Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 228


__ADS_3

Lila dan Raina melangkahkan kaki mereka keluar dari lobby perusahaan KS Tirta Grub. Wajah keduanya tampak lelah. Perut yang sudah menonjol menjadi salah satu alasan mereka mudah lelah. Lila dan Raina lantas menuju parkiran di mana kendaraan roda empat mereka berada.


"Lil, loe langsung pulang?" tanya Raina, ia menyandarkan tubuhnya di body mobil Lila. Lila menggeleng, membuat Raina mengeryit, tidak biasanya Lila ingin melalak dulu, biasanya kan langsung go to home Anggara.


"Oh, loe mau ajak gue shopping ya?" terka Raina lagi dengan mata berbinar. Lila menggeleng, Raina mengerucurkan bibirnya.


"Jadi?" Raina ngegas dan menatap Lila tidak sabar.


"Gue mau ke perusahaan suami gue, kangen," jawab Lila, dengan senyuman manisnya. Raina mendengus sebal. 


"Gue menemukan satu fakta baru, bahwa Lila yang biasanya bucin dan kangen sama dokumen, kini bucin dan kangen dengan seorang pria," ujar Raina, meledek Lila. Lila mendengus dan membuka pintu mobilnya.


"Dia itu lelaki gue, wajarlah gue bucinin. Loe sendiri bagaimana? Sudahlah, sama-sama bucin itu harusnya saling mendukung bukan saling menjatuhkan dan meledek."


Lila memegang kemudi mobilnya dan menoleh ke arah Raina yang menatapnya dengan alisnya terangkat dua-dua.


"Iya-iya. Gue paham. Tapi, tumben. Adakah alasannya?"


Raina masih penasaran dengan sahabat, rekan kerja dan saudaranya itu.


"Ini, ini kangen sama Papanya. Mau nunggu sampai Sam  pulang kerja, rasanya enggak tahan, terlalu lama. Mendingan gue ke perusahaan Sam sajakan?" jelas Lila memegang perutnya. Raina mengangguk paham.


"Ya sudah, hati-hati loe, jangan ngebut," pesan Raina, berdiri tegak dan berjalan menuju memasuki mobilnya.


"Ya, loe juga!" sahut Raina, menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan parkiran. Diikuti oleh mobil yang dikemudian Raina. Mereka melaju beriringan dan berpisah di pertigaan.


Tiba di Anggara Company, Lila langsung menuju lift, dan jangan lupakan wajah datar dilengkapi hanya dengan senyum tipis. Mengangguk saat karyawan perusahaan menyapanya.


Tiba di lantai ruangan Sam, Lila mengeryit tidak mendapati sekretaris yang biasanya bertempat di samping pintu ruangan Sam tidak ada. 


"Meeting kali ya?" pikir Lila, membuka pintu.


Dahinya mengeryit dengan tatapan terkejut mendapati suami dan seorang wanita yang tidak ia kenal berpelukan dengan bibir menempel. Belum lagi, tatapan mereka yang sangat dekat, seakan ada melodi romantis yang mengiringi, mereka tidak menyadari kehadiran Lila. 


Lila berdehem dengan hati memanas, wajahnya menggelap. Sam dan wanita itu tampak terkesiap. Sam sontak melepaskan pegangannya dan mendorong wanita itu. Sam menunjukkan wajah yang memucat mendapati Lila berjalan ke arahnya dengan tatapan membunuh.


"Sialan! Ternyata ini kelakuanmu!" Lila menarik kerah baju Sam, membuat Sam harus menatap mata marah Lila.


"Sayang, ini ada kesalahpahaman, aku … aku tidak sengaja. Aku hanya menolongnya!"


Sam berkata dengan lirik dan rasa cemas yang menjalar. Lila mendengus dan mengarahkan tatapannya pada wanita yang berada di samping Sam. Wajah wanita itu menunduk, namun Lila menangkap sinyal kepuasan di sana. 


Lila lalu menghempaskan Sam, membuat Sam membentur meja kerjanya sendiri.


"Hoh, ini wanita yang kau cium," ucap dingin, meneliti tampilan wanita itu. Wanita itu mengangkat wajahnya dan senyum sinis menatap Lila. Lila tampak terpengarah, tak lama ia tertawa terbahak.


"Putri keluarga Pratama rupanya, Dayana Pratama, benarkan?"


Wajah sinis Wanita itu semakin lebar saat Lila tahu siapa dirinya.

__ADS_1


"Baguslah kau sudah tahu, maka aku tak perlu lagi memperkenalkan diriku padamu, salam dari calon madumu." 


Lila melebarkan matanya mendengar kata ia mau di madu, Sam juga tampak terbelalak. Mau membantah ucapan Dayana, namun diduluain suara gemaan yang cukup kuat. Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Dayana.


