Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 361


__ADS_3

Meskipun tengah liburan, kecuali Star Boy, serta para lansia, Mira, Siska, Angela, Riska, dan keluarga Adiguna, mereka tidak serta merta meninggalkan rutinitas mereka. 


Setelah makan siang dan menyusui Bintang dan Biru, Karina segera menuju ruang belajar yang terletak satu ruang dengan perpustakaan. 


Disusul oleh Arion, Enji, Ferry, Li, Elina, Gerry, Darwis, Rian, Satya, Enji, Calvin, Raina, Sam, dan Lila. Ketiga wanita itu menyusul setelah memberi ASI pada anak mereka.


Masing-masing dari mereka yang membawa laptop masing-masing langsung mengambil tempat duduk. Meja dan kursi disusun layaknya tempat pembaca di perpustakaan, kecuali Karina. Karina masuk ke dalam ruang belajar bersama dengan Raina dan Lila.


"Zi," panggil Arion datar.


Enji menoleh cepat.


Siapa yang mencari masalah dengannya?batin Enji menyadari mata geram Arion.


"Bantu aku sebentar," ujar Arion.


"Apa itu?"


Enji berdiri mendekati Arion, melihat laptop Arion.


"Ada yang menerobos dan mencuri data perusahaan, Zi," ujar Ferry dengan raut wajah cemas.


"Wah siapa bedebah s*alan itu?"seru Enji.


"Aku mau temukan dia dan hancurkan! Aku akan membayar dengan harga tinggi jika saat selesai!"tegas Arion, berdiri dan mempersilakan Enji untuk mengambil alih laptopnya.


"Laksanakan!"


Enji merenggangkan jari-jarinya terlebih dahulu kemudian langsung beraksi.


Arion menatap lekat laptop dengan satu tangan bertumpu pada sandaran kursi. Ferry kembali bekerja, memeriksa seandainya ada lagi yang dicuri.


...****************...


...****************...


Sedangkan di dalam, Karina tengah marah besar. Raina dan Lila menunduk, tak berani menatap wajah Karina yang memerah padam. Kedua tangan Karina mengepal, sorot matanya dingin. 


Hah.


Setelah beberapa saat hening, akhirnya Karina menghela nafas kasar.


"Ternyata saat aku melembut mereka melunjak! Ah salahku yang terlalu khawatir dengan cabang luar negeri tapi yang dekat dengan pusat malah bermasalah," geram Karina.


"Penjara sangat ringan untuknya. Di Arab, pencuri saja potong tangan, maka seorang koruptor harusnya dihukum mati. Mati terlalu mudah, potong satu tangannya kemudian dia ke Afrika. Jadikan pekerja kasar! Mereka tidak hanya mencoreng nama baik perusahaan tapi juga nama baikku," desis dingin Karina.


"Baik, Nona!"jawab Lila tegas. 


Lila mundur dari hadapan Karina, menuju mejanya untuk melaksanakan perintah Karina.


"Suruh pusat melakukan klarifikasi! Nama perusahaan dan nama baikku harus segera pulih. Selain itu hancurkan bagian dinas perpajakan yang bekerja sama dengan tikus - tikus got itu!"


"Mengerti, Nona!"jawab Raina tegas. 


Raina juga menuju mejanya. Karina sendiri menghembuskan nafas kasar, bersandar pada sandaran kursi. Karina memijat pelipisnya, kepalanya terasa sedikit pusing. 


Karina butuh alkohol untuk menenangkan gejolak amarahnya. Meraih gagang telpon, menghubungi bagian dapur untuk datang membawa wine untuknya. 


Tak butuh waktu lama, wine sudah tersaji di hadapan Karina. Menggoyangkan gelas. pelan kemudian menyesap wine tersebut. Karina memejamkan matanya. 


Tadi saat ia membuka email, email yang paling atas berisi informasi tidak mengenakkan. Salah satu anak cabang perusahaan di dalam negeri terkena skandal penggelapan pajak. 


