
Selepas melampiaskan emosinya, Karina langsung menuju ke rumah, ia tak kembali ke cafe sebab ia masih kesal dengan Arion.
Waktu menunjukkan pukul 16.00. Maria dan Amri yang sedang asyik bermain dengan Bayu di taman bingung dengan wajah Karina yang kesal dan mengomel-ngomel sendiri.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Maria. Karina menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mereka.
"Gak ma. Cuma kesal saja sama kucing di cafe. Tadi dia nyacar aku," jawab Karina tersenyum. Maria hanya ber-oh-ria aja. Ia malah kasihan dengan kucing itu.
Kira-kira diapakan ya kucing itu? batin Maria.
Yang benar adalah sebutan kucing itu untuk Arion.
"Karina masuk duluan ya Ma, Pa," pamit Karina. Mereka mengangguk.
"Kak, Bayu ikut," seru Bayu langsung mengejar Karina.
"Eh hati-hari Bayu," ucap Maria. Semenjak Bayu tinggal di kediaman Wijaya, dia sudah seperti anak emas Maria dan Amri untuk menemani hari-hari mereka.
Bayu segera menyusul Karina. Sesampainya di kamar, Karina langsung mandi, sedang Bayu menunggu di sofa sembari menonton acara televisi.
***
Pukul 08.30, Arion sudah tiba di rumah. Ia segera naik ke kamarnya untuk meminta maaf pada Karina. Tempat bekal makan siang yang ditinggal Karina tadi ia berikan pada pelayan.
Ceklek ….
Arion membuka pintu kamar perlahan. Ia menemukan Karina tengah duduk menghadap kaca rias. Perlahan, Arion melangkahkan kakinya dan memeluk Karina dari belakang.
"Sayang aku minta maaf ya …," ucap Arion pelan. Tak ada reaksi dari Karina. Hanya wajah dingin seperti pertama kali bertemu yang terlihat. Karina berdiri dan langsung menidurkan tubuhnya di ranjang.
"Karina, sayang, sweatheart, please I'm sorry. Aku gak ada maksud nuduh kamu Sayang," pinta Arion memegang pundak Karina.
"Pergilah. Aku lelah," ketus Karina.
"Sayang jangan gini dong. Aku minta maaf," kekeh Arion. Karina membuka matanya kesal dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Aku bawa hadiah untuk kamu. Tada …," ucap Arion menunjukkan bucket bunga mawar yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang badannya. Karina menatap dingin Arion. Perlahan tangannya terulur mengambil bucket itu.
Senyum Arion terbit, namun tak lama senyumnya hilang melihat Karina yang meremas bucket bunga dan melemparkannya ke lantai. Semua kelopak mawar berserakan di lantai.
"Kamu kira mawar ini bisa memaafkanmu?" tanya Karina dingin.
"Sayang aku minta maaf. Mulut aku kesetanan tadi. Maafin ya. Aku akan lakukan apapun asal kamu maafin aku," ucap Arion memegang tangan Karina.
"Apa aku harus bersujud agar kamu maafin aku?" tanya Arion langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai berlutut pada Karina.
"Jangan rendahkan harga dirimu. Kamu seorang pemimpin," ucap Karina datar.
"Kamu terlalu implusif. Aku buat dessert itu memang aku ingin kamu yang memakannya. Tapi bukan karena aku hamil. Mungkin tadi efek datang bulan aku saja," ucap Karina datar. Arion terdiam.
"Memang bisa ya?" tanya lirik Arion.
"Entah. Itu yang aku rasa," jawab Karina yang mendengar pertanyaan Arion.
"Pergilah. Aku lelah," ucap Karina membaringkan kembali tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Kamu maafin aku kan?" tanya Arion duduk di tepi ranjang.
"Hmmm …," jawab Karina.
"Benarkah?" tanya Arion memastikan.
"Hmm …," jawab Karina.
Senyum Arion terbit kembali. Dengan cepat ia melepas sepatunya dan ikut membaringkan tubuhnya serta memeluk Karina.
Tok ….
Tok ….
Tok ….
Mata Arion membuka, waktu menunjukkan pukul 21.15.
"Ar? Karina? Kalian sudah tidur? Kalian belum makan malam loh," ucap Maria dari balik pintu.
