Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 309


__ADS_3

Karina dalam perjalanan menuju perusahaan. Pak Anton mengemudi dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang senggang. Karina masih sibuk dengan laptopnnya.


"Sambungan ke Sasha" ucap Karina. Pak Anton mengangguk.


"Saya Nona."


 Sasha menjawab cepat dan hormat.


"Dalam waktu tiga puluh menit, hubungi semua direktur. Kita akan melaksanakan rapat!"titah Karina tegas.


"Rapat? Dalam rangka apa, Nona?"tanya Aleza, sedikit bingung.


"Bidang baru! Cepatlah, waktumu sudah berkurang tiga puluh detik!"jawab Karina.


"Ah … baiklah."


Karina mendengus. 


"Aku sedikit lembut saja mereka mulai berani. Apakah aku harus kembali kejam seperti dulu?" 


Karina melepas kacamata kemudian menatap Pak Anton dari spion tengah. Pak Anton melirik seraya menelan ludah.


"Menurut saya tadi itu wajar, Nona. Para direktur pasti akan kebingungan jika disuruh rapat mendadak tanpa agenda. Tapi Nona, bidang mana lagi yang ingin Anda masuki dan kembangkan?"tanya Pak Anton, penasaran.


"Hm? Bidang keuangan," jawab Karina. 


Kedua mata tajamnya beralih menatap jendela mobil. Karina tersenyum tipis saat melihat billboard yang menayangkan salah satu produk terbaru di bidang transportasi. 


"Saat ada peluang, maka harus digunakan sebaik mungkin. Saat peluang itu hilang, penyesalan adalah yang pertama," ucap Karina, memiringkan kepala sedikit.


Pak Anton merasa merinding mendengar ucapan Karina. Pak Anton merasa bahwa sebentar lagi, semua media akan menyorot mengenai Karina beserta usahanya. Bukan hal baru, hanya sepertinya kali ini lebih heboh. 


"Nona, Anda pasti akan semakin berjaya," ujar Pak Anton tersenyum.


Karina hanya menjawab dengan senyuman. Karina kembali memakai kacamata dan kembali fokus pada laptop di pangkuan.


*


*


*


Rapat online berjalan dengan lancar tanpa hambatan berarti. Apalah arti protesan beberapa orang dibandingkan persetujuan banyak orang? 


Tapi Karina tidak ingin menciptakan duri dalam daging bagi perusahaan sendiri. Ia secara gamblang menjelaskan maksud dengan tujuan perusahaan memasuki bidang keuangan. 


Disertai dengan aura intimidasi yang mampu menembus ruang dan waktu, ditambah logika dan analisis yang akurat, beberapa yang protes jadi berubah menjadi setuju. 


Seluruh anak cabang perusahaan sudah mengetahui rencana Karina. Selesai rapat, bagian yang menangani pembangunan baru langsung bergerak. Dimulai dari mengurus perizinan hingga lokasi perusahaan berada dan lain sebagainya.


Di ruangannya, Karina memakai pena biru dengan mata fokus pada layar laptop. Selesai rapat online, Karina rapat dengan perusahan game dari negeri tirai bambu. Mereka berbicara dalam bahasa inggris dicampur dengan mandarin. 


"Bagaimana Presdir? Apakah Anda puas dengan ini?"tanya Presdir perusahaan game tersebut.


"Aku puas. Melihatnya saja aku merasa masuk ke dalam permainan. Pasti akan lebih terasa lagi jika memainkannya sendiri. Hm bagaimana dengan besar aplikasi?"tanya Karina. 


Saat rapat sebelumnya, besar aplikasi masih terlalu besar, akan membutuhkan banyak kuota dan penyimpanan untuk game ini. Walaupun game ini yang sangat menarik, akan banyak orang yang enggan menginstalnya karena terlalu berat.


"Kami sudah menyelesaikannya. Untuk ukuran game online, ukuran aplikasi berada di rata-rata. Tidak terlalu kecil atau besar tapi kualitas permainan tidak berubah, kecuali untuk jenis handphone tertentu yang tidak memenuhi kriteria penginstallan. Kami sudah mendata dan mengirimnya pada sekretaris Anda." 


"Ya aku sudah melihatnya," sahut Karina. Padahal Karina baru saja membaca laporan tersebut diam-diam tanpa terlihat di layar monitor.


"Baiklah, semua sudah final. Kira-kira kapan waktu yang cocok untuk meluncurkannya?"


 Karina meminta pendapat Presir muda itu. 


