
Dua mobil sport merk ternama berwarna merah dan biru berhenti di depan kediaman Tuan Muda Casino Heart of Queen.
Para pelayan segera berbaris menyambut dua tuan muda mereka beserta nyonya muda baru mereka.
Dari mobil Audi R8, keluar Rian dengan wajah datar. Rian merapikan rambutnya sejenak kemudian melepas kacamata dengan lensa yang terlihat berwarna biru muda.
Senyum tipis Rian sunggingkan.
Dari lamborghini huracan, Satya turun lebih dulu, menatap ke arah pintu masuk. Satya mendengus senyum, ia segera melangkah ke sisi lain mobil untuk membukakan pintu sang istri.
Riska tersenyum lebar menyambut uluran tangan Satya.
"Welcome to our house, my wife," ujar Satya.
"Welcome kakak ipar," goda Rian.
Riska tersenyum malu. Usianya baru 18 tahun sedangkan Rian sudah menginjak 27 tahun.
"Panggil nama saya saja. Anda lebih tua dari saya. Seharusnya saya yang memanggil Anda kakak," tolak Riska.
Ia memang masih merasa canggung di antara keluarga barunya ini. Tapi bukan Riska namanya kalau tidak bisa mengatasi kecanggungan, rasa malu, juga takutnya.
"Baiklah. Adik ipar or Riska," jawab Rian tersenyum.
Satya tersenyum lebar.
"Ayo," ajak Satya menggenggam jemari Riska, menarik lembut tangan itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Ya sepertinya disini aku yang akan tersiksa," gumam Rian, sedikit lesu.
Rian mengekor di belakang Satya dan Riska. Pintu utama rumah mewah itu terbuka lebar.
"Tunggu Kak," tahan Riska menghentikan langkahnya.
"Hm?"
Satya berbalik dan menatap Riska bertanya.
"Bagaimana penampilanku? Apakah penampilanku cocok dengan nyonya pertama? Apakah nyonya pertama akan menyukaiku?"
Mendadak Riska gugup bertemu dengan Joya. Satya terkekeh mendengar kegugupan Riska.
Satya mencubit gemas pipi Riska.
"Bertingkah saja seperti dirimu yang biasa. Joya tidak suka yang berlebihan, kecuali untuk beberapa hal. Jangan gugup di depannya. Dan satu lagi, jangan panggil dia dengan sebutan nyonya pertama, dia bisa meledak nanti. Panggil dia dengan kakak ipar atau Kak Joya," jawab Satya.
"Aku takut dikira sok kenal nanti," ragu Riska.
"Aduh … aku tidak menyangka anak jenderal takut memanggil seseorang dengan sebutan yang sopan. Jangan takut, jangan ragu ataupun gugup. Joya tidak makan manusia kok," tegas Satya.
Riska mengangguk pelan, tersenyum lembut pada Satya. Rian yang melihat kemesraan pengantin baru itu tersenyum kecut dan segera membuat suara.
"Ya, Joya memang tidak makan manusia tapi makan daging manusia. Dia manusia bukan anakonda," celetuk Rian melenggang santai masuk lebih dulu, meninggalkan Satya dan Riska yang terkesiap dengan celetukan Rian.
"Kak," panggil Riska dengan hati yang kembali gugup.
Jelas Riska gugup, dia masuk ke sarang yang sangat berpengaruh di negara ini. Salah langkah, nyawa bisa terancam.
"Jangan dengarkan dia," ucap Satya, kembali menarik tangan Riska.
Di ruang keluarga, Darwis dan Joya sudah menanti kehadiran pengantin baru. Riska menunduk hormat pada keduanya.
"Kemarilah. Duduk di sampingku," ujar Joya lembut menepuk tempat kosong di sisi.
Satya mengkode Riska agar menuruti ucapan Joya.
"Anak baik, selamat datang di kediaman kami. Semoga kamu betah ya di sini. Aku juga minta maaf karena tidak menyapamu saat di resepsi. Kau tahu bukan kondisi ku?"tutur Joya menggenggam kedua tangan Riska.
Riska mengangguk dengan senyum lebar.
"Saya tahu, Kak. Bagaimana kondisi Anda sekarang?"tanya Riska.
"Kondisiku ya seperti ini," jawab Joya tersenyum.
"Hm Sweetheart, Riska, kalian berbincanglah dengan santai. Kami harus ke casino dulu," ujar Darwis dengan tatapan mata sedikit tidak rela.
"Pergilah. Laksanakan tugas kalian. Eh Satya bukannya seharusnya kamu mengantar Riska ke kamar kalian dulu?"tahan Joya ketika melihat Satya bangkit duluan.
"Astaga. Maafkan aku, ayo isteriku."
Satya menepuk dahinya pelan dan kembali mengulurkan tangan pada Riska.
__ADS_1
"Ke kamarlah dulu baru temani aku lagi," ujar Joya.
