Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 60


__ADS_3

"Hai cantik boleh gabung?" tanya seorang pria muda tersenyum pada Karina. Karina menatap datar pria itu lalu lanjut menyantap makanannya.


"Halo … boleh aku duduk di sini?" tanya pria muda itu lagi.


"Apakah dirimu tidak bisa melihat bahwa tidak ada kursi kosong lagi di meja ini?" tanya ketus Karina tanpa menoleh ke arahnya.


Bayu tetap asyik dengan aneka dessert. Mendengar nada ketus Karina membuat pria muda itu menyunggingkan senyum.


Sungguh wanita langka, batinnya.


"Itu gampang. Hai boy biarkan kakak tampan ini memangkumu," ucap pria muda itu santai pada Bayu tanpa rasa malu. Karina melirik sekilas dan memberi kode pada Bayu untuk menyetujuinya.


"Oke," jawab Bayu turun dari kursi. Pria muda itu langsung duduk dan memangku Bayu. Bayu melanjutkan makannya yang tertunda dengan santai.


Dari jauh mereka seperti keluarga yang sangat harmonis. Hanya kurang senyum Karina saja.


"Hai, perkenalkan namaku Andika Alcantara," ujar Andika memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya.


"Karina. Istri dari Arion Wijaya," ujar Karina datar tanpa melihat maupun membalas uluran tangan Andika. Andika terhenyak dan menarik kembali tangannya.


"Ternyata kau sudah ada yang punya," ucap sedih Andika. Jujur saja ia jatuh hati pada


Karina sejak saat Karina duduk di meja namun ia tak melihat Karina yang masuk bersama Arion.


"Hmm … tapi aku suka padamu. Bagaimana kalau kau jadi kekasih semalam?" tanya Andika percaya diri. Andika Alcantara dikenal sebagai playboy kelas kakap di negara A.


Pewaris tunggal dari Alcantara Company ini memiliki segudang kekasih walaupun hubungan mereka hanya sebatas satu malam. Dan pada Karina jantungnya langsung berdebar-debar.


"Tidak tertarik," ucap Karina. Andika semakin tertantang untuk mendapatkan Karina, ia tak peduli jika Karina sudah bersuami. Andika mengalihkan perhatiannya pada Bayu.


"Apa ini putramu? Lalu di mana suamimu?" tanya Andika penasaran. Ia menoel-noel pipi Bayu yang sudah selesai makan.


"Jangan sentuh wajahku!!" ketus Bayu turun dari pangkuan Andika dan beralih ke pangkuan Karina.


"Iya. Dia sedang membahas bisnis," jawab Karina cuek.


Sungguh mirip sekali sifatnya. Tapi aku suka. Aku akan mendapatkanmu, Karina, batin Andika tersenyum manis pada Karina.


"Berhenti tersenyum padaku. Atau ku tendang kau dari sini," ucap Karina memperingati Andika.


Kini ia sudah mengakhiri food huntingnya. Bukannya takut, Andika malah tetap tersenyum malah semakin lebar dan manis disertai dengan lesung pipi.


"Jika kau yang menendangku aku tidak akan keberatan, Cantik," ucap Andika bertopang dagu.


"Kau sungguh tebal muka. Aku sudah bersuami dan memiliki anak. So tinggalkan meja ini atau ku lempar kau keluar dari hotel ini sekarang juga!!!" tegas Karina menatap tajam Andika.


Karina tak suka jika ada yang menganggu dirinya. Ingin rasanya segera pulang, namun apa yang ia tunggu belum juga muncul. Kekesalan bertambah dengan hadirnya Andika.


"Aku menantikannya, Cantik. Tapi bagaimana kau menendangku? Kau kan pakai gaun? Lebih baik kita berdansa saja," tanya Andika meremehkan Karina.


Karina naik pitam seketika. Biarpun ia memakai gaun sekarang ia punya banyak cara membuat pria di depannya ini tertendang keluar dari hotel. Karina tersenyum sinis.


"Bayu turun sebentar. Kakak mau buat pertunjukkan memeriahkan acara ini,o bisik Karina di telinga Bayu.