"Saya rasa tiga hari setelah tahun baru adalah waktu yang cocok. Sebelum hari H tiba, kami dalam melakukan pengecekan dan perbaikan lagi."


"Tiga hari setelah tahun baru?"


 Karina mengingat jadwalnya. 


"Baik. Aku bisa!"jawab Karina.


"Senang bekerja sama dengan Anda, Presdir Karina," ucap Presdir itu dalam bahasa Indonesia yang masih kaku.

__ADS_1


"Wah - wah. Anda memang jenius. Aku juga senang bekerja sama dengan anak muda seperti kalian. Sukses untuk kalian, Zhi Yi Animation," puji Karina dengan tawa senangnya.


"Saya senang bisa membuat Anda puas. Saya mengharapkan bahwa ini bukan kerja sama kita yang pertama dan terakhir, saya berharap kita bisa bekerja sama lagi. Perusahaan kami terbuka lebar menyambut KS Tirta Grub," ujar Presdir Zhi Yi dengan bahasa mandarin.


"Okey. Kalian membuatku puas. Hal itu bisa aku pertimbangkan," jawab Karina dengan bahasa Inggris.


Rapat berakhir. Karina menghela nafas lega. Ia meraih gelas berisi air mineral, menenggak hingga separuh. 


Tak berselang lama, Sasha masuk setelah mengetuk pintu dan mendapat izin masuk. Dengan membawa setumpuk berkas, Sasha mendekat ke meja Karina. Karina menaikkan alis melihat tebalnya berkas yang Sasha bawa. 


"Berkas apa saja ini?"tanya Karina, beringsut mengambil berkas paling atas.


"Laporan akhir pembangunan Tirta Garden?"


"Laporan akuntansi akhir tahun, laporan rancangan pengeluaran untuk pesta, laporan …." 


Karina menaikkan satu tangan menyuruh Sasha berhenti. 


"Aku tahu. Keluarlah, biar aku menyelesaikan ini semua!"tegas Karina. 


Sasha mengangguk kemudian keluar tanpa suara. Karina mengembuskan nafas kasar, kembali memainkan pena.


"Hm … mengapa banyak sekali agenda yang harus keluar perusahaan di saat aku hamil tua? Ahh lupakan! Ini adalah bagian dari hidupku. Susah payah aku membangunnya apakah layak ketika sudah berhasil aku mengeluh? Ya Tuhan berilah hambamu ini kekuatan," gumam Karina, memejamkan mata sejenak. 


Ketika membuka mata, tatapan Karina sudah berubah menjadi serius. Karina tersenyum tipis dan kembali berkutat dengan tumpukan berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani.


Menjelang sore, Karina baru menyelesaikan separuh tumpukan berkas. Karina berhenti saat ada panggilan masuk ke telpon kantornya.


"Hm?"


"Nona, aktor Jonathan izin menemui Anda." 


Karina tahu itu dari meja resepsionis.


"Mengapa?"


"Katanya mengenai keputusan Anda."


"Mengapa dia menjengkelkan? Tinggal terima bersih saja banyak cerita. Huh." 


Karina mendengus sebal. Ya walaupun ia sudah menduga tetap saja kesal.


"Baik, Nona."


 Suara resepsionis itu terdengar takut. 


Karina lantas berdiri, melangkah keluar dan turun satu lantai ke bawah. 


Karina tidak pernah mengizinkan orang lain selain sekretaris, asisten, dan orang kepercayaan untuk masuk ke ruang kerja pribadinya.


 Jika harus menemui atau bertemu dengan seseorang, maka Karina akan ke ruang kerja cadangan.


Pintu terbuka lebar. Pria tampan dengan tubuh mendukung masuk dengan wajah tegang dan sulit untuk Karina terka.


"Apa yang ingin kau katakan?"tanya dingin Karina, to the point ingin cepat selesai.


"Presdir, jika saya harus mengajar, bolehkan saya memilih kampus untuk tempat saya mengajar?"tanya Jonathan ragu-ragu. Awalnya ia yakin tapi kini meragu.


"Hanya menanyakan hal itu?"tanya Karina, mengerutkan dahi. 


"Emm … tidak. Saya ingin bertanya, apakah suatu saat nanti saya bila kembali berakting?"


"Demi siapa kau ingin kembali berakting?"tanya Karina.


"Demi diriku, orang tuaku, demi penggemarnya," jawab Jonathan mantap.


 Karina tersenyum tipis. 


