Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 298


__ADS_3

"Aku tidak bisa memaksakan hatiku. Aku sudah memperingatkan putri Anda untuk membuang segala perasaannya terhadap diriku. Aku tidak pernah memberinya kesempatan, tapi putri Anda terlalu percaya diri."


Bayu tidak tergoyahkan. Ia menatap sekilas Lia yang diam membisu. Karina, Arion, Enji, dan Syaka masih memantau. 


"Apakah kau punya hati?"tanya Lestari, tidak terima putrinya ditolak dan diabaikan.


"Ada atau tidak, tidak ada urusannya dengan Anda dan keluarga Anda!"tegas Bayu. 


Lestari terkesiap. Ia ingin memberi pelajaran pada Bayu. Ia tidak rela hati anaknya terluka. Tapi tatapan tajam Karina dan Arion serta gelengan kepala keluarga Graham membuat Lestasi yang bisa menghembuskan nafas kasar.


"Sebagai seorang Ayah, jujur saya merasa kecewa denganmu Nak. Tapi kamu benar. Kami tidak bisa memaksa dirimu. Kami yang mendesakmu untuk menerima lamaran perjodohan kami dengan menyebarkan rumor mengenai perjodohan kalian. Terima kasih karena tidak mempermalukan kami di publik. Saya mewakili putri saya meminta maaf atas apa yang terjadi," ucap Ayah Lia. 


"Mas?!"


Ayah Lia menggeleng. Ia tersenyum lembut pada Lestari.


"Okay. Semua sudah jelas bukan? Jadi selamat tinggal!"


Bayu bangkit dari duduknya meninggalkan ruang tamu, ia menuju mobil. Syaka yang mendapatkan lirikan mata Karina langsung menyusul.


"Gadis kecil. Aku mewakili Bayu meminta maaf padamu atas semua sikap kasarnya padamu. Maaf juga karena kami tidak bisa menerima lamaran perjodohan ini. Aku tidak bisa memaksa putraku. Gadis kecil, kau anak yang baik, pasti bisa menemukan seseorang yang lebih baik dari Bayu," ucap Enji lembut, mencoba menghibur Lia.


Lia mendongak dengan mata yang memerah.


"Paman … boleh aku bertanya?"tanya Lia terbata.


Enji mengangguk.


"Apa Bayu pernah menyinggung tentang diriku padamu?"


"Pernah. Ia mengeluh padaku karena setiap hari ada seorang gadis kecil yang selalu menganggu dirinya. Walaupun ia sudah mengusirnya, gadis kecil itu tetap berada di dekatnya. Aku yakin itu pasti dirimu, kamu yang selalu membuat Bayu kesal bukan?"


Enji tersenyum lembut. Lia yang sedari tadi menahan tangis, bangkit dari duduknya dan mendekati Enji.


Lia memeluk Enji erat, menumpahkan air mata di kemeja hitam Enji. Karina dan Arion saling pandang. Mereka hanya mengantar, juga tidak berniat bicara. Tapi kehadiran mereka sangat berdampak.


Enji mengusap lembut punggung Lia, menenangkan gadis kecil yang terpincut dengan anak tengilnya.


"Ehm … Tuan Besar Graham, saya kira tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Jadi kami akan undur diri," ucap Arion, jika berlama-lama di sini, waktu kencannya dengan Karina akan berkurang. 


"Ah baiklah. Saya harap kejadian ini tidak membuat hubungan kita merenggang, saya menantikan kerja sama dengan perusahaan Anda berdua, juga dengan perusahaan Tuan Enji," ucap kepala keluarga Graham.


Karina dan Arion hanya tersenyum.


"Gadis kecil, tidak perlu menangis. Jalan kalian masih panjang. Lebih baik kamu berusaha menjadi lebih baik lagi dan menjadi yang terbaik. Hati manusia tidak selamanya keras. Jika kalian memang ditakdirkan bersama, pasti akan ada jalan untuk hal itu. Berusaha dan teruslah berdoa. Ingat ini, dekati Penciptanya, maka mudah-mudahan Penciptanya mendekatkan dan mempersatukanmu dengan ciptaannya," saran Enji.


Lia melepas pelukannya. Ia menatap Enji dengan mata merah.


"Berjanjilah padaku, kamu tidak akan jatuh hanya karena ditolak. Jadilah gadis tangguh." 


"Baik Paman! Aku berjanji!"jawab Lia, mantap.


Lia memeluk Enji lagi kemudian berlari ke depan. 


