Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 135


__ADS_3

Akhirnya haripun berakhir, senja menghiasi langit. Menaburkan rona jingga di langit. Kelompok Cinnamon sudah resmi bergabung dengan Pedang Biru. Agama mereka pun telah berganti, dari awalnya yang tak percaya akan Tuhan, kini mereka telah memeluk Islam.


Selama seminggu ke depan, mereka tinggal di markas Pedang Biru. Mendapat pembelajaran awal salah satunya adalah rukun islam dan rukun iman.


Adat mereka pun ikut berubah, dari yang awalanya anti pria( kecuali untuk menyambung keturunan itupun habis manis sepah dibuang) kini menjadi tak membenci pria.


Menikah sampai maut memisahkan, setia dalam suka dan duka serta yang pasti tak habis manis sepah dibuang. Normal, seperti biasanya hubungan.


Li dan Elina juga telah membereskan segala rencana pernikahan mereka. Setelah acara pengislaman, Li, Elina dibantu Marlena dan Gerry membahas hal itu. Sedangkan Karina lebih tertarik pada laporan di ruang kerjanya.


Kini, Karina dengan si putih yang dikemudikan Pak Anton meluncur bebas di jalanan pulang menuju kediaman Karina. Lampu-lampu kota mulai menyala bergilir. Kilau cahaya kendaraan menambang kegermelapan hari menyambut malam.


Suara azan mulai berkumandang. Banyak kendaraan yang memasang lampu sen berbelok menuju masjid yang mereka dapati. Karina memejamkam matanya. Senyum puas tergambar pada wajahnya. 


"Ternyata begini rasanya melihat dan mengajak orang kepada kebaikan," gumam Karina.


 Hatinya sungguh gembira, semua yang ia perkirakan berjalan sesuai rencana. Karina bersyukur Elina memilih setia pada Li. Jika tidak, pasti mereka gagal bergabung dan berperang.


Karina tak akan tinggal diam jika orangnya disakiti. Jika menyakiti ya no problem. Asalkan orangnya berada di tempat yang benar maka Karina akan membela dan melindunginya. 


Karina bukan orang yang pilih kasih, picik, ataupun egois. Ia akan bertindak pada tempatnya. Salah ya salah, benar ya benar. Biarpun anggotanya salah, ya tetap dihukum.


Jika anggotanya berbohong benar bilang salah, ya hukumannya bertambah. Oleh karena itu, tak ada yang berani menyeleweng dari Karina.


Ya walaupun begitu, pasti akan kan yang bandel walaupun 1:1000, salah satunya adalah Nita.


"Nona, Anda bahagia sekali, hal apa yang membuat wajah Anda berseri-seri begitu?" tanya Pak Anton penasaran melihat Karina dari spion tengah mobil. Hati Pak Anton ikut bahagia melihat Karina bahagia.


Karina membuka matanya. Memberikan senyum ramah pada Pak Anton. Wajah Pak Anton tak tahu kejadian hari ini, sebab setelah mengantar Karina ke markas, Pak Anton diminta pulang ke rumah dan baru kembali setelah Karina menelpon minta jemput.


"Apalagi Pak jika bukan keinginan saya beberapa waktu ini. Kelompok itu akhirnya bergabung juga denganku. Ditambah lagi pernikahan Li dan Ketuanya," jawab Karina. Pak Anton mangut-mangut. 


"Nona, apa Anda tak rindu dengan Den Enji? Bapak Rindu dengan ulahnya. Kira-kita dimananya dia?" tanya Pak Anton mengingat Enji.


Karina memang memberitahu hal itu pada Pak Anton dan Bik Mirna. Untuk Arion, mungkin di lain waktu atau nanti sajalah.


Wajah Karina berubah sendu. Karina menghela nafas dan melemparkan pandangannya menatap gedung-gedung tinggi yang berada di sisi jalan.


"Tebakanku dia berada di tempat yang paling aku benci dan jauhi. Enji tahu betul tentang diriku, sayang dia tak memahamiku. Awas saja anak itu jika menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Akan ke lemparkan dia ke kolam ikan manisku." Karina tersenyum tipis di akhir kalimat. Pak Anton malah bergidik. 


