Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 261


__ADS_3

Gerry mondar-mandir di depan pintu kamarnya sendiri. Ia takut Satya melakukan hal gila terhadap Mira. Berulang kali ia menekankan jari telunjuknya ke pelipis. Dahinya berkerut mencari sesuatu. Setelah bertekad hati, Gerry berjalan cepat menuju garasi markas. Tanpa izin dari siapapun, ia keluar dari area markas. Kini Gerry tiba di bandara hanya dengan bermodalkan handphone dan dompet. 


Segera ia membeli tiket dan duduk di ruang tunggu untuk proses check in. Satya cemas, tangannya dingin. Baru kali ini selama dengan Karina ia pergi tanpa izin. Yang ada di pikiran Gerry hanya menemui Mira dan membawanya jauh dari jangkauan Satya. Satya adalah ancaman bagi Gerry.


Setelah menunggu, akhirnya terdengar suara bahwa penerbangan menuju negara K akan segera berangkat. Segera Gerry melangkah untuk masuk ke pesawat.


Saat hendak masuk ke pintu masuk, handphone Gerry berbunyi. Gerry mengesah atas kelupaannya. Dilihat siapa yang menghubunginya, ternyata Karina. Bimbang, Gerry menjawabnya dengan takut-takut. Gerry menepi dari akses jalan masuk.


"Dimana kau?" Suara Karina dingin, agaknya pimpinannya itu kesal.


"Di luar," jawab Gerry berusaha tenang.


"Kembali sekarang. Aku di markas!"perintah Karina.


"Tidak bisa. Urusanku belum selesai," tolak Gerry tegas.


"Kembali sekarang Gerry Herlambang! Urusan apa yang penting dari perintahku hah?" Gerry tercekat dengan nada tinggi Karina. Tapi hatinya sudah mantap, keputusannya sudah bulat. 


"Maaf Queen. Kali ini saya harus membantah perintah Anda. Saya akan menghubungi Anda lagi jika saya sudah mendarat. Saya harus memastikan masa depan saya. Anda bisa menghukum saya, jika urusan saya sudah selesai," tegas Gerry memutus panggilan sepihak. Gerry lalu menonaktifkan handphone nya. Segera masuk ke dalam pesawat dan berharap pesawat cepat lepas landas. 


Ternyata dia penumpang terakhir yang belum masuk. Gerry bernafas lega saat pesawat lepas landas, akan tetapi agaknya Gerry lupa siapa lawannya. 


Baru saja beberapa menit mengudara, pesawat bergerak aneh dan berputar haluan. Pramugrari menginformasikan bahkan pesawat harus kembali ke bandara. Alasannya tidak disebutkan, tapi Gerry tahu alasannya. Dan ternyata bukan pesawat satu tujuan saja yang kembali, semua penebangan yang baru saja terjadi kembali ke bandara, para penumpang tentu saja bingung dan melayangkan protes. Protesan itu berhasil ditangani dengan baik oleh kru pesawat. 


Tiba-tiba masuklah beberapa orang berseragam lengkap, mereka memeriksa setiap tempat duduk. Gerry yang berada di kelas bisnis keluar, orang berseragam itu segera menangkap Gerry. Gerry menunduk minta maaf pada para penumpang akibat kejadian tidak mengenakkan ini. Setelah Gerry keluar, pesawat yang disuruh balik ke bandara, kembali mengudara.


Gerry tahu ini ulah Karina yang marah besar padanya. Gerry hanya memejamkan matanya saat duduk di mobil. Gawat sudah, akibat hal nekadnya, masa depannya jadi terancam. Gerry meruntuki sendiri kebodohannya. 


*


*


*


Tiba di markas, Gerry segera diantar oleh orang -orang berseragam yang membawanya ke ruangan Karina. Di depan ruangan Karina, ada dua penjaga bersenjata. Gerry yakin seratus persen dia akan dihukum, lihat saja tatapan penjaga yang menatap prihatin terhadapnya. Gerry membuang nafas kasar sebelum masuk ke dalam ruangan Karina. Dengan mengulas senyum, Gerry masuk dengan langkah yang sangat tenang. 


Di tempat duduknya, Karina bertopang dagu dengan tatapan tajam menatap Gerry. Di samping Karina ada Li dan Elina. Mereka juga menatap Gerry prihatin. Gerry tetap tersenyum dan memberi hormat pada Karina. Karina mengibaskan tangannya menyuruh orang yang membawa Gerry keluar. 


Karina lalu berdiri dan berjalan mendekati Gerry. Jujur saja, jantung Gerry terpacu cepat, pelipisnya mulai basah dengan keringat. 


"Aku paling benci pembangkang!" Seusai berucap, Karina melayangkan tamparan ke wajah Gerry. Gerry bahkan sampai memalingkan wajahnya, panas, sakit, dan berdengung, Gerry merasakan semuanya. Li menutup matanya sedangkan Elina menutup mulutnya sendiri, rasa ngilu menghampirinya membayangkan seandainya ia yang ditampar oleh Karina.


