
Keenam orang itu kemudian turun, MC kembali berucap dan menyatakan para tamu bisa bersenang-senang dengan hiburan dan apa yang disajikan. Tuan Adiguna mengajak keluarganya menghampiri Darwis dan lainnya.
"Sungguh suatu kehormatan bagi keluarga saya, kalian menghadiri acara sederhana ini," ucap Tuan Adiguna merendah. Darwis sebagai yang tertua menggeleng.
"Akhir tahun terlalu banyak pekerjaan Jenderal, kami butuh hiburan untuk melepas penat, menghadiri acara Anda yang mewah ini sudah cukup untuk mencuci mata, Anda jangan terlalu merendah. Inti dari suatu acara adakah berlangsung dengan sempurna," sergah Darwis yang membuat Tuan Adiguna tertawa lepas.
"Hahaha, Anda benar. Saya setuju. Ah ya, perkenalkan ini keluarga saya," ucap Tuan Adiguna kemudian mengenalkan satu persatu anggota keluarganya. Mira tersenyum saat diperkenalkan, dalam hatinya berkata kami sudah saling mengenal.
"Dan anak ku satu lagi belum juga kembali," ucap Tuan Adiguna berubah kecewa. Intan segera mencairkan suasana dengan bertanya siapa saja yang bersama dengan Darwis.
Darwis mengenalkan Joya sebagai istri tercintanya dan kini tengah mengandung buah cinta mereka, tanpa diberitahu pun sudah tahu bahwa Joya sedang hamil. Joya tersenyum tipis, sungguh darah Sanjaya tetap mengalir padanya.
Rian dan Satya sama-sama tersenyum tipis. Seusai berkenalan dan mengobrol sedikit, Intan dan Tuan Adiguna mohon undur diri untuk menyapa para tamu lain. Rena serta suami dan anaknya juga mengikut, terlebih Reksa yang meminta minum.
Tinggallah Mira dan Riska, Riska, gadis cantik bergaun putih itu tampak mencuri pandang terhadap Satya. Entahlah, hati gadis itu berdebar saat bertemu mata dengan Satya, Satya acuh dan terus menatap lekat Mira. Mira sungguh tidak nyaman. Untunglah Joya segera menarik Mira mengajak duduk. Mira setuju, Riska juga ikut duduk dengan menunduk, Joya seperti biasa bertanya dengan kehamilannya. Mira menjelaskan dengan gamblang setiap pertanyaan Joya.
Riska yang merasa tidak nyaman, pamit pergi menyapa beberapa teman sekolahnya yang ia lihat ikut datang ke pesta ini.
Sepuluh menit berlalu, Mira undur diri ingin menemui Tuan Adiguna dan Intan, tentu saja tidak di larang. Satya juga berdiri saat Mira sudah cukup jauh dari mereka.
"Mau ke mana kamu?" tanya Rian curiga, ia kebagian tugas mengawasi gerak gerik Satya.
"Toilet, kenapa? Mau ikut?" jawab Satya datar.
"Oh, sudah sana jangan lama-lama dan bertingkah. Ingat ini acara resmi! Jangan buat malu nama kami!" tegas Rian, Satya menatap acuh dan segera melangkah pergi.
"Ikutin dia. Satya jangan dilepas sendiri!" ucap Darwis, Rian mengangguk menghabiskan minumannya dulu baru gerak.
"Kalian terlalu protektif terhadap Satya," komentar Joya. Darwis mendengus senyum seraya mencubit hidung Joya.
"Agar kita semua selamat, kita harus protektif," balas Darwis.
"Satya itu ahlinya membuat rencana juga masalah, dia bisa jadi keuntungan juga bencana, kamu harus lebih sering mengamati karakter mereka. Memahami karakter seseorang terkadang butuh waktu yang lama," tambah Darwis lagi lalu merangkul Joya. Joya mengangguk, memang benar ucapan Darwis menurutnya.
Di tengah meriahnya pesta, sebuah mobil. lamborghini aventador limousine berhenti manis di depan lobby hotel. Orang-orang yang berada di sekitar lobby sangat penasaran siapa yang datang dengan mobil yang biasanya diidentikkan untuk para star, mereka minilik lekat saat keempat pintu mobil dibuka bersamaan.
