Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 96_Berdamai? Atau Rencana?_


__ADS_3

"Huh sangat mengesalkan," gerutu Karina setelah tiba di ruangannya. Terlihat Didi berjalan mendekati mereka.


"Nona bagaimana selanjutnya?" tanya Raina pelan.


"Tunggu saja," jawab Karina mengambil kunci mobil dan segera keluar. Tak lupa ia mengajak Didi pergi menuju cafe.


Saat di basement, Karina mengerutkan dahinya bingung melihat seorang pria yang membelakangi dirinya, tangannya memegang sebuah bucket bunga mawar merah yang dipadukan dengan mawar  putih, bunga kesukaan Karina.


Karina menebak siapa itu, punggung yang familiar, kaki jenjang juga sangat dihafalnya.


"Arion," gumam Karina berjalan mendekati pria itu. Pria itu berbalik, menatap Karina penuh kasih dan sayang. Senyum manis menghiasi wajahnya. Arion berlutut saat Karina berhenti satu langkah dari dirinya.


"I LOVE YOU," ucapnya lembut penuh cinta. Karina membeku, tak lama Karina menarik nafas panjang.


"Mengapa kau kemari?" tanya Karina datar.


"Akan ku jawab. Tapi terima dulu bunga ini," ucap Arion lembut. Perlahan tangan Karina terulur menerima bucket bunga itu, memegangnya erat. Arion kembali berdiri tegak. Memegang pundak Karina dan menatapnya penuh makna.


"Ayo kita akhiri permusuhan ini. Kita berdamai," ujar Arion pelan. Karina tersentak kaget.


"Benarkah? Kamu mau?" tanya Karina pelan.


"Benar. Yang lalu biarlah berlalu. Lebih baik sekarang kita fokus membangun sebuah kehidupan baru, dengan kepercayaan baru," jawab Arion.


Sontak, Karina langsung memeluk Arion erat, menenggelamkam wajahya ke dada bidang Arion. Arion membalas pelukan itu seraya mencium pucuk kepala Karina. Karina menumpahkan segela perasaannya, air mata meleleh tak mau berhenti. Arion melepas pelukan dan menghapus air mata Karina dengan jarinya.


"Aiya … mengapa istriku yang hebat ini menangis? Kau cengeng," tanya Arion heran.


"Memangnya orang hebat tidak boleh menangis apa? Kau juga menangis waktu bertengkar denganku. Kau juga cengeng," sahut Karina.


"Iya-iya. Aku cengeng," ucap Arion mengalah tak mau berdebat. Percuma saja berdebat, yang ada Karina akan membuatnya diam seribu bahasa, tak ada cela untuk menyangkal.


"Kita resmi berdamai bukan?" tanya Karina memastikan. Arion mengangguk. Senyum Karina mengembang sempurna. Mereka kembali berpelukan.


Didi yang jadi nyamuk dan menyaksikan itu hanya bisa mengelus dada, berharap ia akan segera memiliki kekasih maupun istri. Satu sisi ia juga bahagia sebab Nyonya dan Tuan mudanya sudah berbaikan. 


"Aku lapar," rengek Karina menunjukkan wajah imutnya.


"Lapar? Makan siang di cafe kamu saja," ujar Arion gemas tak tahan mencubit pipi Karina. Karina menampik tangan Arion, menatapnya kesal.


"Jangan cubit pipiku. Sakit tahu," kesal Karina merengut, memanyunkan bibirnya ke depan.


"Ngapain manyun gitu? Minta dicium? Aku sih gak keberatan. Tetapi nyamuk jantan besar di belakangmu itu bisa jantungan nantinya," tanya Arion melirik Didi yang salah tingkat.


Aihsh? Mengapa aku lagi yang kena, batin Didi kesal dalam hati.


"Dasar kau ini. Sudah sana pergi ke mobilmu. Aku akan masuk ke dalam mobilku," ujar Karina beranjak menghampiri mobilnya.


"Bagaimana jika kita balapan?" saran Arion. Mata Karina berbinar seketika. 


"Oke. Aku tunggu kamu di cafe. Yang kalah dapat hukuman," sahut Karina segera masuk ke dalam mobil, memutar kunci kontak dan menyeter mobilnya ke sistem mobil balap.