Jika hanya kerugian uang, Karina tidak terlalu kesal. Tapi Karina yakin, setelah masalah ini terungkap jelas di publik, maka uang yang telah pergi akan kembali datang. 


Direktur cabang b*doh!geram Karina sekali lagi.


"Katakan padaku, apa selama ini kita kekurangan uang untuk membayar pajak?"tanya Karina pada Lila dan Riana tanpa menoleh pada keduanya.


"Departemen keuangan kita selalu tertata rapi, Nona. Pajak adalah kewajiban tahunan yang kisaran besarannya sudah disisikan sejak awal tahun," jawab Raina.


"Lantas berapa besar pembayaran pajaknya?"tanya Karina lagi.


"Dengan besarnya pendapatan perusahaan cabang itu, pajak yang harus dibayar bisa mencapai ratusan juta, Nona," jelas Raina.


"Hanya ratusan juta dia sudah berulah. Ah … tak dapat dipungkiri bahwa masih banyak manusia yang tidak tahan dengan godaan uang," kekeh Karina.


"Bisa mencapai milyaran juga, Nona," ujar Raina.


"Hah …  tak heran jika negara akan mengejar-ngejar oknum yang tidak membayar pajak. Aku baru ingat bahwa sebagian besar pendapatan negara berasal dari pajak," gumam Karina.


"Perketat seleksi penerimaan karyawan serta lakukan sidak pada seluruh cabang perusahaan! Semua bidang, secepatnya! Aku mau masalah ini adalah yang pertama dan terakhir. Lakukan secepatnya … sekembalinya dari sini semua harus sudah selesai!"tegas Karina.


Raina dan Lila saling pandang. 


"Baik, Nona," jawab mereka serentak, tegas.


Jika diperketat lagi, apakah para pelamar mampu melewati semua tes?batin Raina, merasa kasihan dengan bakal-bakal yang akan melamar di KS Tirta Grub. 


Kasihan sekali mereka, ringis Lila dalam hati. 


Karina menghabiskan wine di gelas kemudian kembali memeriksa email lain serta kondisi perusahaan pusat selama ia tidak di tempat.


...****************...


...****************...


"Ger, sepertinya Lila dan Raina terkena tekanan batin di dalam sana," bisik Li.


"Jangankan mereka. Kau saja akan tertekan batin jika satu ruangan saat Karina marah," balas Gerry, acuh. 


"Ckk!"decak Li kesal. 

__ADS_1


Darwis, Rian, dan Satya terkekeh melihat wajah kesal Li. 


"Eh sudah clear dalam sekejap?"


Calvin sedikit membulatkan mata membaca berita terbaru KS Tirta Grub, berikut dengan video klarifikasi.


"Kecepatan Kakak ipar memang tidak perlu diragukan lagi," timpal Sam yang juga membaca berita tersebut.


"Kira-kira apa yang akan Kakak ipar berikan pada koruptor itu?"pikir Sam.


"Karina paling anti sama yang namanya koruptor. Mungkin mereka akan dihukum hidup segan mati tak mau," sahut Darwis. 


"Jika mencari masalah dengan Karina, hukuman yang diberlakukan adalah hukum Pedang Biru, cara mafia," tambah Gerry.


"Aku yang mafia saja masih merinding dengan cara kerja Kakak ipar," ucap Sam, mengusap kedua tangannya.


"Untung saja kita satu keluarga," ucap lega Calvin. 


"Jangan merasa lega jika kita satu keluarga. Yang harus disyukuri adalah kita berada dalam satu jalan. Kita dalam satu ruang dengan tujuan yang sama. Ingatlah, keluarga belum tentu lawan dan orang lain belum tentu orang luar. Di sini, kita tidak ada yang satu darah tapi kita memiliki ikatan keluarga," ujar Elina tetap terfokus pada laptopnya.


