
Sambungan percakapan via panggilan video.
"Darimana loe tahu? Perasaan loe kan gak pernah jatuh cinta? Pacaran aja gak pernah?" tanya heran Calvin yang disetujui oleh Arion.
"Eh … itu ya? Cari aja di internet. Sudah ya gue masih ada urusan," jawab Sam gelagapan dan langsung mematikan panggilan videonya. Tinggallah Calvin dan Arion yang terkekeh melihat reaksi Sam.
"Yang dibilang Sam tadi ada benarnya. By de way gue dukung loe seratus persen mengejar cinta istri loe yang dingin kayak kutub utara itu," ucap Calvin memberi semangat. Wajahnya kembali berseri-seri.
"Begitu ya? Oke gue putuskan mulai hari ini gue akan kejar cinta Karina," final Arion tersenyum lepas.
"Good Arion. Sudah tadi loe katanya mau main lanjutin gih," pamit Calvin menutup panggilan video.
Semangat membara kembali hadir di tubuh Arion. Dengan cepat ia meletakkan handphonenya di nakas dan keluar kamar dengan menggunakan celana dalam saja.
"Karina lanjutin yuk mainnya," teriak Arion. Karina yang masih fokus pada film horor yang ia tonton hanya melirik Arion sekilas.
Dengan popcorn di tangan Karina menikmati jalan cerita film. Karina semakin bersemangat melihat adegan pembunuhan disertai mutilasi tanpa sensor.
"Karina lanjutin main yuk," ajak Arion lagi menarik tangan Karina.
Karina malah menarik balik Arion hingga terjatuh di sofa. Wajah Arion mendarat tepat di sel*ngkangan Karina.
"Jauhkan wajahmu dari situ," ujar Karina tanpa berpaling dari televisi.
"Wangi," gumam Arion. Arion malah semakin membenamkan kepala ke sel*ngkangan Karina yang masih tertutup celana jeans. Kesal ucapannya tak dipatuhi Karina menarik rambut Arion ke atas yang membuat Arion mengaduh kesakitan.
"Jangan ganggu. Atau kubuat kau jadi seperti itu," ucap Karina menunjukkan potongan tangan yang terlihat di layar kaca televisi.
"Aku kan mau bermanja," sahut Arion mengelus kepalanya yang sakit akibat ditarik Karina.
"Lain kali saja," balas Karina.
Akhirnya Arion ikut menonton film horor yang Karina tonton. Mata Arion membulat melihat adegan potongan kepala yang sudah mulai membusuk. Arion langsung menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Karina. Karina malah semakin bersemangat, darahnya mendidih melihat darah berceceran.
"Film apa yang kau tonton?" lirik Arion yang masih meringkuk di balik tubuh Karina.
"Campuran. Ada pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan dan sejenisnya," jawab Karina bersemangat.
"Wanita apa yang aku nikahi ini?" gumam Arion. Ia lantas memejamkan matanya dan tertidur dengan posisi memeluk Karina dari samping.
"Wanita yang tak akan pernah kau bayangkan Arion," lirik Karina mengusap rambut Arion. Karina kembali fokus pada filmnya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Filmnya sudah berakhir satu jam yang lalu. Terlihat Karina ikut tertidur dengan bersandar pada sofa.
Suara alarm yang sengaja dipasang membangunkan Arion. Arion mengedip-ngedipkan matanya menyesuaikan cahaya yang redup. Tangannya masih setia di pinggang Karina.
Senyum jahil menghiasi wajahnya.
**Cup.
Cup.
Cup**.
Tiga kecupan mendarat di bibir Karina. Merasa ada yang menganggu Karina membuka matanya perlahan. Saat membuka matanya sempurna, Arion langsung menyerang bibirnya.
"Emmm …."
Karina meronta tak terima. Arion melepas ciumannya.
"Nanti malam lanjutin ya …," pinta Arion penuh harap.
"Hmm …," gumam malas Karina. Mata Arion berbinar girang.
Karina segera berdiri menuju kamar meninggalkan Arion yang masih senyum-senyum sendiri.
***
Arion dan Karina sudah selesai makan malam. Karina memberikan segelas susu pada Arion. Dengan cepat Arion meneguk habis susunya dan bersiap menarik Karina ke kamar.
