Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 356


__ADS_3

Hari Kamis pagi, selesai sarapan, keluarga Wijaya segera menuju bandara. Dengan menggunakan dua mobil, kedua mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan pagi yang masih lenggang. 


Arion memimpin jalan, mengemudi santai. Di sampingnya ada Karina yang sibuk mengajak ketiga anaknya menyanyi. Di kursi belakang, Bintang, Biru, dan Bima menyahut dengan ocehan yang menggambarkan kebahagian. 


Wajah bahagia tercetak jelas di wajah mereka. 


Bima sendiri awalnya memang merasa asing dengan kehidupan barunya. Terlebih saat pertama kali bertemu dengan Bintang dan Biru, tatapan tajam menjadi hadiah. Menangis, kala itu Bima hanya bisa menangis takut dengan Bintang dan Biru. 


Karina yang sudah tahu konsekuensinya, langsung menenangkan Bima dan memberitahu bahwa Bintang dan Biru adalah saudaranya. Begitu juga dengan Bintang dan Biru, Karina tidak menggunakan nada marah melainkan lembut memberitahu kedua anaknya.


Untunglah kedua anaknya mengerti, sikap dingin dan acuh keduanya berubah menjadi ramah dan mengajak Bima untuk bermain.


Dari hari ke hari selama dua minggu ini, ketiga anak itu menjadi sangat dekat layaknya saudara kandung. Perasaan lega pun menyelimuti Karina. Karina sebisa mungkin membagi kasih sayangnya sama rata.


Kini, Karina dan keluarga sudah tiba di bandara. Di sana sudah menunggu Li dan Gerry bersama keluarga kecil mereka, juga Sam, Lila, Calvin, dan Raina beserta keluarga. Ah ternyata Ferry dan Siska juga ikut lengkap dengan putri kecil mereka yang baru berusia tiga bulan. 


"Kakak ipar!"sapa Sam dan Calvin bersamaan melambaikan tangan pada Karina yang berjalan bergabung dengan mereka dengan menggendong Bintang diikuti oleh Arion yang menggendong Biru dan Bima bersamaan. 


Barang bawaan mereka tentu saja sudah berada di dalam pesawat.


"Pagi semua," sapa balik Karina dan Arion bersamaan, tersenyum ramah.


"Pagi," jawab mereka serentak.


"Duh kalian cepat sekali tibanya," ucap Amri dengan nada bercanda, baru turun dari mobil dengan menggendong Alia, berjalan bergabung diikuti Maria.


"Bukanlah lebih cepat lebih baik? Kami yang diajak tentulah kami yang harus datang lebih awal," sahut Hamdan.


"Wah Anda sangat sopan," balas Enji.


"Maksudmu?" 


Hamdan mengeryit kesal pada Enji.


"Jika semua orang punya pemikiran seperti Anda, datang tepat waktu atau lebih awal niscaya tidak akan ada istilah jam karet di dunia ini," jawab Enji, dengan nada santai menanggapi tatapan kesal Hamdan yang kini berganti menjadi terkesiap.


"Saya memuji Anda, mengapa Anda kesal?"lanjut Enji.


"Anak muda kau memuji dengan nada meledek," jelas kakek Tio.


"Ah begitukah, Kakek?"


Enji menyentuh dagunya.


"Sebenarnya siapa sih anak muda ini? Mengapa begitu …."


"Enji Tirta Sanjaya. Adik dari Karina, memangnya kenapa?"


Li memotong ucapan Rasti. Rasti terkesiap dan langsung menilik lekat Enji. Enji yang tidak membawa apapun kecuali tas kecil malah berpose layaknya seorang model. 


Karina dan Arion terkekeh pelan melihat wajah Rasti, Hamdan, Angga, Santi, kakek Tio dan nenek Mina yang heran dengan tingkah Enji.


Yang lain juga hanya tertawa. 


"Tunggu! Apakah dia Enji … Enji yang koma sejak tahun baru kemarin?"seru Santi yang mengingatnya.


"Seratus untuk Tante!"sahut Enji.


"Hei Nak! Kenarsisanmu itu datang dari mana?"tanya nenek Mina.


"Narsis? Sepertinya turun dari kakak ipar," jawab Enji menunjuk Arion.


Arion langsung mendelik kesal pada Enji. Jika tidak sedang menggendong dua anaknya, pasti ia sudah memukul Enji.


"Enak saja!"ketus Arion.