"Itu benar. Keluarga kandung belum tentu seperti kita. Kami sudah mengalaminya," ucap Li menatap bergantian Gerry, Satya, Rian, dan Darwis.


Gerry, Satya, Rian, dan Darwis tersenyum kecut kala mengingat keluarga kandung yang menolak mereka kala mereka butuh tempat bernaung. 


"Ah maaf … aku mengingatkan kalian akan masa lalu," sesal Sam diikuti Calvin.


Elina sendiri menatap mereka sekilas dan kembali fokus.


"Bukan masalah. Masa lalu itu harus diterima dengan lapang dada bukan dilupakan," ujar Satya.


"Kena kau s*alan!"seru Enji yang sudah berhasil mendapatkan siapa yang mencuri data perusahaan Arion.


Arion yang kini berada di antara rak buku, langsung menghampiri Enji.


"Alamat IP-nya di negara kita," ujar Enji.


"Aku sudah memasukkan virus ke perangkatnya. Itu akan menghapus semua data yang ia curi, juga semua data yang ada di penyimpanannya, selain itu aku juga sudah menghapus data tersebut dari perangkat manapun. Dan ini bekerja tanpa menimbulkan kecurigaan," ujar Enji lagi.


"Apakah perangkatnya menyala?"tanya Arion serius.


"Aku penasaran dengannya, bisa kau retas perangkatnya dan aktifkan kamera?"tanya Arion.


"Oh gampang," sahut Enji, kembali menarikan jemarinya di atas keyboard. 


Tak butuh waktu lama, layar menampilkan sebuah ruangan.


Mata Enji dan Arion menyipit melihat apa yang terlihat di kamera. Sebuah kamar, kamar yang mempunyai desain kamar seorang perempuan.


"Wanita?"gumam keduanya saling tatap. 


Ferry langsung mendekat. 


"Jodoh dari mana? Jangan asal bicara!"ketus Enji.


"Hacker sama hacker bukankah pasangan serasi?"goda Ferry lagi.


Tak!


Auh!


"Tidak bisakah kau diam?"desis Arion.


"Aku baru ngomong, Bos," keluh Ferry mengusap kepalanya.


"Kak lihat," ucap Enji.


Seorang wanita muda duduk di depan kamera. Berambut panjang, berkacamata, dan hanya memakai pakaian tidur. Tangannya memegang sebuah roti, makan sembari bermain komputer.


"Dia benar-benar tidak menyadari perangkatnya disadap. Kerja bagus, Zi!"puji Arion.


"Jangan lupa bayarannya, Kak," balas Enji mengedipkan satu matanya.


"Beri dia peringatan. Jangan pernah ganggu perusahaan kita!"tegas Arion, meraih handphone dari saku celananya. 


Enji mengangguk, tersenyum tipis.


"Gadis cupu … temani aku bermain sebentar ya," gumam Enji bersemangat.


"Aku sudah mentransfer bayarannya. Aku akan gunakan laptopmu," ujar Arion.


Enji mengangguk.


"Tanggal lahir Bayu paswordnya," ujar Enji. 


Arion mengangguk.


"Sepertinya Enji menemukan mangsa," bisik Li.


"Baguslah. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya," jawab Gerry.


...****************...


...****************...


Di ruang keluarga, Mira, Riska, Tuan Adiguna, Intan, Rena, Reza, dan Reksa berkumpul. Sedangkan yang lain menyebar mencari kesenangan lain.


"Jadi Papa harus kembali sore ini?"tanya sendu Mira.


"Iya, Mir. Papa kira bisa meninggalkan tugas, nyatanya hanya bisa libur dua hari," ujar Tuan Adiguna.


"Tapi rasanya kurang Pa. Mira masih kangen sama Mama, Papa, kak Rena, sama baby Reksa sama kakak ipar juga," rengek Mira.

