Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 162


__ADS_3

"Dia siapa Ma?" tanya Ferry menatap lekat Siska. 


Nia tersenyum. Tangan Siska masih berada di pundak Ferry. Siska diam tak berkata.


"Ingat nama yang kamu ingat saat bangun kemarin?" tanya Nia lembut.


Dahi Ferry mengernyit. Tak lama ia mengangguk.


"Siska ya?" tanya Ferry.


"Benar. Dia Siska, calon istrimu," jelas Nia. Ferry berdiri dan melangkah ke samping Siska.


Nia dengan segera menautkan kedua tangan Siska dan Ferry.


"Berbicaralah, Mama tinggal dulu," ucap Nia menatap bergantian Ferry dan Siska.


"Baik Ma," jawab Siska pelan. Nia segera melangkahkan kakinya pergi. Ferry dan Siska saling tatap. Merasa ada dorongan yang kuat, Ferry sontak memeluk Siska. Siska tersentak kaget namun membalas pelukan Ferry.


"Aku tak ingat apapun kecuali namamu," ucap lirik Ferry.


"Aku senang kau mengingat namaku, tapi aku sedih kau melupakan wajahku dan semua orang yang kau kenal dulu," balas Siska.


"Maaf, namanya juga aku hilang ingatan," tutur Ferry. Ferry melepas pelukannya dan mengajak Siska duduk di bangku. Wajahnya menatap lekat wajah Siska hingga membuat Siska risih dan malu.


"Aku masih belum yakin kau adalah Siska," ucap Ferry tiba-tiba yang membuat Siska membelalakan matanya, melotot menatap Ferry kesal.


"Jadi kenapa kau memeluk tadi?" ketus Siska. Ferry tampak menautkan alisnya bingung.


"Ada dorongan," jawab Ferry.


Siska mendengus. Dengan cepat ia mengambil handphone-nya dan memperlihatkan isi galeri handphone-nya pada Ferry. Membuka galeri dengan nama We Stories.


Di sana terangkum lengkap foto keduanya, beserta tanggal dan hal apa yang terjadi sebagai caption foto tersebut.


"Lihat, ini fotomu dan diriku tentunya, selama pacaran," tutur Siska.


Ferry menscoll lebih jauh lagi isi galeri Siska. Ia sendiri masih tampak bingung. Dahinya kembali mengeryit. Ferry menyentuh kepalanya yang terasa pusing dan berat.


Siska menatap itu dengan datar. 


"Jangan dipaksa jika tak mau kau kehilangan ingatan untuk selamanya," tegur Siska. Ferry yang memejamkan matanya, langsung membuka mata dan menatap Siska lagi.


"Ceritakan tentang diriku yang kau tahu, aku ingin mendengarnya," titah Ferry.


"Apa Mama dan Papa tak cerita tentang dirimu sendiri padamu?" heran Siska.


"Sudah. Tapi aku ingin dengan dari bibirmu. Kau kan orang terdekatku. Pasti tahu dong hal-hal tertentu yang tidak diketahui orang lain," ujar Ferry. 


Siska menarik nafasnya dan mulai bercerita. Awal pertemuan, perjuangan Ferry untuk mendapatkan perhatiannya, kapan mereka jadian dan hal apa saja yang mereka lakukan dan terakhir adalah masalah kecelakaan yang menimpa Ferry dan Arion.


Ferry mendengarkan dengan teliti dan cermat. Setelah Siska mengakhiri ceritanya, Ferry langsung menyampaikan pertanyaannya.


"Lantas di mana Tuan Arion sekarang?" tanya Ferry.


"Di negaranya," jawab Siska.


"Lalu ini di negara mana?" tanya Ferry lagi.


"Negara F, negara aslimu. Kau kan menjadi sekretaris di perusahaan orang, di negara orang juga, padahal kau sendiri adalah pewaris dari perusahaan yang cukup terpandang di sini. Heran aku denganmu," jelas Siska.


"Oh begitu. Lantas bagaimana keadaan Tuanku itu?" tanya Ferry lagi. Siska menggeleng. Ia mengambil handphone-nya dan mencari nomor handphone Karina. Bermaksud melakukan panggilan video. 


Ferry mengamati apa yang Siska lakukan. 


Gelengan kepala apakah itu artinya buruk?batin Ferry.


Setelah beberapa kali panggilan, panggilan ke lima barulah dijawab. Tapi bukan wajah Karina yang terlihat tetapi wajah Tata, Chimmy, Kuki serta Koya.