"Hem bukankah setiap hari kau merak di depanku? Aku khawatir ketiga anakku akan menuruni sifat merakmu ini!"


Arion tersenyum simpul mendengar ucapan Karina.


"Sayang aku hanya merak padamu."


"Bohong!"sanggah Sam dan Calvin serentak.


"Ck. Bukankah kita sama saja? Merak kalian itu lebih parah dariku!"semprot Arion kesal pada dua sahabatnya.


"Benarkah?"


Bertanya pada Lila dan Raina. Keduanya memegang dada kaget saat Lila dan Raina mengangguk. 


"Eh tunggu sebentar. Bukankah Anda hanya melahirkan dua anak? Mengapa bisa jadi tiga?"tanya nenek Asmina, penasaran, diangguki oleh Hamdan, Santi, Angga, dan Rasti.


"Memangnya setiap keluarga besar tidak punya rahasia? Ketiganya anakku, hanya saja Bima tidak mirip dengan Bintang dan Biru. Hal itu juga bisa dijelaskan secara medis," jawab Arion yang membuatnya keenam orang itu mengangguk mengerti.


"Kenarsisan kalian masih jauh dariku. Kalian diusia segini baru jadi ayah sedangkan aku sudah memiliki anak kandung berusia beranjak delapan tahun!"ucap Enji yang membuat beberapa yang tidak tahu menjatuhkan rahang mereka. 


Yang belum tahu terperangah. Sedangkan Karina dan keluarga memutar bola mata malas. Enji ini sedang pamer atau mengumbar aib? 


"Berarti … berarti kau jadi ayah di usia 17 belas tahun?"pekik Santi.


"Hehehe."


Enji tertawa kecil.


"Amazing!"seru Hamdan, Rasti, Angga, Santi, kakek Tio, dan nenek Mina bersamaan, tak lupa tepuk tangan memeriahkan bandara. 


Enji tersenyum, kedua tangan berada di pinggang. Karina merasa telinga Enji memajang.


"Hais. Jika terus bertanya dan menjawab, kapan kita akan berangkat?"keluh Amri yang mulai pegal berdiri. 


"Benar juga. Isteriku bisa pendarahan nanti," timpal Gerry yang merangkul Mira.


"Ya kita berangkat sekarang!"ucap Karina.

__ADS_1


Enji membantu Arion menggendong Bima. Karina dan keluarga naik ke pesawat pribadi Karina. Li, Elina, Gerry, Mira, Ferry, dan Siska menggunakan pesawat Pedang Biru sedangkan keluarga Alantas dan Anggara menggunakan pesawat Black Diamond.


*


*


*


Setelah beberapa jam penerbangan, akhirnya ketiga pesawat itu landing di Maldives. Ternyata Darwis, Rian, Satya, serta keluarga Adiguna dan Star Boy sudah tiba duluan, masih berada di dalam pesawat. Eh sepertinya ada satu pesawat lagi yang tidak berada dalam daftar.


Karina dan keluarga turun dari pesawat dengan gaya cool mereka, lengkap dengan kacamata hitam. Pramugari yang ikut juga turun membawa barang-barang majikan mereka.


"Ah akhirnya mendarat juga," ucap Amri seraya merenggangkan tubuhnya. 


"Baru mendarat, belum sampai tujuan Pa," sahut Karina yang membuat Amri berdecak lidah.


"Kakak kita akan menginap di mana?"tanya Enji penasaran.


"Rahasia tapi yang pasti kita akan naik kapal," jawab Karina.


"Wah liburan di pulau kan?!"seru Enji gembira.


"Hei-hei! Senang sekali kau. Zi apakah kau melupakan anakmu?"sindir Arion.


"Oh tentu saja … tidak!" 


Raut wajah Enji berubah menjadi sendu.


"Hanya saja … tidak mungkin bukan aku tetap bersedih saat ia tidak di sampingku? Bayu belajar di luar sana. Walaupun aku tidak tahu dia ada di mana dan bagaimana keadaannya, yang pasti aku tetap berdoa untuk kebaikannya selalu. Rasa rindu sudah pasti ada … tapi aku tidak bisa membelenggu hidupku karena kerinduan ini," tutur Enji.


Karina tersenyum tipis mendengarnya. 


"Ma … ma."


Biru mencairkan suasana dengan memanggil dan merentangkan kedua tangan kepada Karina, ingin berganti posisi dengan sang kakak.


"Gantian Yang," ujar Arion.


