
Seolah ini sudah biasa bagi mereka. Karina mendengus kesal. Ia menatap datar Rizal meminta penjelasan.
"Ini ilegal. Kita membunuh. Rumah sakit untuk menyembuhkan bukan menghilangkan nyawa," desis Karina geram.
"Yo. Apa kau tak lelah mengatakan hal ini? Asal ada permintaan dari Bos pasti kau mengatakan hal ini. Apa kau tak menyayangi adik perempuanmu itu? Jika kau membangkang lagi maka kau kehilangan dirinya. Ingat! Lala ada di tangan bos," jawab Rizal penuh tekanan.
Karina terdiam. Agaknya Aleza melewatkan beberapa informasi penting.
"Ingat jam lima sore di tempat biasa gedung tua pinggir kota," ujar Rizal berdiri dan menatap Karina yang masih bergulat dengan segala hipotesisnya. Ia lalu keluar dan menutup rapat pintu ruangan Karina.
"Siapa dalang di balik semua ini? Beraninya melakukannya di rumah sakitku. Apa aku terlalu lama vakum maka mereka bisa bertindak dengan leluasa? Ck …," kesal Karina membalik-balikkan jadwalnya.
Ada jadwal check up, operasi dan pemeriksaan umum. Ia berpikir bagaimana caranya mendapatkan pesanan itu tanpa membunuh pasiennya nantinya. Dengan penuh pertimbangan Karina menghubungi Aleza.
"Saya Queen," sahut Aleza.
"Apakah ada musuh di penjara?" tanya Karina dengan suara Andi yang membuat Aleza mengenyit heran di sana.
"Anda siapa?" tanya Aleza.
"Kau lupa aku sedang menyamar. Jawab pertanyaanku tadi," kesal Karina.
"A-ada Queen," jawab Aleza tergagap.
"Aku mau kau ambil tiga jantung dan lima ginjal lalu antarkan ke rumah pukul empat sore," perintah Karina.
"Baik Queen," jawab Aleza.
Karina segera memutus panggilan dan mendesah pelan.
"Ini memang sedikit kejam. Membunuh para musuh untuk menggantikan para pasien," gumam Karina.
"Dokter? Anda ada operasi lima belas menit lagi," ujar Salsa yang masuk ke ruangan Karina.
Karina mengangguk paham.
"Persiapkan segalanya. Aku akan segera pergi," ucap Karina datar. Salsa mengangguk.
Karina segera mengganti pakaiannya menjadi pakaian operasi. Tak lama ia keluar menuju ruang operasi yang di tentukan. Tak lupa masker dan penutup kepala sudah berada di tempatnya. Karina tak canggung melakukan operasi sebab ia juga salah satu alumni mahasiswa kedokteran di bidang spesialis jantung. Walaupun masih berusia 24 tahun 7 bulan, Karina sudah menyandang banyak gelar yang tak ia tunjukkan. Yang ia tunjukkan hanyalah gelar starta satunya.
Waktu terasa begitu cepat. Tak terasa sudah pukul 15.45, Karina sudah menyelasaikan semua jadwalnya.
Lebih cepat dari waktu yang di tentukan. Rizal yang tak berada di rumah sakit membuat Karina tenang. Jika tidak maka ia harus membuat kematian palsu untuk mengelabuhi para orang-orang yang di sebut "Bos"oleh Rizal.
Karina melepas jasnya saat tiba di ruangannya, alias ruangan dokter Andi. Kemeja putih khas dokter melekat pas di tubuhnya.
"Salsa?" panggil Karina.
"Saya Dokter ...," sahut Salsa.
"Jadwalku sudah selesai bukan? Aku akan pergi keluar. Jika ada hal lain yang berhubungan denganku kabarin aku secepatnya," ujar Karina meletakkan jasnya di bahu dan mengambil kunci motornya.
"Baik Dok," jawab Salsa.
Astaga? Dokter Andi terlihat seksi seperti itu, pekik Salsa dalam hati.
Ia sesekali mencuri pandang pada Karina.
__ADS_1
Karina segera keluar dari ruangannya meninggalkan Salsa yang masih menunduk dan pergi menuju parkiran motornya.