Sebelum melangkahkan kakinya Arion merasa pandangannya berkunang-kunang dan mulai menggelap hingga akhirnya pingsan.
"Kan aman. Dia tertidur aku beraksi," gumam Karina menggendong Arion ke dalam kamar dan membaringkannya di ranjang.
Yang terjadi adalah Karina menaruh obat tidur pada susu yang Arion minum tadi. Tujuannya agar Karina bisa keluar menuju markas Pedang Biru dan juga menghindari ajakan main dari Arion.
Selesai menyelimuti Arion, Karina segera mengambil kunci mobilnya dan menuju parkiran. Waktu menunjukkan pukul 21.00. Karina melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang karena rintik hujan yang kian lebat menyirami bumi. Satu jam kemudian ia tiba di markas Pedang Biru.
"Jelaskan laporanmu tadi siang," ujar Karina pada Gerry setelah sampai di ruang kerjanya.
"Miu jangan masuk nanti kau dijadikan jaguar guling," teriak Li dari luar ruang kerja Karina.
"Miu?" gumam Karina.
Pintu ruang kerja terbuka, muncullah Miu dengan wajah senang langsung mendekati Karina. Miu menjilat tangan Karina seraya menggosok-gosokkan tubuhnya ke kaki Karina.
__ADS_1
"Ada apa ini Li?" tanya Karina mendapati Li berjalan masuk dengan nafas tak beraturan.
"Itu Queen Miu kabur dari kamarnya," jawab Li memegang pinggangnya. Mata Li seketika melebar mendengar ia menyebutkan nama Queen.
"Hah Queen?" kaget Li mendapati Karina memandang dirinya tajam.
"Mengapa kau mau menjadikan Miu jaguar guling? Apa kau kekurangan protein?" tanya Karina datar.
"Eh maaf Queen saya tak sengaja," panik Li.
"Atau jangan-jangan selama aku di sini kalian memperlakukan buruk Miu?" selidik Karina menatap tajam Li dan Gerry.
Li dan Gerry berkeringat dingin. Memang benar jika Karina tak ada Li dan Gerry selalu memarahi Miu jika Miu berulah ingin bertemu Karina.
"Sudahlah. Lebih baik Miu ikut denganku saja ke apartemen," ucap Karina santai mengelus kepala Miu. Miu tampak memejamkan matanya.
"Tapi Queen apa suami Anda tidak marah?" cegah Gerry.
"Oh iya Queen apakah Anda mendapat izin dari suami Anda pergi ke negara A?" timpal Li.
"Itu sudah aku urus. Sekarang aku pulang dulu. Ingat jangan terlambat. Ayo Miu," ajak Karina meninggalkan ruang kerjanya menuju mobil dengan Miu di sampingnya. Li dan Gerry menunduk hormat.
"Miu kita pulang ke apartemen," ujar Karina menyetel mode kemudi menjadi mode remote control dan suara.
Jadi sepanjang perjalanan pulang Karina dan Miu asyik bermain. Satu jam kemudian mereka sampai di parkiran apartemen. Karina segera masuk ke dalam lift diikuti Miu.
Miu yang terlatih membuka pintu mobil pun dapat dengan mudah membuka ataupun menutup pintu.
Tengah malam sudah tiba. Mata Karina mulai terasa berat. Karina segera menuju kamarnya. Arion masih saja terlelap dalam buai mimpinya.
"Miu jangan menganggunya ya. Dia suamiku," ucap Karina mulai membaringkan tubuhnya di samping Arion. Miu tidur di bawah kaki Karina.
***
Pagi hari pukul 05.00. Hari ini ada hari Senin. Sebagian orang menganggap hari senin adalah hari yang paling melelahkan.
Sebagian lagi menganggap hari senin adalah hari dimulainya hari bahagia. Entahlah mungkin itu tergantung presepsi masing-masing orang.
Arion menggeliat pelan namun tak membuka matanya. Tangannya meraba-raba bagian ranjang di sampingnya.
"Kosong?" gumam Arion. Perlahan ia merasakan ada yang bernafas di wajahnya. Arion mengalihkan tangannya ke arah depan wajahnya. Tangannya menyentuh sesuatu.
