Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 70 ~PENGAKUAN~


__ADS_3

"Kita mau ke perusahaan kakak. Kamu belum pernah ke sana kan?" tanya Karina. Bayu menggeleng.


Tiga puluh menit kemudian, Karina tiba di basemen CEO. Bayu menatap kagum bangunan di mana kini ia berpijak. Karina segera memegang tangan Bayu dan memasuki lift menuju ruangannya.


Tak sampai dua menit, mereka tiba di lantai ruangan Karina. Lila dan Raina sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Siang semua," sapa Karina yang membuat Lila dan Raina menoleh ke sumber suara.


"Hai Kakak," sapa Bayu.


Senyum Lila dan Raina terbit.


"Siang Nona. Hai juga Tuan muda," jawab mereka bersamaan. Lila dan Raina memang memanggil Karina dengan sebutan nona walaupun sudah menikah, sebab Karina merahasiakan identitas aslinya kecuali nama, cafe serta tempat tinggal.


"Ke ruanganku," ujar Karina masuk ke dalam ruangannya. Lila dan Raina mengangguk dan membawa dokumen laporan selama Karina tidak ke perusahaan.


Bayu duduk di salah satu sofa tunggal yang berada di dekat jendela kaca menampilkan gedung - gedung menjulang tinggi namun masih di bawah gedung perusahaan ini.


Karina segera memeriksa laporan tertulis. Dahinya mengenyit saat membaca laporan perusahaan cabang. Lila dan Raina sudah berkeringat dingin.


"Apa ini?" tanya Karina melemparkan dokumen ke atas meja kerjanya.


"Mengapa banyak sekali komentar negatif tentang rumah sakit cabang di negara B?" tanya Karina dingin.


"Maaf Nona. Saya mendapatkan laporan dari mata-mata yang saya kirimkan mengatakan bahwa ada oknum dokter dan perawat yang melakukan malapraktek. Dan disinyalir bahwa ada petinggi rumah sakit yang ikut campur. Selain itu, mereka juga tidak akan merawat pasien jika belum membayar biaya administrasi seluruhnya. Oleh sebab itu, banyak pasien yang kehilangan nyawa walaupun itu hanya penyakit ringan, namun karena tak ada perawatan yang serius dan berkesan main-main mereka jadi meregang nyawa," jawab Lila panjang lebar. Wajah Karina membuka. Ia mengusap wajahnya kasar.


"Apa mereka tak membaca peraturan yang sudah aku tetapkan? Tak peduli siapa dia. Baik kaya maupun tidak, jika sudah masuk ke Tirta Hospital, perawatan yang maksimal adalah yang utama. Masalah biaya ataupun lainnya itu masalah belakangan," ucap geram Karina.


"Maaf Nona. Sepertinya ada yang mengubah peraturan di mana ada biaya baru perawatan. Tapi kami belum dapat mengetahui siapa pelaku," terang Raina.


"Sudah berapa lama itu?" tanya Karina.


"Sejak empat bulan lalu Nona," jawab Lila.


"Baiklah, siapkan jadwalku, Senin depan aku akan kesana," perintah Karin melambaikan tangannya menyuruh Lila dan Raina keluar. Lila dan Raina mengangguk mengerti.


"Bayu kemari. Kakak akan mengajarkanmu hacker sejati sebenarnya," panggil Karina.  Bayu segera mendekat dan duduk di pangkuan Karina.


Karina memakai kacamatanya dan mulai mengakses segala data tentang Tirta Hospital di negara B. Bayu memperhatikan dengan serius.


"Kakak … ini bukan meretas tapi Kakak masuk sendiri ke sistem Kakak," protes Bayu.


"Hmm … kau benar. Ini memang sistem yang Kakak ciptakan yang berfungsi mengimput data semua data perusahaan. Baik cabang maupun pusat. Pengamatan yang bagus," jawab Karina.


Karina menajamkan pandangannya saat melihat ada hal yang janggal. Selain yang dikatakan Lila dan Raina, ini juga ada campuran pihak luar yang ingin mencoreng nama baik perusahaan.


Karina menggerutu kesal. Susah payah ia membangun perusahaan dari nol dan sekarang ada yang ingin merusaknya lagi.


Haih … mengapa hari tenangku dirusak oleh sampah-sampah ini?? batin Karina.


"Kakak?" panggil Bayu.


"Ya?" jawab Karina.


