
Arion beranjak dari jendela, bersiap menyusul Karina ke dunia mimpi. Namun baru saja dua tiga langkah ia berjalan, handphone Arion bergetar, ada panggilan masuk.
"Siapa yang menelpon? Larut malam lagi," gumam Arion. Arion segera mengambil dan mengangkat panggilan. Nama Calvin tertera di layar.
"Ada apa? Gak ada waktu lain apa?" tanya ketus Arion.
"Santai Ar. Masalahnya ini urgent. Masalah masa depan gue!!!" ujar Calvin resah.
"Hah? Masa depan? Memangnya kamu punya masa depan kah?" tanya Arion terkekeh pelan, melirik Karina yang tertidur.
"Ya punyalah! Masa depan gue Riana Anjasmara!!" sungut Calvin kesal.
"Jangan teriak. Istriku tengah tertidur," kesal Arion dengan berbisik.
"Kamu bersama Kakak ipar? Cepatlah keluar kamar,"tutur Calvin pelan.
"Hmm … ada masalah apa rupanya?" tanya Arion beranjak keluar dari kamar, berjalan menuju teras villa. Duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Raina kesayanganku mengancam akan memutuskan acara pernikahan denganku. Dia marah besar tadi malam sebab dia tahu bahwa kita bertiga merencanakan bulan madu berdarah untuk Kakak ipar," terang Calvin berapi-api.
"Itu resiko. Oh ya bagaimana dia tahu? Jika bawahannya saja tahu berarti bukan tidak mungkin Karina juga sudah tahu."
Mata Arion membulat. Meletakkan tangannya kasar di atas meja di sampingnya.
"Mungkin," sahut Calvin.
Arion mengerutkan dahinya bingung.
"Dia tahu mengapa dia diam?"
"Tuan belum tidur?" Suara berat Pak Tri menyapa Arion. Sontak Arion menyembunyikan handphonenya.
"Belum Pak. Belum ngantuk," jawab Arion berusaha tenang dan tersenyum.
"Oh begitu toh Tuan, sebaiknya Anda lekas masuk ke dalam. Biasanya bentar lagi ada penjaga yang memunculkan diri di pohon sebelah villa ini. Anda orang baru, takutnya nanti dia mengira Anda orang yang berniat jahat dan mengganggu Anda." Nasehat Pak Tri memberi peringatan.
Arion bergidik ngeri.
"Memangnya ada siapa Pak?" tanya Arion sedikit penasaran.
"Itu loh Tuan, wanita berambut panjang menutupi wajah, berbaju putih dan sering di atas pohon terus bilang kikikikik …," jelas Pak Tri.
"Tapi ia baik kok. Sejak perkebunan dan villa ini dibangun dia sudah ada di pohon itu makanya gak ditebang sampai saat ini. Kalaupun mau merapikan pohon harus izin dulu," tambah Pak Tri.
"Benarkah? Apa Karina tahu itu?" tanya Arion mengusap tengkuknya.
"Hmm … Nona tahu sebab Nona memiliki mata batin yang dapat melihat makhluk yang tak kasat mata," jawab Pak Tri.
Tak tahan lagi, Arion bergegas kembali masuk ke dalam rumah. Pak Tri mengulas senyum senang. Kemudian ia beranjak setelah melirik sekilas pohon yang ia ceritakan tadi.
"Baik-baiklah di sana," gumamnya langsung pergi.
Tak lama tercium bau bunga melati dan kantil. Angin bertiup sedikit kencang namun cuma sesaat. (Eh? Kok jadi horor ya?)
"Vin lanjut besok pagi saja ya. Aku ngantuk berat nih," ucap Arion langsung mematikan panggilan Bergegas secepat mungkin menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Arion langsung membaringkan tubuhnya di samping Karina, menarik selimut sebatas dada dan memeluk Karina erat, menenggelamkan kepalanya di leher Karina.
***
__ADS_1
Sedangkan Calvin menggerutu kesal akibat panggilannya di putus sepihak. Niat ingin curhat dan mengutarakan keputusannya malah gagal akibat mbak di atas pohon.