"Hanya mengantar, ingat jangan lama-lama!"pesan Darwis.
Satya mengangguk, Riska tersenyum malu. Pengantin baru itu meninggalkan ruang keluarga menuju kamar.
"Eh iya mana Rian?"tanya Joya mengedarkan pandangan dalam jangkauan penglihatannya.
"Tuan Muda Rian berada di taman samping, nyonya," jawab pelayan.
"Taman samping?"beo Joya bingung.
"Sudah. Rian butuh waktu untuk meredakan gejolak emosinya. Kau tahu kan dia berangkat besok pagi sendiri ke Mexico. Ah aku lupa, dia juga harus menenangkan hatinya yang cemburu dengan kita," ujar Darwis.
"Hm apakah sebaiknya kita mencari pasangan untuknya?"tanya Joya.
"Ada baiknya jika ia mencari sendiri. Jika memang harus mencarikan untuknya seorang wanita, kita harus berdiskusi dengan Karina," sahut Darwis.
"Aku mengerti."
*
*
*
Kini Joya dan Riska berada di ruang keluarga, menikmati siaran berita sore.
"Akhirnya keinginanku untuk memiliki saudara perempuan yang tinggal serumah terwujud," ujar Joya tanpa menatap Riska.
Riska menatap Joya dengan dahi berkerut tipis.
"Bukankah Kakak punya saudara perempuan," heran Riska.
"Hm? Maksudmu Karina?"tanya Joya.
Riska mengangguk.
"Pasti Satya tidak menceritakan identitasku secara lengkap kan? Biar aku perkenalkan diriku sendiri," sahut Joya.
Riska mendengarkan dengan serius ucapan Joya. Satya hanya mengenalkan tentang karakter dan keluarga kandung Joya yang hidup, yang sudah mati dianggap tidak ada.
"Namaku Joya Argantara. Namaku sebelum berubah marga adalah Joya Sanjaya. Keluarga besar kami pecah saat aku masih dalam kandungan. Ya pertentangan sesama saudara. Aku memiliki tiga adik sepupu. Dua kembar dan satu lagi perempuan. Sepupu kembarku tewas saat masih remaja. Dan sepupuku yang paling muda kini menjadi pemilik kasino Heart of Queen ini," jelas Joya.
"Ya aku sempat bermusuhan dengan Karina. Saat itu aku belum tahu bahwa kami adalah keluarga," jawab Joya, tersenyum mengingat masa-masa saat bermusuhan dengan Karina.
"Maksud Kakak, Kak Karina sudah tahu bahwa kalian keluarga tapi tidak mengatakannya?"
"Karina itu sulit ditebak. Awalnya aku mengira dia adalah domba gemuk yang mudah untuk ditangani. Kenyataannya, akulah domba gemuk itu. Dia pernah membuatku jatuh dengan cara yang tidak elegan sama sekali. Aku yang mafia kala itu jatuh ke kubangan air gara-gara seorang ayam, sialnya lagi aku malah diacungi golok oleh pemiliknya. Sungguh aku malu sendiri jadinya," cerita Joya.
"Bukan salah Kak Karina bukan?"
Joya terkekeh dengan sanggahan Riska.
"Ya, itu salahku sendiri tapi aku menganggap karena Karina. Masa lalu yang menggelikan," sahut Joya.
"Lantas bagaimana cara kalian berbaikan?"
"Penyelesaian konflik di masa lalu. Aku sebenarnya merasa malu dengan Karina. Di saat aku jatuh dengan kenyataan, Karina datang merangkul diriku. Ya dia memang sulit ditebak."
Joya menatap langit-langit mengingat saat ia ingin bunuh diri tapi malah melukai Karina.
"Apakah masih ada penyesalan di hati Kakak?"
"Tidak. Aku sudah tidak ada penyesalan sama sekali. Karina mengajarkan diriku untuk menerima masa lalu sebagai bagian dari diri dan hidup ini. Seburuk apapun seseorang, pasti ada sepercik hati nurani yang berteriak ingin meninggalkan keburukan yang ia lakukan. Yang harus kita lakukan adalah memperluas percikan cahaya tersebut menjadi sinar yang memenuhi setiap sudut hati," jawab Joya.
"I see," ucap Riska.
"Kau sudah bertanya banyak padaku. Sekarang giliran aku yang bertanya padamu. Kau hanya harus menjawab pertanyaanku dengan jawaban ya atau tidak!"tegas Joya.
Riska tertegun dengan perubahan aura Joya.
Semua pernyataan yang Joya lontarkan adalah pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh Rian. Joya tersenyum puas dengan jawaban lugas Riska. Menjawab tanpa ragu adalah kejujuran.
Uh.
Tiba-tiba saja Joya mengeluh sakit sembari memegang perutnya. Riska panik seketika. Ia berteriak memanggil pelayan yang berada tak jauh dari mereka.
Para pelayan datang secepat kilat, membawa Joya ke dalam kamar di mana staf medis sudah siaga.