"Aku lapar," keluh Bayu. Karina menatap heran Bayu. Tak lama ia menepuk dahinya sendiri.


"Astaga Sayang, Kakak lupa. Kita makan siang ke cafe kakak saja yuk," ajak Karina. Bayu mengangguk setuju.


Karina segera menonaktifkan dan menutup laptopnya. Mereka segera keluar dan menuju basement. Sekitar dua puluh menit kemudian, Karina dan Bayu tiba di cafe. Karina melangkahkan kakinya masuk diikuti Bayu.


Matanya membulat melihat Arion yang duduk di meja sudut dan memandangnya curiga. Karina memutar bola matanya malas dan menghampiri suaminya ini. 


"Dari mana?" tanya ketus Arion.


"Jemput Bayu," jawab Karina duduk di hadapan Arion. Bayu duduk di kursi samping Arion.


"Lama sekali?" tanya Arion melihat jam tangannya.


"Mampir di taman dulu," ujar Karina.


Arion masih menatapnya curiga seolah tak percaya. Karina menghela nafas. Kini Arion berubah jadi pria yang mudah cemburu.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Karina bertopang dagu.


"Aku …," jawab Arion namun dipotong oleh Bayu.


"Kakak, aku lapar," rengek Bayu hampir menangis. Karina segera memanggil salah seorang pegawainya dan menanyakan pesanan Bayu. 


"Ayam kecap dengan nasi dan pari panggang. Minumannya jus mangga dan dessertnya puding mangga," ucap Bayu sembari membayangkan pesanannya.


Nia segera mencatat pesanan Bayu, sebelum Nia pergi mengambil pesanan, Arion menghentikannya dan memesan menu yang sama. Sedangkan Karina hanya memesan banana cake dan jus alpukat.


"Makan siang," jawab Arion menjawab pertanyaan Karina.


"Tumben," sahut Karina.


"Sayangku hari ini gak ngantarkan makan siang ke ruangan. Jadinya ya aku turun lift dan kemari. Tapi Sayangku gak ada di cafe," ucap Arion menyindir.


Karina melihat jam tangannya dan tersenyum manis ke arah Arion.

__ADS_1


"Maaf. Aku lupa. Keasyikan main sama Bayu tadi," ucap Karina memelas meminta maaf. 


Arion mengerutkan dahinya mendengar kata main. Ia mengira yang tidak-tidak. Seketika ia menatap  Karina kesal.


"Kamu kenapa?" tanya Karina heran.


"Bagian mana yang disentuh Bayu?" tanya balik Arion. 


"Maksudnya??" heran Karina tak mengerti.


"Ya kamu main sama Bayu di bagian mana?" jawab Karina.


"Ohh … di bagian dalam taman," jawab Karina santai. Wajah Arion menggelap seketika.


Ia salah mengartikan ucapan Karina. Ia menatap Bayu kesal lalu berdiri dan menarik Karina masuk ke dalam ruangan istrinya.


"Ar lepasin!! Kamu kenapa sih??" tanya Karina heran. Sesampainya di ruangan Karina, Arion melemparkan kasar Karina ke arah sofa. Karina meringis saat punggungnya menyentuh kasar sofa.


"Kamu kenapa? Apa aku salah? Aku kan cuma main sama Bayu?" tanya Karina bertubi-tubi.


"Mau membersihkan bekas Bayu," jawab Arion mendekatkan wajahnya pada Karina dan mencium bibir Karina rakus. Karina terdiam mencerna ucapan Arion.


Bekas Bayu? batin Karina.


Seketika Karina membulatkan matanya. Ia mendesah pelan saat tangan nakal Arion meremas dadanya.


Dengan menggunakan tenaga, Karina mendorong Arion hingga jatuh ke lantai dan mengelap bibirnya dengan tisu.


"Lagi-lagi kamu salah arti," ketus Karina. Arion memberengut kesal.


"Aku main sama Bayu dalam arti lain, yaitu bermain permainan, bersepeda ataupun lainnya. Bukan main di ranjang," terang Karina mengulurkan tangannya membantu Arion berdiri.


Arion menerima enggan uluran tangan Karina lalu berdiri dan duduk di samping Karina.


"Setahu aku main ya di ranjang," ucap Arion.


Alis Karina terangkat sebelah. Tak lama tawanya pun pecah. Arion semakin memberengut kesal.


