Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
Salah Tekan


__ADS_3

Karina masuk ke dalam kamarnya dan langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dari rasa lelah dan keringat yang menempel. Sedangkan Arion mengekor di belakang Karina namun tidak ikut masuk ke dalam kamar mandi melainkan duduk di sofa di depan televisi.


Selagi menunggu Karina selesai mandi. Arion melihat-lihat isi kamar Karina. Arion baru menyadari bahwa nuansa kamar istrinya ini didominasi warna biru. Arion berdiri dari duduknya dan berjalan menuju balkon kamar.


Arion menarik nafas menghirup udara yang terasa sangat segar seraya merentangkan tangannya.


"Ah ... segarnya," gumam Arion.


Dari balkon kamar sepanjang mata memandang mata dimanjakan dengan hijaunya pepohonan yang ada di halaman Karina. Pohon-pohon dirawat dengan baik dan dan dijaga ketinggiannya. Rumput di halaman yang hijau dan terawat menambah keindahannya. Suara nyanyian burung menambah keasrian dan juga suasana terasa sangat damai dan tenteram.


Arion berdiri cukup lama di balkon Kamar. Karina tak kunjung selesai juga acara mandinya. Merasa bosan Arion kembali melangkahkan kakinya dan kembali duduk di sofa depan televisi. Tangannya mengambil remote televisi di meja. Arion berniat menonton televisi sembari menunggu Karina selesai mandi.


Dengan asal Arion menekan tombol pada remote. Namun, bukannya acara televisi yang didapat malah pintu kamar mandi yang mana ada Karina mandi di dalamnya yang terbuka.


Karina yang sedang asyik mandi dan menghadap shower tidak menyadari bahwa pintu kamar mandi terbuka. Begitu juga dengan Arion yang masih fokus pada remote dan televisi di hadapannya.


Arion heran mengapa televisinya tak menyala. Dengan kesal ia kembali menekan tombol yang berbeda. Tapi bukannya menyala televisi itu malah bergerak ke belakang dan digantikan dengan bar mini.


" Apa-apaan ini?" gerutu Arion.


Arion kembali kesal. Arion pun bertanya pada Karina dengan suara keras agar Karina dapat mendengarnya.


"Karina apa televisimu ...," tanya Arion seraya memalingkan kepalanya ke arah kamar mandi. Namun, ucapannya terhenti karena melihat pintu kamar mandi yang terbuka menampilkan tubuh polos Karina di bawah guyuran air shower.


"Glekk."


Arion menengguk ludah kasar. Terlihat betis putih Karina yang seperti giok terpampang jelas di depan matanya. Wajah Arion memerah. Tanpa terasa ada cairan berwarna merah yang keluar dari hidungnya. Yap. Arion mimisan.


Karina yang merasa sudah selesai membersihkan tubuhnya pun mematikan shower dan berbalik untuk mengambil handuk. Betapa kagetnya Karina kerena pintu kamar mandi terbuka dan Arion yang menatapnya dengan darah yang keluar dari hidungnya.


Arion semakin terbelalak melihat bagian depan tubuh Karina yang terpampang jelas di depan matanya. Ada sesuatu yang bereaksi darinya.


"Kyaaa," teriak kaget Karina. Ia langsung menyambar handuk di dinding dan menggunakannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Karina dingin. Ia tak bertanya apakah Arion yang membuka pintu kamar mandi karena itu tidak mungkin. Karina mengunci pintu kamar mandi dari dalam selama ia mandi.


Arion menggeleng tidak tahu. Ia mengambil tisu di meja dan menghapus darah yang masih keluar dari hidungnya.


"Apa kau ada menekan sesuatu?" tanya Karina dari dalam kamar mandi dan berjalan mendekati Arion. Arion semakin tegang dan gugup.


"A-ada," jawab Arion gugup.


"Apa itu?" tanya Karina yang semakin dekat dengan Arion.


"Ini," jawab Arion menunjukkan remote di tangan kirinya.


"Apa kau menekan tombol lima dan tiga?" tanya Karina lagi.


"Iya. Memangnya kenapa?" tanya bingung Arion Arion yang tak mengerti.


"Dasar ceroboh!" ketus Karina setelah sampai tepat berada di depan Arion yang masih mimisan walaupun sedikit dengan hanya menggunakan handuk sebatas dada dan paha.


"Maksudmu?" bingung Arion semakin bertambah.


"Coba kau tekan lagi tombol nomor lima dan lihat pintu kamar mandi itu," ucap Karina menghembuskan nafasnya di dekat telinga Arion.

__ADS_1


"Oke."


Arion kembali menekan tombol nomor lima dan alhasil pintu kamar mandi kembali tertutup. Arion tertegun. Walaupun ia dan keluarganya termasuk jajaran orang paling kaya di negara ini namun untuk teknologi remote control yang mengontrol seisi kamar maupun rumah pun ia tak memilikinya.


Arion mulai ragu dengan identitas asli Karina.


"Kau lihat itu kan. Remote ini mengontrol segalanya di kamar ini. Jika kau menekan nomor tiga maka televisi ini akan berbalik dan digantikan bar mini. Untuk saja yang kau tekan tak berbahaya," ujar Karina santai dan datar.


"Memangnya ada yang tombol berbahaya di remote ini?" tanya Arion.


"Kalau kau tak percaya silahkan saja coba," ujar datar Karina dan berbalik menuju walk in closet untuk mengambil baju gantinya. Namun, tangannya ditahan oleh Arion.


"Tunggu dulu," tahan Arion.


