
"Oh ya? Tak mungkin ya? Oke dapat aku maklumi. Lantas untuk pertanyaan kedua? Apa jawabannya?"
Karina ingin mendengar jawaban Joya. Tetapi agaknya Joya lupa dengan pertanyaan kedua, yang diingat hanyalah pertanyaan pertama dan ketiga.
"Bagaimana jika ibumu, nyonya Elsa Rianti masih hidup?" tanya Karina tak sabar melihat wajah bingung Joya. Joya tertegun. Tak lama ia malah terkekeh keras.
"Itu lebih konyol lagi, ibuku telah meninggal dua belas tahun lalu, bagaimana mungkin masih hidup sedangkan aku melihat sendiri tubuh kaku ibuku dimasukkan ke liang lahat?"
Joya tertawa dan menepuk meja dengan gemas. Ia mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya. Bukannya marah Karina malah tersenyum lebar.
"Hm lalu bagaimana dengan lukisan hadiah pernikahanmu? Itu lukisan asli ibumu bukan? Setahuku Nyonya Elsa Rianti adalah pelukis ulung yang punya ciri khas di setiap karyanya. Dan itu tak bisa dicopy paste," ucap Karina, membuat Joya berhenti tertawa dan menatap curiga Karina. Tak lama Joya mengebrak meja dan mengeraskan rahangnya.
"Jadi kau yang mengirim lukisan itu hah? Kau mau membuat hubunganku dengan Papaku renggang? Kau memang licik!" teriak geram Joya.
"Aku mengirimnya tentu saja atas permintaan nyonya Elsa Rianti. Dia yang memohon padaku agar aku mengirimkan lukisan ini padamu, sebagai pertanda dia masih hidup. Dengar Joya, selama ini Papamu itu kejam pada mamamu. Selama kalian bersamapun, ibupun terus menderita. Aku menemukan dirinya setahun lalu di hutan belantara kota N, kondisinya sungguh mengenaskan. Kejiwaannya lebih parah dari fisiknya. Untunglah staff medisku cekatan dan optimis, ibumu telah pulih sebulan yang lalu," terang Karina santai.
Joya membeku. Menelaah satu demi satu ucapan Karina. Selama ini Joya oke-oke saja dengan ucapan Reza. Tak ada bantahan atau pertanyaan.
Sangat sulit bagi Joya menerima keterangan Karina. Tapi, lukisan itu adalah satu bukti.
Apa aku harus percaya padanya? batin Joya.
"Aku tahu kau tak akan mudah percaya padaku. Singgahlah ke kota N nanti, mampirlah ke markas cabang sebentar. Ibumu ada di sana. Dia akan menceritakan segalanya," ujar Karina yang melihat keraguan di wajah Joya.
Tanpa menjawab, Joya langsung bangkit dan keluar dari ruangan Karina.
Karina menatap ujung penanya dan menyalakan lasernya.
"Saatnya kau benar-benar bahagia Joya, bukan senyum palsumu selama ini. Dan untukmu Paman, tunggulah aku!" gumam Karina dengan api membara di matanya.
***
Kini Blue Boys berada di taman bunga. Aneka bunga berjajar rapi dan memancarkan pesonanya. Kumbang dan kupu-kupu dengan ria mengisap sari mereka. Seperti layaknya taman kota, setiap jenis bunga diberi keterangan nama, filosofi, manfaat dan semua tentang bunga yang ditanam.
Mereka berjalan dengan bercanda yang tak pernah terlewat. Langkah mereka terhenti di green house tanaman obat. Ada beberapa tanaman yang bertanda silang. Salah satunya bernama sabang merah. Koya langsung membaca keterangannya. Itu pakai bahasa Indonesia, jadi Koya harus menerjemahkannya sejenak.
"Apa yang ditulis Hyung?" tanya Kuki penasaran.
"Hmm ini tanaman obat namun beracun getahnya. Jika tertelan bisa gawat," jelas Koya.
"Khasiatnya apaan?" tanya Tata.
"Menghentikan pendarahan," jawab Koya.
"Banyak sekali tanaman apotik hidup di sini, apa mereka juga farmasi atau penjual obat tradisional?" heran Agus.
"Ku rasa dia penggemar tanaman cantik namun beracun, lihat bunga-bunga di sana, semuanya bertanda silang," terka RJ.
"Wanita itu mungkin ahli racun," ujar Chimmy.
"Lebih baik kita keluar saja dari sini, masih banyak spot menarik, bukan ini saja," ajak Mang.
