
Rapat Umum Pembagian Saham Jaya Company berlangsung sukses. Karina bersama dengan Aleza keluar dari ruang rapat disusul dengan pemegang saham lainnya. Para pemegang saham tentunya mencari muka dan perhatian dari Karina. Masa depan mereka akan terjamin seandainya mereka berhasil menjalin suatu kerja sama dengan perusahaan Karina. Sayang, Karina acuh dan memilih segera menuju ruangan Arion. Aleza sebagai sekretaris lah yang menangani para pemegang saham itu.
Arion segera menyusul Karina ke ruangannya. Di sana ia mendapati Karina duduk di sofa dengan wajah yang sulit Arion terka.
"Ada apa? Mengapa wajahmu kusut? Ada yang mengganggu … masalah tadi pagi kah?"tanya Arion penasaran sembari duduk di samping Karina.
"Tidak! Aku hanya pusing dengan masalah kerja sama," jawab Karina.
"Kerja sama apa yang sanggup membuat dirimu gusar dan pusing begini?" Arion memegang kedua telapak tangan Karina.
"Yang tadi pagi membuatku tidak bicara padamu. Maaf," jawab Karina dengan raut wajah berubah sendu.
"Oh. Ku dengar kamu menjalin kerja sama dengan perusahaan asal negeri tirai bambu, proyek itu kah?"
Karina mengangguk.
Arion mengangguk mengerti.
Tak berselang lama, Aleza masuk dengan tas dan tablet di tangan.
"Nona, kita harus segera kembali," tutur Aleza dengan nada hormat.
"Hm."
*
*
*
"Bagaimana dengan pembagian saham Argantara Company?"tanya Karina pada Aleza saat dalam perjalanan kembali ke perusahaan.
Aleza mengecek tablet di tangan.
"Sudah Nona, berakhir sekitar 15 menit yang lalu," jawab Aleza singkat.
"Untuknya sudah dikirim?"
"Sudah Nona." Karina tersenyum puas. Aleza melirik, sedikit bernafas lega. Pak Anton melihat dari kaca spion tengah, melihat wajah Karina.
"Nona, maaf jika saya lancang. Saya ingin bertanya, sebenarnya hal apa yang membuat Anda gusar, bahkan sekarang walaupun wajah Anda terlihat tanpa beban tapi pikiran Anda sangat gusar juga bingung. Kiranya Nona ingin berbagi derita dengan kami, kami sangat bersedia Non," ujar Pak Anton dengan segenap keberanian, wajah nya tampak tegang setelah mengatakan hal itu. Karina mengangkat wajahnya dari lembar dokumen yang sedang ia baca.
"Anda memang terlalu peka, Pak." Karina tersenyum tipis. Aleza pura - pura tidak peduli, ia mengecek tablet, mengecek dan mengerjakan pekerjaannya. Mata fokus ke layar akan tetapi telinga fokus pada pembicaraan Karina dan Pak Anton. Aleza jelas bisa merasakan kegusaran Karina. Menjadi orang Karina sejak usia dini, membuat Aleza sedikit banyaknya paham sikap dan sifat Karina.
"Pak Tua itu memintaku mengunjunginya. Entah apa yang akan dimintanya kali ini," lanjut Karina. Aleza mengeryit tipis mendengar itu. Otaknya mengingat siapa gerangan yang Karina panggil Pak Tua.
Pak Anton tertegun sejenak.
"Dia? Meminta Anda hadir dalam pertemuan itu? Nona, ini sudah tidak asing bagi kami. Tapi kan sebelumnya ia pasrah saat Nona menyatakan akan hadir via video call. Dan untuk permintaan, saya rasa kali ini amat serius. Nona, apakah Anda akan pergi?"tanya Pak Anton serius
__ADS_1
"Aku tidak bisa menghindar lagi untuk bertemu langsung dengannya. Dua bulan setelah melahirkan, aku menyuruh Li mengatakan itu padanya. Ck … jika aku tidak pergi ia akan mengganggu terus dan mengungkit masalah itu. Dia membuatku geram dan gemas," ucap Karina datar. Wajahnya berubah menjadi dingin, tatapan mata menjadi tajam. Pak Anton sedikit bergidik, Begitu pun dengan Aleza.
