Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 274


__ADS_3

Halaman gereja penuh dengan kendaraan para tamu yang diundang untuk menyaksikan prosesi sakral pernikahan Gerry dan Mira. Papan bunga ucapan selamat turut menghiasi halaman.


Para tamu sebagian besar adalah kolega bisnis Kasino Heart of Queen, anggota Pedang Biru, petinggi dari KS Tirta Grub di kota ini serta anggota militer di bawah pimpinan Tuan Adiguna. 


Para tamu sudah memadati bangku yang tersedia menunggu kedua mempelai tiba untuk mengucap janji. Bangku bagian depan dikosongkan untuk anggota keluarga kedua mempelai. 


Tak berselang lama, iringan mobil Karina memasuki halaman gereja. Kedua mobil mewah berhenti berdekatan.


Karina turun sembari melepas kacamatanya. Diikuti Arion, Elina, dan Li. Keempat orang itu mengamati sekitar mereka. 


Darwis turun membukakan pintu untuk Joya. Para tamu yang masih berada di luar gereja, mengeryit belum mendapati mempelai pria turun. 


Di dalam mobil, Gerry menutup mata. Kedua tangannya menyatu dan mengepal. Berdoa pada Tuhan agar pernikahannya lancar. Darwis mengetuk kaca jendela mobil.


Gerry membuka pintu. Turun dengan wajah datar sembari merapikan jasnya. Setelan jas itu sangat menawan di tubuh Gerry.


Pria itu mengedarkan pandangannya. Menyunggingkan senyum untuk para tamu yang menanti kehadirannya.


"Ayo masuk," ajak Li mulai gerah karena panas matahari.


Gerry berjalan paling depan. Ada raut wajah gugup tapi ditutupi dengan wajah datarnya. Gerry langsung menuju altar, menunggu Mira datang. 


"Aku di belakang saja," ucap Karina mengambil tempat duduk bangku barisan kedua dari belakang.


Arion tentu mengikut. 


"Aku akan di depan," ujar Li berjalan menuju barisan bangku paling depan.


Elina duduk di samping Karina, Darwis bersebelahan dengan Arion dan Joya duduk di sampingnya. Mereka menatap ke depan. Melihat Gerry yang gelagatnya menunjukkan kegelisahan. 


"Pria itu seperti cacing kepanasan," cibir Elina. 


"Aku puas dengan wajah gugupnya," timpal Joya.


"Ck! Kalian ini sibuk membahas pria lain. Tidak tahukah kalian bahwa kami berdua harus memasak makan malam nanti?" kesal Darwis, menyilangkan kedua tangannya sembari bibirnya mengerucut.


"Benarkah? Ar, kamu harus masak yang enak untuk kedua anakmu ini."


Mata Karina berbinar dengan tangan bergelayut manja pada Arion. Arion tersenyum manis.


"Tentu Sayangku," jawab Arion pasti.


"Ar, kamu bisa masak?"


Joya tertegun tidak percaya. Darwis merangkul Joya dan menunjukkan wajah cemburunya.


Arion hanya mengangguk, tidak menoleh pada Joya.


Secara setahu Joya, Arion tidak bisa masak. Note, karena Arion tidak pernah masak untuk Joya.


"Aku juga bisa. Hentikan kekagumanmu pada pria lain," protes Darwis.


Elina berdehem kesal. Mengkode agar kedua pasangan itu berhenti berbicara.


Suasana gereja yang tadinya riuh menjadi hening saat sepasang kaki beralaskan high hiels memasuki gereja diikuti dengan anggota keluarga yang berjalan bak prajurit.


Gaun pengantinnya menyeret di lantai. Dengan wajah lurus ke depan serta bucket bunga di tangan.


Gerry menoleh ke arah pintu. Matanya terpaku lekat pada Mira yang berjalan menuju altar. Walaupun wajahnya ditutupi oleh tudung kepala, Gerry masih bisa melihat wajah cantik Mira dari tempatnya.


Gemuruh hati. Terpikat oleh kecantikan Mira bersarang pada Gerry. 


Bisik-bisik decak kagum dengan kecantikan Mira. Mereka tidak menyangka bahwa bahwa Mira sangatlah cantik.


Bahkan sebagian tamu yang hadir tadi malam pangling dengan penampilan Mira sekarang.


Karina tersenyum puas dengan hasil akhir penata rias yang ia sewa untuk Mira. Gaun yang ia pesan sendiri sangat pas membalut tubuh Mira.


Gerry mengulurkan tangannya, membantu Mira menaiki anak tangga menuju altar. Mira menyambut uluran tangan Gerry. Senyum tidak lepas dari wajahnya sejak turun dari mobil.