Bayu segera turun dan berdiri di sisi kanan Karina. Karina langsung berdiri. Bayu kembali duduk di kursi Karina yang melihat apa yang akan kakaknya ini lakukan.


Andika ikut berdiri. Ia mengira Karina luluh dan bersedia berhubungan dengannya. Karina mendekati Andika dan memegang dadanya seraya tersenyum manis namun membunuh. Andika memegang tangan Karina yang berada di dadanya.


"Kau setuju?" tanya Andika.


"Tak ku sangka kau begitu mudah dirayu," ucap Andika lagi.


"Hmm … tapi jangan di sini. Nanti suamiku marah melihatnya," ucap Karina. Andika langsung menarik Karina keluar ballroom dari pintu Barat menuju kamarnya meninggalkan acara yang masih berlangsung riuh.


Hehehehe … dapat mangsa, tawa Karina dalam hati.


Kamar Andika berada di lantai 10, sesampainya di kamar, Andika langsung mendorong Karina jatuh di atas ranjang. Perlahan ia menelanjangi dirinya sendiri hingga hanya menyisahkan boxernya saja. Karina menaikkan alisnya seraya tersenyum devil.


Karina memposisikan tubuhnya duduk di atas ranjang sembari menatap Andika dengan tatapan dingin. Andika yang sudah terbakar hasratnya tak memperhatikan jelas wajah dingin Karina.


"Sudah ku peringatkan dirimu agar tak mencari masalah denganku!!" ujar Karina dingin. Andika tersadar akan suara dingin Karina langsung mengerut heran.


"Apa maksudmu? Bukankah kau setuju?" tanya Andika tak sabaran.


"Benar. Setuju mengambil nyawamu," desis Karina menjentikkan tangannya. Tak lama lima orang berbadan kekar dan berpakaian serba hitam muncul dan membungkuk hormat pada Karina. Mereka adalah pengawal bayangan Karina yang akan muncul bila dipinta.


"Urus dia," perintah Karina melirik Andika sekilas.


"Siapa kau?" tanya Andika lagi.


"Sudah keperkenalkan diriku sebagai istri dari Arion Wijaya namun kau tak takut dan malah menggodaku. Kau pikir aku akan takluk dengan godaan recehmu itu?" tanya Karina melihat waktu di jam tangannya.


"Biarpun receh tapi aku adalah playboy kelas kakap," sombong Andika. Karina memutar bola matanya malas.


"Terserah. Tapi akan ku buat kau jadi playboy kelas belanak," sinis Karina.


"Kalian tahukan apa yang harus kalian lakukan? Bereskan semuanya dengan rapi dan bersih. Jangan lupa kamera pengawasnya diretas dulu," perintah Karina pada lima pengawalnya kemudian keluar dari kamar Andika.


Para pengawal dengan segera merenggangkan otot mereka bersiap beraksi. Wajah Andika mulai pucat pasih. Ia meruntuki kebodohannya.

__ADS_1


***


Arion kini tengah pusing menghadapi pertanyaan dari para putri rekan bisnisnya. Mereka seakan seperti lem yang selalu menempel pada Arion kemanapun Arion pergi. Walaupun Arion sudah menjelaskan dirinya sudah menikah, para putri rekan bisnisnya itu malah menawar agar dijadikan istri kedua atau simpanan.


Sam dan Calvin malah meninggalkannya dan malah mengobrol dengan Lila dan Raina. Sedangkan Ferry, ia sibuk mencuci mata mencari tambatan hati. 


"Dengarkan aku berhenti menempel seperti perekat. Aku sudah menikah!!" tegas Arion.


"No. Aku tak percaya. Jika kau sudah menikah di mana istrimu?" sergah salah seorang dari mereka.


"Dia ada di sini. So berhenti berharap!" ujar Arion berusaha tidak teriak.


"Jika dia di sini, pasti dia akan marah melihatmu bersama kami. Apa kalian di jodohkan?" tanya penasaran wanita berbaju silver dengan bagian dada yang rendah sehingga menunjukkan sedikit belahan dadanya. Wanita ini bernama Tiara Hermawan.