Siska mengerutkan dahinya. Apa Nonanya pergi tanpa membawa handphone? Kan biasanya Karina melarang siapapun menyentuh handphone-nya. Ini kok bisa diangkat oleh orang lain.


"Halo Nona, kita pernah bertemu kemarin bukan? Anda pegawai di cafe Karina, iya kan?" sapa Koya ramah.


"Hei, siapa Tuanku di antara pria muda itu? Mereka tampak oke-oke saja," tanya Ferry mendekatkan wajahnya pada Siska, menampilkan wajahnya di layar handphonenya.


"Benar, tapi di mana Nonaku? Kok handphone-nya ada pada kalian?" tanya Siska penasaran. Mendorong wajah Ferry agar menjauh darinya. Gugup rasanya.


"Oh Karina memang keluar. Entah karena lupa atau bagaimana dia meninggalkan handphone-nya di atas meja," jelas Kuki.


"Dengan Tuan Arion juga kah?" tanya Siska lagi.


"Tidak, Karina keluar sendiri. Arion hyung duduk di atas ranjangnya, bersama tiga rekan kami," jelas Chimmy.

__ADS_1


Menukar kamera menjadi kamera belakang dan memperlihatkan Arion, RJ, Agus dan Mang yang tengah bercengkrama. Wajah keempatnya berseri-seri senang. 


Hanya beberapa detik saja, Tata mengembalikan kamera menjadi kamera depan.


"Aku ingin berbicara dengan Tuan Arion, bisakah?" ucap Siska.


"Tentu saja boleh dong," sahut Tata 


Tata lantas membawa handphone Karina mendekati keempat orang yang pisah letak duduk dengannya tadi. 


"Arion Hyung, pegawai cafe yang semalam ingin berbicara denganmu," ujar Tata. Menghentikan percakapan Arion, Mang, Agus dan RJ.


"Selamat siang, Tuan," sapa Siska.


"Siska? Kamu kah itu?" tanya Arion.


"Benar Tuan, ini saya," sahut Siska.


"Hm kamu sudah tiba di sana? Mana Ferry? Aku ingin berbicara dengannya," ujar Arion mengulas senyum di wajahnya.


Siska mendekatkan wajahnya ke wajah Ferry serta mengarahkan layar handphone ke wajah mereka berdua. 


"Bicaralah, yang pakai pakaian rumah sakit itu Arion," ucap Siska pada Ferry.


"Dia buta?" terka Ferry pelan, namun terdengar oleh telinga tajam Arion.


"Jangan meledekku Ferry! Aku sebentar lagi akan menjalani operasi donor mata. Lebih baik kau istirahat dan berusaha mengingat kembali ingatanmu. Tugas kita telah menumpuk di kantor," ucap Arion tegas. Ferry tertegun dan menaikkan satu alisnya.


"Jadi kamu yang namanya Ferry?" tanya Agus.


"Yes I'm Ferry," jawab Ferry.


Setelah berbincang sejenak, panggilan berakhir. Ferry telah mendapatkan keputusan hatinya. Hatinya mantap percaya pada apa yang dikatakan Siska. 


"Terima kasih telah sabar dengan keraguab hatiku yang tak percaya pada ceritamu," tutur Ferry.


"Sudah seharusnya. Ingatlah satu hal, kami woman Pedang Biru bukanlah wanita biasa pada umumnya. Kami akan mencari jawaban yang sebenarnya atas apa yang ada di depan kami. Masalah hati, kami penyabar. Tenang saja, aku tidak gegabah kok, kami hanya percaya dengan apa yang kami lihat dan ketahui kebenarannya. Kami tak akan percaya hasutan atau ucapan yang bertentangan dengan hati serta yang tidak kami ketahui kebenarannya. Apalagi hanya dari satu sumber. Jadi yang tadi itu hanya sebagian kecil saja dari," terang Siska.


Ferry tersenyum dan mengangguk.


"Boleh aku memelukmu?" tanya Ferry.


Siska menaikkan satu alisnya dan tersenyum.


Hal itu tak terlepas dari penglihatan Nia yang sebenarnya hanya pergi beberapa meter dan bersembunyi. Ia menghela nafas lega dan bahagia.


Nia segera keluar dari persembunyiannya dan menghampiri keduanya. Mengajak mereka kembali ke ruangan Ferry sebab sudah jadwalnya Ferry diperiksa oleh dokter lagi.  Dan jadwal makan siang tentunya.