"Akan aku pertimbangkan. Sekarang selesai semua sangkutan sebelum kau mengajar, oh ya di universitas mana kau ingin mengajar?"


"Universitas yang berada di negara K." 


Karina mengangguk. Jonathan tersenyum lega. Karina berdiri, meninggalkan ruangan dan kembali ke ruangannya. Jonathan membungkuk hormat, ia langsung keluar dan meninggalkan perusahaan. 


*

__ADS_1


*


*


"Untuk waktu yang tidak ditentukan, kamu dipercaya untuk menjalankan perusahaan adikku, GM Helian." 


Karina menitahkan pada salah seorang GM kepercayan dan juga kebanggaannya untuk menjalankan perusahaan Enji. 


GM Helian adalah seseorang yang cakap dan berbakat, ditambah dengan wajah tampan dan tubuh mendukung. GM Helian menjadi salah satu kandidat pria lajang yang banyak diincar oleh kaum hawa, tak terkecuali di lingkungan kantor ini. 


Bahkan Sasha saja kepincut dengan GM Helian. Hanya saja Sasha menyimpan rapat perasaannya. 


"Suatu kehormatan bagi saya, Presdir," jawab GM Helian dengan tersenyum.


"Selama kau di sana, perhatikan setiap pergerakan. Satu lagi, awasi secara ketat salah satu karyawati bernama Jessica!"


"Anda tidak akan kecewa dengan pekerjaan saya. Saya akan melakukan yang terbaik." 


"Bertugaslah mulai besok!" 


"Baik, Presdir!"


Karina mengangguk, mengibaskan tangan menyuruh Helian keluar. Selain keluar tanpa suara.


Huff akhirnya selesai juga beberapa. Cepatlah kalian sadar. Kalau tidak aku akan mengambil ahli perusahaan kalian itu selamanya! batin Karina.


*


*


*


"Apa benar Bayu mengalami ganguan pendengaran, Kak?"tanya Syaka pada Aleza. Aleza menggeleng, belum bisa memastikan sebelum Revan keluar dari ruang rawat Bayu.


Tapi, selepas Magrib, Syaka menemukan Bayu sudah sadar. Saat itu Syaka sangat bahagia dan bersyukur. Akan tetapi, Syaka merasa heran karena Bayu tidak menggubris pertanyaan.


"Kau mengatakan apa? Kau memgejekku tanpa suara?"  


Saat itu Syaka merasa tegang dan bingung, hingga akhirnya ia memanggil Revan untuk memastikan kondisi Bayu.


Tak berselang lama, Revan keluar dengan menghela nafas berat. Matanya menunjukkan kesedihan.


"Walaupun sudah diduga, hasilnya tetap membuatku sedih," ujar Revan.


"Katakan dengan jelas!"ucap Aleza.


"Ya Bayu mengalami gangguan pendengaran, dan itu cukup parah," jawab Revan.


Syaka mengerjap cepat, tidak percaya dengan apa yang ia dengar, tapi ia harus menerima karena sudah melihatnya sendiri.


"Apa bisa disembuhkan?"tanya Syaka.


"Wah bicaramu sudah lebih sopan," puji Revan. 


Syaka mendengus senyum.


"Tidak ada penyakit yang tidak bisa diobati, kecuali bagi orang yang memyerah dan jika sudah mencapai batas. Bayu bisa sembuh. Tapi itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Dia bisa memakai alat bantu," papar Revan.


"Bagaimana dengan kondisi Enji? Apa ada perkembangan?"tanya Aleza.


"Ya jalan di tempat," jawab Revan.


Aleza menghela nafas pelan. 


"Aku sudah menyuntikkan obat bius pada Bayu. Ia akan kembali sadar esok pagi," ujar Revan, kemudian izin meninggalkan tempat.


"Besok pagi dia sadar, besok malam baru sadar," cibir Syaka. 


Revan hanya tersenyum tipis dan tetap melangkah.


"Sudah jangan bertengkar lagi. Dia itu tetap seniormu. Hargai dia sedikit." 


Aleza mengusap rambut Syaka.


"Maunya begitu. Tapi dia tetap pria menyebalkan!"gerutu Syaka.

__ADS_1


Aleza hanya menanggapi dengan senyum geli melihat wajah kesal Syaka. Aleza lantas segera melaporkan kondisi terkini Bayu pada Karina.


Selesai memberi kabar, Aleza pamit pada Syaka untuk ke ruangannya. Aleza harus mengerjakan tugas kantor yang dikirim oleh Sasha padanya.


__ADS_2