"Dengar aku Nona. Aku memperingatkan kalian supaya jangan cari masalah dengan istriku," ucap Arion berusaha pergi mencari Karina.


Sudah hampir satu jam ia meninggalkan Karina dan Bayu sendiri. Pasti Karina sudah menggerutu kesal. Ia malah khawatir akan dijadikan soto jika Karina melihat dirinya dikerubungi para wanita seperti semut yang menggerubungi gula.


"Kami tak peduli. Pokoknya Anda tetap di sini menemani kami minum," kekeh wanita dengan pakaian ketat menunjukkan lekuk tubuhnya yang menggoda iman. Sui Nabila namanya.


Saat hendak membalas perkataan Sui, Arion dikagetkan ada tangan kecil yang memegang tangannya.


"Papa mengapa lama sekali? Aku sama Mama sudah lama menunggu. Papa gak takut Mama ngamuk dan mengacak-acak acara ini gara-gara Papa tinggalin?" ketus Bayu menatap kesal Arion serta para wanita yang menempel pada Arion.


Dahi Arion mengenyit. Papa? Sejak kapan Bayu jadi anaknya? Namun ini adalah kesempatan. Para wanita tersebut langsung terlonjak dan menatap horor Bayu.


"Apa lihat-lihat?" tanya Bayu sinis menatap tajam wanita-wanita itu. 


Arion segera berlutut dan meminta maaf pada Bayu.


"Maaf Papa sayang. Papa tadi dihalangi," sesal Arion berakting.


"Sudah ayo. Mama sudah menunggu," sahut Bayu. Arion segera  berdiri dan menggendong Bayu meninggal para wanita itu yang kesal sekaligus shock.


Kesal sebab Arion pergi dan shock akibat Bayu. Bagaimana mungkin baru menikah belum genap satu bulan, anaknya sudah berusia enam tahun. Kecuali mereka sudah menikah pada masa sekolah menengah atas. Itu bisa masuk akal. Begitulah pemikiran mereka.


"Hei anak kecil kau sudah berbohong ya? Siapa yang mengajarimu?" tanya Arion mencubit hidung Bayu. Bayu memberengut kesal.


"Kakak Karina," jawab Bayu mengusap hidungnya yang memerah.


"Turunkan aku Kakak. Aku bisa jalan sendiri," ucap Bayu yang tak suka digendong, kecuali oleh Marisa dan Karina tentunya. Arion segera menurunkan Bayu. Bayu langsung berjalan mendahului Arion memimpin jalan. 


"Mengapa sikapnya jadi seperti Karina? Padahal baru satu hari diadopsi?" gumam Arion mengikuti ke mana langkah kecil Bayu pergi. 


Tak lama, mereka tiba di meja di mana Karina berada. Arion langsung duduk, Bayu naik ke pangkuan Karina. 


"Masih ingat istri rupanya. Aku kira kamu lupa," ketus Karina. Arion mengusap tengkuknya bingung mau menjawab apa.


"Bisnis apa? Bar? Hiburan malam? Atau hubungan sebatas satu malam?" tanya Karina kesal. Arion terdiam. Tak lama senyumnya merekah.


"Kamu cemburu?" tanya Arion memegang tangan Karina.


"Siapa yang gak cemburu suaminya dikerubungi kayak gula? Biarpun aku tak mencintai kamu tapi aku tak suka jika kau dekat-dekat dengan wanita lain," jawab Karina jujur tak berbohong.


"Begitukah? Bagaimana dengan Joya? Apa kau juga cemburu jika aku dekat dengannya?" tanya Arion penasaran. Ia ingin tahu apa jawaban Karina. Karina terdiam sejenak.


"Mungkin," jawab Karina memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Arion tersenyum mendengar jawaban Karina. Itu artinya Karina sudah ada rasa dengannya.


"Oh ya mengapa Bayu memanggilku Papa tadi? Bukankah dia kau angkat jadi adik bukan anak?" tanya Arion heran.