"Ya Ma …," sahut Arion. Arion bangun dan segera membuka pintu.
"Sayang makan dulu gih. Kamu kan belum makan sejak pulang tadi. Karina juga. Sehabis dari cafe gak keluar-keluar kamar," ucap Maria menepuk pundak Arion. Di tangan kanannya terdapat nampan yang membawa makan malam untuk Karina dan Arion.
Mata Arion yang tadi masih setengah terbuka kini terbuka sempurna.
__ADS_1
"Mama serius Karina belum makan juga?" tanya Arion. Maria mengangguk.
"Mama kasihan sama dia. Pulang dari cafe ngomel-ngomel sedikit. Pas Mama tanya katanya dicakar kucing," jelas Maria.
"Kucing?" beo Arion.
"Sudah ini makan malam untuk kalian. Habisin ya," ujar Maria menyodorkan nampan di tangannya. Arion mengangguk dan menerimanya.
"Makasih ya. Mama perhatian banget," ujar Arion.
"Ya sudah Mama ke dapur dulu ya. Buat teh madu untuk Papa," pamit Maria segera berlalu. Arion segera menutup pintu dan kembali ke ranjang. Ia meletakkan nampan di meja rias.
"Sayang … Karina … makan dulu yuk ...," ucap Arion pelan di telinga Karina. Mata Karina terbuka sebelah.
"Aku gak lapar," jawab Karina serak. Ia kesal tidurnya diganggu.
"Sayang makan dulu, habis makan lanjut tidur. Nanti kamu sakit," bujuk Arion. Karina langsung bangun mendengar kata sakit.
Ia teringat akan rasa sakit yang ia rasakan saat maag pertamanya.
"Aku bukan wanita lemah," ucap Karina.
"Sayang. Aku tahu kamu bukan wanita lemah. Tapi maag kamu nanti kambuh. Kamu kan paling takut sama jarum. Kamu gak maukan nanti kalau maag kamu kambung terus masuk rumah sakit dan diimpus?" bujuk Arion sekaligus menakuti Karina. Mata Karina membulat seketika.
"No. Aku gak mau. Suapin aku," seru Karina memegang tangan kanannya takut. Ya. Karina memang dengan jarum apabila menembus kulitnya.
Tapi ia tak takut menggunakan jarum untuk orang lain. Terutama musuh-musuhnya. Dengan senang hati Arion menyuapin Karina. Sesekali ia menyuapin dirinya sendiri.
Selepas makan malam, Karina langsung kembali tidur, sedangkan Arion pergi ke dapur mengembalikan nampan dan piring kotor.
"Syukurlah Karina maafin aku. Gak bisa kebayang kalau dia gak maafin aku. Bisa dijadikan pepes aku sama dia. Huh. Dasar mulut payah. Lain kali aku jahit saja kamu," omel Arion saat menaiki tangga kembali ke kamar.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Karina tetap mengantarkan makan siang untuk Arion. Tapi terasa ada yang aneh. Ia tersenyum licik saat melihat bekal makan siang di tangannya.
"Hehehe suruh siapa buat aku kesal," ucap Karina pelan saat berada di dalam lift. Para pegawai yang satu lift dengan Karina pun bergidik ngeri.
Di satu sisi ini pertama kalinya Nyonya muda mereka naik lift umum bukan liff khusus presdir serta kekehan Karina. Mereka berdoa agar presdir mereka tidak diapa-apain.
Sebab mereka masih mengingat jelas kejadian beberapa bulan lalu di mana presdir mereka menari dengan pakaian serba pink akibat kekesalan nyonya muda mereka.
Tak menunggu lama, Karina sudah tiba di lantai ruangan Arion, Karina segera masuk.
"Sebentar Sayang. Aku nyelesain ini bentar," sahut Arion.
"Ini apa?" tanya Karina melihat-lihat berkas dan dokumen yang ada di meja kerja Arion. Arion melihat sekilas dokumen apa yang dipegang Karina.
"Oh itu laporan jalannya proyek pembangunan Tirta Museum Garden. Ini adalah proyek kerja sama pertama dengan KS Tirta Grub," jelas Arion.