Pertama, turunlah seorang pria tampan berusia sekitar 29 tahunan, diikuti lagi dengan pria yang usianya hampir sama dengan pria yang pertama turun. Mereka tampak merapikan pakaian mereka, salah satu diantara mereka tampak bingung dan menilik sekitarnya.
__ADS_1
"Mengapa mereka seperti orang kuno?" gerutu seorang wanita yang turun dengan perut yang membuncit, usia kehamilan sekitar 3 atau 4 bulan.
"Karina mengapa kau tidak keluar? Apa perutmu tidak lapar? Sedari tadi kau hanya minum coklat," ucap wanita itu yang tidak lain adalah Elina dan dua pria itu adalah Li dan Gerry. Gerry bingung dan pusing saya ia sadar dari tidurnya.
Bahkan saat turun tangga yang pakai ekskalator saja ia hampir jatuh. Malah disuruh nyengir lagi, Gerry baru tahu ia di negara B saat melihat beberapa tempat yang mencerminkan suatu bentuk pemerintahan, kalau tidak salah tadi mereka melewati istana presiden.
Dan segera Gerry tahu di mana mereka, mereka akan menghadiri acara ulang tahun Tuan Adiguna, astaga! Gerry membelalakkan matanya saya sadar ia akan bertemu calon mertua, malah pakaiannya baginya terlalu biasa dan sederhana, pakaian Karina dan lainnya juga.
"Cerewet! Bilang saja kau lapar!" ketus Karina keluar dari mobil dan menatap datar lobby hotel yang notabenya adalah miliknya. Wartawan yang melihat itu langsung saja memotret.
"Karina, kau berniat melamarkan Mira untukku kah?" tanya Gerry mendekati Karina.
Karina tidak menjawab, tapi tersenyum, senyum misterius bagi bawahannya.
"Ayo masuk!" ucap Karina.
"Ah ya. Apa kita ada undangannya?" tanya Gerry.
Tak!
Li menjitak kepala Gerry.
"Eh, lupa!" jawab Gerry cengengesan. Karina melirik tajam.
"Aku sudah lapar!" ucap Karina.
"Eh tunggu, aku harus ganti baju dulu," tahan Li, menyadari pakaiannya tidak cocok untuk pesta.
"Aku juga," timpal Elina.
"Baik. Kalian akan memakai karung beras!" ancam Karina. Serentak mereka menggeleng.
Dan pasrah mengikuti Karina yang sudah masuk duluan. Suara bisik-bisik pun terdengar membicarakan kehadiran Karina dan lainnya. Untuk Li, Elina dan Gerry, mereka tidak khawatir identitas mafia mereka terungkap sebab mereka selalu tertutup saat ada acara mafia, bahkan saat kerja sama saja mereka menutup identitas mereka, nama samaran pun tetap digunakan. Karina sendiri, dunia tahu Karina adalah CEO dari perusahaan multibidang terbesar di dunia.
Ballroom yang sangat ramai, hening saat langkah kaki keempat orang itu masuk. Wajah dingin membawa aura kepemimpinan yang sangat mampu membuat siapapun menundukkan kepala mereka. Karina menatap dingin ke depan, lalu.
Darwis dan Joya berdiri dan melihat siapa yang membuat suasana hening. Mereka membulatkan mata mendapati Karina, Li, Gerry, dan Elina yang berjalan mendekati mereka. Tuan Adiguna, Intan dan Riska segera menghampiri Karina.
__ADS_1
"Apakah Anda Nyonya Karina?" tanya ragu Tuan Adiguna memotong Darwis yang sudah buka mulut duluan. Karina mengangguk kecil lalu mengedarkan pandangannya. Li dan Elina yang tidak mau terlibat, langsung undur diri dan mencari makanan. Mereka lapar.
"Mana Satya dan Mira?" tanya dingin Karina.
"Anda mengenal menantu saya? Juga mereka?" Tuan Adiguna terkejut, Karina melirik lalu duduk di samping Joya. Joya yang masih terkejut diam saja.
"Mereka," jawab Darwis namun terpotong karena Gerry yang mencengkeram kerah bajunya dengan tatapan membunuh.
"Kau membiarkan mereka berdua tanpa pengawasan? Kau gila ya?!" geram Gerry. Darwis melepas cengkeraman Gerry dan menatap Gerry tajam keduanya, beradu mata.
