
Satu hari berlalu, hari ini adalah hari Sabtu. Sabtu melambangkan bumi atau tanah. Orang yang lahir hari Sabtu sifatnya keras kepala, tidak mau mengalah dan merasa benar sendiri, tapi dari segi sifat baiknya adalah orang yang penuh semangat, pantang menyerah dan percaya diri.
Filosofi ini agaknya sesuai dengan Karina. Lahir pada tanggal 12 November dan memiliki zodiak scorpio.
Karakter dan sifat zodiak ini pun melekat erat pada diri Karina. Ia akan menjadi malaikat jika berada di tengah-tengah orang yang setia, tulus dan baik.
Namun, di mata musuh-musuhnya Karina bagaikan malaikat maut yang siap mengambil nyawa mereka dengan cara yang sadis.
Dendam dalam hatinya belum terbalas sepenuhnya. Masih ada duri yang membuat Karina tak puas dengan apa yang ia capai saat ini. Terkecuali adalah Arion, Karina sangat bersyukur bersama Arion yang menerimanya apa adanya. Bahkan Arion tak curiga dengan identitas aslinya.
Namun, kadang hatinya kalut saat membayangkan identitas aslinya terbongkar. Akankah Arion masih menjadi Arion yang sekarang? Yang mencintai dan menyayanginya? Apakah sikap mertuanya akan sama seperti sekarang? Perlakuan Maria membuat Karina merasakan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tak ia rasakan.
Ataukah Arion akan kecewa? Marah? Atau Pergi meninggalkannya sendirian? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
***
Karina berangkat pergi ke cafe dengan wajah ditekuk. Bagaimana tidak? Kini ia harus menggunakan kursi roda dan sopir pribadi. Padahal menurutnya kakinya sudah tak apa. Tapi suami dan kedua mertuanya mengatakan itu penting dan tidak dapat dibantah.
Awalnya, Arion menyarankan agar pergi bersama namun Karina menolak. Tujuan ia keluar bukan hanya ke cafe. Jika ia pergi bersama Arion maka akan sulit untuk pergi sendiri.
Perjalanan menuju cafe terasa membosankan. Hanya ada suara deru mesin mobil. Ah ya. Mobil yang Karina gunakan hari ini bukanlah mobilnya sendiri melainkan mobil yang terdapat di garasi kediaman Wijaya.
Bukan tak heran Karina tak menggunakan mobilnya sendiri sebab mobil Mercede Benz miliknya hanya bisa dikemudikan olehnya. Kemudinya dilengkapi dengan sidik jarinya serta ditambah oleh sensor suara yang hanya merespon Karina.
"Nyonya kita sudah sampai," ujar Didi, sopir Karina yang membuyarkan lamunan Karina.
"Ah ya," sahut Karina.
Dengan segera membuka pintu mobil dan menurunkan kakinya dari mobil.
"Nyonya kursi roda Anda," ujar Didi dengan membawa kursi roda. Karina menggerutu kesal.
"Kakiku sudah tak apa. Aku jalan tanpa itu," ucap Karina tak suka.
"Tapi Nyonya, ini perintah Tuan muda. Saya tak berani membantah," ucap Didi dengan nada memelas.
"Diakan tak tahu. Sudah aku jalan sendiri saja," ucap Karina tetap tak mau memakai kursi roda.
"Nyonya, Tuan mengawasi Anda dari atas. Saya mohon Nyonya, saya belum mau jadi pengangguran," bujuk Didi.
Karina menaikkan pandangannya ke atas. Menatap kaca ruangan suaminya yang dapat dilihat jelas dari tempatnya sekarang. Terlihat Arion berdiri di dekat jendela dan menatap dirinya dengan senyuman manis.
Kedua tangannya berada di saku celananya. Karina menatap Arion tajam dan menjulurkan lidahnya mengejek Arion.
Arion tampak menaikkan satu alisnya. Karina dengan wajah kesalnya duduk di kursi roda yang dibawa oleh Didi. Didi segera mendorong kursi roda masuk ke dalam cafe. Sebelum masuk, Karina mengacungkan jari tengahnya yang masih dapat dilihat jelas oleh Arion.
Mata Arion membulat melihatnya. Tak lama seringai terukir di wajahnya.
"Hmm … Sabtu malam Minggu. Bersiaplah Sayang … aku akan memakanmu sampai habis," ucap Arion. Ia beralih menuju meja kerjanya. Waktu menunjukkan pukul 10.00.
