
Selepasnya Karina keluar dari gedung Jaya Company Karina langsung menuju mobilnya. Namun sebelum Karina meninggalkan parkiran Karina mengirim pesan kepada Maria tidak membuat Maria khawatir dan curiga apabila nanti ia pulang terlalu lama. Karina mengirim pesan kepada mertuanya itu bahwa ia akan ke cafe. Kini ia melajukan mobilnya kencang menuju markas Pedang Biru Mafia.
Di tengah perjalanan handphone Karina berbunyi menandakan ada notifikasi pesan masuk. Karina mengambil handphonenya dan melihat isi pesan itu.
Nona semua sudah sesuai perintah Anda, pesan Raina pada Karina.
Karina hanya tersenyum sinis membaca pesan itu.
Dua puluh menit kemudian Karina tiba di markas PBM. Karina langsung masuk ke dalam markas dan menyuruh bawahannya untuk memanggil Li dan Gerry menuju ruang kerjanya.
"Ada tugas apa Queen?" tanya Li setelah sampai di ruang kerja Karina.
"Cari semua informasi yang berhubungan dengan ketiga orang ini," perintah Karina melempar empat buah foto yang berbeda.
Gerry mengambil foto-foto itu dan melihatnya. Sontak mata Gerry melebar melihat itu. Tak lama matanya menampilkan api amarah yang terlihat sangat besar.
"Albert Bertan, Rudi Alkanda dan juga Berto," gumam Gerry meremas salah satu foto.
"Queen Anda ada masalah apa dengan mereka?" tanya Gerry serius. Karina menatap sekilas Gerry.
"Dendam masa lalu," jawab dingin Karina.
"Mengapa? Apa kau mengenal mereka?" tanya Karina.
"Tidak. Aku hanya mengenal Berto," jawab Gerry.
"Hmm … Berto? Siapa dia?" tanya Karina menyangga dagunya dengan kedua tangannya di meja.
"Pembunuh. Pembunuh bayaran yang licik dan juga kejam. Jika ia menghabisi nyawa targetnya maka organ-organ orang yang dibunuhkan seperti jantung, ginjal, mata, hati akan diambil saat itu juga dan dijual," terang Gerry. Matanya semakin memerah menandakan hasrat membunuh yang kuat.
"Dari mana kau tahu??" tanya Karina yang semakin penasaran. Jika Gerry mengetahui siapa Berto ada kemungkinan jika ia akan segera menemukan Berto.
"Dia membunuh orang tuaku saat usiaku 10 tahun. 5 tahun sebelum aku ikut denganmu. Aku melihat sendiri dari bawah tempat tidur bagaimana dengan kejam ia membunuh orang tuanku dan mengambil organ tubuh mereka. Saat itu juga aku bersumpah akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri!" geram Gerry meninju dinding ruang kerja Karina. Nafasnya menderu.
"Kendalikan dirimu Gerry!" seru Li yang mulai khawatir jika jiwa psiskopat Gerry keluar dan menguasai dirinya.
"Biarkan saja dia mengeluarkan kepedihannya Li," ucap Karina yang dengan santainya melihat reaksi Gerry.
"Tapi Queen …," ujar Li namun dipotong Karina.
"Kau tenang saja. Dia bisa mengendalikan dirinya," ujar Karina.
"Apa yang akan kau lakukan seandainya kau bertemu dengannya Gerry?" tanya Karina.
"Andai. Andai aku bertemu dengannya aku akan langsung menghabisinya dan mengeluarkan semua organ dalamnya. Aku akan membalasnya berkali-kali lipat. Aku akan memotong tangannya yang telah membunuh orang tuaku. Aku akan mengambil matanya yang tinggal satu itu,' jawab Gerry menyeringai.
"Kau begitu cepat cari dia segera mungkin!! Dan kau Li selidiki dua orang lainnya!!" perintah Karina meninggalkan ruang kerjanya.
"Si Queen," jawab Li sedangkan Gerry masih mengatur nafasnya.
Selepas dari ruang kerja, Karina langsung menuju kamarnya di lantai tiga. Di jalan dia memerintahkan salah satu bawahanya untuk membawa Miu ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Karina berjalan menuju balkon. Kawasan markasnya yang dekat pantai ditambah rimbunnya pepohonan membuat suasana lebih nyaman. Karina memejamkan matanya saat semilir angin menerpa wajahnya.
