
"MAMA! PAPA! MENGAPA KALIAN LAMA SEKALI DI DALAM?" Brian, Bara, dan Bahtiar menggedor pintu kamar mandi seraya memanggil Karina dan Arion.
"Adik jangan ganggu mereka," tegur Biru, merapikan kerah bajunya di depan cermin.
"Tapi ini sudah hampir setengah jam, Kak. Aku takut mereka kenapa-kenapa di dalam," ujar Brian cemas.
"Mereka sedang bersenang-senang di dalam. Mengapa harus takut?" Bintang memalingkan wajahnya dari laptop.
"Bersenang -senang di dalam kamar mandi?" Brian, Bara, dan Bahtiar bertatapan bingung.
"Benar. Kita jangan mengganggu mereka. Lebih baik kalian kemari, biar Kakak rapikan rambut kalian," sahut Bima, meletakkan sisir setelah rambutnya rapi.
"Tapi …." Brian menatap ragu pintu kamar mandi.
"MAMA! PAPA! MENGAPA KALIAN BERSENANG-SENANG TANPA KAMI?!"teriak Bara, kembali menggedor pintu. Bahtiar menutup telinganya, langsung pergi menghampiri Bima.
"MA …."
"Berisik! Sudah dibilang jangan ganggu!"kesal Biru, menutup mulut Bara. Bara meronta, Biru menarik paksa Bara, mendudukkannya di samping Bahtiar.
"Kakak!"kesal Bara, hendak bangkit, segera ditahan oleh Biru.
"Jangan keras kepala! Sebentar lagi mereka juga keluar. Mengenai kesenangan, belum saatnya kita melihat dan merasakannya!"tegas Biru.
"Hmph!" Bara mendengus, menyilangkan kedua tangan di dada. Wajahnya cemberut.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Karina keluar dengan wajah datar berbeda dengan Arion yang tersenyum puas. Keenam anak itu langsung melihat ke arah keduanya.
"Sudah selesai?" Bintang hanya menoleh sekilas, kembali fokus pada laptop.
"MAMA LEHER MAMA KENAPA?"pekik Bahtiar heboh, menunjuk bekas kemerahan di leher Karina. Karina melirik sinis Arion.
"Ada nyamuk besar tadi!"sahut Karina, melangkah menuju walk in closet.
"Nyamuk besar? Memangnya di rumah ini ada nyamuk?" Bahtiar bertanya pada saudara- saudaranya.
Brian menggeleng, Bara menatap Arion, menyelidik. Bima tertawa kecil. Bintang dan Biru sama-sama menggeleng pelan dengan senyum malas.
"Nyamuknya itu Papa," ucap Bintang.
Arion tertawa, menyusul Karina.
"Sudah-sudah jangan terlalu kalian pikirkan. Entar kalau kita sudah menikah, kita bakal ngalami sendiri kok," ujar Bima, selesai merapikan rambut Brian.
"Baiklah."
Tak berselang lama, Karina dan Arion keluar dengan setelan kerja mereka. Wajah Karina tampak memerah dan lagi-lagi Arion tertawa puas.
"Pa, Papa menggoda Mama lagi?" Tatapan Biru datar pada Arion.
"Memangnya menggoda istri sendiri tidak boleh?"sahut Arion, merangkul pinggang Karina. Karina melirik sebal, memberi cubitan pada tangan Arion. Arion tetap tersenyum, menahan sakit.
"Sayang sakit," keluh Arion, berbisik.
"Hmph!" Melepas cubitan dan melangkah menuju meja rias. Arion mengikut, merebut sisir, menyisir rambut Karina. Karina masih menekuk wajahnya, tersenyum lebar di dalam hati.
"Ya boleh sih. Ah terserah deh. Yang penting Mama sama Papa bahagia," balas Biru, turun dari ranjang, keluar dari kamar Karina dan Arion.
"Oh iya, Emir tiba kemarin, apa kita menyapa mereka dulu?"tanya Arion.
"Aku tidak bisa. Ada meeting penting pagi ini," sahut Karina.
"Ayah Emir sudah datang?" Mata Bara berbinar.
"Benar," jawab Arion.
"Apa kalian ingin bertemu dengannya? Jika iya, Mama akan suruh Pak Anton mengantar kalian, Mama harus langsung ke perusahaan," tutur Karina.
"Kalau Brian sih sama Mama saja. Kita bareng-bareng ke markas," jawab Brian.
"Aku juga." Bahtiar mengikut.
"Bara?" Karina menatap Bara yang tampak berpikir keras.
"Aku juga," jawab Bara kemudian.
"Okay. Jika begitu aku turun, kita sarapan lalu berangkat," ucap Karina setelah memberi sedikit hiasan pada rambutnya.