***
Siska dan teman-temannya heran melihat Karina yang masuk dengan kursi roda. Mereka segera menghampiri Karina dan Didi. Dengan cepat Karina memberi kode agar Siska mengambil alih untuk mendorong kursi rodanya.
"Tuan, biar saya saja yang mendorong kursi roda Bos," ucap Siska tegas seakan memberi perintah.
"Maaf. Tidak bisa. Ini amanat dari Tuan muda untuk saya berada di dekat Nyonya muda selama Nyonya muda berada di luar," tolak Didi tegas.
__ADS_1
Usianya baru saja menginjak 25 tahun, ya masih sangat muda. Ia adalah salah seorang orang kepercayaan Arion.
"Didi ini cafeku. Kamu tunggu saja di mobil atau di mana gitu," perintah Karina.
"Maaf Nyonya. Saya akan tetap di sisi Nyonya," tegas Didi.
Lama-lama nih orang nyebelin kayak Arion deh. Tetap di sisiku? Memangnya di suamiku gitu? Cukup Arion satu saja, batin kesal Karina mendengus kesal.
"Terserahmu saja. Tapi jangan masuk ke dalam ruanganku," putus Karina menjalankan kursi rodanya sendiri.
"Eh … Nyonya Muda tunggu saya," ucap Didi kaget dan berniat menyusul Karina namun dihalangi oleh Siska and the Genk.
"Maaf Tuan. Anda disini saja," ucap Siska menahan pundak Didi.
Didi berusaha meronta namun tatapan tajam dan seringai Siska and the Genk membuatnya mengalah.
Si*l!! Andai saja bukan wanita akan kuhabisi kalian. Untung saja wanita. Tapi mengapa tatapan mereka layaknya bertemu musuh?umpat Didi dalam hati.
"Oke. Di mana aku bisa menunggu Nyonya selesai di sini?" tanya Didi seraya mengangkat kedua tangannya ke atas tanda pasrah.
"Terserah. Mau di mana. Kami tak peduli asalkan tidak mengganggu kenyamanan Bos dan kami," jawab Siska melangkahkan kakinya ke tempat dia tadi berada sebelum Karina datang. Yang lain pun mengikut.
"Terserahku bukan?" gumam Didi. Dengan langkah tergesa Didi melangkah kakinya menuju pintu ruangan Karina dan membawa sebuah kursi kemudian duduk di samping pintu ruangan Karina yang tertutup rapat.
Di dalam, Karina mengumpat kesal.
"Membuatku kesal saja. Padahalkan mobilku bisa pakai mode suara. Tapi tak mungkin ku beritahu. Bisa gawat nantinya," kesal Karina.
Karina melirik pesawat telepon di mejanya. Karina mengangkatnya dan menyambungkannya pada Siska.
"Saya Bos," ucap Siska.
"Maksud Anda siapa?"tanya Siska tak tahu.
"Pria yang bersamaku tadi," jawab Karina malas. Siska mengedarkan pandangannya.
"Dia duduk di depan pintu ruangan Anda, Bos," ucap Siska.
"Ck …," kesal Karina menutup telepon.
Karina memijat pelipisnya pelan.
Bagaimana aku bisa lepas dari anak ini? batin Karina.
Karina melirik handphone dan juga lemari buku di sampingnya. Senyum Karina mengembang. Karina meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Ke cafe sekarang. Tunggu aku di belakang cafe," perintah Karina saat panggilan dijawab.
"Baik," sahut orang itu.
Karina mengakhiri panggilan dan meletakkannya kembali.
"Heh? Mau mengikuti dan mengawasiku? Mimpi saja!" desis Karina. Sembari menunggu orang suruhannya, Karina mengecek laporan cafe.
***
Di sebuah ruangan serba berwarna putih, terdapat dua orang dengan tatapan tajam pada salah seorangnya, ia duduk di kursi dengan bersilang tangan di dada. Sedangkan satu lagi berdiri dan menunduk takut.
__ADS_1
"Bagaimana? Sudah kamu dapatkan informasinya?" tanya Pria dengan tatapan tajam.
"Sudah Tuan. Tetapi kami tak menemukan namanya tercatat di manapun. Tak ada catatan akan kejadian kala itu," jawab Pria yang menunduk.