Kesakitan yang Joya rasakan kali ini lebih dari yang sebelumnya. Jika kemarin sangat sangat maka ini lebih sakit dari sangat. Joya merasa ia diserang dari bawah dan atas.
__ADS_1
Perutnya terasa sangat sakit dan nyeri. Kepalanya seakan ditusuk ribuan jarum. Sakitnya sungguh tidak terkira. Tidak tahan dengan rasa sakitnya, Joya kehilangan kesadaran.
Dokter menggeleng membaca kondisi Joya dari layar monitor. Joya kembali drop.
Riska menggigit kuku, berdiri kaku tak jauh dari ranjang Joya.
"Tidak! Jangan! Nyonya bertahanlah!"seru dokter menekan dada Joya untuk mengembalikan detak jantung yang berhenti.
Mata Riska melebar, ia berdiri dengan kaki gemetar.
"Nyonya bertahanlah. Anda harus bertahan!"pekik dokter lagi.
Para pelayan dan staf medis merasa sangat ketakutan dengan jantung Joya yang berhenti berdetak.
Bahkan di antara mereka ada yang menangis.
Tapi mereka semua bernafas lega karena detak jantung Joya kembali berdetak. Tidak mau ambil resiko lebih dalam, dokter segera menyuruh pelayan menyiapkan mobil untuk membawa Joya ke rumah sakit. Joya perlu penanganan lebih dan rumah sakit adalah jawabannya.
"Nyonya kedua, Anda lebih baik ikut dengan kami ke rumah sakit," ujar dokter.
"Ba-baiklah," jawab Riska.
*
*
*
Darwis, Rian, dan Satya langsung menuju rumah sakit begitu pelayan memberitahu mereka. Selama perjalanan, wajah Darwis tegang.
Setibanya di rumah sakit, Darwis langsung berlari menuju ruangan tempat Joya dirawat. Terlihat Riska masih menunggu di depan ruangan dengan wajah yang juga tegang dan khawatir.
"Apa … apa yang terjadi dengan Joya? Mengapa bisa kembali drop?"
Darwis menatap tajam Riska.
"Aku … ku tidak tahu. Saat itu kami sedang bercerita tapi … tapi tiba-tiba saja Kak Joya mengeluh sakit. Para pelayan membawa Kak Joya ke kamar. Aku … aku takut sekali. Jantung … jantung Kak Joya tadi berhenti berdetak. Aku sangat takut," jawab Riska terbata.
"Berhenti berdetak? Apa maksudmu?"seru Darwis yang sudah berada di luar kendali.
Darwis mencengkram kedua pundak Riska. Riska meringis sakit.
"Aku tidak tahu. Kak kejadiannya sangat cepat. Maafkan aku … ini kesalahanku."
Rasa takut, cemas dan khawatir yang bercampur, menghasilkan kristal bening yang membasahi pipi Riska.
"Kendalikan dirimu, Wis!"seru Satya melihat Riska yang kesakitan.
Satya segera menarik Riska dalam pelukannya. Rian menarik paksa Darwis menjauh dari depan ruang rawat Joya.
"Jangan menangis. Darwis memang begitu kalau sudah menyangkut kondisi Joya," ujar Satya menenangkan Riska.
"Aku takut Kak. Kak Darwis sangat menakutkan," tangis Riska pecah di dada Satya.
Satya menepuk pelan punggung Riska, menenangkan istri kecilnya itu.
Di lain sisi, Darwis tengah melampiaskan amarahnya pada dinding. Ya amarah terhadap dirinya sendiri. Rian hanya menonton dengan bersedekap tangan. Saat ini mereka berada di tangga darurat.
"Ahhhh!"
Darwis berteriak kencang. Ia berhenti memukul dinding. Darwis meletakkan kedua tangannya di dinding, menunduk dalam dengan mata terpejam.
"Belum cukup?"tanya dingin Rian.
"Mengapa kau melampiaskan emosimu pada Riska yang tidak tahu apa-apa?"tanya Rian lagi.
"Kau kan sudah tahu bahwa itu efek dari penyakitnya! Jadi jika Joya kambuh saat bersamamu itu artinya kau yang bersalah? Kau hampir melukai isteri saudaramu Wis!"
Darwis yang tengah mengatur nafas menoleh datar ke arah Rian.
"Siapa yang tidak begitu jika mendengar istrinya kehilangan detak jantung?"balas Darwis dingin.
Rian tertegun.
"Maksudmu …."
Darwis mengangguk. Rian menghembuskan nafas kasar, mengusap wajahnya dengan kasar pula.
"Jangan salahkan dirimu sendiri. Ini sudah resiko," ucap Rian menepuk pundak Darwis.
"Ayo kita kembali," ajak Rian yang tidak tega melihat kondisi Darwis yang tertekan.
__ADS_1
Rian merangkul Darwis yang berjalan gontai untuk kembali ke ruang rawat Joya.