Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 214


__ADS_3

Setibanya di markas Pedang Biru, Karina segera memanggil Elina, Li dan Gerry. Gerry yang baru saja tiba sesudah Karina masuk, berlari kecil menuju ruang meeting. Di ruang meeting, suasana sangat dingin. Apalagi tatapan mata Karina. Sedangkan dua orang lain, menunduk dan meremas ujung baju, antara takut dan gugup.


"Masuk, kau mau jadi penjaha pintu di situ?"


Suara dingin Karina menyadarkan Gerry yang termenung. Dengan langkah tanpa suara, Gerry segera mengambil tempat.


"Jelaskan!" ucap Karina dingin, melirik Elina dan Li, yang mana merekalah yang bertanggung jawab mengenai senjata, semuanya. 


"Salah satu anggota di bidang pembuatan awal ada yang membelok kepada lawan. Dia musuh dalam selimut," terang Elina. Karina tersenyum miring.


"Kalian kecolongan. Dia anggota apa bukan?" Karina menyangga dagunya. Gerry yang belum paham langsung bertanya. Karina melirik Li, untuk menjawab pertanyaan Gerry.


"Cari informasi terbaru. Senjata yang harusnya di-lauching hari ini malah perusahaan lawan yang telah mematenkan hak ciptanya, sekarang dengan terpaksa, lauching-nya dibatalkan. Sayang sekali, padahal sudah sempurna," terang Li. Gerry membulatnya matanya. Dalam hati membatin pantas Karina marah besar.


"Dia adalah anggota, tepatnya anggotaku," jelas Elina, menengguk ludah dengan tatapan horor Karina. Karina mengepalkan tangan dan menggebrak meja. Membuat apa yang ada diatasnya bergerak.


Li, Elina dan Gerry terlonjak kaget. Jantung sudah mau copot rasanya.


"Kurang ajar! Bawa dia kemari!" perintah Karina tegas. Li segera keluar. Meninggalkan Elina dan Gerry bersama Karina. Karina kemudian memejamkan matanya sejenak.


"Apa sistem yang ku buat sudah bermasalah? Seharusnya jika ada anggota yang menyeleweng maka akan terdeteksi oleh ruang pemantau dan jam tanganku ini," gumam Karina bingung. Mengetuk-ngetuk meja dengan jemari tangan. Keringat dingin membanjiri Gerry dan Elina.


"Ada raut patah hati di wajahmu tadi, kau kenapa?"


Karina mencairkan suasana. Gerry dan Elina menoleh ke arah Karina menunjukkan wajah bingungnya.


"Aku?" tanya Gerry menunjuk dirinya sendiri. Karina mengerjap sekali mengiyakan.


"Aku," ucap Gerry tertahan, sebab Gerry melamun mengingat kejadian di pelabuhan tadi.


"Aku menyuruhnya membawa calon istri tadi," bisik Elina pada Karina. Karina tersenyum.


"Sayang-sayang dia ada yang punya," sindir Karina. Gerry tersenyum kecut. Sedangkan Elina membulatkan matanya tak percaya. Rasa sesal hadir di hatinya. Ia hanya ingin agar Gerry cepat mendapat pasangan, bukan ingin membuat Gerry patah hati di awal jatuh hati.


Elina ingin meminta maaf, namun terpotong karena Li sudah kembali dengan membawa seorang wanita bersamanya. Tangan wanita tersebut diborgol dengan kepala tertutup kain. Li menghempaskan wanita tersebut di samping kursi Karina. Suasana kembali mencekam. Karina kembali mengeluarkan aura intimidasinya.


"Dia kelas berapa?" tanya Karina dingin pada Elina. 


"Dia kelas D," jawab Elina. 


"Kelas D? Buka penutup kepalanya," titah Karina. Li membukanya dengan kasar. 


Wajah wanita tersebut pucat, bukan sakit tapi tertekan batin dengan tatapan Karina. Ia bahkan seakan susah untuk bernafas. 


"Nama, dan apa alasanmu menghianati organisasi? Kau tahu dampak dari perbuatanmu?"


Karina dengan nada geramnya bertanya seraya memegang kerah baju wanita tersebut tanpa beranjak dari duduknya.


Wanita itu meringis. Air mata keluar dari matanya. Elina tak tega melihat anggotanya, akan tetapi apa daya, anggotanya itu salah dan Karina adalah pimpinan tertinggi. 


"Namaku Rama Andini," jawab wanita tersebut susah payah. Karina melepas cengkramanmu dan membuka laptop di hadapannya. Masuk ke sistem anggota dan mencari nama wanita tersebut. Wanita tersebut terbatuk.


"Kau bukan Pedang Biru! Pergi dan bawa wanita ini pergi! Lakukan hukuman terhadap musuh sesuai peraturan!" tegas Karina, mengeraskan rahangnya. Menatap ketiga orang di depannya murka. Ketiga orang tersebut menggigil dan dengan cepat meminta maaf dan ampun dari Karina.