***


"Hacim …." Enji bersin ketika hendak meminum obatnya.


"Kamu kenapa Ji? … tidak demam kok, tapi kamu bersin, kamu flu?" tanya Riri khawatir menempelkan telapak tangannya pada kening Enji.

__ADS_1


"Gak tahu Ri, leher aku juga merinding. Apa ada penghuni lain ya di sini?" sahut Enji mengusap tengkuknya.


"Enggak kok, aku gak ngerasa. Hmm, aku tahu pasti ada yang ngumpati kamu di belakang. Palingan Ibu Suri yang gemas sama kamu," tebak Riri dengan gaya berpikirnya. Enji mengerutkan keningnya. 


"Kakak?" gumam Enji. Ya pasti Karina yang memarahinya. Jika tidak siapa lagi yang tahu jika dia belum meninggal.


Atau Bayu? Bisa sajakan Bayu kesal padanya akibat dia tak bertanggung jawab. Tapi pilihan pertama yang paling meyakinkan.


"Sudahlah. Cepat minum obatmu. Agar kau cepat sembuh dan segera kembali pada Ibu Suri untuk mendapat hukuman," ucap Riri.


"Hm," jawab Enji. Enji mulai meminum obatnya. Beberapa macam pil ia minum sekaligus.


"Ri, bagaimana hubunganmu dengan Faisal?" tanya Enji yang membuat Riri mengeryit. 


"Faisal? Hubungan kami tak lebih hanya sebatas hubungan kerja menanganimu," jawab Riri.


"Ri, jangan bohong. Kau ada rasa padanya kan?" tebak Enji. Riri diam, pandangannya menunduk menatap lantai keramik biru muda yang dia pijaki.


"Entahlah Ji. Sampai sekarang aku belum bisa menjabarkan hatiku ini. Ada rasa rindu, haru, bahagia, dan tangis kala aku melihatnya. Aku seperti pernah mengenal dia di masa laluku. Tetapi aku tak bisa mengingatnya. Sampai kepalaku mau pecah mengingatnya tapi tak juga ku dapatkan jawabnya," terang Riri dengan desahan berat.


"Bisa saja dia orang dari masa lalumu, kala dia datang sebulan lalu dapat ku lihat binar mata penuh rindu padamu, ingin mendekapmu namun tak bisa. Dia menatapmu dari jauh dengan tangis dan tangan yang memegang dadanya," ujar Enji. Riri menatap Enji.


Tatapannya rumit. Mencari kebohongan di mata dan ucapan Enji. Sayangnya Enji tak menunjukkan sorot berbohong, wajahnya serius. Riri mencoba percaya ucapan Enji. 


"Cobalah ingat pelan-pelan. Jangan dipaksa, jika tidak memori itu akan hilang sempurna darimu, hilang selamanya tak akan kembali," saran Enji. Riri mengangguk pelan. 


Enji tersenyum. Enji samar-samar menangkap binar ketertarikan pada awal pertemuan Riri dan Faisal. Namun ia tak pernah menanyakan ataupun menyinggung masalah itu baik pada Riri maupun Faisal. Baru hari inilah Enji bertanya akan hal itu.


***


Seusai melaksanakan sholat Isya, Karina turun ke lantai bawah dengan Miu yang mengekor padanya. Kucing yang masih berusia muda, usianya baru tiga lebih. Umur satu tahunlah dia dicomot dari Elina.


Miu sangat suka pada Karina, jika boleh kemanapun Karina pergi Miu ingin ikut.


Kesenangan bermain wanita jika mendapat wanita untuk ia hukum atas titah Karina tak sebanding dengan kebahagian bermain bersama Karina. Berlari kesana-kemari, saling merebut bola ataupun jalan-jalan keliling markas. 


"Arion kok belum pulang juga dari jalan-jalan bisnisnya di negara B sih? Padahalkan sesuai jadwal dia sudah pulang satu jam yang lalu. Malah gak ada kabar lagi sejak siang tadi. Dihubungi malah operator kurang kerjaan itu yang menjawab. Huh …," kesal Karina mendengus kesal melihat bolak-balik handphonenya.


 Arion memang kunjungan bisnis ke negara B. Hari Jum'at perginya, hari minggu kembalinya.