Gerry tetap diam, ia menunduk seraya memegang pipinya.


"Apa alasannya? Wanita? Karena wanita kau jadi hilang akal? Kau bodoh kah? Kemana perginya Gerry yang selalu tenang? Kau bagai bayi yang belajar merangkak, kau tidak percaya padaku?"kecam Karina, diakhiri dengan pertanyaan lirik di akhir.

__ADS_1


"Atau kau yang tidak percaya diri? Kau memang banci! Apa kau kira aku memberi restu asal-asalan hah? Masalah Satya, kau anggap apa Darwis dan Rian di sana? Kau pikir mereka duduk tenang melihat keretakan yang mau terjadi? Kau sangat kacau Gerry. Kau bahkan tidak izin padaku, dan kau berani memutus panggilanku. Kau benar-benar …." Belum sempat lagi Karina melanjutkan ucapannya, Gerry sudah memotong.


"Aku tahu. Aku tahu aku salah Queen. Tapi hati tidak bisa dibohongi. Aku cemas, khawatir, takut Satya melakukan hal gila pada Mira. Ya aku akui aku tidak percaya diri, hubungan Mira dan Satya sangat dekat. Aku takut Mira tersentuh dengan Satya dan memutuskan berpaling. Queen, dia masa depanku. Aku tidak mau kehilangannya," jelas Gerry. 


Karina menatap Gerry dengan tatapan yang sukar Gerry artikan.


"Aku percaya pada Darwis dan Rian, tapi pasti kan ada batasnya. Mereka sudah bagaikan saudara. Aku mohon biarkan aku pergi, aku mohon Queen," pinta Gerry, berlutut dan menangkupkan kedua tangannya memohon pada Karina. 


Li sangat sedih dengan Gerry, begitupun Elina. Tapi mereka bisa apa? Jika mereka menentang, akan lebih kacau lagi, terlebih kondisi psikis Karina sedang tidak kuat. Mereka hanya bisa menatap Gerry iba. 


Karina, pandangannya tetap lurus ke depan. Tidak melihat ke arah Gerry yang berlutut memohon.


"Biarkan aku menjemput Mira. Biarkan aku mengejar hatiku. Aku mohon," pinta Gerry diiringi dengan isak tangis. Karina tetap membisu. 


"Karina …. " Belum selesai lagi Elina menyelesaikan ucapannya, Karina sudah menaikkan tangannya menyuruh Elina diam.


"Aku tahu apa yang ku lakukan!"tegas Karina membuat Elina bungkam.


"Tugasnya masih banyak kan Li?" Karina bertanya tanpa menatap Li. 


"Iya," jawab singkat Li, akan gawat jika ia berbohong. 


"Bawa dia ke ruangannya, dan limpahkan semua pekerjaanmu padanya. Biar dia yang mengerjakan semuanya!" perintah Karina. 


"Jangan, jangan perintah itu. Aku tidak bisa. Aku harus pergi. Karina aku mohon, penuhi permintaanku ini. Jangan perintah itu." 


Gerry menggelengkan kepalanya tidak ingin. Sayangnya Karina acuh. Pintu kembali terbuka, penjaga di depan pintu masuk dan memaksa Gerry berdiri. Salah seorang penjaga mengambil handphone nnya Gerry tentu saja bergerak menolak. Sayangnya hanya sia-sia. Kini gawai canggihnya berada di tangan Karina. 


"Karina aku mohon batalkan perintahmu. Tidak kah kau punya hati? Bagaimana rasanya terpisah jarak dengan orang yang kau cintai? Terlebih di sana ada musuh yang siap menyerang? Apa yang akan kau lakukan Karina? Kau pasti akan melakukan lebih dari yang aku lakukan! Mengapa kau melarangku? Mengapa kau tidak membiarkanku ke sana? Biarlah aku pergi. Aku harus menjaga Mira!"teriak Gerry dengan nafas yang memburu. Karina masih mendaratkan wajahnya, tidak ada raut wajah marah ataupun sedih. 


Inilah yang paling ditakuti, jika Karina sudah diam, maka mereka harus waspada. Karina mengibaskan tangannya menyuruh kedua penjaga itu membawa Gerry keluar.


Gerry meraung meminta dan memohon, saat ia dibawa paksa keluar, segala bentuk kekesalan ia ucapkan, suaranya hilang ditelan jarak. Karina tampak menghembuskan nafas kasar yang pelan, tatapan Karina berubah menjadi muram. Li dan Elina memberanikan diri mendekat.


"Sepertinya kau keterlaluan Karina. Mengurung seseorang seperti Gerry akan menimbulkan masalah baru, apa tidak sebaiknya kamu izinkan saja?"tegur Elina seraya menepuk pundak Karina. Karina melirik dingin.


"Aku yakin Satya pasti mengatakan sesuatu yang membuat Gerry cemas, ancaman. Karina izinkan saja pergi," tambah Li. Kali ini Karina menatap Li dengan tatapan tidak suka.


