Queen saya harus bagaimana?" jelas Syaka, menjelaskan kejadian secara rinci, jelas sekali nadanya takut.
"Brengs*k!" marah Karina.
Arion yakin Karina menerima kabar buruk.
"Kau dimana sekarang?" tanya Karina.
"Saya di panti, bersama ibu dan anak panti lainnya," jawab Syaka.
"Kau tunggu saja orangku ke sana!" perintah Karina langsung mematikan panggilan.
"Kurang ajar! Siapa yang berani menyakiti mereka?!"
Karina melemparkan gelas yang berada dalam jangkauannya. Arion terlonjak kaget.
"Kendalikan emosimu Karina!" tegas Arion.
"Saya Queen."
Aleza langsung menjawab dalam dua kali deringan.
"Jemput seorang anak bernama Syaka di panti yang ku kirim padamu. Kemudian temukan adik dan keponakanku Mereka menjadi korban penculikan. Pecahkan pemancar sinyal yang ada di sana, waktu kalian terbatas!" perintah Karina.
Kebetulan Aleza berada di markas negara A. Jadi mudah bagi Karina untuk menyuruh.
"Baik Queen!"
Dari nada bicaranya, Aleza terdengar kaget. Karina melempar kasar handphone ke atas ranjang begitu panggilan selesai.
"Huft."
Mengembuskan nafas kasar.
"Tenanglah. Mereka pasti selamat. Orang-orangmu ahli dan hebat. Terlebih pimpinannya Aleza," ujar Arion.
"Tetap saja Ar. Aku tidak masalah jika mereka menculik hanya untuk meminta tebusan. Tapi masalahnya ini penculikan untuk diambil organnya. Dan mereka bukan penjahat amatiran. Mereka sudah ahli dan cerdas. Jago di bidang IT," ucap Karina.
"Begitu kah? Kau ragu dengan kekuatanmu sendiri?"
Karina menggeleng.
"Masalah kita berpacu dengan waktu, Ar. Terlambat sedikit, penyesalan tiada guna."
"Baiklah. Aku paham. Sekarang ayo minum dulu."
Arion menyodorkan gelas berisi wine. Karina mendongak, tangannya menerima gelas tersebut.
"Aku juga sudah mengirim orang-orangku ke markas sana. Kita bekerja sama mencari mereka. Bekerja sama akan meringkas waktu," ucap Arion.
"Ah."
Karina menghela nafas, sedikit lega setelah minum.
"Sebelum matahari terbenam, aku harus sudah mendengar kabar mereka," ujar Karina.
Arion mengangguk dan tersenyum. Dengan lembut, Arion memeluk Karina, agar Karina lebih tenang.
"Aku juga mau melihat wajah br*engsek - br*engsek itu. Akan ku patahkan leher mereka!"
__ADS_1
Karina bergumam geram. Arion menyeringai.
"Itu masih terlalu mudah Sayang. Lebih baik lemparkan saja mereka ke dalam kandang kucing-kucing kita. Aku akan puas mendengar suara rintihan mereka. Sayang bagaimana menurutmu?" saran Arion.
Karina ikut menyeringai.
"Benar. Mereka yang mengusik keluargaku akan merasakan sakitnya menjemput ajal! Merasakan bagaimana inginnya mati daripada hidup!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aleza, Syaka, serta tim yang diutus menyusuri jalanan dengan menggunakan mobil. Satu mobil van tempat Aleza, Syaka, dan dua orang anggota yang ahli di bidang hacker juga IT.
Di belakang mobil van, dua mobil mengikut beriringan. Dua mobil hitam itu berisi sisa anggota Pedang Biru dan anggota Black Diamond yang Arion utus. Mereka melaju sembari bekerja.
Syaka duduk dengan tegang melihat para ahli itu bekerja. Suara benturan antara jari dan keyboard membuat jantung Syaka berdebar-debar.
Aleza dan dua anggota itu sibuk memecah pemancar sinyal yang masih tersisa di seluruh kota ini. Mereka harus bekerja dengan cepat namun tepat. Satu detik bagi mereka ada waktu yang sangat berharga. Terlebih Pimpinan tertinggi mereka sudah mengatakan waktu terbatas.
"Nona, hanya ada satu daerah lagi yang belum kita pecahkan. Saya rasa di sana tempat anggota Queen ditawan. Apakah kita pecahkan sekarang?"