***


Ting. Denting lift tiba di lantai 3. Karina melangkahkan kakinya keluar dari lift dengan menenteng dua buah plastik berisikan cemilan untuk ia, Arion dan ketujuh member itu tentunya. Ia baru saja kembali dari. rumahnya, saat jalan pulang ia singgah di minimarket dan membeli apa yang ia bawa sekarang.


Handphone-nya memang sengaja ia tinggalkan. Langkah Karina terhenti beberapa meter dari pintu ruangan tempat di mana pendonor mata Arion berada.


Dahinya mengernyit melihat ada seorang perawat berjenis kelamin pria, memakai masker dan membawa sebuah nampan berisi sebuah mangkuk dan beberapa botol obat-obatan.


Karina melihat jam di pergelangan tangannya. Ia kembali menoleh ke arah perawat yang gerak-geriknya aneh menurut Karina.


"Aneh, inikan bukan jadwalnya, siapa dia? Ada yang tak beres," gumam Karina.


Karina meletakkan asal apa yang ia bawa di bangku rumah sakit dan segera menuju ruangan tempat di mana pendonor Arion dirawat.


Dengan perlahan Karina membuka pintu, ia mengintip dan melihat, terlihat perawat aneh itu mengambil jarum suntik dan berniat menyuntikkan sesuatu pada pendonor mata yang tertidur.


Dengan segera Karina melangkah dan menghentikannya.


Perawat itu tampak panik namun tetap berusaha tenang.


"Siapa kamu? Kamu bukan perawat yang biasa menanganinya serta ini juga bukan jadwalnya. Kau juga mencurigakan. Buka maskermu!" tegur Karina dingin. Hal itu membuat Ridho terbangun. 


"Ada apa Nona?" tanya serak Ridho.


"Bukan apa, hanya ada yang mau mencelakaimu, hei jawab aku!" jawab Karina datar.


"Em, saya memang bukan perawat yang biasa merawat beliau. Suster yang biasa sedang izin satu jam lalu. Jadi sayalah yang menggantikannya. Maaf ini salah saya, saya salah membaca jadwal," ucap Perawat tersebut, seraya menurunkan maskernya.


Karina menarik senyum tipis. Ridho hanya menyimak sebab tak tahu apa yang terjadi. Perawat itu segera membungkuk dan menggapai nampan di atas meja lalu berniat undur diri.


"Tunggu!" tegas Karina, membuat perawat yang telah membelakanginya terhenti. Dengan ragu pelayan itu menoleh dan tersenyum ramah.


"Ada apa Nona?" tanya Perawat itu.

__ADS_1


"Boleh aku lihat apa saja yang ada di nampan itu?" tunjuk Karina.


"Em ini hanya obat dan vitamin Nona, bukan apa-apa," jawabnya mencoba tenang.


"Lalu yang di mangkuk itu? Itu terlihat seperti sup. Apa kau tahu dia ini akan melakukan operasi?" Karina menatap tajam perawat tersebut.


Karina berjalan memutari perawat itu. Perawat itu menelan ludah takut. Bulir-bulir keringat mengalir dari pelipisnya. 


Karina berhenti di depannya dan mengambil tiga botol yang berada di nampan. Karina melihat tulisan di botol tersebut dan mencium aromanya. Karina menganggukkan kepalanya pelan.


Ini memang obat dan vitamin, batin Karina.


Karina lantas mengambil mangkuk sup dan membuka plastik yang menutupnya. Karina menilik ekspresi perawat itu. 


Cemas, gugup dan takut. Karina menarik sudut bibirnya sinis dan melemparkan isi mangkuk isi ke wajah sang perawat. Ridho tertegun melihat dan mendengar suara kesakitan sang perawat. 


Wajahnya melepuh, matanya terpejam rapat. Ia berteriak kesakitan seraya memegang wajahnya. Karina menyeringai.


Dengan segera ia mengambil handphonenya yang lain di tas selempangnya dan menghubungi pengawalnya. Tak butuh waktu lama, empat orang berseragam hitam masuk dan menyeret perawat gadungan yang wajahnya telah rusak.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya heran dan bingung Ridho menatap Karina.


