
Ini adalah meeting perdana dengan Zhi Yi Teknologi sejak perusahan itu menenangkan tender yang dibuat oleh KS Tirta Grub. Karena terhalang jarak yang jauh dan untuk menghemat waktu, maka meeting dilakukan secara online. Perbedaan negara dan kesibukan Karina yang padat, tidak akan sempat untuk menghadiri meeting secara langsung menjadi alasan.
Karina juga tidak mempercayakan kerja sama kali ini dengan para bawahannya, sebab proyek ini tidak hanya dimaksudkan untuk menjadi uang tetapi juga untuk memuaskan dan menjadi sesuatu yang sangat berarti hasil dari sebagian penelitian Karina. Kali ini real Karina yang akan pimpinan proyek.
Bisa saja Zhi Yi ke negara ini, akan tetapi kurang efisien, pasalnya yang dibahas barulah hal - hal ringan, belum masuk ke inti ataupun bagian utamanya.
Meeting hanya berlangsung selama satu jam. Selama duduk, Karina minum air mineral secara rutin dengan durasi waktu yang sama. Ia cukup puas dengan Zhi Yi Tekhnologi. Penjelasan dari Presdir Zhi Yi mudah dimengerti dan diterima.
Selesainya meeting bertepatan dengan jam makan siang. Seperti biasa, Sahsa mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin dengan membawa kotak makan untuk Karina. Karina merenggangkan tubuh sesaat lalu mengusap perutnya yang kian membuncit.
Karina kemudian berdiri dan melangkah untuk duduk di sofa. Sasha menyajikan makan siang untuk Karina. Wanita itu dengan telaten memeriksa dan memastikan makan siang Karina pas dan sehat. Wanita itu cerdas, memilih santapan yang baik tidak hanya pada ibu juga pada kedua tuan muda kecilnya.
"Ada apa?" Karina bertanya setelah menilik seksama wajah Sasha yang terlihat ingin mengutarakan sesuatu tapi takut.
"Eh?" Sasha terkesiap dan menatap Karina. Karina menaikkan alis bertanya.
"Hm itu Nona, saya ingin bertanya mengapa Anda lebih memilih perusahan luar daripada perusahan adik Anda sendiri? Setahu saya perusahaan adik Anda bergerak di bidang yang sama," ucap Sasha, ia sangat penasaran sejak Karina memilih Zhi Yi sebagai mitra kerja samanya.
"Aku lebih suka bekerja sama dengan perusahan luar. Enji sudah memiliki proyek dengan kita. Alasanku memilih Zhi Yi adalah mereka membuatku terkesan. Dalam dua tahun, mereka mampu mengembangkan perusahan yang awalnya dipandang sebelah mata menjadi perusahan yang tergolong sukses. Kerja keras, ketekunan, positif thinking, disiplin tinggi, berusaha melakukan yang paling terbaik, walaupun sudah memenuhi kriteria, mereka berusaha keras untuk melakukan lebih sempurna. Ibarat kata 90 sudah paling tinggi, tapi mereka ingin menjadi 100. Kau pasti tahu, bahwa menaikkan satu angka saja bukanlah hal mudah, sangat sulit. Bahkan kalian sering kali gagal," jelas Karina. Sasha terkesiap malu. Ia menunduk sesaat lalu kembali mengangkat wajah.
"Bukankah perusahaan adik Anda juga sama? Dalam kurun waktu satu tahun bisa memperbesar jangkauan?"tanya Sasha lagi.
"Siapa yang mengatakan baru satu tahun?"tanya Karina balik. Wajah Sasha tertegun.
"Sebelum ia mati suri, perusahan itu sudah berdiri dan dikelola oleh orang kepercayaanya. Aku hanya mengawasi dari jauh," lanjut Karina santai.
Sasha mengangguk mengerti. Ia kemudian segera izin keluar, untuk makan siang dan memeriksa ulang dokumen yang diperlukan nanti.