Calvin mendesah pelan. Mengambil rokok, meletakkan bagian pangkal di bibir dan menyulutnya. Mengisapnya perlahan dan menghembuskan asapnya ke udara. Menutupi wajahnya dengan asap putih.
"Ah …," desah Calvin kesal. Pikirannya melayang saat jalan berdua dengan Raina saat malam tadi.
Flashback On.
Sesuai kesepakatan, jam 19.00 Calvin sudah berada di lobby apartemen mewah Raina dan Lila. Ya memang mereka tinggal satu apartemen. Lila sendiri masih berada di kediaman Anggara, entah membahas apa sampai satu harian penuh.
Raina langsung masuk ke dalam mobil tanpa basa-basi dan cepika-cepiki. Calvin heran namun tetap diam. Melajukan mobilnya perlahan menuju lokasi tujuan mereka.
Calvin melirik Raina. Tak biasanya mereka dalam suasana kecanggungan yang lama.
"Ra …," panggil Calvin pelan.
"Ya …," sahut Raina tanpa menoleh.
"Kamu kenapa?" tanya Calvin.
"Gak papa. Cuma kepikiran sama Nona saja. Kira-kira lagi ngapain ya?" jawab Raina melempar pertanyaan aneh menurut Calvin.
"Aku khawatir dengan Nona. Aku ragu bulan madu kali ini akan berubah menjadi bulan madu berdarah," tutur Raina dengan wajah khawatir, membuat Calvin terkejut.
"Oh. Memangnya kalau bulan madu ngapain ya?" tanya Calvin dengan wajah kaku.
"Jalan-jalan," jawab Raina.
Calvin terkekeh geli.
Polos juga calon istriku ini, batin Calvin.
Berhubung ingin lebih tenang dan sepi, maka Calvin memesan ruang VIP restoran yang tersedia. Mereka segera masuk ke ruang VIP yang dipesan. Pelayan datang membawakan buku menu. Calvin dan Raina segera memilih dan memesannya.
"Ini saja untuk pesanan Tuan dan Nyonya?" tanya pelayan ramah memastikan. Raina mengangguk.
"Untuk saat ini cukup ini saja. Jika ada tambahan saya akan memanggil kalian," ujar Calvin datar.
"Baik Tuan."
Pelayan segera berlalu. Calvin tanpa sadar merogoh saku celananya. Matanya membulat menemukan ada yang kurang. Ia beralih memeriksa saku kantong celana yang lain. Calvin terdiam, berusaha mengingat. Apakah memang ketinggalan, hilang atau jatuh di sembarang tempat?
Mati. Dompet dan handphoneku tinggal di atas nakas, keluh Calvin meringis dalam hati.
Tangan Calvin berhenti ketika menyentuh sesuatu dengan cepat ia mengambilnya. Ternyata uang logam seribu rupiah di sana. Calvin menatap nanar uang itu.
Tinggal seribu. Oh sedihnya, batin Calvin.
"Pipin kamu kenapa?" tanya Raina penasaran.
"Eh? Gak papa kok Ra. Cuma ada panggilan alam, aku ke toilet dulu ya. By de way don't call me Pipin. My name is Calvin," sahut Calvin sedikit merajuk sebab namanya diganti.
"Sama saja. Nama kamu kan Calvin, aku manggilnya Vin, biar lebih enak aku tambahin lagi Vin jadinya kan Vinvin. Tapi kedengarannya kan lucu yang aku ganti dari Pipin sajalah," jelas Raina santai.
"Sayang, kalau kamu ganti nama aku nantiama sama Papa harus akikahi aku lagi," keluh Calvin.
"Ya tinggal diakikahi. Dua ekor kambing jantan kan? Terus kamu diayun di ayunan yang lebih kuat terus potong rambut kan beres. Jadi nama kamu berubah jadi Pipin Alantas," tutur Raina.
"Huh gak segampang itu. Dah akan aku ke toilet dulu," ketus Calvin segera beranjak pergi. Raina terkekeh pelan. Sebenarnya tujuannya makan malam ini adalah masalah balas dendam.
__ADS_1
Lima menit, sepuluh menit berlalu, Calvin belum kembali juga. Raina gelisah sebab makanan sudah datang. Dengan langkah cepat ia menyusul Calvin.