"Hmm … Sayang aku sebenarnya kagum dengan presdir dan karyawan KS Tirta Grub," ujar Arion.
"Kenapa?" tanya Karina penasaran.
"Teknologi serta pemikiran mereka sangat maju. Mereka sangat inovatif menciptakan taman raksasa dengan berbagai minuatur baik benda maupun karakter. Serta kecepatan dan keakuratan kerja yang luar biasa. Saat ini pembangunannya sudah rampung 30 persen dalam enam bulan saja," jawab Arion menutup laptopnya.
"Hmm …." Karina tersenyum kecil.
Apa kamu akan memujiku jika aku adalah presdirnya? tanya Karina dalam hati.
"Aku lapar," ujar Arion bangkit dari kursi kebesarannya menuju sofa. Karina mengikut dan segera membuka bekal yang ia bawa.
Harus semerbak wangi makanan menyebar dan merasuki indera penciuman Arion. Karina segera menyuapi Arion, Karina tak ikut makan. Arion dengan lahap memakan setiap suapan Karina. Tak lama ia merasa ada yang aneh.
"Kenapa Ar?" tanya Karina heran yang melihat Arion memegang perutnya.
"Perut aku sakit banget," jawab Arion. Tak lama tercium bau aneh. Arion yang tak tahan langsung lari ke kamar mandi. Karina diam-diam tersenyum lebar.
"Rasain," gumam Karina menatap puas makanan yang tersisa di meja.
Kira-kira Arion kenapa ya? Yang benar adalah Karina menambahkan obat pencahar pada makan siang Arion.
"Hehehe selamat berjuang Sayang," gumam Karina langsung menyambar tas selempangnya dan keluar dari ruangan Arion.
Di dalam lift presdir, Karina bersenandung ria. Ia mulai menikmati hidup tanpa urusan mafia dan perusahaan. Ia hanya mengurus bisnis cafenya yang berkembang dengan pesat. Kini di kota ini saja ia sudah punya 3 cafe. Belum lagi yang di luar kota ataupun luar negeri.
Sekitar lima menit kemudian, Arion keluar dari kamar mandi. Sesaat ia merasa lega. Namun perutnya kembali mengulah. Dengan langkah seribu Arion masuk kembali ke kamar mandi.
"Sayang apa yang kamu berikan padaku? Apa ini balas dendam? Sungguh terlalu," keluh Arion.
Jika dihitung sudah lebih dari sepuluh kali Arion keluar-masuk kamar mandi. Hingga akhirnya ia tak tahan dan terduduk lemas di sofa sebab kehilangan banyak cairan.
__ADS_1
"Ferry …," panggil Arion sekuat tenaga. Ferry yang baru kembali dari makan siang pun terlonjak kaget dan langsung menerobos masuk ke ruangan Arion.
Ferry khawatir dengan Arion yang terduduk lemas dan terus memegang perutnya. Peluh membasahi dahi Tuan mudanya itu.
"Panggil David kemari. Cepat!!!" perintah Arion. Ferry segera menghubungi David yang notabenya adalah dokter pribadi keluarga Wijaya.
Sekitar 15 belas menit kemudian, David masuk ke ruangan Arion dengan tergesa-gesa. Ia segera memeriksa Arion. Tak lama, David meminta Ferry membuat larutan gula garam untuk mengembalikan cairan yang hilang.
"Tuan, apa Anda tidak memeriksa kebersihan makanan Anda?" tanya David setelah memeriksa Arion.
"Makananku selalu sehat dan bersih, David. Istriku sendiri yang memasaknya," jawab Arion lemas.
"Bisa saya lihat makanannya?" tanya David lagi.
"Di atas meja sampingmu," jawab Arion memejamkan matanya.
David segera memeriksa makanan di meja dengan menciumnya sesaat.
"Pantas saja," gumam David.
"Tuan, makanan Anda mengandung obat pencahar dengan dosis sedikit lebih. Saya minta Anda beristirahat dulu setelah minum obat dan larutan gula garam ini," ucap David menyodorkan gelas berisi larutan gula dan garam yang dibawa Ferry.
Arion segera minum obat dan larutan tersebut. Ferry kemudian memapahnya menuju kamar yang tersedia di ruangan Arion. Selepas membaringkan Arion langsung keluar menemui David.