__ADS_1


"Ayo masuk. Apa harus aku katakan berkali-kali? Kau membuatku kesal," titah Karina yang melihat Didi masih berdiri di luar mobil. Didi membuka pintu dan masuk, duduk dengan patuh.


"Kencangkan sabuk pengamanmu," tambah Karina lagi melajukan perlahan mobilnya di titik start, di mana Arion lebih dulu ambil posisi.


Karina membuka jendela kacanya, menoleh ke arah Arion dengan senyum lebar.


"Jangan sampai kalah, Sayang," seru Arion memperingati.


"Kau juga, Sayang," sahut Karina.


Didi menghitung mundur dari dalam mobil. Saat hitungan ke satu, kedua mobil itu membelah jalanan dengan balapan, Karina mempraktikan aksi kebut-kebutan di jalan layaknya film fast and furious yang ia tonton kemarin, menyalip, mengerem dan belokan tajam serta mengedrift ia lakukan. Kini sikap bar-bar menjadi mode Karina, lagu 'ignite' mengiringinya. Didi memejamkan matanya, meramalkan doa dalam hati akan ia selamat.


Tangannya menggenggam sabuk pengaman erat. 


"Ahhhh …," teriaknya saat mobil Karina hampir menabrak truk yang lewat di persimpangan. Untung saja Karina sigap mengerem. Ia berdecak sebab karena Arion sudah jauh di depannya.


Selepas iklan yang hampir membuatnya celaka, Karina kembali melajukan mobilnya kencang, menyusul Arion. Namun percuma saja, Karina kalah dalam balapan ini. Di parkiran cafe, Karina melihat Arion yang bersandar gagah di body samping mobil, menatap Karina penuh maksud. 


Dan sialnya lagi, ternyata banyak wartawan di depan cafenya, dan sekarang mereka mengelilingi mobilnya. Arion pun panik.


"Hei apa yang kalian lakukan? Menyingkir dari sana," seru Arion lantang, para wartawan hanya menoleh sekilas dan fokus pada mobil Karina. 


Untung saja mobil kedap suara luar-dalam serta kaca film yang gelap. Karina mengambil handphonenya dan menghubungi pengawal, menyuruh menyingkirkan para wartawan yang membuatnya sakit mata.


Selepas para wartawan itu menyingkir dan pergi, Karina keluar kena wajah datarnya


 Menatap Arion kesal.


"Ya-ya-ya. Aku kalah kau menang. Huft," ucap Karina datar masuk ke dalam cafe meninggalkan Arion yang masih dalam posisinya.


Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Bersiaplah, aku akan sakit pinggang besok pagi, batin Karina mendengus kesal.


Duduk di meja makan dan memanggil Nia menyiapkan makan siang untuknya. Tak lama Arion menyusulnya, duduk seraya bertopang dagu. Didi duduk terpisah dengan mereka. Tak mau jadi orang ketiga.


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Karina salah tingkat.


"Kau cantik. Mari pergi honeymoon, ajak Arion. Karina tersedak. 


"Untuk apa?" tanya Karina.


Astaga? Gila! Honeymoon? Dia mau buat aku gak bisa bangun apa? Membayangkan nanti malam saja aku sudah gila!? batin Karina.


"Untuk apa? Ayolah Sayang, kita baru berbaikan, aku merindukanmu, setidaknya marilah sejenak bersantai dan melupakan masalah," bujuk Arion gigih. Karina berfikir sejenak. Menimang baik-buruknya.


"Hmm … okelah. Tak ada alasan untuk menolak," ujar Karina. 


Arion mengangguk senang. Tak lama makan siang mereka tiba, makan siang seperti biasa, sebelum ada pertengkaran. Saling menyuapi satu sama lain.


***


Saat semua penjuru kota heboh dengan Karina, di sebuah kediaman mewah seorang wanita mengeram kesal. Membanting apapun yang ada di dekatnya. 

__ADS_1


"Mengapa dia sungguh jauh di atasku? Bagaimana caranya aku bisa merebut Arion jika begini. Alasan bahwa aku hamil anak Arion pasti akan sangat mudah ia bantah. Tapi aku tak boleh menyerah, aku ku manfaatkan rencana balas dendam ini," gumam wanita itu tak lain tak bukan adalah Joya.