Setelah dilacak, ternyata keberadaan Bayu ataupun Enji tidak ada di daerah yang sudah dipecahkan.
"Barat Daya? Bukankah itu hutan?"
Aleza melihat lokasi yang dimaksud.
"Aku rasa setelah kita dekat dengan target baru dipecahkan. Jika dipecahkan sekarang pasti pelaku akan segera bertindak, itu bisa mempercepat bahaya yang akan terjadi," ujar Syaka, memberikan analisisnya.
Aleza tersenyum tipis, kemudian mengangguk.
"Nona?"
"Ikuti ucapan anak ini. Queen tidak pernah salah menilai orang. Bagus anak muda!"
Aleza memuji Syaka, tapi pujian itu tidak berefek apa-apa pada Syaka. Ia hanya tersenyum tipis, hati dan pikirannya tetap tertuju pada Bayu dan Enji.
Ketiga mobil itu melaju cepat membelah jalanan menuju barat daya kota. Aleza terus melihat jam, menghitung waktu yang terlewat dan target korban diselamatkan.
Kalian harus bertahan! Kami akan segera menyelamatkan kalian! Jangan kecewakan kami!
Syaka berharap di dalam hati dengan kedua tangan menyatu, saling menggenggam.
*
*
*
Di tempat di mana Bayu dikurung, ada sebuah kurungan lagi yang berada di sampingnya.
Di dalam kurungan itu, sosok pria dewasa yang tidak sadarkan diri terbaring dengan leher yang dirantai. Kemeja putih yang digunakan tampak kotor dan sobek di beberapa bagian.
"Dua mangsa. Akan kita eksekusi setelah matahari terbenam. Satu jam lagi."
"Tunggu sejenak kawan. Anak kecil itu belum sadar setelah kita bius. Biar bagaimanapun kita harus memberi kesempatan ayah dan anak berbicara lebih dulu sebelum kita eksekusi, karena setelah itu mereka dan kita akan beda alam. Setidaknya kita harus membuat citra penjahat bermoral, akan menjadi satu kebaikan memberikan waktu ayah dan anak sebelum salah satu dari mereka menyaksikan pembedahan yang akan kita lakukan."
Temannya tertawa keras, ia bahkan sampai menepuk lantai.
"Ya ya ya kau benar!"
"Kau sudah siapkan semuanya kan?"
"Tentu saja!"
Ruangan ini sudah terang bendera. Di samping kandang, terdapat sebuah brangkar, juga ada lemari pendingin serta alat-alat untuk melakukan pembedahan. Tak lupa lampu operasi tergantung di atas brangkar.
"Lebih baik kita makan dulu."
"Hm, ayo!"
Kedua orang itu berdiri, meninggalkan ruang bawah tanah. Terdengar suara benturan cukup keras bertanda pintu ditutup.
Tak lama setelah kepergian mereka berdua, jari Bayu bergerak. Mata dengan bulu mata lentik itu bergerak tidak beraturan. Bibir Bayu juga ikut bergerak diikuti dengan mata yang terbuka lebar seakan terbangun dari mimpi buruk.
"Uh."
Bayu melenguh sakit. Matanya serasa kabur. Kepalanya teramat pusing, bahkan untuk duduk saja Bayu tidak mampu.
"Dimana ini?"
Bayu ingat tadi ia naik taksi ingin ke panti asuhan, akan tetapi saat di tengah jalan Bayu merasa pusing dan begitu sadar berada di tempat antah berantah ini.
Bayu berusaha duduk. Ia baru sadar bahwa lehernya di rantai. Bayu tetap berusaha duduk. Untung saja rantai ini cukup panjang. Setelah berusaha, Bayu berhasil bersandar pada besi kandang.
Mata Bayu yang kabur perlahan mulai cerah walaupun tidak secerah dan sejernih mata sehat. Ia kan sudah menderita minus.
Siapa yang merantaiku? Apa aku ini anjing hah?! Dasar baj *ngan! Uh … sakit.
__ADS_1
Bayu mengeram keras, menggertakkan gigi. Ia menyentuh rantai yang mengikat lehernya, tidak bisa dilepas. Bayu memeriksa dirinya.
Jam? Jam tanganku tidak ada? Akh … sial!