*
*
*
Bayu yang kini berada di sebuah pendopo di tengah taman lengkap dengan peralatan melukis. Tangannya lihat menorehkan sapuan kuas pada kanvas putih. Di dekat kanvas, sebuah meja kecil di mana terdapat aneka jenis warna pada pallet.
Bayu menyunggingkan senyum saat lukisannya selesai. Serumpun bunga mawar merah dengan beberapa kupu-kupu terbang di atasnya. Langit biru dengan gumpalan awan putih dan mentari yang bersinar menjadi bagian langit yang sangat cerah.
Latar belakang lukisan adalah bangunan utama Pedang Biru.
"Ah ada yang kurang," gumam Bayu kembali meraih kuas dan mencolek warna biru, Bayu menorehkan tanda tangan di sudut kiri basah lukisan.
"Sempurna. Ayo tebak berapa uang yang aku dapat dari lukisan ini?" Bayu memegang rahangnya dengan pose berpikir.
__ADS_1
"Hm setidaknya aku bisa membeli banyak buku," kekeh Bayu.
Bayu memejamkan mata sejenak, ia segera membuka mata saat merasakan angin cepat, sesuatu yang lewat di dekat telinga diikuti dengan suara seperti menembus sesuatu. Ia terbelalak kaget melihat lukisannya terdapat lubang yang merobek bagian kupu - kupu. Bayu berdiri dari duduknya, memegang pinggiran kanvas memastikan ia hanya ilusi.
Bayu kemudian mengucek mata. Seketika amarah menyeruak di hati melihat lukisan yang baru saja ia buat dan berharap mendapatkan pundi - pundi money sirna. Bayu yang terlanjur marah, melepas kanvas dari sanggahan lalu membuangnya ke lantai. Sudah rusak, tidak berguna baginya.
"Siapa? Siapa yang menembak lukisanku hah? Keluar! Aku tahu ini bukan peluru nyasar! Keluar kau, hadapi aku! Beraninya merusak milikku!"teriak geram Bayu menajamkan mata dan pendengaran, mengedarkan pandang ke sekeliling taman. Area tembak sangat jauh dari taman ini, terlebih arah tembaknya bukan kemari.
"Keluar! Walaupun kau bersembunyi aku bisa menemukanmu dengan jentikan jari!" Bayu mendengar suara daun yang diterpa sesuatu. Matanya awas menatap barisan tanaman pagar. Bayu tersenyum smirk. Bayu mengirim panggilan terhadap Li. Biar bagaimanapun, ia adalah adik sekaligus keponakan Karina.
Ia melangkah tanpa suara, turun dari pendopo untuk memeriksa apa yang ada di balik tanaman pagar itu.
Langkahnya sangat hati - hati. Matanya tetap awas melirik sekitar.
"Kena kau!"seru Bayu menyergap apa yang ada di balik tanaman pagar itu.
"Kucing?" Bayu tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia mengeryit sembari menggaruk leher.
"Siapa yang iseng padaku? Apa mereka tidak tahu siapa diriku? Apa mereka mau mati jika aku terluka tadi? Apa mereka mau bercanda denganku? Ah sialan!"gumam Bayu.
Masih untung hanya lewat bukan menembus tubuhku. Jika aku terluka, tidak terbayang marahnya malaikat dua dunia itu. Ckck … moodku jadi buruk, batin Bayu. Saat ia berbalik, Bayu terkejut dengan mata kembali terbelalak. Tubuhnya seakan membeku dengan jantung yang berdebar cukup kencang.
Bagaimana tidak? Sebuah pistol ditodongkan tepat di tengah dahinya. Bayu mendongak. Penodongnya tersenyum miring, tatapan matanya tajam tapi mengandung ejekan untuk Bayu. Bayu menerka dalam hati, siapa gerangan pemuda yang cukup tampan tapi masih di bawahnya ini. Usianya Bayu perkirakan beberapa tahun lebih tua darinya.
"Siapa kau?" Suara berat lolos dari bibir tipis itu.