Arion berniat mengajak Karina. Namun, mengingat ibu hamil muda sangat rentan jika mengendarai pesawat membuat Arion mengurungkan niatnya.


Arion tahu Karina ibu yang kuat bagi anaknya, akan tetapi daripada ambil resiko bagus tak usah. Karina langsung menuju meja makan.


"Mungkin macet Non di jalan, dan bisa saja handphone Tuan lobet kehabisan daya, jangan kesal dulu Non, kasihan dedek bayinya," ujar Bik Mirna.

__ADS_1


"Hm," gumam Karina meraih handphonenya. Membuka kontak dan menscroll mencari nomor Ferry. Jika handphone Arion tidak aktif, setidaknya nomor Ferry aktif dong.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi." Suara operator dengan nada khasnya lah yang menjawab Karina.


Karina mendengus kesal.


Di mana mereka, masa' iya sih masih di pesawat, batin Karina.


"Non, lebih baik Non makan dulu. Pasti dedek bayinya sudah lapar di dalam sana," saran Bik Mirna. Karina mengangguk. Hatinya gusar, gelisah dan tak tenang.


Miu yang sensitif akan perasaan Karina menatap Karina dengan mata emasnya yang terlihat sendu. Ia mengeram memberi semangat pada Karina.


Karina menghela nafas menenangkan hatinya. Ia lantas mulai menyantap makan malamnya. Aneh, padahal masakan ini adalah makanan kesukaan Karina namun rasanya hambar di mulut Karina. 


Tetapi demi anaknya Karina tetap harus makan. Hambar-hambarlah, yang penting nutrisinya tak hambar masuk dan diserap oleh tubuhnya. 


Dua puluh menit kemudian, Karina menyelesaikan suapan terakhirnya. Meminum air mineral melepas dahaga setelah makan. Tak lupa susu untuknya yang Bik Mirna sodorkan Karina minum.


Setelah lima menit kemudian, Karina lantas beranjak dari meja makan menuju ruang tengah. Miu yang telah selesai meminum susu untuknya pun mengekor. Naik ke atas sofa dan tiduran di samping Karina yang memegang remote televisi.


Karina menonton sinetron yang menguras emosi. Biasanya tak ada waktu melihat beginian, tapi tak apalah meluangkan waktu dan mencoba menontonnya.


Siapa tahu saja Karina nyaman dengan tontonamnya. Sedang asyik-asyiknya serius menonton sinetron, breaking news malah nongol.


"Berita terbaru. Kecelakaan baru saja terjadi di persimpangan jalan Aksara. Kejadian ini melibatkan satu minibus dan mobil truck…," ucap reporter. Karina menautkan alisnya. Jalan Aksarakan dekat dengan bandara. Jantungnya berdebar kencang. 


Karina menajamkan matanya saat Kameramen menyorot kondisi minibus. Keadaannya rusak parah. Ringsek seluruh bodynya. Karina meringis membayangkan jadi apa orang yang di dalam sana. 


Mata Karina membulat saat melihat plat nomor minibus tersebut.


1 2 0 5 KA, batin Karina. Sontak Karina berdiri.


Ia berlari menuju garasi, membuat Bik Mirna dan Pak Anton yang berada tak jauh dari Karina mengejar Karina. 


"Non," panggil Pak Anton kala Karina masuk ke dalam mobil putihnya. Karina langsung tancap gas tanpa mempedulikan panggilan Bik Mirna dan Pak Anton. Miu gelisah, berjalan kesana-kemari. 


"Pak, susul Nona, cepat," pekik Bik Mirna. 


"Iya Bu, tapi kemana? Bapak gak tahu tujuan Nona," sahut Pak Anton panik namun berusaha tetap tenang.


"Pasti jalan Aksara. Nona langsung lari saat melihat berita, cepat. Ajak Miu sekalian," jawab Bik Mirna resah.


 


Pak Anton dengan cepat mengambil kunci mobil dan memasuki satu mobil lagi yang tersedia di garasi atas. Miu langsung naik kala Bik Mirna membuka pintu untuknya. Pak Anton langsung meluncur menyusul Karina.

__ADS_1


__ADS_2