"Tapi aku harus lakukan ini terlebih dahulu. Tenanglah Sayang, Mama akan segera membawa Papapu ke sisi Mama," ucap Joya pelan mengusap perut datarnya. Ya, pagi tadi Joya mengetes kondisi rahimnya dan  mengetahui bahwa dirinya sedang hamil muda. Awalnya ia sudah bersiap untuk ke kediaman Wijaya, meminta tanggung jawab. Namun, acara konferensi pers Karina membuatnya kesal dan mengurungkan niatnya.


***


Jam pulang kerja tiba, dua mobil mewah beriringan memasuki halaman kediaman Wijaya, pintu mobil terbuka, Karina keluar dengan wajah datarnya sedangkan Arion dengan wajah penuh senyuman.


Didi yang sedari tadi jadi nyamuk segera pamit dan memisahkan diri dari pasangan suami istri itu. Arion dan Karina heran saat membuka pintu, suasana gelap yang mereka dapatin. Ada satu cahaya, itupun kecil dan seperti cahaya lilin. Melayang di udara jika di lihat dalam kegelapan.


"Apa gak ada orang di rumah? Masa lampunya gak dinyalakan," kesal Arion mencari saklar lampu. 


"Mungkin lupa kali," jawab Karina cuek.


Saat lampu menyala.


"Surpise. Welcome back in home Karina, "ucap Amri dan Maria bersamaan. Maria memegang sebuah kue. Dan cahaya yang Karina lihat tadi adalah cahaya lilin kue ini.


"Ada apa ini Ma? Ulang tahun Karina kan masih lama," tanya Karina heran seraya mendekati kedua mertuanya. 


"Ini bukan dalam acara ulang tahun, Karina. Ini untuk merayakan terbongkarnya identitas asli menantu Papa ini. Sungguh Papa harus pegang dada kuat-kuat lihat kejutan kamu," jawab Amri menepuk pundak Karina pelan. Arion menoleh ke arah papanya. 


Aku kira Mama sama Papa akan marah, batin Arion.


"Owh … Mama sama Papa gak marah gitu? Kan Karina gak jujur?" tanya Karina penasaran.


"Seperti yang kamu bilang sebelumnya waktu acara tadi. Dan Papa sama Mama gak mempermasalahkannya sama sekali. Kami malah sangat bahagia mendapat menantu sempurna seperti kamu," ujar Amri santai. Karina mengangguk paham, segera meniup lilin dan memotong kuenya.


Sebelum dirinya, ia menyuapi kedua mertua dan suaminya lebih dulu. Baru sisanya untuk dirinya sendiri.


"Ayo kita makan malam. Mama masakin semua makanan kesukaan kamu," ajak Maria menggandeng tangan Karina. Makan malam hari ini sedikit berbeda, sebab diadakan di taman. Cuaca pun tampaknya mendukung, sebab cahaya bulan menyinari bumi, langit berhias taburan bintang.


Canda tawa menghiasi makan malam. Maria, Amri dan Arion bergantian menyuapi Karina. Selepas makan malam, Arion langsung pamit membawa Karina ke kamar. Bersiap memberi hukuman atas kekalahannya hari ini. Maria dan Amri hanya tersenyum penuh arti menyetujui.


Semoga aku cepat dapat cucu, batin harap Maria.


***


Sesampainya di kamar, Arion masuk ke kamar mandi, bersiap menyegarkan dulu tubuhnya. Sedangkan Karina duduk bersandar pada sofa.  Lima belas menit kemudian, Arion selesai mandi dan keluar dengan hanya menggunakan jubah mandi. Karina menelan ludah kasar. Dengan kecepatan kilat, Karina masuk ke dalam kamar mandi. Arion tersenyum menggoda melihatnya.


Tak menunggu terlalu lama, Karina keluar dengan piyama tidurnya.


"Sudah siap berkuda?" tanya Arion yang sedang berbaring di atas ranjang.


"Berkuda bukannya di lapangan pacu??" tanya Karina heran.


"Maksudku berkuda di atas ranjang, Sayang," ralat Arion menjawab keheranan Karina.


Benarkan, batin Karina.


Perlahan Karina mendekati Arion mendaratkan tubuhnya di samping Arion, dan terjadi lagi proses awal untuk bisa hamil.

__ADS_1


***


__ADS_2