"Kamu lucu," ujar Karina.


"Memangnya masa kecil kamu gak pernah bermain??" tanya Karina penasaran. Wajah Arion berubah seduh.


"Enggak," jawab Arion sedih. Tawa Karina berhenti. Ia lupa dengan masa lalu Arion. Dengan cepat ia memeluk Arion.


Aku pun sama Ar, batin Karina. Arion membalas pelukan Karina.


"Aku salah paham lagi," sesal Arion. Karina melepas pelukannya dan menakupkan kedua tangannya di pipi suaminya.


Mata Arion memanas dan balik memegang wajah Karina. Di tengah keharuan mereka, suara nyanyian perut kembali mengganggu.


Akhirnya mereka segera kembali ke meja. Bayu sudah menghabiskan makan siangnya. Arion segera menyantap makan siangnya sendiri tanpa Karina suapi. Karina menikmati banana cakenya.


***


Kini habis sudah makan siang mereka. Arion kembali memulai pembicaraan sebelum kembali ke kantor.


"Sayang … malam minggu kamu gak sibuk kan?" tanya Arion penuh harap.


"Enggak. Memangnya kenapa?" tanya Karina.


"Kita kencan ya?" pinta Arion. Karina berpikir sejenak tak lama ia mengangguk. Karina tersenyum lega. 


"Makasih Sayang. Kalau gitu aku balik ke kantor ya," pamit Arion.


Karina mengangguk. Arion segera berdiri dan mencium sekilas kening Karina lalu meninggalkan cafe. Karina memandang punggung suaminya hingga menghilang dari pandangannya.


"Kita pulang?" tanya Karina. 


"Iya Kak. Bayu kangen sama Mama Maria dan Papa Amri," jawab Bayu.


"Kamu ini. Baru beberapa jam pisah sudah kangen. Okelah ayo kita let's go," ujar Karina mencolek pipi Bayu. Mereka berdua segera keluar cafe dan pulang ke kediaman Wijaya.


***


Beberapa hari kemudian.


Hari yang ditunggu Arion dan Karina tiba, malam minggu yang cerah dengan taburan bintang dan rembulan menghiasi langit malam. Arion tampil tampan dengan setelah celana bahan atas pinggang yang dipadukan dengan kemeja putih flanel dan sepatu putih. 


Sedangkan Karina anggun dengan dress putihnya dan rambut digerai. Tak lupa kalung berlian biru yang dibelikan Arion waktu di negara A menggantung manis di lehernya.


Arion dan Karina menuruni tangga dengan bergandengan tangannya. Maria, Amri dan Bayu melihat mereka heran. 


"Mau kemana?" tanya Maria penasaran. Bayu kembali asyik dengan kotak kubus di tangannya. Ia sedang bermain rubik.


"Makan malam di luar Ma," jawab Arion.


"Oh … ya sudah sana. Jangan lupa oleh-olehnya," ujar Maria. 


"Oke Mama," jawab Arion membulatkan telunjuk dan ibu jarinya.

__ADS_1


"Arion sama Karina berangkat ya Ma, Pa," pamit Arion pada Maria dan Amri.


"Assalamualaikum," ujar Karina dan Arion bersamaan.


"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan," jawab Amri dan Maria hampir bersamaan.


Karina dan Arion segera menuju mobil. Arion membukakan pintu untuk Karina. Setelah Karina masuk, Arion segera mengambil posisi mengemudi. Perlahan mobil melaju meninggalkan kediaman Wijaya.


Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di sebuah resort pinggir pantai yang sudah Arion booking oleh Arion sebelumnya khusus malam ini.


"Hai Bro, lama sekali kalian," sapa Sam saat Arion dan Karina masuk ke dalam resort. Di sampingnya adalah Lila, Calvin dengan Raina serta Ferry dan Siska. Karina menatap heran Ferry dan Siska.


"Sayang … kita makan malam bareng ya. Sekalian pajak jadian dari sekretaris pribadi aku," ujar Arion menyadarkan Karina.


"Ah … ya no problem," jawab Karina. 


"Sudah ah. Ayo duduk. Kita mulai acaranya," ujar Calvin.


"Ayo," jawab mereka bersamaan. Empat pasangan itu segera menuju meja masing-masing dan menarikkan kursi untuk pasangan mereka. Karina menatap kagum dekorasi resort.