"Oke," sahut setuju enam member lainnya.
Mereka memutuskan keluar dari grenn house dan berjalan menuju perkebunan buah, kebetulan pohon-pohon berbuah lebat dan ada yang suka matang. Di antaranya adalah rambutan, mangga, manggis serta duku. Mata ketujuh member berbinar.
RJ dengan menggendong Kuki di punggungnya, berusaha menggapai rambutan yang telah berwarna merah.
Sedangkan Tata memanjat pohon duku untuk mengambil buah yang telah berwarna kuning. Koya, Chimmy, Agus serta Mang menatap bergantian pohon mangga dan manggis.
Mata mereka berpencar mencari alat untuk mengambil buah yang telah tua dan masak tentunya.
"Silahkan," ujar seorang anggota membawakan dua buah galah. Keempat member itu tersenyum.
"Aku yang mengambil mangga dan kamu yang mengumpulkan oke?" atur Agus menunjuk Koya.
"Hm oke, tapi awas kena kepalaku, bisa error nanti my brain," peringat Koya.
"Aman, percaya padaku," sahut Agus.
"Ku kan menjagamu sampai akhir waktu menjemputku," sambung Tata.
Mang dan dua lainnya tertegun. Mereka menatap Tata heran.
"Itu semalam kan ada acara api unggun di halaman, nah para member Pedang Biru kumpul dan nyanyi sambil gitaran, lalu aku dengan lagu itu dan teringat sampai sekarang," jelas Tata.
Ketiga orang itu mengangguk mengerti. Keempatnya langsung ambil posisi. Sangking seriusnya Koya ingin menangkap mangga yang jatuh agar tak menyentuh tanah, malah wajahnya yang ditimpuk mangga.
__ADS_1
"Auh, hati-hati Agus Hyung," pekik Koya merasa sakit pada batang hidungnya.
"Kan ku katakan hati-hati Joon," ucap malas Agus. Yang lainnya malah tertawa.
Koya mengusap batang hidungnya. Ia menatap kesal membernya.
"Sudahlah, ayo ambil lagi," ajak Tata yang duduk santai di atas pohon dengan menyantap buah duku. Kulitnya berserakan di bawah pohon.
"Kau makan seperti itu miring dengan monkey, cepat ambil yang benar dan segeralah turun," ketus RJ tak senang.
"Oke Hyung," sahut Tata tersenyum dan segera melaksanakan perintah.
Lima menit kemudian mereka berkumpul dengan empat jenis buah di tangan mereka. Ternyata anggota Karina perhatian, dia membawakan keranjang buah agar ketujuh member itu mudah membawa bawaan mereka.
Mereka segera melangkahkan kaki kembali menuju gedung utama, mencari Karina mengajaknya makan siang sebab sudah pukul 12.30. Posisi mereka adalah 2 2 2 1, dengan posisi paling belakang yaitu Kuki, sesuai umur barisannya.
Kuki menikmati pemandangan. Di tengah jalan, matanya menangkap setandan pisang yang telah menguning.
Dengan segera ia melepaskan diri dari barisan dan berlari kecil menuju pohon pisang tersebut. Keenam Hyungnya tidak menyadari adik bontot mereka pisah barisan. Mereka asyik mengobrol.
***
"Kita naik ke lantai atas?" tanya Chimmy.
"Ya untuk memanggilnya," sahut RJ. Kini mereka berada di depan lift.
"Kuylah, lapar sudah diriku," ajak Tata.
"Oke." Kelima member memasuki lift dan menekan lantai 3. Masing belum sadar ada yang kurang.
Ting. Denting lift berbunyi. Mereka segera keluar dan mencari kamar Karina. Ternyata ada tulisan di setiap pintu kamar.
"Nah ini dia kamarnya," seru keenam member senang. Belum juga diketuk, pintu telah terbuka. Karina yang keluar dengan Arion tampak terkejut.
"Apa apa?" tanya Karina.
"Kami memanggilmu untuk makan siang," jawab RJ.
"Kalian ini tak perlu repot," ujar Arion tersenyum.
"Oh ya tadi kami mengambil buah di taman, tak apa kan?" tanya Koya menunjukkan keranjang buah yang ia bawa.
"Sudah ayo ke ruang makan pribadiku, tak perlu ke lantai bawah, kita makan siang di rooftop lantai atas," ujar Karina.
Semua mengangguk. Blue Boys, Mereka berjalan duluan. Karina mengerut heran merasa ada yang kurang.