__ADS_1


"Hush. Jangan kayak anak kecil deh. Mira kamu itu sudah jadi ibu. Lagipula kamu kan paham tugas dan pekerjaan Papa," tegur Intan.


Mira menunduk.


"Kakak juga ikut pulang?"tanya Mira pada Rena.


"Kakak iparmu harus bekerja besok. Kakak juga ada kegiatan penting besok, Mir," ujar lembut Rena.


"Kakak … mengapa harus sedih? Dua hari itu waktu yang lama loh. Jika rasa rindu Kakak masih menggebu bukankah bisa setelah pulang liburan mampir ke rumah Mama dan Papa?"hibur Riska.


"Benar. Papa juga belum puas bermain dengan Laith. Mampir dan menginaplah di rumah Papa. Ajak suamimu itu," imbuh Tuan Adiguna.


"Benar Mir. Sejak menikah kamu belum pernah ke rumah Mama dan Papa," imbuh Intan lagi.


Mira tersenyum.


"Baiklah. Mira akan mampir," jawab Mira.


"Jika begitu … apakah kalian sudah berkemas?"tanya Riska.


"Sudah, Nak. Hanya saja kami belum berbicara pada Karina dan yang lain," jawab Tuan Adiguna.


"Biar Mira yang mengatakannya," ucap Mira.


"Baiklah," jawab Tuan Adiguna.


Mira berdiri, melangkah menuju perpustakaan. 


Semua mata, kecuali Enji langsung tertuju pada satu titik ketika Mira masuk. Mira sedikit terperanjat, melangkah mendekati Gerry dengan senyum canggung.


"Jaga mata kalian!"desis Gerry.


"Ya elah," cibir Satya.


"Apa katamu?"seru Gerry.


"Ah mulai lagi," gerutu Rian.


"Jangan berisik!"peringat Arion dingin. 


Satya langsung diam sedangkan Mira memegang lengan Gerry.


"Ada yang ingin aku sampaikan," bisik Mira.


"Apa itu?"tanya Gerry, lembut.


"Mama, Papa, Kak Rena sama Kakak ipar mau pulang," bisik Mira.


"Mengapa cepat sekali?"heran Gerry yang menarik perhatian.


"Apa yang cepat sekali?"tanya Satya.


"Mertua sama kakak ipar kita mau balik," jawab Gerry.


"Serius loe?"


Satya juga terkejut.


"Wah harus dokumentasi dulu dong," celetuk Calvin.


"Tapi siapa yang berani ngetuk itu?"


Sam menatap pintu ruang belajar.


"Ada pawangnya ngapain takut?"sahut Calvin melirik Arion.


Arion membalas lirikan Calvin.


"Kau kira isteriku hewan buas hah?"ketus Arion.


"Pawang hati maksudnya," ralat Calvin. 


Arion mendengus, berdiri dan melangkah untuk mengetuk pintu ruang belajar.


"Sayang," panggil Arion.


"Sayang, keluar sebentar dong. Ada hal penting nih," ucap Arion lagi.


"Sayang … Yang … Karina Sayang," panggil Arion terus mengetuk pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka, Karina keluar dengan wajah bertanya.


"Hal penting apa?"tanya Karina, melangkah dan duduk di kursi kosong.


"Tuh mertua Gerry sama Satya mau pulang," ujar Arion.


Karina menatap Mira. Mira mengangguk membenarkan.


"Gerry panggil helikopter untuk mengantar mereka ke bandara," titah Karina.


"Laksanakan!"jawab Gerry, menutup laptop kemudian keluar bersama dengan Mira.


"Temani mertuamu sana," suruh Karina melihat Satya yang menatap lekat dirinya.


"Oh baiklah," sahut Satya, keluar setelah menutup laptop.


"Kakak ipar bukankah seharusnya kita mengambil beberapa foto?"saran Calvin.


"Dokumentasi? Bolehlah," setuju Karina.

__ADS_1


__ADS_2