Riska tampak takut, Karina menangkap itu lalu melirik Joya.
"Kau kemari!" Karina menunjuk Riska. Riska tercengang dan menunjuk dirinya sendiri. Karina berdehem.
"Bawa Joya ke luar, pergilah ke lantai 5 kamar 200," perintah Karina. Darwis menoleh ke arah Karina dengan tangan mencekal tangan Gerry. Gerry tersadar, saat Riska menyentuh tangannya.
"Kau tidak cocok di suasana seperti ini!"ujar Karina. Setelah Riska dan Joya menjauh, suasana kembali tegang. Tuan Adiguna dan Intan yang tidak mengerti apapun berusaha mencairkan suasana.
"Sebenarnya ada apa ini, Tuan, Presdir?" tanyanya penasaran.
"Di mana mereka?" tanya Karina sekali lagi tidak menggubris pertanyaan Tuan Adiguna. Darwis mau menjawab, terpotong lagi oleh suara panik Rian. Rian mengatur nafas dengan mata tertutup, tidak menyadari kehadiran Karina dan Gerry.
"Gawat Wis, Satya tidak ada di toilet manapun dan aku sudah mencarinya ke seluruh ballroom, aku juga tidak mendapati Mira di antara mereka!" lapor Rian. Darwis membulatkan matanya sedangkan Gerry mengeram marah.
"Brengs*k!"teriak Gerry memukul meja dengan emosi. Rian tersentak dan kaget dengan kehadiran Karina dan Gerry. Para tamu kini bergosip.
"Karina? Gerry? Kalian di sini?" Karina mengangguk seraya melirik sekitar lalu memanggil MC. MC yang terbengong terkesiap dan segera mendekat.
Karina membisikkan sesuatu pada MC, MC menatap Tuan Adiguna meminta persetujuan.
Mau tidak mau, tahu tidak tahu, Tuan Adiguna mengangguk menyetujui. MC mengumumkan bahwa acara berakhir sampai di sini, para tamu diminta pulang. Karina juga menambah apabila kejadian hari ini tersebar di publik maka kehancuran bagi para tamu adalah akibatnya. Tentu saja pada tamu memilih tutup mulut.
"Cari keberadaan mereka di hotel ini!" titah Karina tegas pada segenap keamanan hotel dan pengawal keluarga Adiguna yang sudah berkumpul. Gerry bergegas mencari Mira. Karina duduk, Darwis beranjak mengambilkan Karina makanan. Dilihatnya di meja susunan menu, Li dan Elina asyik makan tanpa peduli situasi, Darwis mendengus.
"Mengapa tidak memberi kabar mau kemari?" tanya Darwis.
"Kami saja tidak tahu kalau mau kemarin. Asal kau tahu saja, Gerry itu habis dihukum sama Karina, selama perjalanan udara saja dia dikasih obat tidur baru bangun saat mendarat di sini. Makanya wajah kami kucel begini," ucap Li.
__ADS_1
"Oh." Darwis berlalu dan kembali ke mejanya. Keluarga Adiguna kecuali Mira dan Riska ternyata berkumpul di mejanya. Jenderal besar itu tampak sangat menjaga di depan Karina. Mereka bahkan menundukkan kepala saat Karina melirik mereka tajam.
"Jelaskan pada mereka!" ucap Karina pada Darwis, sementara Karina mulai menyantap makan malamnya. Darwis menghela nafas dan mengangguk. Ia meminta agar Tuan Adiguna dan keluarga untuk duduk. Mereka menurut. Rasa penasaran membumbung tinggi terutama Tuan Adiguna yang terkejut bahwa Mira ada hubungan dengan Karina serta Karina yang tampak tidak hormat pada tiga Tuan Muda Kasino Heart of Queen, dia saja yang jenderal harus menjaga sikap di depan mereka. Lain halnya dengan Intan, ia merasa bahwa ini adalah persaingan Satya dan Gerry, memperebutkan Mira, jujur Intan agak lega, tapi khawatir dengan reaksi sang suami nanti. Intan tidak heran dengan Karina yang mengenal Mira karena Intan sudah cerita bahwa ia bekerja dan menjadi dokter kandungan untuk Karina. Sedangkan Rena dan suaminya, mendengarkan apa saja yang Darwis ucapannya.