"Tunggu Queen," pinta wanita yang bernama Rama ini memegang kaki Karina. Karina melirik dingin ke arah kakinya.


"Pergi!" ucap dingin Karina. Wanita tersebut menggeleng 


"Ini bukan salah Ketua Elina. Ini resmi salahku. Aku Pedang Biru, akan tetapi beberapa bulan lalu, tepatnya tiga bulan lalu ada yang menculikku. Mereka melakukan sesuatu padaku. Dan setelah aku bangun, mereka menyuruhku menjadi mata-mata mereka. Sebagai seorang anggota, aku tentu menolak. Akan tetapi, ternyata selama ini aku mempunyai keluarga selain Cinnamon dan Pedang Biru, dia adalah adik kandungku. Aku masih punya keluarga kandung yang selama ini tidak pernah aku ketahui. Maafkan aku Queen, hukum saja aku, tapi aku mohon selamatkan adikku dari mereka. Aku tak mampu," jelas Rama panjang lebar dengan derai air matanya. Karina menyatukan alisnya mencerna kata demi kata.

__ADS_1


"Mereka mengeluarkan chip yang ada padamu? Mustahil kawan. Jika itu terjadi, kau sekarang masih berada di rumah sakit ataupun di liang lahat!" 


Karina menepuk kedua tangannya. Masukkan dua orang pengawal, segera menyeret Rama keluar setelah mendapat perintah Karina. Rama meraung dan mencoba meyakinkan Karina. Hingga suara Rama menghilang, Karina kembali mengebrak meja.


"Queen," panggil ragu Li.


"Selidiki wanita itu! Setiap Pedang Biru ada chip di tubuh mereka, itu sudah menyatu dengan darah, tanpa izin dariku, jika melepaskan paksa maka mati adalah tujuannya dan dia masih hidup dan sehat," ujar Karina.


"Tapi Karina, dia memang anggotaku. Sebelum bergabung denganmu, dia sudah masuk ke Cinnamon, aku rasa memang ada yang mencurigakan!" Elina mengangka ucapan Karina.


"Selidiki!" Satu Kata dari Karina, bidang informan segera bergerak. 


"Tetap lauching. Batalkan pembatalan! Hanya sama seri, belum tentu sama isi, mereka plagiat, pasti ada cela dan perbedaan dengan yang asli!" tegas Karina.


"Tapi, bukankah itu akan membuat nama perusahaan buruk? Mereka akan menunduh kita plagiat Karina!" Li tak setuju.


"Semua sudah berada dalam perkiraan Li! Elina, yang kalian pantau itu adalah bentuk pertama, sudah banyak di pasaran, dan yang akan kita lauching adalah senjata yang sebenarnya. Pedang itu, sekilas hanya pedang biasa, dan mereka hanya meniru bentuk, sedangkan yang asli, ada sesuatu yang berbeda. Yaitu sidik jari! Hanya pemilik sebenarnya yang bisa memegang pedang, sedangkan orang lain, akan langsung mati dengan tegangan listrik berkekuatan yang terdapat di pegangannya. Selain itu bilah pedangnya juga dilengkapi dengan aliran listrik. Yang kalian kerjakan, hanyalah sampai tahap finishing pertama, dan itu kalian anggap selesai," terang Karina.


Elina mengerut tidak mengerti, sedangkan Li dan Gerry menghela nafas lega. Ternyata memang Karina tak semudah itu percaya pada siapa yang diajak dan bergabung dengannya. 


"Persiapkan lauching besok pagi! Kita akan mengeluarkan dua jenis senjata. Senjata tajam dan senjata api!"ctegas Karina, berdiri dan melangkah keluar dari ruang meeting. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16.00. 


Karina segera melangkah menuju di mana mobil dan Pak Anton berada. Kembali lagi ke perusahaan. 


"Li, aku masih tidak paham," ucap Elina.


"Haih kau ini, yang mereka lauching itu baru setengah jadi, sedangkan yang akan kita lauching adalah sempurna. Tapi, itu mungkin kelas duanya, sebab kelas satunya untuk kepentingan pribadi kita sendiri," jelas Li.


"Baguslah. Kita harus bersiap dan mempersiapkan segalanya," ujar Gerry. Li dan Elina mengangguk.


"Oh iya, Gerry maaf untuk ucapanku tadi pagi," ujar Elina penuh penyesalan.


"Woah, ternyata sudah menjadi istri, aku kira masih pacaran, hampir saja aku mengusulkan agar kau menikung," kekeh Li.


"Kau sudah mengusulkannya," ucap datar Gerry, melangkahkan kaki mendahului Li dan Elina.


"Hei Gerry, jangan lupa kita hari ini undangan!" seru Li, mengingatkan Gerry. Gerry menyahut ya dengan nada malasnya. Akankah dia pergi sendiri tanpa kekasih? Kemarin, dia bersama ibunya Elina, Marlena .  apa dia harus menghubungi wanita tua itu?