*
*
*
Aleza dan Sasha tiba di markas. Anggota yang statusnya keanggotaannya di bawah keduanya, memberi hormat saat berselisih dengan keduanya.
"Eh kalian sudah datang?" Elina yang duduk di taman sembari merangkai bunga, tersenyum lembut pada keduanya.
__ADS_1
"Kak Li belum pulang?"tanya Aleza duduk di samping Elina.
"Belum. Katanya di jalan ada kecelakan jadi macet," jawab Elina.
"Oo … Ali mana?"
"Leza-Leza. Kamu ini yang diingat lekat cuma pekerjaan dan pekerjaan. Kamu lupa Ali kan sekolah, sama Laith juga," heran Elina, berhenti sejenak menatap Aleza.
"Hehehe maklum Kak." Aleza tertawa cengengesan.
"Aduh!"keluk Sasha, menghisap jarinya yang terkena duri mawar.
Aleza menatap cemas Sasha, Elina malah tertawa geli.
"Sakit … Kakak kok biasa saja sih?" Aleza mengibas-ngibaskan jarinya, menatap ngeri bunga mawar di sampingnya. Sasha bahkan berpindah, menjaga jarak.
"Aku dulu juga seperti itu. Aneh tapi nyata. Tidak takut sayatan pedang tapi takut tusukan duri. Kalian berdua terlalu kaku dan hanya terfokus pada kerja, kerja, dan kerja. Hari ini … kalian harus jadi melepaskan semua yang berhubungan dengan pekerjaan. Rilekskan fisik dan pikiran kalian. Setelah aku selesai merangkai bunga ini, kita ke salon," ucap Elina.
"S-salon?"
"Benar. Bukankah Karina menyuruh kalian cuti untuk perawatan?"
"Aku pikir perawatan itu nge gym," ucap Aleza dengan wajah polosnya.
"Itu untuk kesehatan yang ini untuk kecantikan. Kalian jangan lari atau aku akan mengikat kalian!"ancam Elina.
"Oke-oke. Tapi berhubung Kakak masih merangkai bunga, lebih aku aku ke arena tembak dulu," sahut Sasha, melangkah pergi.
"Setengah jam lagi harus ada di depan salon!"pekik Elina.
"Yes, Madam!"sahut Sasha.
"Kalau begitu aku juga mau ke arena pedang," ucap Aleza, bangkit, saat hendak tangannya ditahan oleh Elina.
"Ada apa, Kak?"
"Ah tidak ada." Elina melepaskan tangan Aleza. Aleza mengernyit curiga, melangkah dengan hati penasaran.
"Sesekali ngerjain Aleza hihihihi," tawa Elina.
*
*
*
Elina menggerakkan pedangnya dengan gesit dan penuh konsentrasi. Tatapan matanya setajam pedang, langkah kakinya ringan bertenaga. Nafasnya tetap teratur walaupun keringat mengalir deras. Aleza mengakhiri latihannya dengan menutup mata, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Jarang sekali melihatmu tersipu malu seperti ini , Leza," ucap Emir.
"Kau … kau kapan tiba?" Aleza mencoba melepaskan diri dari Emir tapi Emir malah mempererat pelukannya.
"E-Emir apa yang kau lakukan? Jangan kurang ajar!"pekik Aleza.
"Leza ini hanya pelukan. Aku sangat merindukan dirimu! Tolong jangan melawannya," ucap Emir, meletakkan dagunya di pundak Aleza.
"Ini baru dua minggu, Emir."
"Bahkan satu detik berpisah denganmu terasa satu abad, Leza."
"Dasar bucin!"gerutu Aleza.
Rontaan Aleza mereda, tak ada lagi penolakkan, Aleza kini membalas pelukan Emir. Tak bisa dipungkiri ia juga sangat merindukan pria ini. Pelukan pertama setelah berpisah kurang lebih dua minggu.
"Bucin? Apa itu?" Emir merasa asing dengan kata itu.
"Bukan apa-apa. Hanya istilah untuk orang sepertimu, bucin." Aleza tertawa. Emir tertegun sejenak, wajahnya tersipu.
"Kau semakin cantik jika tertawa," puji Emir.
"Ngomong-ngomong kapan kau tiba?"tanya Aleza.
"Kemarin," jawab Emir.
"Kemarin?" Alis Aleza terangkat. Emir mengangguk.
"Kenapa tak mengabariku?"
"Aku sudah berusaha memberi kabar tapi kau malah tak bisa aku hubungi. Saat ke apartemenmu tadi malam, ternyata kau sudah tidur," papar Emir. Mata Aleza membulat, menunjuk Emir.
"Kau ke apartemenku tadi malam? Are you seriously?"
"Apa aku tampak berbohong? Jika kau tak percaya tanyakan saja pada Gerry. Dia yang mengantarku." Emir menunjukkan mata bersungguh-sungguh. Aleza merasa bersalah.
