Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
Kakek Bram


__ADS_3

"Ini ... ini ... kan?" ucap kagetnya seraya menutup mulutnya dan menatap Karina waspada.


Sepertinya dia orang yang berpengaruh, batinnya.


"Mengapa kau kaget?" tanya Maria sedangkan Karina hanya acuh tak acuh.


"Nona siapa kau sebenarnya ??" tanyanya pada Karina.


"Aku?? Hanya orang biasa," ucap Karina.


"Tidak! Kau buka orang biasa!" tegasnya.


"Apa maksudmu itu?" Kali ini Maria yang berucap.


"Nyonya gaun ini adalah buatan dari desainer misterius yang sangat terkenal namun tak pernah menampakkan wajahnya ke media. Billy Wang," jelasnya.


Mata Maria terbelalak. Ia menatap Karina rumit. Kemudian mengalihkan pandangan ke penata rias.


"Benarkah itu?" tanyanya pada penata rias.


"Tentu saja Nyonya. Hanya orang b*doh yang tidak mengenali buatan Billy Wang. Setiap ia membuat karya pasti membubuhkan tanda tangan di bawah gaun dengan tinta emas," jawab penata rias mantap dan yakin seratus persen.


Maria kembali menatap Maria meminta jawaban.


"Itu temanku yang mengirimnya. Aku hanya minta tolong dengannya," jawab Karina santai.


Mendengat jawaban itu Maria seakan tak percaya. Tapi kalau itu benar sih gak terlalu mengherankan sebab Karina memang lumayam misterius menurutnya.


"Oh ... baiklah kalau begitu ayo Sayang kau pakai gaunnya. Sebentar lagi acara dimulai," ucap Maria.


Hampir saja. Billy kau sungguh jahil ya ... awas saja kau nanti, umpat Karina dalam hati.


Penata rias itu mengambil gaunnya dan menyuruh Karina menggunakannya. Karina tampak semakin cantik dengan gaun itu. Penata rias dan asistennya tak henti-hentinya memuji Karina. Maria tersenyum bangga mendengar itu.


Gaun itu sangat pas dengan ukuran maupun karakter Karina.


Waktu menunjukkan pukul 09.30. Di aula tempat Ijab Qabul Arion sudah duduk di tempat yang disiapkan. Ia tampak semakin tampan dan gagah dibalut tuxedo berwarna hitam dengan kemeja maroon. Wajahnya nampak gugup.


Para undangan mulai berdatangan. Para tamu ialah keluarga besar Wijaya, Sahabat Arion beserta keluarga dan para relasi bisnis. Karina mengundang Li dan Gerry beserta dua puluh orang lain yang terpilih. Selain untuk menjadi tamu mereka juga mendapat tugas mengamankan acara.


"Tuan untuk mempersingkat waktu bisa segera dipanggil mempelai wanitanya," ujar Penghulu.


"Baiklah," jawab Amri.


Ia lantas memanggil Rian untuk menjemput Karina di ruang rias.


Tok.


Tok.


Tok.


"Nyonya ... acara Ijab Qabul akan segera dimulai. Mempelai wanitanya diminta hadir ke aula," ujar Rian dari luar.


Mendengar itu Maria membuka pintu,


"Ah ... baiklah. Kau boleh kembali duluan," ujar Maria.

__ADS_1


Rian menurut. Maria kembali menutup pintu dan mendekati Karina. Di samping Karina setia Enji menemani.


"Ada apa Ma?" tanya Karina.


"Ini Sayang acara Ijab Qabul mau dimulai. Ayo kita ke sana," jawab Maria.


"Baiklah. Ayo," ujar Karina.


Karina bangkit dari kursinya dan berjalan keluar diikuti Maria dan Enji. Karena gaun Karina itu mewah namun simple jadi Karina tak kesulitan berjalan.


Enji mengaitkan tangannya di tangan Kanan Karina sedangkan Maria mengaitkan tangannya di tangan kiri Karina. Enji yang tampan memakai tuxedo berwarna silver dan kemaja putih. Seutas senyum menghiasi wajahnya.


Tak ....


Tak ....


Tak ....


Suara high hiels yang tidak terlalu tinggi memecah dan mengalihkan perhatian para tamu. Tak terkecuali Arion dan 2 sahabatnya.


Para tamu sibuk berbisik memuji kecantikan Karina. Namun ada satu yang mencuri perhatian mereka yaitu pria di sampingnya. Para gadis menatap kagum pria itu yang tak lain adalah Enji.


Sedangkan Arion mengeluarkan ekspresi masam melihat itu.


"Bro kayaknya ada yang nikung tuh. Gagal nikah loe," celetuk Sam


"Haih yang sabar ya kawan … mungkin dia bukan jodohmu," hibur Calvin tanpa tau situasi.


"By de way kalau batal kita siap kok nemenin loe bersedih," ucap Calvin lagi.


Kalau Karina yang biasa tetap ekspresi datar. Enji melepaskan kaitan tangannya begitu juga Maria. Enji berjalan menuju tempat yang tersedia untuk anggota keluarga kedua belah pihak. Begitu juga Maria berjalan mendekati suaminya.


Karina menerima uluran tangan Arion. Arion membimbing Karina duduk di kursi tempat mereka melaksanakn Ijab Qabul.