Di mana lilin bertebaran di setiap sudut membentuk kata I LOVE YOU. Makan malam kali ini berada di outdoor. Langsung di bawah sinar rembulan. Semilir angin menerpa wajah mereka. Pantai semakin indah dengan pantulan bulan di permukaannya.


"Sejak kapan Ferry dan Siska jadian?" tanya Karina pelan melirik meja Ferry dan Arion.


"Sejak tadi siang," jawab Arion.


"Oh …," balas Karina.


Mereka makam malam diiringan permainan biola yang syahdu.


 


Selepas makan malam mereka saling berbincang ria. Lila dan Sam menyampaikan rencana mereka untuk menikah bulan depan yang akan diadakan bersamaan dengan pernikahan Calvin dan Raina. Entah apa yang memotivasi mereka akan hal itu. Sedangkan Ferry mengatakan bahwa ia ingin segera menikahi Siska.


Arion pun tak kalah bahagia saat menceritakan cintanya yang terbalas pada Sam, Calvin dan Ferry saat mengobrol sesama pria. Sedangkan Karina menatap datar ketiga orangnya itu.


"Selamat. Akhirnya satu orangku tidak jomblo," ucap Karina riang tiba-tiba.


"Terima kasih Nona," ujar Siska menunduk malu.


"Mengapa rencana pernikahan kalian lebih cepat dari keinginan kalian? Apa mereka memaksa kalian? Katakan saja jika ia biar ku ledakan perusahaan mereka," tanya selidik Karina. Dengan cepat Lila dan Raina membantah.


"Bukan Nona. Ini juga adalah keinginan orang tuannya Sam. Katanya mereka ingin cepat punya cucu," bantah Lila.


"Cucu? Bagaimana denganmu?" tanya Karina pada Lila.


"Sama seperti Lila Nona. Cuma bedanya ini atas desakan kakeknya Calvin," ujar Raina.


"Selamat. Aku akan memberikan kalian hadiah besar nantinya. Aku doakan kalian bahagia. Dan jika mereka tak membuat kalian bahagia, bukan hanya perusahaan, rumah mereka pun akan ku ledakkan menjadi serpihan kayu," ucap Karina. Lila dan Raina tersenyum senang plus ngeri.


***


Acara makan malam ditutup dengan berdansa romantis diiringi biola di bawah sinar rembulan.


Pukul 20.00, Karina dan Arion pamit pulang duluan. Di perjalanan, Karina menatap wajah Arion seraya tersenyum. Arion yang merasa gugup sekaligus risih memberanikan diri bertanya.


"Apa ada masalah di wajahku??" tanya Arion melirik Karina.


"Tidak ada. Wajahmu sempurna. Tampan aku menyukainya," jawab Karina.


"Oh …," respon Arion.


"Ar boleh aku katakan sesuatu?" tanya Karina pelan.


"Apa itu?" tanya Arion.


"I LOVE YOU MY HUSBAND," ucap lantang Karina.


Citt ….


Brukkk ….


Arion menginjak rem mendadak yang memuat kepala Karina terantuk dashboard mobil. Untung saja jalanan lenggang. Jika jika pasti akan ada masalah.


"Aauhhhh …," ringis Karina.


"Ah maaf Sayang aku tak sengaja," panik Arion mengusap dahi Karina yang memar.


"Kau kenapa rem mendadak?" tanya Karina kesal.


"Maaf. Aku shock atas pengakuanmu tadi. Bisa aku mendengarnya lagi?" tanya Arion penuh harap.


"Tidak. Pengakuanku hanya sekali," tolak Karina kesal.


"Ayolah Sayang. Aku ingin mendengarnya lagi," pinta Arion. Karina menghela nafas agar tawanya tak keluar.


"I LOVE YOU ARION WIJAYA," ucap Karina.


"I LOVE YOU TOO, MY WIFE KARINA," balas Arion mencium kening Karina. Karina memejamkan matanya  merasakan bibir hangat Arion menempel di dahinya.

__ADS_1


Perlahan Arion mengarahkan bibirnya ke bibir Arion dan melum*atnya lembut. Karina membalasnya. Lima menit kemudian, Arion melepas ciumannya dan menatap Karina dengan senyuman manis.


"Jangan menatapku seperti itu. Cepatlah mengemudi aku mengantuk," ketus Karina memalingkan wajahnya. Arion mengangguk dan menjalankan mobilnya pulang.


__ADS_2