"Anda akan pergi sendiri atau mengajar Tuan Arion?"tanya Pak Anton.
"Sepertinya … tidak. Tapi entahlah. Lihat saja nanti," jawab Karina.
"Baiklah, Nona." Pak Anton menghembuskan nafas kasar, matanya kembali fokus pada jalanan.
"Nona, ini beberapa pengajuan kerja sama dari pemegang saham tadi, sepertinya mereka sudah mempersiapkan proposal itu dari awal. Mereka tahu bahwa Anda adalah salah satu pemilik saham terbesar Jaya Compang dan akan hadir secara langsung menghadiri acara tadi, jadi mereka berbondong - bondong menyerahkan proposal ini, Anda ingin melihatnya?"tanya Aleza menatap Karina. Karina menoleh, menatap Aleza dengan alis terangkat.
"Baca dan pilah. Mana yang pantas dan mana yang tidak baru serahkan padaku!"tegas Karina. Aleza mengangguk. Urusan memilih yang terbaik, Aleza memang ahlinya. Ia pandai dalam analisis dan memperkirakan.
"Baik Nona," jawab Aleza, segera mengeluarkan proposal dari tas dan membacanya dengan seksama. Karina kembali pada dokumen di tangan.
Tak berselang lama, handphone Karina berbunyi. Karina mengambil handphone di tas dan melihat apa yang menjadi notifikasi. Ternyata sebuah pesan. Karina membaca dengan alis saling bertautan.
Wajah Karina berubah menjadi gelap, ia memegang erat handphone.
"Ke markas!"titah Karina pada Pak Anton.
"Lalu Nona Aleza?"tanya Pak Anton.
"Leza kamu kembali ke sendiri. Saya ada urusan penting di markas. Kamu pakai taksi saja atau hubungi kantor untuk mengirim mobil menjemputmu," ujar Karina. Pak Anton menepikan mobil. Aleza membereskan dokumen dan memasukkan tablet ke dalam tas.
"Saya akan naik taksi saja Nona, saya permisi dahulu," ucap Aleza, menunduk hormat pada Karina lalu keluar dari mobil. Setelah Aleza keluar, Pak Anton kembali melajukan mobil. Mencari tempat putar balik ke markas. Aleza menatap penuh pertanyaan pada mobil putih Karina.
"Apakah markas dalam bahaya?"gumam Aleza. Darah anggota Pedang Biru bergejolak dalam dirinya. Jelas, secara sebelum bertugas di perusahaan, dirinya adalah pimpinan markas di negara B.
"KS Tirta Grub," ucap singkat Aleza. Sopir mengangguk mengerti.
*
*
*
Karina melangkah tenang, berusaha mengendalikan emosi dalam diri. Ia tidak mau efek emosi jiwa mempengaruhi kedua buah hatinya. Karina menuju ruangan di mana Li, Bayu, dan Syaka berada.
Brak!
Karina membuka dan membanting pintu dengan kasar. Emosinya mulai tidak terkontrol. Ia menatap sangar Li, Bayu dan Syaka yang kini menunduk dalam, tidak berani menatap wajah Karina yang buas.
"Siapa yang mengizinkan kalian memasuki taman itu hah? Bukankah sudah ada tanda dilarang masuk? Kalian mau mati hah?"bentak Karina marah.
"Saya pantas dihukum Queen. Ini saya saya. Akibat kelalaian saya, mereka berdua hampir celaka," sahur Li, berjalan keluar dari lingkaran kursi dan berlutut di hadapan Karina. Bayu melirik, Syaka melirik Bayu. Baru kali ini Bayu melihat Karina marah seperti ini.
"Dimana kau? Mengapa lalai hah?"bentak Karina lagi. Menatap tajam Li.
"Saya … saya sedang rapat Queen," jawab Li terbata.
__ADS_1
"Rapat? Apa ruang pemantauan mati hah?"geram Karina, tangganya hendak melayangkan tamparan pada Li. Tapi tangan ini berhenti di udara. Karina memejamkan mata lalu menghela nafas kasar. Li yang memejamkan mata, membuka sedikit matanya, melihat Karina.