Dengan segera ia memakai helmnya dan menghidupkan motor lalu perlahan meninggalkan rumah sakit. Karina melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul empat lewat lima menit. Karina menambah kecepatannya. Sepuluh menit kemudian ia tiba di depan gerbang rumahnya. Aleza yang sudah menunggu langsung memberikan kotak berisi permintaan Karina.
"Terima kasih," ujar Karina melajukan motornya kembali menuju gedung tua yang dimaksud.
Pikiran Karina menebak siapa saja yang berada di balik ini semua.
Reza? Dragon Night Mafia? Rudi? Atau siapa?tanya Karina dalam hati.
Empat puluh lima menit kemudian ia tiba di tujuan. Dilihatnya ada beberapa mobil mewah di depan gedung dengan empat penjaga berbadan kekar.
Karina sedikit menengguk ludah was-was. Ia meningkatkan kewaspadannya. Ia tak membawa senjata apapun kecuali pisau kecil yang dibawanya waktu operasi.
Perlahan ia turun dari motor dan membawa kotak dengan kedua tangannya dan menuju pintu masuk gedung. Dengan sigap salah seorang penjaga membukakan pintu untuknya masuk.
"Silahkan masuk Dokter Andi. Anda sudah di tunggu oleh Bos," ujarnya sopan.
Karina mengangguk paham. Ia melangkahkan kakinya masuk. Gedung yang minim pencahayaan membuat Karina kesulitan melihat apa yang ada di sekitarnya.
"Tak biasanya kau datang secepat ini Andi?" tanya seseorang dengan suara lembut. Karina terdiam.
Wanita? batin Karina.
Perlahan lampu mulai dinyalakan. Karina dapat melihat jelas seorang wanita muda yang ia perkirakan berusia sama sepertinya. Di belakangnya ada beberapa orang pengawal sedangkan di samping kanannya ada Rizal.
Wanita itu mengintruksikan salah seorang pengawalnya untuk mengambil kotak di tangan Karina. Karina menatap tajam pengawal itu dan memegang erat kotak di tangannya.
"Berikan itu padaku, Andi. Apa kau sudah tak peduli lagi dengan adikmu ini?" tanya datar wanita bos.
"Bos hari ini Andi kelihatan sangat berbeda," bisik Rizal pelan pada wanita itu.
Ia lantas berdiri dan menghampiri Karina. Tangan wanita itu terulur memegang pundak Karina. Karina diam hanya mengamati pergerakan Wanita itu.
"Bawa wanita itu kemari," teriaknya.
Tak lama pintu gudang terbuka. Masuklah seorang anak perempuan berusia sekitar 17 tahunan yang diampit dua pengawal. Mulutnya di sumpal kain. Tangannya terikat. Matanya menatap Karina sedih. Karina mengerut heran.
Ini adik Andi, Lala? batin Karina.
Lala dibawa ke dekat Karina. Karina masih mempertahankan ekspresi datarnya.
"Buka penutup mulutnya," perintah wanita itu.
Penutup mulut Lala dibuka.
"Kakak …," ucap pelan Lala. Hati Karina tersentuh dengan keadaan Lala yang sepertinya mendapat perlakuan tidak menyenangkan.
Karina tanpa aba-aba menyerahkan kotak di tangannya pada pengawal yang memintanya tadi lalu memeluk Lala erat.
"Maafkan kakak. Kakak tak bisa melindungimu," lirik Karina berperilaku seperti Andi.
Cukup lama mereka berpelukan. Lala menumpahkan segala kesedihan dan kerinduannya di pelukan Karina yang ia kira adalah kakaknya. Padahal Andi saat ini tengah berada di ruang gelap di kediaman Karina.
"Dudududu … pertemuannya sampai di sini saja," ujar Wanita itu.
Pengawal yang membawa Lala tadi segera menarik Lala dari pelukan Karina dan membawanya paksa keluar.
__ADS_1
"Tidak. Kakak tolong aku …," pekik Lala histeris. Ia meronta. Tak lama suaranya hilang sebab mulutnya kembali ditutup.
"Lepaskan adikku," desis Karina. Wanita itu tergelak dan kembali duduk. Ia menatap sinis Karina. Karina diam.
"Hehehe … akan kulepaskan jika kerjasama kita selesai." kekeh wanita itu.
"Siapa kau?" tanya Karina datar.
"Kau sudah lupa? Kau benar Rizal. Dia kelihatan berbeda," sahut wanita itu.