 Oh tidak! Mau ditaruh di mana wajahku? Tapi …  aihs, wajahnya malah terbayang. Siapa namamu? pikir Gerry.


*


*


*


"MHZ, kalian mencari masalah denganku!" desis Karina. Di tengah perjalanan, handphone Karina berbunyi. Karina segera meraih dan melihat apa yang dikirim padanya.


Karina membaca serius laporan informannya. Kemudian menghela nafas kasar. 


"Dia memang anggota Pedang Biru dan ucapannya tadi benar," ucap Karina dengan nada menyesal. Segera menelpon bagian hukuman.


"Batalkan hukuman pada wanita itu!" titah Karina.


"Tapi Queen, dia sudah dihukum dan kami akan segera memakamkan mayatnya," jawab orang yang ditelpon Karina. Karina memejamkan matanya.


"Jangan kubur dulu! Bawa dia ke laboratorium, aku akan meneliti tubuhnya nanti!" tegas Karina.


"Baik!" jawabnya dan panggilan berakhir. Karina melempar handphone-nya ke samping kemudian memijat pelipisnya. Raut wajahnya tak tenang. Hatinya juga gelisah.

__ADS_1


"Pak kita ke pantai saja!" ucap Karina.


"Oh baik Non," jawab Pak Anton cepat. Setibanya di pantai, Karina bersandar pada body mobil. Rambutnya yang tergerai diterbang angin yang lewat. Matanya terpejam dengan kedua tangan melipat di dada.


"Duduk Non," ujar Pak Anton, membuka kursi minimalis dari bagasi dan meletakkannya di samping Karina. Karina tersenyum tipis.


Karina lalu duduk dan kembali memejamkan mata. Lima belas menit kemudian, Karina membuka mata dan mengambil handphone di mobil.


"Li, siapkan pasukan. MHZ harus hancur sebelum matahari terbit esok!" perintah Karina.


"Baik," jawab singkat Li. Tak mau bertanya lebih dengan nada serius Karina. Selepas itu, Karina menghubungi seseorang lagi.


"Beli semua senjata yang di-launching MHZ! Jaga identitas. Serta, hancurkan catatan mereka tentang senjata itu!" titah Karina. Hasil kerja keras mafianya, mana bisa orang lain yang menjadi pemilik dari hak cipta dan patennya.


"Kalau catatannya terdapat di kepala dan teringat di memorinya bagaimana?" Suaranya seperti suara wanita, bertanya entah memancing. Karina menyeringai.


"Maka hancurkan otak dan memorinya. Lebih waspada dan hancur di awal itu lebih menyenangkan," jawab Karina.


"Seperti kemauan dan perintah Anda," sahut wanita tersebut. Panggilan berakhir.


 Waktu sudah menunjukkan puk 17.00, Karina masih berada di pantai. Pak Anton mengingatkan Karina akan jadwal. Karina mengangguk dan segera masuk ke mobil. Pak Anton membereskan kursi lalu melajukan mobil meninggalkan pantai dan rona senja yang telah muncul. Perasaan Karina lumayan lega. 


"Kita ke mana Non?" tanya Pak Anton.


"Rumah," jawab Karina seraya menghubungi Arion.


"Assalamualaikum Sayang," sapa Arion dengan nada cerianya.


"Waalaikumsalam Ar, kamu di mana?" tanya Karina.


"Masih di kantor? Kenapa? Sudah rindu dan ingin segera dijemput?" tanya Arion menggoda.


"Bukan!" jawab Karina tegas.


"Lalu?" tanya Arion heran dan bingung.


"Kamu gak usah jemput aku ke perusahaan. Kita berangkat sendiri-sendiri ke resepsi Ferry dan Siska. Aku jalan pulang ini," jelas Karina.


"Hah? Apa? Jadi kita ketemuan di sana saja langsung?" terka Arion.


"Hm, gak papa kan?" tanya Karina, ragu.


"Hm, ya sudah deh. Tampil yang cantik ya Sayang," jawab Arion.


"Malas. Nanti aku pula yang dikira pengantinnya," tolak Karina, dengan tertawa kecil.


"Haha, tak apalah. Panggung mereka buat resepsi kedua kita. Seru tuh," sahut Arion, ikut tertawa.


"Kamu jangan tampil menawan, awas saja kamu!" Karina tiba-tiba mengancam Arion. 


"Mengapa? Masa' nanti kamu cantik aku buluk?" Arion tidak terima.


"Supaya kamu gak dilirik wanita centil di sana," jelas Karina.


"Kalau begitu, kamu tampil biasa saja," ujar Arion tak mau kalah.


"Baiklah. Tampil biasa saja dan tidak menarik perhatian," ucap kompak keduanya lalu tertawa. Pak Anton ikut tersenyum.


"Ya sudah, kamu lanjut gih kerjaan kamu," ujar Karina.

__ADS_1


"Baik My Queen," jawab Arion.


__ADS_2