"Bulu? Apa Karina memiliki bulu?" gumam Arion.
"Grhmmm," suara Miu mengeram marah. Andai saja jika Miu dapat berbicara seperti manusia pasti ia akan mengatakan
"Jangan sentuh wajah tampanku!" mungkin.
Arion mengerutkan dahinya kemudian membuka matanya perlahan. Matanya melebar seketika. Di hadapannya seekor macam kumbang tengah menatapnya dengan ekspresi tak bersahabat.
"Grhmmmmm …."
Miu kembali mengeram menunjukkan taringnya yang tajam.
"Ahhhhhh …," teriak Arion seketika loncat dari ranjang keluar kamar.
Karina yang bangun lebih dulu baru saja selesai membuat sarapan pagi.
"Ada apa? Pagi-pagi buta kau sudah teriak-teriak. Apa kau melihat hantu?" ujar Karina datar.
"Bukan hantu tapi macam kumbang di ranjang. Dari mana asalnya macam kumbang ini?" heran Arion menggaruk kepalanya. Di belakangnya, Miu berjalan santai mendekati Karina.
"Dia Miu. Dia akan menemanimu selama 4 hari ke depan," jawab Karina menghidangkan sarapan di meja makan.
"Are you crazy? Kau mau ke mana rupanya?" tanya Arion menaikan satu alisnya.
"I'm feeling good. Aku mau ke negara A. Lila dan Raina mengajakku menghadiri pertemuan CEO sedunia di sana," jawab Karina mengelus kepala Miu.
Miu malah naik ke atas dan duduk di kursi. Kedua kaki depannya berada di atas meja.
"Bukankah acara itu lusa ya?" koreksi Arion.
"Memang. Tetapi Lila dan Raina mengajakku pergi lebih awal. Lagipula aku bisa mencari relasi bisnis baru serta membangun cabang baru di sana," ungkap Karina jelas.
Arion mangut-mangut tanda mengerti. Pandangannya kembali tertuju pada Miu.
"Tunggu tadi kau sebut nama Miu. Miu itu macam kumbang ini?" terka Arion yang mendapat anggukan dari Karina dan tatapan kesal dari Miu.
"Dari mana asalnya dia? Apa apartemen ini ada lubangnya? Bagaimana ia bisa masuk? Apa ada pintu ajaib?" timpal Arion bertanya beruntun.
"Dia kucingku. Kemarin ia diantar kemari oleh Li. Ya hitung-hitung untuk menemanimu," jawab Karina santai.
"Tidak. Lebih baik aku ikut pergi bersamamu ke negara K. Lagian aku juga mendapat undangan pertemuan itu," ungkap Arion.
"Hitung-hitung honeymoon," tambahnya.
__ADS_1
"Boleh. Tapi aku berangkat sepuluh menit lagi ke bandara. Tidak akan terkejar bila menunggumu bersiap lagi," ucap Karina
"Kalau begitu suruh saja Lila dan Raina berangkat sesuai jadwal sedangkan dirimu pergi bersama denganku dengan pesawat pribadi keluarga Wijaya," saran Arion kekeh ingin Karina ikut bersamanya.
Karina berpikir sejenak. Menimbang baik buruknya keputusan.
"Baiklah. Pukul berapa kita berangkat?" tanya Karina menyetujui saran Arion.
"Jam delapan. Aku akan segera menyuruh Ferry menyiapkan pesawat," ujar Arion. Kemudian ia kembali ke dalam kamar dan bersiap mandi.
Karina segera mengirim pesan pada Li dan Raina yang bertuliskan.
Kalian berangkat saja lebih dulu. Aku akan menyusul bersama suamiku.
Raina bawa semua berkas yang berhubungan dengan jalinan kerja sama dengan Jaya Company. Serta hubungi pihak yang bersangkutan, pesan Karina yang ditujukan pada Raina.
Tak lama terdengar bunyi notifikasi pesan masuk.
Baik Nona. Adakah yang lain Nona? tanya Raina.
Sebaiknya bawa juga berkas untuk jual-beli kawasan apartemen, balas Karina.