__ADS_1


"Loh Karina dan lainnya mana? Apa cuma kamu sendiri?"


Tuan Adiguna yang duduk di samping Li tidak menyadari kehadiran Karina dan lainnya di bangku belakang tadi. 


"Mereka di belakang," jawab Li. 


Tuan Adiguna melihat ke belakang. Ia tersenyum mendapati Karina duduk bersandar pada Arion. Ia menghela nafas pelan. 


Kini Mira dan Gerry sudah berdiri di hadapanpendeta untuk memulai prosesi sakral mereka. 


"Tuan Gerry Herlambang, apakah Anda bersedia menjadikan Nona Mira Rahmawati sebagai istri sah Anda? Baik dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, setia menemaninya, dan senantiasa mencintainya sampai akhir hayat?" tanya Pendeta pada Gerry. 


"Aku bersedia," jawab Gerry mantap.


Gelombang kebahagian terpancar jelas dari wajah kedua mempelai. Gerry tersenyum tiada henti. Pendeta beralih pada Mira. Mata Mira tertuju pada mata Gerry. Bibirnya rasanya tidak sabar menanti pertanyaan Pendeta selesai.


"Nona Mira Rahmawati, apakah Anda bersedia menjadikan Tuan Gerry Herlambang sebagai suami sah Anda? Baik dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, setia menemaninya, dan senantiasa mencintainya sampai akhir hayat?" tanya Pendeta.


Mira mengangguk.


"Ya, aku bersedia."


Mira mengatakannya cepat sembari menahan haru. Akhirnya mereka sah menjadi pasangan suami istri. 


Acara selanjutnya adalah bertukar cincin. Saat acara itu berlangsung, dua orang pria tampan datang. Mereka adalah Rian dan Satya. Satya menatap nanar Gerry dan Mira yang sudah sah.


Hatinya berdenyut perih. Rian yang membopong Satya segera mencari tempat duduk. Mata Rian menangkap punggung Karina. Kebetulan bangku di samping Karina masih kosong. Kebanyakan tamu yang baru datang enggan duduk di samping Karina. Aura Karina terlalu menindas bagi mereka.


Rian memaksa Satya yang enggan beranjak. Matanya memerah saat Gerry membuka kelambu yang menutupi wajah Mira.


Perlahan Gerry menundukkan wajah dan memiringkan kepalanya. Memanggut bibir Mira sebagai bentuk kasih dan cinta. Mira mengalungkan kedua tangannya pada leher Gerry. 


Seakan dunia milik berdua, mereka tidak canggung berciuman dengan durasi waktu yang cukup lama.


Pendeta berdehem. Gerry melepas ciumannya lalu mencium kening Mira. Mira menundukkan wajahnya, sesaat ia lupa tempat.


Bahu pria itu tampak bergetar. Karina tersenyum kecut lalu merangkul Satya. Satya menoleh, menatap Karina dengan rasa sedih yang jelas. 


"Aku yakin kamu akan segera menemukan jodohmu. Mira dan Gerry ditakdirkan bersama. Maaf membuatmu sakit. Kamu boleh marah padaku," tutur Karina lembut .


Arion dan bawahan Karina tertegun dengan penuturan Karina. Mereka kira Karina akan marah besar. Satya menatap Karina tidak percaya. Tanpa aba-aba ia memeluk Karina menumpahkan kesedihannya.


Karina menepuk pundak Satya. Arion, jujur ia cemburu. Akan tetapi akan sangat tidak enak dipandang jika Arion protes. Arion kemudian merangkul Karina dengan pandangan tetap ke depan.


"Jadi yang akan dihukum Gerry?" tanya Elina berbisik.


Joya menaikkan bahunya tidak tahu. 


"Biar bagaimanapun yang terluka adalah Satya. Kita harus menghiburnya," ujar Darwis. 


Mira dan Gerry turun altar berdampingan, mereka menghampiri Tuan Adiguna dan Intan meminta doa restu atas pernikahan mereka. Kini Mira tidak bisa menahan laju air matanya. 


Tuan Adiguna ikut menangis melihat Mira yang menangis. Mira memeluk Tuan Adiguna, mengucapkan terima kasih atas semua jasa Tuan Adiguna padanya. Atas limpahan kasih sayang yang ia dapatkan dari keluarga ini.


"Berbahagialah, Nak. Tuhan bersama kalian," ucap Tuan Adiguna serak.


Mira mengangguk, ia beralih memeluk Intan.