"Sungguh sial hari ini. Aku dibully lagi sama Karina," gumam sedih Arion.
Di luar, David bertanya pada Ferry.
"Apa istri Tuan Muda sangat menakutkan?" tanya David pelan.
Ferry bingung harus menjawab apa.
" Nyonya muda, jika ia senang hati dia akan terlihat seperti bidadari. Jika ia sedang kesal atau marah maka singa betina lah yang keluar," jawab Ferry pelan takut terdengar Arion, namun sayang ternyata Arion masih bisa mendengarnya.
"Ferry. Akan kucpotong gajimu. David cepat kembali kau bekerja," teriak Arion kesal.
Dengan cepat mereka berdua berhamburan keluar dari ruangan Arion dengan Ferry yang menggerutu kesal.
***
Di suatu tempat di negara K. Seorang wanita masuk ke dalam sebuah kasino dengan memakai hoodie, sepatu sneaker, dengan celana jeans serta topi serba warna hitam. Ia duduk di salah satu kursi di depan bar yang ada di dalamnya. Wanita itu memesan satu gelas vodka.
Tak lama pesanannya jadi. Wanita itu menghirup aroma vodka kemudian meminumnya perlahan menyesapi kenikmatan yang terasa.
"Kemana lagi aku harus mencarinya. Setiap negara di mana ada markasnya sudah aku selidiki dan aku intai. Namun ia tak pernah muncul di markas manapun selama enam bulan," gumam wanita itu kesal.
"Nona, maaf Anda mencari siapa ya?" tanya bartender yang melayaninya tadi penasaran.
"Kau menguping?" tanya wanita itu datar.
"Saya tak sengaja mendengarnya Nona. Apalagi Anda bergumam di hadapan saya? Siapa yang Anda cari. Siapa tahu saya bisa membantu, sebab kasino ini juga gudangnya informasi," jelas bartender itu.
"Hmm … bisa mencari siapa saja?" tanya wanita itu tegas.
"Bisa dikatakan begitu," jawab Bartender itu.
"Aku mencari leader Pedang Biru Mafia," jelas wanita itu. Bartender itu agak tersentak pelan.
Ia menatap rumit wanita muda di hadapannya ini. Namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi santai.
"Jika boleh tahu apa alasan Anda mencarinya?" tanya bertender itu penasaran.
"Apa urusannya denganmu? Cepat beritahu aku bagaimana caranya aku bisa mengetahui informasi itu," ketus wanita itu.
"Baik. Silahkan saja Anda menuju ruangan VVIP nomor. 10. Di sana Anda dapat melakukan pertukaran untuk informasi yang Anda ingin ketahui. Tapi penawaran dan pertukaran tidak dapat dibayar dengan uang," jelas bartender itu. Wanita itu tersenyum kecut.
"Lantas dengan apa membayarnya?" tanya wanita itu.
"Dengan apasaja kecuali uang," jelasnya. Wanita itu segera meninggalkan bar dan menuju ruangan yang ditunjukkan oleh bartender itu. Sang bartender tersenyum kecut.
"Pasti kau akan menawarkan tubuhmu," sinisnya.
Wanita itu yang tak lain tak bukan adalah Joya.
"Nah ini dia ruangannya,"seru Joya senang. Dengan segera ia mengetuk pintu, tak lama ada suara berat yang menyuruhnya masuk. Di dalam ruangan itu ada tiga orang pria berusia sekitar sekitar 30 tahunan yang asyik bercumbu dengan para wanita yang menggelayut di kanan kiri mereka.
Joya agak takut melihatnya. Ia mengumpat kesal dengan bartender itu.
"Si*l! Tempat apa ini!" gerutu Joya. Namun Joya menguatkan hatinya dan menyapa para tuan muda itu.
"Selamat sore Tuan-Tuan," sapa Joya menundukkan badannya. Seulas senyum terpatri dari wajah salah seorang pria yang memakai jas berwarna hitam.
__ADS_1
"Sore Nona. Anda mau membeli informasi?" tanyanya ramah. Joya mengangguk.
"Baiklah silahkan duduk dan bergabung dengan kami," ajaknya. Joya segera duduk di sofa tunggal yang tersedia di sana.