"Bagaimana Nak Arion apa bisa dimulai?" tanya Penghulu.


"Bisa Pak ayo kita mulai," jawab Arion.


"Baik. Sebelumnya saya boleh tau wali dari mempelai wanita??" tanya Penghulu lagi.


"Ah ... itu," ucap Amri.


"Keluarga saya telah tiada saya hanya memiliki adik angkat. Jadi wali saya saya serahkan pada calon mertua saya saja," terang Karina.


"Ah baiklah kalau begitu apa tuan Amri bersedia menjadi wali dari mempelai wanita?" tanya penghulu pada Amri.


"Baiklah saya bers ...," ucapan Amri terpotong kerena ada suara keras yang menghentikan nya.


"Saya tidak setuju!!" ucap seseorang. Ternyata itu adalah seorang kakek-kakek. Dia menggunakan tongkat. Tetapi walaupun begitu di usianya yang lebih dari setengah abad wajahnya tetap mengeluarkan aura pemimpin dan berkharisma. Matanya menatap tajam Amri dan Maria.


"Ayah/Kakek?" kaget Amri, Maria dan Arion bersamaan.


"Kakek?" beo Karina.


"Beraninya kalian merahasiakan pernikahan cucuku ini dariku! Apa kalian anggap aku sudah tiada hah??" marah pria yang dipanggil kakek oleh Arion.


Maria dan Amri yang tersadar dari kekagetannya langsung mendekati dan menyalami kakek Bram Wijaya.

__ADS_1


"Bukan begitu Ayah ...," bela Amri.


"Jadi apa hah? Kalian tidak mengunjungiku beberapa tahun terakhir dan pernikahan cucuku pun kalian rahasiakan," kesal kakek Bram.


"Ayah ... bukan begitu kami tak mau ayah kelelahan gara-gara penerbangan yang jauh dari sana Ayah ...," terang Maria.


"Selain itu kalau ayah kelelahan usia ayah tak akan lama dan ayah kan sudah tua jadi rencananya kami setelah pernikahan ini akan berkunjung ke rumah Ayah," tambah Amri.


"Kalian pikir aku sudah tua hah?" tanya kakek Bram.


"Memang kan Ayah?" sahut Amri.


"Dasar anak durhaka … mengejekku saja tahunya ... by de way di mana cucu menantuku? Aku ingin bertemu dengannya," cari Kakek Bram.


"Bukan cucu menantu tapi masih calon cucu menantu. Mereka belum sah kerena Ayah datang tiba-tiba," ralat Amri.


"Benarkah?? Ku pikir sudah . Ternyata aku sudah tua dan pelupa," kekeh kakek Bram.


Kan memang iya, ringis Amri dan Maria dalam hati.


"Kalau begitu ayo kita lanjutkan acaranya Ijab Qabulnya," ujar kakek Bram tanpa rasa bersalah.


"Ayo Ayah," ajak Maria menggandeng tangan kakek Bram.


"Tadi aku mendengar kalau calon cucu menantu itu sebatang kara. Apa itu benar?" tanya kakek Bram pada Maria


"Benar Ayah. Karina meminta mas Amri jadi walinya," jawab Maria.


"Hmm ... jadi namanya Karina. Nama yang cantik. Kalau begitu aku yang akan jadi walinya," ucap kakek Bram.


"Apa ayah serius??" tanya Amri. Sejujurnya ia kaget karena ayahnya ini sulit peduli dengan orang asing.


"Apa aku pernah bercanda?" tanya balik kakek Bram.


Amri menggeleng pelan.


"Bagaimana apa bisa di mulai acaranya?" tanya mc yang baru muncul.


Arion mengangguk.


"Selamat pagi Bapak/ Ibu yang telah hadir dalam acara pernikahan Tuan Muda Arion putra dari Tuan Amri Wijaya dan nyonya Maria Wijaya dengan Nona Karina. Saya pertama-tama ingin mengucapkan selamat pada kedua calon mempelai," sapa mc ramah bersahaja.


"Baiklah untuk mempersingkat waktu dan semoga acara ini mendapat rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa ada baiklah kita mendengarkan ayat suci Al-Qur'an terlebih dahulu. Kepada yang membaca saya persilahkan," lanjutnya.


Tak lama terdengar alunan suara lembut yang membaca Q.S Ar.Ruum/30:21. Yang artinya ....


“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21].


"Acara selanjutnya adalah kata sambutan dari orang tuan mempelai pria. Kepada Tuan Amri saya persilahkan," lanjut mc lagi.


Amri maju dan memberikan sambutan seadanya. Begitulah selanjutnya tak terasa kini tiba waktunya Enji yang mewakili Karina.


Enji maju dan mengambil mic.


"... Nona semoga Anda bahagia dengan pernikahan ini. Saya selalu berharap menjadi orang yang penting bagi Anda dan saya sudah mewujudkannya. Untuk itu saya akan mempersembahkan sebuah lagu untukmu dan Tuan Arion," ujar Enji.


Enji meletakan mic dan berjalan menuju piano di salah satu sisi ruangan. Ia memainkan piano sembari bernyanyi. Alunan suara merdu bergema di aula.

__ADS_1


__ADS_2