Karina kembali melihat Arion dan menampilkan senyum licik. 


Flashback on.


Setelah keluar dari kamar Andika, Karina langsung kembali ke ballroom melalui pintu selatan. Ketika memasuki ballroom, Karina memicingkan matanya menatap Arion yang dikerumuni wanita-wanita dengan pakaian yang cukup terbuka dan seksi. Seketika, Karina menggerutu kesal.


"Huh. Tadi mohon-mohon supaya aku ikut. Pakai acara beliin perhiasan berlian ini lagi. Eh tiba di sini kok diabaikan," gerutu Karina menatap tajam Arion dan para wanita itu. 


"Hmm … lihat aja kamu," lirik Karina segera menuju mejanya tadi. Bayu menunggu dengan anteng. Karina segera menyuruh Bayu menarik Arion ke meja ini.


"Bayu. Kakak lagi kesal nih. Suami kakak, kak Arion masa lagi mesra-mesraan dengan wanita lain," kesal Karina. Bayu menatap Karina menandakan apa yang harus aku lakukan.


"Kamu panggil kak Arion. Tapi ingat manggilnya Papa jangan Kakak," ujar Karina.


Bayu mengangguk dan segera menghampiri Arion. Karina menunggu dengan sudut bibir yang ditarik ke atas. Tak lama ada notifikasi di handphonenya. Karina segera melihatnya.


Nona semua sudah beres.


Pesan itu berasal dari Q. salah satu pengawal bayangannya tadi.


Good. balas Karina.


Flashback Off.


***


Bukan apa. Kamu sudah makan?" tanya Karina mengalihkan pembicaraan. Arion malah was-was.


Tak biasanya dia perhatian duluan? batin Arion.

__ADS_1


"Hei kau sudah makan belum? Kalau belum akan aku ambilkan," ujar Karina. Arion menggeleng.


"Aku belum makan," jawab Arion. 


"Ya sudah tunggu sebentar. Bayu ayo ikut Kakak," ajak Karina. Bayu turun dari pangkuan Karina.


Karina segera beranjak dan berjalan menuju meja-meja panjang berisikan aneka makanan di atasnya. Bayu berjalan di samping Karina.


Sesampainya di meja makanan, Karina langsung mengambil makan malam untuk Arion. Setelah selesai, Karina dan Bayu lansung kembali ke meja. (Lah kemana makanan yang di atas meja Karina sebelumnya? Apa habis dimakan? Jawabannya iya. Karina dengan lambung bercabangnya dan Bayu dengan rasa laparnya menghabiskan semua makanan di atas mejanya tadi). Jangan lupakan juga, Bayu yang ikut mengambil makanan lagi untuk mengatasi lambungnya yang kembali minta diisi.


Saat hampir tiba di mejanya, Karina berhenti sesaat dan menautkan alisnya melihat ada wanita lain yang duduk di kursinya tadi.


Wanita itu memegang tangan Arion mersa. Arion pun tampak tak bisa menolaknya. Bayu menatap heran Karina dan ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan apa yang dilihat Kakaknya ini.


Tunggu! Karina seperti familiar dengan wanita yang posisinya membelakangi dirinya. Hanya satu wanita yang berani melakukan itu. JOYA.


Karina menghembuskan nafas kasar. Ia sesaat lupa bahwa ini acara besar yang mengundang CEO perusahaan terbesar dan berpengaruh baik di negara sendiri ataupun di dunia.


Karina segera menghampiri mereka. Brak … Karina meletakkan kasar piring di meja . Arion dan Karina terperajat. Arion langsung menarik tangannya.


"Halo Nona Joya. Yang kau duduki adalah kursiku. Mohon segera pindah," ujar Karina penuh penekanan.


Joya tak beranjak dan malah menatap Karina tajam. Sepertinya ia sudah melupakan apa yang sudah ia alami jika berdekatan dengan Karina.


Karina tersenyum dan langsung menarik tangan Joya dari kursinya dengan kasar. Mata Arion membulat seketika.