"Mengapa tak membangunkanku?"
"Sengaja. Kau pasti lelah bekerja. Lagipula kata temanmu itu kalian akan kemari," jawab Emir, tersenyum lebar. Aleza terenyuh dengan jawaban Emir. Sekali lagi, keduanya berpelukan.
"Oh ya tadi mengapa kau terburu - buru?"tanya Emir penasaran.
__ADS_1
"Tadi?" Aleza mengingat.
"Astaga! Habislah aku!" Wajah Aleza panik, mencengkeram erat lengan Emir. Emir ikut panik.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Kak Eli pasti akan menghukumku, Emir aku harus pergi sekarang!" Aleza melepas cengkeramannya, melewati Emir dan berlari dengan cepat. Emir mengeryit bingung, langsung mengejar Aleza.
"Leza! Leza, tunggu aku!"teriak Emir yang tidak digubris oleh Aleza. Saat di perempatan koridor, keduanya berpapasan dengan Gerry.
"Pagi kak Ger!" Aleza memberi sapa tanpa berhenti.
"Hei berhenti!" Gerry menahan Emir.
"Lepaspkan!"
"Mengapa kalian kejar-kejaran? Ini markas bukan lapangan bermain!"tegur Gerry. Emir menatap tidak suka.
"Bukan urusanmu!"
"Hei Pangeran muntah, ini bukan rumah Anda! Yang lain terganggu dengan teriakanmu! Jawab pertanyaanku tadi!"
"Jangan memberiku julukan aneh!"
Gerry berdecak sebal.
"Ck tinggal jawab apa susahnya sih?!" Gerry menambah kekuatannya, Emir tampak kesakitan.
"Aku juga nggak tahu! Aleza tiba-tiba lari, katanya takut dihukum oleh istrimu!" Emir mengibaskan tangannya setelah Gerry melepas pegangan.
"Sudah jangan dikejar lagi. Aleza akan melakukan perawatan untuk besok. Lebih baik kau juga ikut perawatan." Gerry tersenyum.
"Perawatan?"
"Yap!"
Emir kembali mengeryit bingung. Gerry menggeleng pelan, merangkul Emir.
"Sudah jangan dipikirkan. Lebih baik kau ku antar ke spa."
Gerry melangkah, mau tak mau Emir juga ikut melangkah. Keduanya berjalan menyusuri koridor. Terdengar tawa Gerry dan terlihat wajah kusut Emir.
*
*
*
"Ma besok adalah hari pertunangan ayah Emir dan kak Leza, bukankah seharusnya kami memberikan mereka hadiah?" Brian memalingkan wajahnya dari buku mewarnai di atas meja.
"Mengapa kami bukan kita?"sahut Karina tanpa berpaling dari berkas yang ia baca.
"Karena Mama sama Papa pasti sudah mempersiapkan hadiah," jawab Brian. Karina tersenyum.
"Baiklah. Pulang nanti kita beli hadiah untuk mereka," balas Karina.
"Kita ke mall?" Bintang langsung merespons.
"Lalu?"tanya balik Karina.
"Kalau begitu apakah Bintang bisa beli baju baru?"
"Yakin? Nggak mau dibuati sama desainer Mama saja?"
Bintang menggeleng.
"Nggak. Kalau sama Om Billy semuanya serba mahal. Harus ada tanda tangan sama tambahan emas atau apalah itu, norak!"jawab Bintang.
Karina tertawa. Ia yakin jika Billy mendengarnya, pasti akan menangis pilu.
"Ma Biru juga mau beli puzzle lagi," ucap Biru. Karina berhenti membaca, meletakkan berkas dan menatap Biru tanpa melepas kacamatanya.
"Seingat Mama, dua hari yang lalu Mama baru membelikan beberapa puzzle."
"Sudah rampung," jawab Biru.
"Benar Ma. Kami semua yang menyusunnya," imbuh Bima.
"Kalian begadang?" Karina menatap tajam keenam anaknya. Keenam anak itu langsung membeku, saling lirik dan menelan ludah takut.
"Jawab!" Nada tegas.
"I-iya, Ma." Menjawab takut, lirik dan menunduk dalam.
"T-tapi kami tetap tidur sebelum jam sepuluh kok, Ma. Kami hanya menyusun selama satu jam-an," ucap Bintang, mengangkat pandangannya sedikit.
Karina menghembuskan nafas kasar.
Hah.
__ADS_1
"Baiklah. Kalian tidak melanggar peraturan artinya kalian tidak salah. Kalian lanjutlah bermain, sebentar lagi Mama selesai," putus Karina.
Anak-anak menghela nafas lega. Mereka tidak lanjut bermain, melainkan berkumpul, berdiskusi mengenai hadiah apa yang akan mereka beli. Karina yang mendengarnya, tersenyum tipis.