"Hmm … bagaimana bisa? Bagaimana dengan tugas beberapa bulan lalu? Apa ada perkembangan?" tanya Pria tatapan tajam itu lagi.
"Kami masih terus mencarinya Tuan."
Brak ….
Pria yang menunduk itu semakin menunduk takut akan Tuannya yang mulai murka.
"Jadi apa yang kalian kerjakan selama ini? Jika ditanya jawabannya masih terus mencari. Kalian cari di mana? Lubang semut? Aku butuh jawaban pasti bukan jawaban ini. Keluar. Aku mau informasinya secepatnya. Jika tidak bersiaplah mati!" bentak Pria itu. Tanpa suara ia segera keluar dari ruangan itu menyisakan Pria yang masih marah.
"Cih … semakin kemari semakin payah saja mereka," gerutu Pria itu.
****
Saat sedang fokus pada pekerjaannya, Arion tanpa sadar dan tak tahu dari mana asalnya teringat nama belakang Karina.
Nama Sanjaya memang banyak namun nama Tirta Sanjaya, Arion merasa pernah sedikit mendengarnya waktu kecil. Ia menghentikan pekerjaannya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
" Mengapa baru ku sadari sekarang?" gumam Arion.
Memastikan rasa penasarannya, Arion melangkahkan kakinya keluar menuju ruangan Amri, yang hari ini Amri berkunjung ke kantor.
Arion mengetuk pintu ruangan Amri.
"Masuk!"
Terdengar suara tegas Amri dari dalam. Arion membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk lalu duduk di kursi tepat di hadapan Amri yang dipisahkan oleh meja kerja.
"Tumben kamu kemari? Ada masalah apa? Sampai kamu harus menemui Papa?" tanya Amri.
"Hmm … apa Papa pernah mendengar nama keluarga Sanjaya?" tanya Arion pelan. Dahi Amri mengerut. Ia bingung dengan pertanyaan Arion.
"Keluarga Sanjaya? Yang mana? Bukankah banyak sekali di dunia ini? Nama belakang istrimu juga Sanjaya bukan?" tanya balik Amri. Arion terdiam.
"Kamu tak biasanya peduli dengan itu? Apa kamu curiga dengan Karina? Mengapa baru sekarang?" tanya Amri lagi.
"Ar cuma teringat Pa. Ar penasaran dengan nama Tirta Sanjaya yang melekat dalam nama Karina. Ar seperti pernah mendengarnya sekilas," jelas Arion.
"Tirta Sanjaya?" gumam Amri. Ia memejamkan matanya sesaat. Mencoba menggali ingatan.
"Hmm … Papa ingat. Jika tidak salah hanya ada satu keluarga yang memiliki nama itu. Dia tak lain adalah kepala kepolisian dan pemilik Tirta Corp yang sempat bersaing dengan perusahaan kita puluhan tahun lalu, David Tirta Sanjaya. Namun sepuluh tahun lalu, keluarga itu ditemukan tewas bersimbah darah di kediaman mereka di kota S," terang Amri.
"David Tirta Sanjaya? Karina Stephenson Tirta Sanjaya? Enji Tirta Sanjaya? Mengapa nama belakangnya sama persis?" gumam Arion.
"Astaga!? Papa baru menyadarinya. Tapi bagaimana mungkin mereka keturunan Tirta Sanjaya? Tak ada yang selamat dari pembunuhan itu. Bahkan adik Tirta Sanjaya juga menghilang dan sampai sekarang tak ada yang tahu bagaimana keadaannya. Apakah sudah tewas atau bagaimana?" seru Amri.
"Papa benar. Tapi ini pantas dicari tahu," ucap Arion.
Rasa penasarannya membuncah. Amri menyetujuinya. Ia pun sangat ingin tahu jati diri asli Karina. Kadang ia heran dengan Karina, menurutkan jika di keluarga lain, pasti para menantu perempuan berusaha memenangkan hati para mertua mereka.
Bersikap sopan dan lembut dan menurut. Namun berbeda dengan menantu satu-satunya ini, Karina tak segan menatap tajam bahkan meneriaki dirinya jika Karina tak senang akan suatu hal dari perilakunya.
"Papa akan suruh orang terbaik kita mencari tahunya," ucap Amri.
__ADS_1
Arion mengangguk menyetujui dan segera pamit kembali ke ruangannya.