Dayana meringis dan memegang pipinya yang panas dan sakit di saat bersamaan, sangking kuatnya, bibir Dayana pecah dan tampak mengeluarkan darah.


Lila menyeringai. Wajah Dayana memerah marah dan emosi, ia menatap nyalang Lila.


"Jaga bicara sialan! Beraninya kau mengatakan hal itu! Atas dasar apa suamiku mau memaduku? Kalaupun iya, kau bukanlah levelnya. Kau itu, di bawah rata-rata!"


Lila mencengkram erat tangan Dayana disertai dengan seringai yang menyeramkan. Sam mencoba menertalkan emosi Lila yang menggebu. Tapi, tenaga wanita emosi lebih kuat, Lila malah terpelanting ke belakang. 


Dayana, kini wajahnya menunduk tidak berani menatap Lila.


"Atas dasar apa hah? Jawab sialan!" Lila berseru dan menambah kekuatan cengkramannya.


Dengan memberanikan diri, Dayana membuka mulutnya yang terasa perih akibat bibir pecahnya.


"Atas dasar, kau sudah tidak menarik! Kau tidak bisa sekuat dulu melayani batin Sam. Kau tidak tahu model dan gaya. Tampilannya cenderung tomboy! Dan yang paling utama adalah, Sam sudah merenggut mahkotaku dan dia berjanji akan menikahiku!" jawab lirik Dayana namun penuh tekanan. 


"Bohong!" sambar Sam cepat, ia memijat pelipisnya merasa pusing.


Lila terperajat lagi, dan menghempaskan Dayana hingga tersungkur ke lantai. Dayana kembali meringis.


"Sam, apa aku memang seperti yang sialan itu katakan? Dan apakah kau memang mengambil kesuciannya?"


"Jawab," ucap pelan Lila.


"Itu tidak benar. Kamu adalah bidadari di hatiku, Lil. Sejak aku mengucapkan ijab qabul untukmu, sepenuhnya segalanya tentangmu, aku menerimanya. Tidak akan pernah berganti atau tergantikan. Masalah aku yang dikatakan mengambil kesucian Dayana, akan aku jelaskan detailnya. Tolong jangan  salah paham dan emosi berlebihan. Aku mohon maafkan aku yang tidak jujur kepadamu." Sam memeluk erat Lila, takut kehilangan. 


"Jadi, ini alasannya kamu tidak pulang kemarin lusa? Kamu bermalam bersama sialan itu?"


Suara Lila parau, kini rasa sakit hinggap di hatinya. Sam menggeleng keras. Lila melepaskan pelukannya.


"Tidak! Kamu salah, aku masih mencari tahu kebenarannya," sangkal Sam, memegang pipi Lila.


"Kebenaran apa lagi Sam? Jelas-jelas kau menggagahiku kemarin lusa, bahkan rasa sakitnya masih terasa hingga sekarang. Saksinya para pegawai di sana. Dan kau lihat sendirikan bercak darah saat kau bangun di sampingku? Kebenaran mana lagi yang mau kau sangkal Samuel Anggara?!"


Dayana berdiri dan memegang lengan Sam, yang sedang memegang pipi Lila.


"Diam! Singkirkan tanganmu dariku Dayana! Kau membuatku jijik!" bentak Sam, Dayana refleks menurunkan tangannya. Sam fokus pada Lila yang diam tidak memberikan respon. Tapi, lelehan air mata Lila menjawab kekhawatiran Sam. Segera Sam menarik Lila yang mematung. Meninggalkan Dayana yang menatap itu tidak rela. 


"Ck! Sialan!" gerutunya, meraih tasnya dan keluar ruangan Sam.


Di lift, Sam terus menenangkan Lila dengan memeluk dan mengucapkan kata maaf tiada henti. Tiba di lantai bawah, Sam tanpa izin menggendong Lila. Hal itu mendapat sorotan pertanyaan para karyawan yang lalu lalang di lobby. Bisik-bisik prasangkapun berkoar terlebih saat melihat Dayana yang keluar lift dengan wajah lebam dan tatapan kesal namun tidak meninggalkan kesan angkuhnya.


 Sam menuju mobilnya dan mendudukan Lila di kursi samping kemudi. Memakaikan sabuk pengaman dan segera melaju keluar parkiran. Tatapan Lila datar menatap depan. Sam diam, membiarkan Lila menenangkan diri. Ia meruntukkan sikapnya yang tertutup beberapa hari lalu. 


Shit! umpat Sam dalam hati. 