"Anak dengan jiwa yang kuat," gumam Karina.


*


*


*


Lia mendapati Bayu tengah bersandar pada pilar teras dengan Syaka duduk di anak tangga.


Dengan langkah pelan, Lia mendekati Bayu dan langsung memeluk Bayu dari belakang. Bayu terperanjat, begitu dengan Syaka. Ia membelalakan mata melihat Bayu yang dipeluk erat oleh Lia.


"Hei bantu gue woi! Malah lari lagi!"pekik Bayu yang melihat Syaka masuk ke dalam mobil. 


"Tenanglah Bayu, aku hanya memelukmu sebentar, ku mohon," pinta Lia.

__ADS_1


Bayu mendengus, membiarkan punggungnya jadi tempat bersandar Lia. Lia meletakkan dagunya di pundak Bayu.


"Apa belum mundur juga?"


"Bagaimana bisa aku mundur sebelum janjiku terwujud? Ingatlah Bayu, ribuan kali kau menolak diriku, jutaan kali aku akan terus berjuang. Akan ada hari di mana kau tidak bisa menolak diriku. Aku akan meluluhkanmu, gunung es," bisik Lia, dengan nada tegas.


Bayu tertawa kecil.


Lia tidak kesal, ia melepas pelukannya dan kembali masuk ke dalam rumah. Ia berpapasan dengan Karina, Arion, dan Bayu.


"Selamat jalan," ucap Lia, berlalu cepat menuju kamarnya.


"Tuan, Nyonya, berkunjunglah lagi ke kediaman kami. Pintu gerbang keluarga Graham terbuka lebar untuk Anda," ucap kepala keluarga Graham.


"Akan kami usahakan, terima kasih atas keramahan kalian," ucap Arion. 


"Sudah seharusnya."


Karina, Arion, dan Enji berpamitan sekali lagi lalu masuk ke dalam mobil. Enji mengendarai sepeda motornya. Kedua kendaraan itu meninggalkan kediaman Graham.


"Mereka tidak seperti keluarga lain. Semoga di masa mendatang kita bisa menjalin hubungan kekerabatan dengan mereka," harap kepala keluarga Graham.


"Ayah benar," sahut Ayah Lia.


"Aku harap Lia juga bisa menjadi pewaris yang berkualitas. Mereka tidak memandang kasta, mereka lebih menantang karakter," ucap Kepala keluarga lagi.


"Sebenarnya aku tidak takut pada ayah dari bocah itu. Aku hanya takut menyinggung pasangan itu. Terutama istrinya. Ekonomi dunia berada di tangannya, kita ini bagai semut di matanya," ucap Ayah Lia.


"Tidak. Ayah anak itu juga tidak bisa dianggap remeh. Dalam waktu singkat, Presdir muda itu membawa perusahaan menjadi 20 perusahaan terbaik di negara ini. Keluarga mereka bukan keluarga yang harus kita singgung. Ah lebih baik kau lihat kondisi Lia, aku khawatir ia patah hati berkepanjangan," ucap kepala keluarga, masuk ke dalam diikuti oleh Ayah Lia.


*


*


*


Enji mengikuti kemana arah mobil Arion pergi. Ia sedikit mengeryit heran dengan arah yang dituju. Melewati kawasan apartemennya dan sebentar lagi adalah bandara.


Enji menghentikan motor di belakang mobil Arion. Karina dan Arion keluar, tetap dengan kacamata yang menutup elegan mata mereka. Syaka dan Bayu keluar dengan menggendong tas punggung. 


"Ah ya Queen , aku lupa! Bagaimana dengan pasporku dan …."


"Aku sudah mengurusnya," ucap Karina, mengambil paspor hijau dari tasnya.


"Ini, setiap anggota pasti punya ini," tambah Karina. Syaka berbinar, ia mengambil paspor dari tangan Karina, melihat isinya.


"Lebih tampan fotoku," ungkap Bayu yang mengintip paspor Syaka.


"Aku bahagia dengan wajahku, aku tidak peduli dengan wajah orang lain!"jawab Syaka.


"Kak … kalian mau liburan?"tanya Enji heran.


Karina dan Arion menggeleng.


"Mengapa kita ke bandara?"


"Kau, Bayu dan Syaka yang akan terbang, kami tetap di sini," jawab Arion.


Enji menunjuk dirinya dengan mata melebar. 


"Iya Ayah. Kita akan ke negara A, ziarah ke makam Ibu sekaligus mengunjungi panti asuhan. Kau kan belum pernah ke sana," seru Bayu.