"Rizal beritahu dia. Agaknya pagi tadi kepalanya terbentur atau bisa jadi kemasukan air. Atau bisa juga ia kehilangan akal sebab sudah membunuh banyak pasien belakangannya ini. Mungkin juga ia gila karena melanggar terus menerus sumpah janji dokternya tapi ia tak bisa berhenti melakukannya," ucap Wanita itu mengejek.
"Kaulah penyebabnya Andi. Kau yang memulainya. Maka kau yang harus membayarnya. Oh ya? Apa kau lupa denganku? Bagaimana kau bisa lupa dengan kekasih yang sangat kau cintai ini?" tanya wanita itu mencolek pipi Andi dan keluar dari gudang bersama para pengawalnya. Tinggallah Karina dan Rizal berdua.
"Dia Arimbi," ucap Rizal pelan dan segera menyusul wanita yang bernama Arimbi itu.
Karina bergelut pada pemikirannya. Ia tersadar saat mendengar suara deru mesin mobil yang menjauh. Dengan langkah kilat Karina keluar gudang dan menaiki motornya.
Ia membuka topengnya dan berusaha mengejar mobil yang dikendarai Arimbi dan Rizal serta para pengawalnya dari jarak aman.
"Apa titik terangnya?" gumam Karina memacu motornya lebih cepat. Setelah perjalanan yang lumayan lama, iringan mobil memasuki sebuah gerbang.
Karina berhenti cukup jauh dari sana. Ia mencari petunjuk siapa sebenarnya Arimbi ini. Matanya menangkap sebuah lambang yang tertera pada bandera yang berada di salah satu sudut rumah yang dapat ia lihat samar.
"Pedang Hitam? Mengapa aku tak pernah mendengarnya?" ucap pelan Karina. Karina kembali mencari petunjuk lagi.
Namun tak ada. Dengan rasa penasaran tinggi, Karina meninggalkan area ini dan kembali menuju kediamannya.
"Andi? Arimbi? Kekasih?" gumam Karina. Setengah jam kemudian ia tiba di gerbang kediamannya.
Langit sudah menggelap. Gerbang tinggi dan lebar itu terbuka, Karina segera memasukinya dan menuju garasi.
Dengan langkah tak bersemangat, Karina masuk ke dalam rumah. Di dalam wajah Karina menunjukkan keheranan sebab terdengar suara berisik dari kolam renang dan canda tawa. Karina menajamkan pendengarannya.
"Suara laki-laki?" ucap Karina pelan. Dengan langkah nyaris tanpa suara, Karina mendekati kolam renang. Ia menyibak tirai dan melihat siapa itu.
"Siapa kalian? Mengapa kalian berada di kediamanku?" tanya Karina dingin. Ketiga pria itu menoleh ke arah Karina. Senyum mereka mengembang. Dengan segera mereka naik ke atas dan menghampiri Karina.
Tubuh mereka yang terbuka dan hanya mengenakan celana khas renang ditambah air yang masih melekat pada tubuh mereka membuat kesan seksi dan eksotis semakin terpancar.
"Queen," ujar mereka bertiga berlutut di hadapan Karina. Karina terdiam heran.
"Siapa kalian? Aku tak mengenal kalian," tanya Karina dingin mundur selangkah.
"Queen? Bagaimana bisa Anda melupakan Trio Tampanmu ini?" tanya salah seorang dari mereka.
"Trio Tampan?" beo Karina. Ia berusaha memegang dahinya berusaha mengingat.
"Darwis? Rian? Satya? Itukah kalian?" tanya Karina memastikan.
"Benar Queen. Anda ternyata tak melupakan kami," sahut Rian.
Ya mereka bertiga tak lain adalah Darwis, Rian dan Satya yang baru tiba di kediaman Karina lima jam yang lalu. Mereka hanya tahu rumah Karina di sini. Makanya mereka pulang kemari bukan ke negara Y.
"Ternyata kalian. Ada apa gerangan kalian kembali?" tanya Karina. Darwis ingin menjawab namun terpotong oleh dering handphone Karina. Ya, Karina telah mengaktifkan handphonenya setibanya di garasi.
Karina segera mengambil handphone di saku celananya dan melihat siapa yang menelpon.
__ADS_1
"Tenyata dia," seru Karina sumringah. Darwis, Rian dan Satya tertegun dan saling berpandangan. Posisi mereka sudah berdiri.