__ADS_1


Dayana, wanita itu adalah anak dari salah satu rekan bisnisnya. Saat itu, ia harus melakukan pertemuan bersama sekretarisnya di sebuah bar. Sam yang biasanya sangat tinggi toleransinya terhadap alkohol, malah goyah pada saat gelas ketiga. Disertai rasa panas yang aneh padanya. 


Sang sekretaris ia perintahkan untuk membawanya keluar bar. Namun, ditahan. Samar, Sam melihat sekretarinya dibekap dan ia dibawa oleh beberapa orang. Saat melawan dengan sisa tenaga yang ada, Sam malah merasa semakin panas. Terakhir yang Sam ingat adalah ada sesuatu yang dingin yang menyentuh dirinya dan membisikkan kata-kata menggoda.


Kini Sam memberhentikan mobilnya di taman kota. Sam lalu turun dan mengajak Lila untuk duduk di kursi taman. 


"Kamu, gak puas sama pelayananku ya? Apa karena aku hamil aku tidak secantik dan sesempurna dulu? Jawab Sam!"


Lila mengangkat pandangannya, menatap manik mata Sam yang bersimpuh di hadapannya dan memegang kedua tangannya.


"Semua itu hanya ucapannya, bukan ucapanku! Aku menerima kamu, kamu gendutan, karena mengandung anak aku. Kamu tidak pandai berdandan, emangnya aku permasalahkan? Dayana, wanita itu, aku memang terbangun di sampingnya pagi itu, kondisinya, juga aku melihat jejak kissmark di sana, sungguh aku tidak ingat. Lil, aku mohon percaya sama aku. Hanya kamu satu istriku selamanya. Hanya kamu mutiara hatiku. Hanya kamu, yang bertahta di hatiku. Selamanya, aku denganmu."


Lila menatap Sam dengan tatapan datarnya.


"Kalau itu benar, mari kita lihat kebenarannya. Ayo bermain! Jika kau kalah, kau harus melepasku. Sampai matipun tidak sudi aku dimadu, apalagi dengan wanita sialan itu! Jika kau benar, maka biarkan aku menghabisi wanita itu. Gunakan kekuasanmu sebagai salah satu ketua Black Diamond untuk mengusut tuntasnya. Aku tunggu hasilnya. Selama itu masih berjalan, kita pisah atap!" 


Setelah mengatakan itu, Lila berdiri dan beranjak meninggalkan Sam yang termenung. Saat mengalihkan tatapannya, Lila sudah hilang dari pandangannya.


Sam mengepalkan kedua tangannya erat. Wajahnya menggelap dan melangkah lebar menuju mobilnya. 


"Bodohnya aku! Mengapa aku lupa dengan statusku sendiri? Sekarang, Lila meninggalkanku, bahkan aku tidak tahu dia pergi ke mana? Mana sanggup aku pisah atap dengannya, belum lagi pertanyaan Mama dan Papa, harus jawab apa aku? Tidak! Aku harus segera bertindak! Calvin, gue butuh bantuan Calvin!"


Segera Sam menghidupkan mobil dan melaju menuju Alantas Company. Sam khawatir dengan keadaan Lila dan janinnya. Akan tetapi, Sam yakin Lila tidak akan melakukan hal bodoh dan menyiksa dirinya sendiri, Lila is wonder of Pedang Biru, wanita baja.


 *


*


*


Calvin membulatkan matanya mendengar cerita Sam serta permintaannya.


"Gila loe Sam, kurang apa lagi Lila sampai hati loe main api?"


"Loe yang tahu sendiri, sudah jelas jawabannya, Lila tidak ada kekurangan apapun. Hanya saja, gue butuh kebenaran malam itu untuk mempertahankan rumah tangga gue," ucap Sam serius.


"Loe, pasti sudah ambil tindakan sebelum ini kan?" tanya selidik Calvin. Sam mengangguk.


"Gue sudah menyelidinya. Akan tetapi, semua hasilnya tetap memberatkanku. Tidak ada rekaman CCTV di kamar itu, begitu ada, malah gambaran aku dirangkul seseorang masuk ke dalam kamar. Rasanya sulit sekali, dan memang gue belum ngerahi informan mafia, huh, gue bodoh kan?" jelas Sam. Calvin mengangguk menyetujui.


"Oke, ajak Arion?" sahut Calvin.


Sam menggeleng.


"Kita berdua saja. Kalau Ar tahu, otomatis Karina juga tahu, lebih gawat lagi urusannya nanti. Dan loe juga harus janji, lakukan itu tanpa sepengetahuan Raina. Kalau gak, loe dan gue bisa bye-bye world."


Calvin mengangguk mengerti.


"Gue paham. Kita main cantik. Kita mulai sekarang." Calvin tersenyum smirk diikuti dengan wajah datar Sam.

__ADS_1


__ADS_2