"Tolong jaga sopan santunmu di sini. Jika kau mau bermain denganku akan aku ladeni kapan pun kau mau. Tapi tidak untuk malam ini!" bisik Karina di telinga Joya sebelum Karina melepaskan cekalannya dan langsung duduk di kursinya.


Joya mengusap lengannya yang memerah. Tak lama Reza datang menghampiri dan langsung melihat tangan Joya.


"Tanganmu kenapa Sayang?" tanya Reza khawatir. Arion bangkit dan langsung bertegur sapa dengan Reza.


"Halo Tuan Reza,"sapa Arion. Reza mengabaikan Arion dan menatap Joya meminta jawaban.


"Bukan apa Papa. Biasa masalah wanita," jawab Joya melirik Karina yang acuh dengan Bayu di pangkuannya. Reza mengikuti kemana iris mata Joya melirik.


"Kau yang membuat lengan putri seperti ini?" tanya Reza datar.


"Iya,"jawab Karina santai tanpa menoleh ke arah Reza dan Joya.


Sedangkan Arion berusaha menenangkan Karina dan Joya dengan menjelaskan apa yang terjadi.


"Maaf Tuan Reza. Istri saya tak sengaja," tegas Arion.


"Arion kamu bela dia?" tanya Joya tak percaya.


"Kenapa rupanya? Ada yang salah dengan aku membela istriku? Lagian itukan salah kamu langsung duduk di kursi Karina," jawab Arion datar.


"Kamu …," kesal Joya.


"Lagipula anak Anda keganjengan sama suami saya. Sudah tau Arion sudah beristri masih saja mengganggu. Lebih baik cari saja pria lain," jawab Karina santai.


Keributan mereka memancing perhatian tamu lain. Tidak ingin menjadi pusat perhatian lebih jauh, Reza langsung menarik Joya meninggalkan meja Karina. Tentu saja Joya meronta.


"Dadah … itu baru bapak yang perhatian bukan menjerumuskan," komentar Karina melambaikan tangannya.


Arion masih belum bisa bernafas lega. Soalnya Karina menatapnya dengan senyum penuh maksud.


"Dia bilang apa?" tanya Karina.


"Joya cuma mau pamit untuk terapi jantung di luar negeri untuk waktu yang tidak ditentukan," jawab Arion.


"Oh … pamit berobat. Aku kira pamit ke alam baka," angguk Karina santai. Arion tertawa canggung. Ia memutuskan untuk menyantap makan malam yang Karina ambilkan tadi.


"Hai kakak tampan apa boleh aku berkenalan denganmu?" tanya seorang anak kecil malu-malu pada Bayu. Bayu turun dari pangkuan Karina dan menatap datar anak perempuan itu.


"Tidak tertarik," sahut Bayu dingin. Arion


hampir tersedak mendengar jawaban Bayu.


Nih anak dingin amat? batin Arion.


Karina malah tersenyum tipis. Anak perempuan itu menatap Bayu dengan mata berkaca-kaca.


"Bayu jangan gitu. Gih kenalan aja. Gak ada salahnya kok," ujar Karina. Bayu melirik Karina dan mengulurkan tangannya pada anak perempuan itu.


"Bayu," singkat perkenalan Bayu. Anak perempuan itu langsung tersenyum dan membalas uluran tangan Bayu perlahan.


"Silsilia Amanda Graham,"ujar Lia pelan bahkan tak terdengar jelas memperkenalkan dirinya.


"Silsilah?" beo Bayu yang tak mendengarnya dengan jelas.


"Silsilia Bayu," ralat Karina.


"Kamu cucu keluarga Graham? Putri dari siapa?" tanya Arion melihat Lia.


"Putri dari Erick Graham dan Lestari Ayunda Graham," jawab Lia tersenyum. Bayu menatap malas Lia. Agaknya sifat Karina sudah turun padanya.


"Lia," seru seorang wanita.

__ADS_1


"Ibu?" kaget Lia lansung sembunyi di bawah kolong meja Karina. Tak lama seorang wanita berusia sekitar 27 tahun menghampiri meja mereka.


__ADS_2