"Ada apa lagi?" tanya Karina kembali menatap Arion.


"Karena hal tadi kau sudah membangkitkan sesuatu dalam diriku," ujar Arion dengan wajah yang nampak memerah.


"Lalu?"


"Kau harus memadamkannya," ujar gugup Arion.


"Oh ... jadi kau memintaku untuk memadamkan api dalam tubuhmu.  Begitukah?" tanya Karina.


Arion mengangguk.


"Kalau begitu maaf aku tak bisa," ucap santai Karina.


Arion menatap heran Karina.


"Memang aku istrimu tapi tamu bulananku datang jadi kita tak bisa melakukannya," ucap Karina.


"Tamu bulanan? Maksudnya Kau lagi datang bulan begitu?" tanya Arion memastikan.


"Hmmm ...," jawab Karina sambil melepaskan pegangan Arion dan kembali menuju walk in closet mengambil baju ganti dan mengenakannya.


"Astaga? Dari mulai kapan?"


"Hari ini," jawab Karina.


Ingin rasanya Arion menangis saat itu.


"Mengapa mau bermesraan dengan yang halal sungguh sulit daripada dengan wanita di luaran sana," ucap pelan Arion namun masih dapat didengar oleh Karina.


"Jadi kau mau mencari wanita lain begitu? Kalau kau melakukannya aku ku cincang adik kecilmu itu," ujar Karina dingin.


Arion tertegun.


"Ah ... mana berani aku mencari wanita lain. Cukup satu kau saja."ucap Arion.


"Walaupun dinginnya minta ampun," tambah Arion dalam hati.


"Baguslah."


"Emmm ... Karina maukah kau membantuku memadamkan api ini?" tanya gugup plus pelan Arion.

__ADS_1


Karina terdiam sejenak. Kini ia sudah selesai berpakaian. Ia ingin menolaknya namun melihat Arion yang nampak menahan gairah dalam tubuhnya membuat Karina tak tega menolaknya. Ia merasa bahwa ini juga akibat kecerobohannya yang tidak memperingatkan Arion untuk tidak menyentuh remote control.


"Baiklah," ujar Karina.


"Benarkah?" tanya Arion dengan wajah berbinar.


"Tapi jangan di sini ayo ke kamar mandi saja," ucap Karina melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang diikuti Arion dengan wajah tersenyum.


Di dalam kamar mandi Karina segera membantu Arion memadamkan api gairah dalam tubuhnya. Oke kita tinggalkan dulu ya Arion dan Karina.


***


Waktu menunjukkan pukul 18.00. Lampu rumah Karina mulai bersinar begitu juga dengan lampu halaman dan sekitarnya. Kakek Bram masih beristirahat di gazebo dengan Nita di sampingnya yang setia menemaninya.


"Kakek ... ada baiknya jika kita masuk ke dalam rumah," saran Nita.


"Hmmm ... jam berapa sekarang?" tanya kakek Bram.


"Jam 06 sore kakek," jawab Nita.


"Jam 06? Baiklah ayo kita masuk. Aku juga ingin membersihkan tubuh rentaku ini," sahut kakek Bram.


"Ayo Kakek," ucap Nita sembari memegang tangan kakek Bram.


Nita menuntun kakek Bram masuk ke dalam rumah dan menunjukkan kamar untuk kakek Bram.


Kakek Bram langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Kakek ... pakaian Anda sudah ada di atas ranjang," ujar Nita dari luar kamar mandi.


"Baiklah. Terima kasih," sahut Kakek Bram dari dalam kamar mandi.


"Kalau begitu saya pamit keluar ya Kakek."


"Iya."


Nita keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Di dapur Bik Mirna tengah memasak ayam kecap untuk makan malam. Selain ayam kecap juga ada sup yang terdiri atas sayuran seperti brikoli, kentang, wortel dan sedikit tambahan jagung manis. Serta ikan nila bakar yang dilengkapi dengan potongan jeruk nipis dan juga sambalnya.


"Sudah selesaikah Kak?"tanya Nita pada Bik Mirna. Nita memang memanggil bik Mirna dengan sebutan kakak kerena usia bik Mirna lebih tua darinya 5 tahun.


"Sudah. Tinggal ayam ini saja yang sebentar lagi matang," jawab bik Mirna.


"Ya ... ternyata sudah selesai padahal aku kan ingin membantu," ujar Nita dengan nada yang dibuat sedih.


"Kau mau membantu kakak kah? Memang tugasmu sudah selesai?" tanya Bik Mirna heran. Pasalnya biasanya Nita tak punya waktu untuk membantunya di dapur.


"Iya. Tugasku hari ini cuma memberi makan ikan dan menemani kakek Bram berkeliling halaman depan," jawab Nita.


"Begitu ya? Kalau begitu bisakah kau membantuku membuat puding mangga?"


"Bisa. Aku paling jago membuatnya di rumah dulu. Tapi siapa yang memintanya? Apakah nona? Tapi sepengetahuanku Nona tak menyukai puding mangga," jawab Nita.


"Nona yang memintanya. Awalnya pun kakak heran tapi ya sudah cepat kamu kerjakan," ujar Bik Mirna.


"Oh ... oke," jawab Nita. Nita mulai membuat puding mangga. Karena bahan bahan yang di butuhkan sudah tersedia di dapur maka dengan cepat Nita menyelesaikan membuat pudingnya.

__ADS_1


Dua menit kemudian ayam kecap yang dimasak bik Mirna telah matang. Sedangkan Nita masih fokus membuat puding.


__ADS_2