Tak lama ia merasakan ada yang menarik bajunya dari belakang.
"Miu apa itu kau??" tanya Karina tanpa berbalik.
"Grrmmm," jawab Miu masik menarik baju Karina.
"Sudah jangan ditarik lagi. Nanti koyak! Jangan jadi anak nakal," ujar Karina berbalik dan mengelus kepala Miu.
__ADS_1
"Aku merindukanmu," ucap Karina.
Miu hanya menatap Karina dengan mata kuning keemasannya. Ia berjalan mendekati sebuah lemari dan mengambil bola dari sana. Lia lantas menyundul bola itu ke arah Karina.
"Bermain bola??" tanya Karina yang dijawab goyangan ekor Miu ke sana ke mari sambil menjulurkan lidahnya.
"Baiklah. Ayo ambil bola in," seru Karina. Dan jadilah Karina bermain lempar bola dengan Miu, macam kumbang kesayangannya.
***
Lain Karina lain juga Arion. Selepasnya dari meeting dengan Lila dan Raina, Arion memutuskan untuk pergi dari kantor. Hatinya gelisah akan satu hal, Joya. Ia mengirim pesan pada Joya sebelum meninggalkan parkiran mobil.
Ayo bertemu di tempat dulu kita biasa bertemu, tulis Arion.
Tak lama terdengar pesan balasan.
Oke, balas Joya.
Arion langsung tersenyum dan mengemudikan mobilnya menuju tempat di mana ia akan bertemu dengan kekasih lamanya itu.
***
Joya sempat kaget dengan suara dering handphone yang menandakan ada pesan masuk. Saat ini ia sedang berada di ruang latihan tembak markas Black Tiger Mafia. Ia melampiaskan, kekesalan, kesedihan, amarah dan kekecewaannya pada target tembakan. Kekecewaan pada kekasihnya yang telah menikah dan kekesalan pada istri kekasihnya. Ia histeris saat membaca dan menonton berita yang sedang trending topic yaitu pernikahan Arion dan Karina.
Joya mengambil handphonenya dan melihat isi pesan itu.
Ayo bertemu di tempat dulu kita biasa bertemu, tulis orang itu yang ternyata adalah Arion.
Tanpa pikir panjang Joya langsung menyetujuinya.
Oke, tulis Joya membalas pesan Arion.
Joya langsung menuju kamarnya dan berganti pakaian untuk menuju tempat di mana dulu ia dan Arion sering bertemu.
***
Mata lelaki itu terpejam. Tak lama terdengar suara pintu kamar terbuka dan tertutup. Suara langkah kaki mendekatinya. Perlahan ia merasakan pelukan hangat dari seseorang dari belakang.
"Kau sudah datang? Aku kira kau tak akan datang karena marah padaku," ucap pelan pria itu dengan masih memejamkan matanya.
"Hmm … yes ini aku, Arion," ujar seseorang itu yang ternyata adalah Joya.
"Kemana? Kemana kau pergi selama ini?" tanya pria itu atau lebih tepatnya Arion.
Joya diam tak menjawab. Arion membalikkan badannya menghadap Joya. Ia mengangkat wajah Joya yang tertunduk.
"Kemana kau pergi Joya?? Apa kau tahu betapa gilanya aku mencarimu? Setiap sudut, setiap tempat telah ku telusuri namun kau tetap saja tak ku temukan," ucap Arion pelan.
"Maaf," hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Joya.
"Kau tahu? Aku mulai bisa melupakanmu dan berusaha menata hidup baru. Orang tuaku memaksaku menikah. Aku frustasi. Tapi takdir mempertemukanku dengan Karina, istriku sekarang. Namun mengapa kau kembali ? Mengapa kau datang, Joya?" ucap pilu Arion.
"Maaf … maafkan aku honey … maaf telah membuatmu tersiksa selama ini," ucap sedih Joya. Air mata mulai turun dari kelopak matanya.
"Kemana? Kemana kau selama ini hah?" tanya Arion meninggikan suaranya. Ia menghempaskan pelukan Joya.
"A-aku berobat ke luar negeri," jawab Joya gugup.
"Berobat? Kau sakit apa?" tanya Arion. Suaranya mulai melemah.