"Kalian bersiaplah, besok kita akan pergi!"perintah Karina dingin.


"Kemana?"tanya Li. 


"Lakukan saja perintahku!"balas Karina. 


"Kau ini kenapa sih? Di saat Gerry lagi terpuruk kau malah menyuruh kami pergi? Kemana jiwa pemimpinmu Karina? Apa kau semakin melemah?"kecam Elina yang tidak tega dengan Gerry. Ia kini berada di hadapan Karina.

__ADS_1


"Eli," cegah Li saat Elina hendak mengacungkan jari pada Karina. 


"Aku lebih tahu apa yang harus aku lakukan! Terima kasih atas sarannya. Tapi ku perintahkan agar kau dan suamimu bersiap untuk pergi besok. Bukankah kau harus menemui ibumu hari ini? Kau dan Gerry sama-sama anggotaku. Jadi, cukup percaya maka semua akan aman!"tegas Karina. Laga bahu dengan Elina saat Karina melangkah hendak keluar dari ruangannya. Li sigap menahan tubuh Elina. Kedua menatap Karina rumit. Li terdengar menghela nafas kasar. 


"Ada yang sakit?"tanya Li. Elina menggeleng. 


"Dia kenapa sih? Apa dia sikapnya memang begitu? Otoriter dan tidak menerima saran? Gerry kan tangan kanannya yang setia, masa' setega itu? Aku tidak mengerti caranya berpikir, ini membuatku pusing,"  keluh Elina memijat dahinya. Li tersenyum tipis.


"Dia memang begitu, tapi percayalah, dia pemimpin yang sejati. Saat ini kita cukup percaya padanya serta menyiapkan hati untuk hal yang terjadi kedepannya," ujar Li yang tetap percaya pada Karina. Tidak ada keraguan, hanya ada rasa penasaran.


"Ayo kita ke rumah ibu," ucap Li, Elina mengangguk pelan. Saat ia hendak melangkah, Li gerak cepat menggendong istri tercintanya itu. Elina sampai kaget dan menepuk keras pundak Li. Li malah tertawa ringan. Saat di koridor, Elina menyembunyikan wajahnya di dada Li karena tatapan para anggota yang menggoda mereka. 


*


*


*


"Menurutmu lebih enak jadi pemimpin atau dipimpin?"tanya Karina pada Pak Anton saat mereka berada di jalan pulang. Pak Anton melihat Karina dari spion. Dahinya mengeryit heran dengan pertanyaan Karina.


"Tentu saja pemimpin, Nona," jawab Pak Anton.


"Menurutku lebih enak menjadi dipimpin. Mereka hanya perlu melakukan perintah dari pimpinan. Tidak menanggung resiko, tidak pusing membuat rencana, tidak pusing dengan masalah besar yang mengancam, dan lainnya yang harus dilakukan seorang pemimpin. Terkadang aku ingin keluar dari lingkaran bisnis dan mafia. Kau tahu Pak, aku sempat berpikir setelah melahirkan aku akan pindah ke desa," tutur Karina lemah diikuti dengan helaan nafas yang berat. 


"Wah jangan dong Non. Kalau Non keluar bagaimana nasib ribuan orang di sana? Seenak-enaknya dipimpin lebih enak lagi memimpin. Nona sudah ditakdirkan menjadi seorang pemimpin, sudah jadi garis takdir, Non. Kalau Nona ke desa, Tuan Arion bagaimana?" Pak Anton cukup terkejut dengan penuturan Karina.


Karina menaikkan kedua bahunya. 


"Entahlah Pak. Ketidakpercayaan anggota terhadap saya, ada luka tersendiri bagi saya. Apakah saya orang yang egois dan otoriter?"tanya Karina dengan wajah serius nya. Pak Anton bingung mau menjawab apa. Keningnya berkerut menjadi jawaban. 


"Jawab," ucap Karina. 


"Hm, dibalik keegoisan Nona, ada tanggung jawab yang menyertainya. Di balik sikap otoriter Anda, selalu ada hal besar yang akan Anda lakukan untuk anggota tersebut," jawab Pak Anton. Karina menilik penuh selidik, Pak Anton sampai rasanya berkeringat dingin. 


Suasana ini terus berlangsung sampai Karina tiba di kediamannya. Setelah turun dari mobil, Karina langsung menuju taman belakang. Para pelayan hanya mengamati Karina dari jarak jauh. Nona mereka itu terlihat hanya tidur di pendopo sembari mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur'an. 


"Nona sedang gelisah ya Pak?"tanya Bik Mirna saat Pak Anton memasuki rumah. Pak Anton mengangguk. 


"Menjadi leader harus bermental kuat menghadapi beragam jenis bawahan, biarkan saja Nona tenang di sana. Kita juga harus waspada seandainya Nona kambuh lagi, siapkan alatnya, kalau tidak kita yang akan terancam," ucap Pak Anton. Bik Mirna mengangguk cepat.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2