"Tapi … taman itu tidak dilengkapi dengan pemantau Queen. Anda menyebutnya sebagai tempat terlarang, hanya Anda dan orang yang mendapat izin Anda yang bisa masuk. Tapi, ini tetap kelalaian saya. Mohon hukumlah saya." Li menyangkal lalu memohon. Karina menarik tangannya.
"Kak, sebenarnya ada apa di taman itu? Mengapa Kakak sangat marah?" Bayu memberanikan diri bertanya seraya melangkah mendekati Karina. Syaka menilik lekat.
" Kalian tidak perlu tahu," jawab Karina dingin.
"Apakah membahayakan nyawa yang masuk selain Kakak dan yang mendapat izin?"desak Bayu.
"Bisa dikatakan begitu." Bayu membelalakan mata. Li yang masih menunduk dan berlutut, menoleh sekilas menatap Bayu.
Bahkan aku saja tidak tahu apa yang ada di sana.
Area taman yang tertutup tembok setinggi tiga meter. Hanya bagian yang mengarah ke arah bangunan utama yang temboknya berupa kaca tebal anti peluru. Itupun tembok kaca itu bisa diubah menjadi gelap. Kebetulan kali ini sedang dibuka. Selama ini, jikapun Li masuk ke taman itu hanya bisa melihat hamparan aneka bunga. Tapi memang Karina melarang menyentuh apapun jika dibawa masuk.
Akankah semua bunga di sini mengandung racun? Atau ada sesuatu yang lebih berbahaya.
"Tapi tanpa itu pun aku hampir mati tadi. Dia … menembakku. Untung saja meleset tapi lukisan yang ku buat rusak. Dia malah tidak merasa bersalah sama sekali. Apa benar perintah darimu seandainya ada yang masuk taman itu tanpa izin akan langsung dibunuh? Bukankah itu tidak adil? Kak, adikmu hampir mati loh," cerca Bayu mengeluarkan kekesalan di hati. Karina menatap Bayu tajam, lalu menatap Syaka yang masih menunduk dengan kedua tangan mengepal erat di jahitan celana.
"Mengapa lalai?"tanya dingin Karina pada Syaka.
"Saya … saya tadi ke perpustakaan untuk meminjam buku, saya kira aman saya tinggal sebentar, rupanya saya lupa mengunci pintu masuk, jadi … ini murni kesalahan saya. Tuan Li sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini," jawab Syaka dengan suara yang terdengar mantap tapi masih mengandung rasa takut. Ia lalu melangkah ke samping kiri Li, berlutut dan menunduk.
"Kak?"panggil Bayu.
"Apa kamu buta? Banyak tempat bagus di sini selain taman itu!"ketus Karina.
"Hah? Aku memang minus tapi tidak buta!"balas ketus Bayu.
"Kamu tidak membaca tanda larangan di sana?"
"E … tidak. Aku terlalu terpesona sejak membuka pintu itu."
"Haih. Apa mereka sudah diperiksa?"tanya Karina pada Li.
Li mengangkat wajahnya.
"Berdirilah!" Li dan Syaka segera berdiri.
"Hanya Syaka yang diperiksa. Ia disetrum oleh Bayu," jelas Li.
"Kak kau belum menjawab pertanyaanku!"pekik Bayu kesal.
"Iya! Tanpa itupun kau akan mati tadi!"balas Karina kesal dengan Bayu. Bayu tercekat, ia menatap Karina tidak percaya.
"Tapi … apakah kamu merasa ada yang aneh?"tanya Karina dengan tatapan menyelidik. Bayu menggeleng.
"Oh. Kalau begitu kalian ikut denganku, ke lab pribadiku," perintah Karina, segera keluar ruangan dan menuju lift untuk naik ke lantai 4, lantai pribadi miliknya. Li, Syaka dan Bayu. Sepanjang jalan, Syaka dan Bayu siku sikuan saling mendahului. Kedua orang itu sudah meninggalkan kesan tidak suka di awal pertemuan.
__ADS_1
Karina sedikit melirik lalu tersenyum tipis.
Akankah Karina akan tetap menyatukan dua orang ini? Tingkah mereka saja sudah seperti air dan minyak, anjing dan kucing. Apa bisa bekerja sama?pikir Li penasaran