"Jagalah Mira sebagaimana kamu menjaga dirimu sendiri. Berbahagialah dengan Mira, jangan lupa kesepakatan kita."


Tuan Adiguna sempat-sempatnya membahas tentang permainan catur nanti.


Gerry mengangguk. 


Setelah semua keluarga Adiguna mereka mintai doa restu. Gerry menggandeng tangan Mira menuju Karina dan keluarganya. Li menyusul. Pria itu juga menjadi sorotan dengan wajah rupawan dan tubuh gagahnya.


Tatapan bahagia Gerry berubah dingin saat melihat Satya mengusap air mata dan duduk tegak setelah selesai mengadu pada Karina. 


Mira menggigit bibir bawahnya. Rasanya tidak tega melihat Satya menangis.

__ADS_1


"Maaf," ucap Satya pelan, penuh penyesalan.


Gerry membuang muka dengan raut wajah geram.


"Ger, jaga image," ujar Li berbisik mengingatkan.


Gerry berdehem.


"Dia tidak bisa berdiri sendiri. Kamu menghajarnya terlalu keras," jelas Rian.


Gerry menatap Karina tersenyum. Ia meminta doa restu Karina dan rekan-rekannya. Mira pun turut meminta doa restu agar pernikahan mereka langgeng, bahagia sampai maut memisahkan.


Gerry menambahkan agar ia segera mempunyai momongan dari Mira. Tentu saja Mira tersenyum malu. Mengingat malam pertama nanti, Mira tersenyum misterius.


Satya memberanikan diri memegang tangan Mira. Gerry hendak menepis. Tetapi Mira melarang. Karina dan lainnya melihat apa yang akan dilakukan Satya.


Rian tidak bisa menahan Satya. Tatapan mata Satya lekat pada mata Mira. Mira menunjukan wajah bertanyanya.


"Semoga kamu bahagia. Tuhan menyertai kalian," ucap Satya, jauh dari dugaan Gerry.


Gerry kira Satya akan mengatakan hal yang menganggu telinganya.


Mira tersenyum lembut.


"Biarlah yang lalu berlalu, Kak. Maafkan aku juga yang tidak bisa membalas perasaanmu. Aku hanya menganggapku sebagai seorang kakak, tidak lebih. Aku berharap Kakak cepat mendapatkan pengganti diriku. Yang bisa menerima dan membalas dan mencintai dirimu. Janganlah kakak mengurung diri dan terjebak dengan perasaan yang tidak terbalas. Kamu tetaplah kakakku," harap Mira setulus hati.


"Jangan mencoba merusak!" tambah Gerry ketus.


Satya mengulum senyum. Ia mengangguk. 


Satya meminta izin memeluk Mira. Walaupun berat, Gerry terpaksa memberi izin. Satya memeluk Mira erat. 


Karina tersenyum.


"Kau tenang sekarang?" tanya Arion pelan.


Karina menggeleng.


"Belum, masih ada yang belum selesai. Mereka belum menerima hukuman karena menyebabkan pertengkaran," jawab Karina.


"Sekarang apakah kita langsung pulang?" tanya Joya.


Li sudah berada di samping Elina.


"Tidak, kita ke hotel. Aku sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk mereka," ujar Arion, yang sebenarnya adalah adegan Karina.


Karina mendengus senyum sembari mengangguk.


Para tamu mulai beranjak pergi. Tak lupa mengucapkan selamat walaupun sebentar. Lagipula tidak ada resepsi untuk pernikahan mereka.


Tuan Adiguna dan keluarga mendekat. 


Riska tampak terkesiap dengan kondisi Satya. Pria bermata emerald itu sekilas menatap Riska. Bukan hanya Riska tapi juga anggota keluarga lain.


Satya dengan sedikit kesulitan membungkuk, meminta maaf. 


Tanpa membuang waktu, keluarga Adiguna menerima permintaan maaf Satya walaupun cukup geram dengan pengakuan Satya. 


"Mari," ajak Karina jalan duluan diikuti Mira dan Gerry, keluarga Adiguna, Li dan Elina, Darwis dan Joya dan ditutup oleh Rian dan Satya.


Hati Satya sedikit lega. Setidaknya rasa bersalah tidak membelenggu dirinya.


Mira dan Gerry satu mobil dengan Darwis dan Joya sebab tidak ada mobil pengantin untuk mereka. 


"Kita ikut ke hotel?" tanya Rian.


"Ya, aku ingin mabuk melupakan kesedihanku," jawab datar Satya.


Rian mendengus tapi tetap menjalankan mobil di belakang mobil Karina.

__ADS_1


__ADS_2