Enji kembali melebarkan mata, ia memegang dahi bingung. 


"Kenapa? Kau tak mau?"tanya Karina.


"Penerbangan kalian 15 menit lagi," lanjut Karina.


"Hah 15 menit lagi? Aku belum bersiap. Paspor dan … eh tunggu kami naik penerbangan komersial? Bukan pesawat pribadi?"

__ADS_1


Enji cukup terkejut saat Karina mengangguk.


"Semua sudah aman Ayah. Kita tinggal terbang. Ini paspormu, tadi kami ke apartemen dulu. Sudah jangan banyak alasan."


Bayu mengeluarkan paspor milik Enji dari tasnya.


"Haih … kalau begini memangnya aku bisa menolak?"tanya Enji, menyuruh Bayu kembali menyimpan paspor miliknya.


Bayu tersenyum puas. Ia menatap Syaka yang masih melihat isi paspor. 


"Ya sudah. Kalian berangkatlah. Jaga diri kalian dan cepat pulang," ucap Arion.


"Baiklah Kak Ar. Besok kami sudah kembali," sahut Enji.


"Bayu, Kakak titip salam untuk Ibu Ana, sampaikan padanya untuk mengirim perkembangan panti setelah dibangun," pesan Karina.


"Okay Kak." 


Apa ini memang kebetulan? Baru sebentar aku mengingat dirimu, aku langsung mengunjungi dirimu, batin Enji saat melangkah memasuki pesawat.


Enji menghela nafas lega saat mendapati tiket pesawat adalah kelas bisnis bukan ekonomi.


Sedangkan Karina dan Arion, mereka meninggalkan bandara menuju tempat kencan mereka. Pakaian dengan warna yang sama dan cerah, menambah suasana ceria keduanya.


*


*


*


Sedangkan di sisi lain, Tuan Adiguna dan Intan baru saja mendarat setelah perjalanan udara yang cukup panjang. 


"Akhirnya kembali juga," ucap lega Intan setelah masuk mobil.


"Mengapa Mama lega? Urusan Riska belum selesai," ucap Tuan Adiguna heran.


"Setidaknya biarkan Mama menghirup udara segar Pa, masalah Riska ... eh benar. Bagaimana dengan masalah Riska? Papa setuju dia menikah dengan Tuan Satya dari Heart of Queen?"tanya Intan, mendadak jadi panik sendiri.


"Kita putuskan setelah berbicara dengan Riska," putus Tuan Adiguna.


"Tapi keputusan Papa sekarang apa?"tanya Intan, mendesak.


Tuan Adiguna menatap cukup lama wajah Intan kemudian menghela nafas kasar.


"Kita berada di pilihan sulit. Satu-satunya yang aman adalah menerima. Lagipula ini cukup menguntungkan. Kita mempunyai kekuatan cadangan. Jika kita menolak, akan banyak kerugian, baik reputasi maupun harta benda dan jiwa. Berhubungan dengan mereka bagai berhubungan dengan pedang," ujar Tuan Adiguna, melonggarkan kancing bajunya.


"Papa benar. Bagaimana bisa Riska tertangkap dengan Satya? Untung saja Karina memblokir kejadian ini dari publik. Aih … wanita itu sungguh bukan lawan kita," ucap Intan, setuju dengan Tuan Adiguna.


"Lupakan saja alasannya. Jika Riska menikah, setidaknya ia tidak akan kesepian jika kita tidak berada di rumah. Huff … kedua menantuku ternyata dari kalangan dunia bawah. Aku sungguh tidak menyangka. Sahabatku … anakmu sungguh berniat mengontrol dunia." 


*


*


*


Tiba di kediaman mereka, Intan dan Tuan Adiguna disambut oleh para pelayan. 


"Di mana Riska?"tanya Tuan Adiguna.


"Non Riska keluar Tuan," jawab salah seorang pelayan.


"Kemana dan dengan siapa?"


"Tadi Nona pamit ke taman bersama dengan Tuan Satya, Tuan," jawab pelayan itu lagi.


"Hubungan mereka sepertinya telah terbina, Pa kita tidak ada pilihan lain selain setuju," ucap Intan.


"Memang. Tapi tidak semudah itu mengambil seorang putri dari ayahnya!"tegas Tuan Adiguna.

__ADS_1


Intan mengerti. Mereka melangkah masuk dan langsung menuju kamar, membersihkan diri sebelum bertemu dengan calon menantu.


__ADS_2