"Eh? Apa boleh masuk toilet pria ya?" gumam Raina saat tiba di depan pintu toilet pria.
"Bodo' ah … siapa tahu saja tuh orang pingsan," pikir Raina memutar handle pintu. Belum juga terbuka, pintu sudah terbuka duluan.
"Eh Mbak, salah tempat. Ini toilet khusus cowok. Atau Mbak mau ngintip ya?" tegur orang yang keluar itu yang ternyata bukan Calvin.
"Eh … maaf Mas, tunangan saya tadi pamit ke toilet sampai sekarang gak balik-balik. Jadi saya susulin deh," jelas Raina.
Dahi pria itu mengerut dan menatap tak percaya Raina.
"Tapi di dalam gak ada siapa-siapa lagi," terangnya segera pergi meninggalakan Raina yang terbengong. Tak lama Raina menggertakan giginya kesal.
"Ahg … Pipin kurang ajar. Beraninya dia bohong dan pergi ninggalin aku. Awas saja kau. Akan ku minta Nona meledaknya perusahaanmu," teriak marah Raina meninggalkan toilet pria.
Wajahnya ditekuk, darahnya mendidih. Berjalan dengan langkah kesal menuju ruang VIP mereka tadi. Ternyata saat membuka pintu, Calvin sudah berada di dalam. Menatap Raina cemas.
"Ra kamu dari mana?" tanya Calvin beranjak menghampiri Raina.
"Toilet. Nyari burung," jawab Raina asal. Mata Calvin melotot seketika.
"Kamu ke toilet pria?" tanyanya tak percaya.
"Hmm … nyari burung kesayanganku yang terbang entah kemana, tahunya sudah kembali kemari. Darimana kamu?" jawab Raina mendaratkan pinggungnya di kursi.
"Aku? Burung?" beo Calvin mengikut duduk.
"Iya Pipin," jawab Raina.
"Astaga Rara, aku ini manusia loh," seru Calvin.
"Terserah. Dari mana kamu?" tanya Raina lagi.
"Aku … aku habis dari rumah, dompet sama handphone aku ketinggalan," jelas Calvin malu.
"Oh …." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Raina. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyantap makan malam yang mulai mendingin. Seusai makan malam, Raina menatap serius Calvin tanpa berkedip. Calvin risih dan malu dipandangi begitu. Ingin mengatakan jangan pandang aku seperti itu namun sudah Raina duluan yang bukan suara.
"Batalkan rencana balas dendammu pada Nonaku," ucap Raina datar seolah ini adalah perintah yang mutlak tak dapat dibantah. Calvin tertegun. Diam mencerna ucapan Raina.
"Rencana? Balas dendam? Maksudnya?" tanya pura-pura tidak tahu, mencoba untuk berkelit.
"Maksudnya?" tanya Raina mengulang pertanyaan Calvin sembari mengambil handphone dan mencari sesuatu di sana lalu ditunjukkan pada Calvin. Calvin menerima ragu.
Matanya membuat dan terperajat. Skenario balas dendam, persekutuan dengan Joya, rencana bulan madu berdarah tertulis lengkap di sana.
"Lantas ini apa maksudnya?" tanya Raina dingin.
"Ini …," ujar Calvin.
"Rencana balas dendam kalian pada Nonaku bukan? Kamu kira kami, para bawahan tidak tahu? Kamu salah Tuan Muda Alantas," desis Raina geram.
Calvin meletakkan handphone Raina di meja, menatap datar Raina dan tertawa kecil.
"Batalkan? Heh tidak mungkin," pekik Calvin tegas.
"Bagaimana mungkin? Rencana yang sudah matang dibatalkan. Lagian ini adalah urusan kami dengan Karina bukan denganmu Ra, jadi lebih baik kamu tak ikut campur. Karina pantas mendaptkannya. Dia telah membantai Black Diamond sampai nyawaku berada di ujung tanduk," cercah Calvin menolak.
"Heh? Pantas mendapatkannya? Kau itu pelupa atau bodoh?" tanya sarkas Raina tak sanggup mengontrol emosi. Calvin refleks duduk tegak.
__ADS_1