"Berhenti," titah Karina. Otomatis langkah mereka berhenti.
"Ada apa?" tanya Agus.
Karina diam tak menjawab dan menghitung member seperti induk menghitung anaknya.
"6?" gumam Karina ragu. Karina menghitung kembali. Keenam member saling pandang.
"Kalian berapa member?" tanya Karina.
"7," jawab Koya.
Semua orang tahu member Blue Boys cuma 7 orang. Jika ada tambahan, palingan sih itu Yoentan.
"Ini kok cuma 6?" tanya Karina.
"Hah? 6?" beo keenam member.
"Akan saya absen," ujar Koya.
"World WideHansome Hyung?"
"Hadir," sahut RJ..
"Agus Hyung?"
"Ada," jawab Agus.
"Hope Hyung?"
"Sini," ucap Mang.
__ADS_1
"RM?"
Hening.
"RM mana?" tanya Koya.
"Ck, itukan namamu? Kok tanya kita kita sih?" keluh Karina.
Koya diam, tak lama tertawa.
"I'm sorry, next Mochi?"
"Saya," sahut Chimmy.
"V?"
"Hadir," ujar Tata.
"Kuki?" panggil Nam Joon.
Hening. Semua saling tatap.
"Hyung, Kuki yang hilang," ucap Chimmy memberitahu.
"Astaga, di mana tuh anak?" RJ mengacak-acak rambutnya.
"Bukannya tadi di belakang kamu Ta? Chim?" tanya Agus.
"Iya sih, tapikan kami melihat ke depan. Astaga tuh anak," jawab Chimmy yang dianggukin Tata.
"Ayo cari dia," titah Koya.
"Kuy," sahut kelima member lainnya. Karina menatap Arion dan menggelengkan kepalanya.
Ada-ada saja, batin Karina geli.
Saat keenam member bersiap memasuki lift. Lift terbuka duluan. Menampilkan Kuki dengan setandan pisang di pundaknya.
Untung saja ia memakai pakaian berwarna gelap. Kuki melangkah keluar dan meletakkan pisangnya di sudut ruangan. Karina dan Arion menghampiri mereka.
Wajah Kuki mengukir senyum senang. Keenam member tentu saja kaget. Tak lama mereka memeluk Kuki bersamaan.
"Dari mana saja kau Kook? Mengapa pisah barisan?" tanya Tata.
"Aku mengambil pisang itu," ujar Kuki memegang rambutnya.
"Lain kali bilang dulu sama kami. Jangan asal pisah saja. Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bagaimana? Ingat ini markas mafia bukan markas kita. Syukurlah kau baik-baik saja," ucap Koya menepuk pundak Kuki.
"Maaf," cicit Kuki sedih dan merasa bersalah.
"Hm," sahut keenam hyungnya.
"Lantas untuk apa kau ambil pisang itu?" tanya Karina.
"Aku mau buat susu pisang buatanku sendiri. Kurangi biaya kantong habis," jawab Kuki. Bersemangat.
"Astaga Kook? Bukankah itu banyak di kulkas dapur?" seru RJ pusing.
"Aku ingin buat sendiri hyung," tegas Kuki.
"Hyung, sepertinya yang monkey bukan aku tapi Kuki, pasti dia memanjat atau tidak merobohkan pohonnya. Kasihan pohonnya," ujar Tata pada RJ.
"Hehe, kita berdua sama kok hyung," ujar Kuki merangkul Tata.
"Sudah. Karena kamu sudah datang, ayo kita makan siang," seru Koya.
"Ayo," sahut keenam membernya.
"Tapi aku ke dapur dulu buat susu pisang," ucap Kuki hendak mengambil kembali pisangnya. Keenam member lainnya mendengus kesal.
"Ck." Karina berdecak jengah dengan drama di hadapannya.
"Bawa saja ke atas, di sana ada dapur mini dan portabel. Menunggu kamu selesai membuat itu, jam berapa kami baru makan?" ujar Karina.
"Oh baiklah," sahut Kuki.
Akhirnya mereka naik ke lantai atas. Di sana sudah terdapat meja makan panjang, pas untuk semua. Tentu saja dengan aneka sajian makan siang di atasnya. Di sisi kanan rooftop.
__ADS_1
Terdapat kolam renang. Ukurannya hanya 5x5 meter. Dibuat untuk bersantai sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam di ujung pantai. Kesembilan orang itu langsung ambil tempat. Pelayan yang ada di sana, membantu Kuki membuat susu pisang agar lebih cepat selesai.
***