Dimengerti Nona, balas Raina.
Karina langsung menuju kamar diikuti Miu. Ternyata, Arion belum juga selesai mandi. Karina menggerutu kesal.
Miu malah kembali tidur di ranjang. Walaupun kesal, Karina tetap mengemas pakaian Arion di koper. Lima belas menit kemudian, Arion keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk.
"Nih pakaianmu," ucap Karina menyodorkan satu set pakaian pada Arion. Arion tersenyum canggung. Ia jadi teringat saran dua sahabatnya.
"Terima kasih istriku," ucap Arion mengecup kening Karina sekilas.
"Hmm …." balas Karina.
Ia kembali keluar kamar. Arion kembali merasa takut melihat Miu yang tidur di ranjang.
Walaupun merasa takut, ada sedikit rasa penasaran dalam dirinya akan Miu. Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati Miu dan mengelus kepalanya kilat. Tidak ada reaksi. Miu tetap tertidur.
"Bulunya halus dan bersih," gumam Arion.
Ia mulai mengelus kepala Miu lagi dan lagi. Mata kuning Miu mulai terbuka dan menatap Arion tajam. Tangan Arion masih berada di kepala Miu. Arion malah tersenyum manis dan ….
"Jangan gigit aku ya kucing manis. Lari …," seru Arion langsung berlari keluar kamar.
Kucing manis padahal dalam hati kucing maut. Miu menatap kepergian Arion dan turun ikut lari keluar kamar. Arion yang keluar kamar memutuskan meringkuk di sofa. Sedangkan Miu mencari Karina ke dapur.
"Kebetulan. Miu di toples ini adalah makananmu selama empat hari. Ingat kuletakkan di lemari paling bawah," ujar Karina.
Miu mengabaikan itu malah menatap Karina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kau mau ikut denganku?" tanya Karina berkerut dahi. Miu menggoyangkan ekor dan menjulurkan lidahnya tanda setuju.
"Bagaimana caranya? Jika aku naik pesawat pribadi Pedang Biru itu mungkin. Atau kau akan ku naikan helikopter saja. Aku juga butuh bantuanmu."
Satu ide mendarat di kepala Karina. Dengan cepat ia menghubungi seseorang dan memberi perintah agar mengirim helikopter ke rooftop apartemennya.
"Miu ayo ke atas," ajak Karina keluar dari apartemen.
"Mau kemana?" tanya Arion yang terbangun karena suara pintu dibuka.
"Mengembalikan Miu," jawab Karina asal dan langsung keluar. Tak lama mereka tiba di rooftop disertai dengan tibanya helikopter. Udara pagi yang dingin berhamburan menerpa wajah Karina. Wajahnya dingin menjadi semakin dingin.
"Bawa Miu ke markas di negara A, Sasha." perintah Karina pada orang yang turun dari helikopter.
Sasha adalah orang kepercayaan Karina setelah Li dan Gerry namum jarang terlibat dalam urusan perang ataupun urusan luar. Sasha berperan aktif dalam penyelidikan melalui meretas jaringan komputer.
"Baik Queen. Ayo Miu," jawab Sasha membungkuk.
Miu menjilat tangan Karina sebelum naik ke helikopter diikuti Sasha. Karina melambaikan tangannya saat helikopter mulai bergerak menjauh.
Saat helikopter sudah mengecil dari pandangannya, Karina segera turun ke bawah. Waktu menunjukkan pukul 06.30.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Arion duduk tegak di sofa.
"Iy," jawab singkat Karina.
"Ayo segera sarapan," ajak Karina.
"Oke," jawab Arion mengekor menuju dapur.
Arion dan Karina mulai menyantap sarapan yang terhidang. Setengah jam kemudian mereka menyelesaikan acara sarapan. Arion mengelap bibirnya dengan tisu. Ia melirik Karina. Ada noda susu di bibirnya. Dengan cepat, Arion mengambil tisu dan mengelap bibir Karina.
"Tanpa susu bibirmu sudah manis," ujar Arion tersenyum manis yang membuat Karina memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Rayuanmu semakin sering saja," komentar Karina merebut tissue yang dipegang Arion.
__ADS_1