Karina mengangguk. Kini Biru digendong oleh Karina sedangkan Bintang yang tertidur karena pembicaraan singkat orang dewasa berada dalam gendongan Arion.


"Karina!"seru Darwis, Rian, dan Satya yang baru turun dari pesawat, diikuti oleh Joya, Riska, dan Angela. 


Ketiga tuan muda itu langsung berlari menghampiri Karina, saling berebut untuk memeluk Queen mereka itu, membuat Arion dan Enji menjauh beberapa langkah dengan wajah cemburu. 


"We miss you so much," ucap ketiganya.


Karina hanya diam tidak membalas pelukan itu, tentu saja dia kan sedang menggendong Biru.


"Hei! Kalian mau membunuh keponakanku hah ?"seru Joya yang melihat Karina kesusahan.


"Membunuh apa?"sahut Darwis, melepas pelukan dan menatap heran Joya.


"Biru," jawab Karina yang membuat Satya dan Rian sontak melepas pelukan dan menatap Biru. 


"Aku juga merindukan kalian semua," ujar Karina tersenyum. 


"Karina … akhirnya kita bertemu juga," ucap Joya, maju ke hadapan Karina dengan menggendong Gibran. 


Karina menyerahkan Biru pada Arion begitu juga dengan Joya yang menyerahkan Gibran pada Darwis. Keduanya lantas berpelukan menghapus rindu.


Darwis dan lainnya juga saling menyapa dan berpelukan satu sama lain karena bagaimanapun mereka adalah satu keluarga.


"Setelah istrimu sadar kau berubah kembali seperti dulu ya, Wis," puji Gerry yang dianggap ledekan oleh Darwis.


"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Gerry. Akan tetapi mengapa saya merasa keglowingan Anda memudar sejak Anda menikah dan punya anak?"


"Apa kau bilang?! Aku memujimu kau malah mengejekku?! Dasar kacang lupa kulit. Selama Joya koma tidakkah kau perhatikan dirimu hah? Rambut tidak terawat, wajah kusam, mata panda, kulit kusam, bahkan gigimu saja jarang kau sikat! Tentang keglowinganku kau tenang saja, dalam dua hari aku akan kembali glowing!"sahut kesal Gerry, menggerutu pada Darwis.


Darwis kini malah terkekeh. 


"Aduh-aduh. Kalian berisik sekali seperti radio rusak. Kita harus segera berangkat kalian malah sibuk bertengkar," keluh Li yang jengah dengan perdebatan tak berdasar mereka.


"Mau berangkat? Orangnya saja belum kumpul semua, Li," sahut Rian.


"Apa maksudmu, pengantin baru?"heran Li.


"Coba lihat siapa saja yang belum ada di sini?"sahut Rian.


Li mengedarkan pandangan. 


"Benar juga. Di mana Star Boy?"tanya Li.


"Star Boy? Apakah mereka ikut, Li?"


Elina memang tidak diberitahu. Li mengangguk.


"Mertua kita juga ikut, Ger," ucap Satya.


Gerry terkesiap.


"Mereka juga ikut? Lantas kemana semua mereka?"


"Cari makan katanya," jawab Darwis.


"Apa mereka itu tidak tahu ini bandara pribadi?"tanya Mira.


"Itu hanya alasan supaya mereka bisa berkeliling," jelas Li.


"Hah … Kakak kapan kita berangkatnya? Aku sudah lelah menunggu," seru Enji yang kini duduk lesehan di lantai dengan Bima yang berdiri, masih ditopang oleh Enji. Arion juga duduk lesehan dengan kedua anaknya berdiri berpegangan pada pundaknya.


"Kalian berangkat saja duluan. Aku dan Arion akan menyusul," ucap Karina.


"Tapi kami tidak tahu mau kemana?"jawab Li.

__ADS_1


"Kan ada sopir. Kalian akan ke dermaga untuk naik kapal menuju pulau. Pergilah dulu, aku masih ada urusan," jelas Karina.


Li mengangguk. Amri, Maria, dan Alia langsung naik ke dalam bus. Disusul oleh Gerry, Mira, dan Elina, juga, Satya, Joya, dan Riska. 


"Tapi belum lengkap semua," ujar Darwis.


"Tuh."


Karina menunjuk ke arah di mana ada sebelas orang yang berjalan menghampiri mereka dengan salah satunya menggendong seorang anak.