"Sup itu ada campurannya. Jika itu kamu konsumsi tadi, itu akan membuat matamu rusak dari dalam. Sedangkan jika seperti tadi, wajah dan matanya yang akan rusak. Ada musuhku yang tak ingin Arion sembuh," jelas Karina.


"Astaga! Syukurlah aku selamat dan mataku baik-baik saja. Jika tidak aku pasti akan sangat menyesal dan sedih. Jikalau pun aku tiada tadi, pasti aku mati dengan membawa penyesalan," ucap Ridho mengelus dadanya.


"Hm, mengenai hal itu. Kau siap dengan semua konsekuensinya bukan? Perjanjiannya yang aku kirimkan pada keluargamu telah dikembalikan dan ditandatangani. Resikonya adalah nyawa," tanya Karina meminta kepastian sekali lagi.


Sebab ini tak melalui lembaga apapun, hanya pribadi dan pribadi. Tanpa perantara.


Ridho mengangguk tegas dan mantap. Karina menghela nafas panjang. Karina menepuk pundak Ridho.


"Baiklah jika begitu. Istirahatlah. Jadwal operasinya pukul 17.00 nanti bukan?" ujar Karina.


"Em," gumam Ridho lanjut istirahat.


Karina lantas segera keluar dari ruangan Ridho. Karina kembali ke tempat di mana ia tadi meletakkan barang belanjaannya. Karina tersenyum cerah melihat barangnya tak kurang satupun. Dengan langkah riang berjalan menuju ruang rawat Arion.


"Dari mana saja kamu Sayang?" tanya Arion yang dapat merasakan kehadiran Karina tanpa melihat.


"Rumah," jawab Karina menyerahkan apa yang dibawanya pada ketujuh orang lainnya yang satu ruang dengannya dan Arion.


"Terima kasih, Karina," ucap RJ.


"Sama-sama," sahut Karina.


"Mengapa auramu suram sekali? Ada masalah apa?" tanya Arion penasaran.


"Lantas mengapa wajahmu senang sekali? Ada hal lain selain kabar jadwal operasimu?" tanya balik Karina menaikkan satu alisnya.


"Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan! Jawab dulu aku baru aku akan menjawabmu," tegas Arion.


Karina menggenggam jemari Arion dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang. 


"Ada yang mau merusak mata Ridho," ujar Karina. Dahi Arion mengeryit. Tak lama ia mengeraskan rahangnya. Nafasnya menderu.


"Siapa mereka?" tanya Arion geram.


"Entahlah, masih diintrograsi oleh para pengawalku," jawab Karina.


"Tapi dia baik-baik saja kan?" tanya Arion.


"Ya dia baik, untungnya aku lekas mencegahnya. Jika tidak aku tak tahu apa yang terjadi sekarang," jelas Karina.


"Baguslah," ucap lega Arion.


"Lalu bagaimana dengan pertanyaanku?" tanya Karina.


Arion tersenyum. 


"Tadi Siska melakukan panggilan video ke handphone-mu. Kau meninggalkan handphone-mu di meja sofa. Karena kau tak ada, maka Kuki yang mengangkatnya. Dia sudah tiba di sana dan bertemu dengan kekasih tercintanya itu," terang Arion.


"Oh, baguslah. Aku kira akan terjadi drama yang buat mewek. Ternyata Siska seperti denganku. Oh ya apa saja yang Ferry katakan?" tanya Karina penasaran.


"Dia mengatakan ingin cepat mendapatkan kembali ingatannya dan ingin cepat masuk kerja lagi denganku. Aneh rasanya jadi orang tanpa ingatan masa lalu, hampa," jelas Arion.


"Hm, semua yang kehilangan ingatan pasti ingin cepat mendapatkan kembali ingatannya Ar, sudahlah kau istirahat lagi. Aku akan memeriksa pekerjaanku dulu," ujar Karina. Arion mengangguk.


Karina melangkah menuju dinding di mana ranjang portabel berada. Menekan tombolnya dan merubah dinding menjadi ranjang. Para member terkagum. Mereka mendekat dan mengambil posisi masing-masing di atas ranjang. Untung ukurannya king size, jadi Karina tak masalah. 


Karina lantas meminta laptopnya yang ada pada Agus. Setelah berada di tangan Karina langsung membuka emailnya.

__ADS_1


"Akusisi perusahaan AKA, teknologi gambar mereka yang terbaik dari semua perusahaan digital lainnya. Mereka sedang di fase lemah," titah Karina pada Lila melalui panggilan telepon.


__ADS_2