"Jantung. Aku … aku menderita penyakit jantung," jawab Joya mulai menangis.
__ADS_1
"Jantung?" gumam Arion. Ia teringat dengan Enji yang meninggal karena penyakit jantung juga. Ia menatap Joya rumit.
"Maafkan aku honey. Aku salah tak memberitahumu. Aku tak mau membuatmu khawatir," tangis Joya memeluk Arion.
"Aku merindukanmu Arion," ucap pelan Joya.
Arion membalas pelukan Joya perlahan. Ia mencium rambut panjang Joya.
"Aku juga sangat merindukanmu, Joya," ucap Arion.
Arion dan Joya berpelukan cukup lama. Sekitar lima menit kemudian Arion melepas pelukannya dan tanpa aba-aba ia mengendong Joya menuju ranjang hotel. Joya yang tak siap hanya bisa berteriak kaget dan mengalungkan tangannya ke leher Arion.
Bruk ....
Arion menjatuhkan Joya di ranjang dan langsung mencium bibir Joya.
"Emmm ...," erang Joya.
Arion dengan rakusnya mengabsen isi rongga mulut Joya. Joya pun membalas ciuman Arion. Tak lupa tangannya merangkul leher Arion.
Arion melepaskan ciumannya melihat Joya yang mulai kehabisan oksigen.
"Aku akan menghukummu karena telah meninggalkanku selama ini," ucap Arion serak.
"Hmm … memangnya kau tak dapat jatah dari istrimu?" tanya Joya menggigit jari telunjuknya dan berpose menggoda.
"Dia lagi datang bulan," jawab Arion sembari memeluk Joya.
"Kalau begitu aku akan memuaskanmu," ucap Joya langsung mencium Arion lagi.
Arion membalas ciuman Joya. Tangan Arion bergerak menjelajahi setiap inci tubuh Joya. Arion melepaskan ciumannya dan mulai mencium leher Joya meninggalkan bekas ciuman di sana.
Entah sejak kapan mereka sudah tidak lagi memakai sehelai benang pun. Saat Arion hendak memasuki Joya. Arion seakan berhalusinasi membayangkan bahwa Joya adalah Karina. Arion mengusap matanya. Ada setitik rasa bersalah di hatinya.
Arion lantas bangkit dari atas tubuh Joya dan duduk di atas ranjang sembari memakai pakaiannya. Joya yang masih memejamkan matanya pun ikut bangkit.
"Ada apa? Mengapa kau tak jadi melakukannya?" tanya Joya heran.
"Tidak apa. Aku pulang dulu," ucap Arion langsung pergi tanpa mendengar jawaban Joya.
"Tapi …." Ucapan Joya terhenti saat punggung Arion menghilang di balik pintu.
Joya tampak sedih sekaligus kesal.
"Kau berubah. Kau bukan yang dulu lagi Arion," gumam Joya membaringkan tubu,hnya di ranjang dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
Karena lelah dan juga kesal dan sedih, Joya mulai memejamkan matanya dan tertidur.
***
Matahari mulai kembali keperaduannya. Langit biru mulai berubah menjadi senja. Karina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah keluarga barunya. Hatinya senang. Di sepanjang perjalanan ia bersenandung ria.
Lain halnya dengan Arion yang kalut. Kepala berisi tentang Karina, Karina dan Karina. Ia bingung mengapa saat akan berhubungan dengan Joya malah wajah Karina yang terbayang.
Mungkin jika cintanya itu ukurannya 100 persen maka cinta untuk Karina mulai ada dan tubuh sebesar 15 persen sedangkan 85 persen lagi untuk Joya.
Perlahan mobil Arion memasuki kediaman Wijaya diikuti dengan mobil Karina. Ternyata mereka tiba di waktu yang bersamaan.
Arion langsung turun dari mobil dan menunggu Karina keluar dari mobilnya. Ia mulai curiga dari mana Karina hingga pulang sesore ini.
"Dari mana kamu?" tanya ketus Arion pada Karina.
__ADS_1
"Cafe," jawab cuek Karina.
Mendengar jawaban Karina membuat Arion merasa bersalah. Tanpa bicara lagi Arion langsung masuk ke dalam rumah. Melihat itu Karina hanya menaikan bahunya acuh dan ikut masuk ke dalam rumah.