"Nona Karina!"pekik ketujuh pria muda yang tak lain adalah Star Boy,  berlari untuk memeluk Karina.


"Apakah Karina ini punya harem pria? Ia selalu dikelilingi banyak pria tampan. Ku rasa sahabatmu itu tertekan batin," bisik Hamdan pada Calvin yang kini sudah berada di dalam bus.


Calvin tersenyum.


"Jika Karina mau membuat harem aku pasti akan masuk di dalamnya," jawab Calvin yang mendapat cubitan kepiting dari Raina.


"Sudah berkeluarga masih punya pikiran menikah lagi?!"ketus Raina.


"Ampun Ra!"


Dengan wajah meringis sakit.


"Lihat Ayahmu ini, Ravi. Kelak jika seandainya ayahmu mengkhianati Ibu, Ibu akan menendang ayahmu ke kandang buaya," ucap Raina pada sang anak.


"Aduh anak mama bakalan jadi buaya atau santapan buaya?"


Rasti bergidik ngeri.


"Mau jadi buaya? Masih kalah jauh?!"seru Raina.


"Hahahahaha," tawa Sam dan Lila yang melihat wajah lucu Calvin.


"Mengapa kalian berisik sekali?"tegur kakek Tio.


Sam dan Lila langsung tutup mulut. 


"Sudah lepaskan!"ucap dingin Arion dan Enji bersamaan.


"Ah maafkan kami!"


Tujuh pria tampan itu langsung mundur dan berdiri berjajar di hadapan Karina. Sikap siap sempurna disusul dengan menghormat.


Karina menerima hormat tersebut.


"Bagaimana perjalanan kalian?"tanya Karina.


"Tentu saja menyenangkan!"


"Baguslah," ucap lega Karina.


"Untuk menghemat waktu dan ini juga sudah tengah hari kalian segeralah naik ke bus," ujar Karina menunjuk tiga buah bus yang salah satunya sudah penuh.


"Baiklah," jawab mereka, segera menuju bus berwarna merah.


Enji berdiri, Bima kini berada dalam pengawasan Arion.


Enji menyusul Star Boy.


"Lama tak berjumpa, Anda tambah berwibawa saja, Paman," ujar Karina, memberi pelukan singkat pada Tuan Adiguna.


"Benarkah? Kalau begitu aku sangat bahagia," jawab Tuan Adiguna tertawa renyah.


"Anda juga tambah menawan, Bibi. Apakah ini pesona wanita yang akan segera menjadi nenek untuk dua cucu?"


Intan tertawa.


"Kau juga tambah menawan setelah melahirkan, Nona Karina," balas Intan.


Karina ikut tertawa.


"Lekaslah kalian naik," ujar Karina. Tuan Adiguna dan keluarga mengangguk dan menuju bus berwarna merah.


Tinggallah Karina, Arion, Rian, dan Angela yang berdiri kaku di samping Rian.


"Inilah rupa asli istrimu, Rian?"


Rian mengangguk. Angela maju dengan gugup, memberi hormat pada Karina. Karina mengangguk.


"Ini adalah hadiahku atas pernikahan kalian. Nikmati bulan madu kalian. Dan untuk kendaraan kalian, gunakan mobil itu," ucap Karina menunjuk sebuah mobil sedan merek BMW yang terletak di sebelah bus biru.


"Thanks, Karina," ucap Rian senang, menarik tangan Angela setelah memberi hormat menuju mobil.


Ketiga bus dan mobil BMW biru itu melaju beriringan meninggalkan bandara menuju dermaga.


"Lalu kita akan kemana?"tanya Arion berdiri. 


Ketiga anaknya berdiri dengan berpegangan pada kaki Arion.


Karina menepuk kedua tangannya.


Sebuah mobil sport merek honda dengan atap terbuka datang mendekat, berhenti mulus di samping Karina. Pengemudi mobil itu keluar, menyerahkan kunci pada Karina.


Karina melambaikan tangannya menyuruh orang itu pergi.


"Ini liburan pertama kita bersama anak-anak ke luar negeri. Harus lebih berkesan bukan?"


Arion tersenyum lebar, segera menaikkan satu persatu anaknya ke kursi penumpang, tak lupa memakaikan sabuk pengaman kemudian menangkap kunci yang Arion lemparkan.


"Let's go!"ucap keduanya.


Disambut seruan imut Bintang, Biru, dan Bima.

__ADS_1


Arion segera melajukan mobil keluar dari bandara.


__ADS_2