"Kau yang menembak lukisanku?"balas Bayu, rasa takutnya sudah sirna. Debaran jantung sudah normal dan rasa kaget sudah menipis. Bayu melangkah mundur, pemuda itu melangkah maju, tetap menodongkan pistol tak berniat melepaskan Bayu.
"Tidak, aku ingin menembakmu. Sayangnya angin tidak mendukung. Pelurunya malah meleset menembus lukisan itu," jawab Pemuda itu nada kecewa.
"Beraninya kau ingin membunuhku! Apa alasannya? Siapa kau? Apa kau tahu siapa aku hah?"pekik Bayu geram. Ia sangat marah mendengar jawaban Pemuda itu, bukannya menyesal dan meminta maaf sebelum Li tiba malah kecewa dan kesal karena sasaran tidak kena.
"Aku penjaga taman ini. Queen menitahkan padaku untuk menjaga taman ini dari siapapun. Tidak boleh dimasuki selain dari dirinya dan orang yang mendapat izinnya. Kau melanggar, hukumannya adalah mati," jawab datar Pemuda itu. Bayu menyipitkan matanya.
Mengapa?batin Bayu.
"Kau yang lengah, seharusnya kau yang mati. Jikapun aku mati tadi, kau juga akan mati karena membunuh adik dari Queen-mu. Jadi turunkan senjata itu dari hadapanku," ucap Bayu santai. Mata Pemuda itu bergerak, agaknya terkejut dengan ucapan Bayu. Tangannya tampak meragu. Sorot mata Bayu yang berubah tajam menandingi sorot mata miliknya.
"Apa katamu?"tanya Pemuda itu memastikan.
"Aku adalah adik dari Kak Karina," jawab tegas Bayu. Pemuda itu terbelalak kaget, perlahan tangan yang menodongkan senjata pada Bayu bergerak turun. Ia lalu menilik kanan - kiri. Kesempatan. Bayu dengan cepat mengeluarkan setrum yang selalu ia bawa sebagai alat jaga diri. Bayu bergerak menyetrum Pemuda itu tepat di pinggang.
Tubuh Pemuda itu bergetar hebat dengan mata membulat sempurna menatap marah Bayu. Tak berselang lama, tubuh itu ambruk. Pemuda itu pingsan. Bayu menarik tangannya dan menyimpan setrum di belakang badan. Ia tersenyum miring.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Tuan Muda?"tanya Li setelah tiba di belakang Bayu. Ia secepat mungkin ke taman ini. Padahal tadi ia sedang meeting. Bayu menoleh ke belakang. Sorot matanya berubah dingin dengan raut wajah ketus.
"Urus dia," suruh Bayu menunjuk Pemuda itu yang terkapar tidur di atas rumput. Li mengikuti arah tunjuk Bayu. Ia kaget.
"Syaka!"seru Li segera memeriksa keadaan Pemuda itu yang tidak lain adalah Syaka.
Bayu menaikkan alisnya melihat wajah panik Li.
"Ada apa Paman? Mengapa kau sangat panik? Dia hanya pingsan bukan mati," ketus Bayu.
"Apa? Apa yang terjadi padanya? Mengapa dia pingsan? Apa kalian bertengkar?"tanya panik Li.
"Lihat tangannya, menurut Anda apa yang telah terjadi?"balas Bayu. Mata Li menatap pistol yang terlempar tidak jauh dari Syaka.
"Kalian bertengkar?"tanya Li.
"Kau sangat panik seolah dia anakmu. Apa dia anakmu sebelum menikah dengan Tante Elina?"heran Bayu dengan nada datarnya.
"Sembarang! Jaga bicara Anda Tuan Muda. Saya tidak akan segan menghukum Anda walaupun Anda adalah kerabat Queen!"bentak Li kesal. Bayu terkesiap.
"Lantas?"tanya Bayu. Li menatap Bayu sesaat lalu mengamati sekitar.
"Kita keluar dulu dari sini," ucap Li dengan nada cemas.
"Okey. Aku akan membereskan peralatan lukisku dulu," jawab Bayu.
"Tidak! Kita langsung keluar. Barangmu biar dibawa oleh penjaga," tegas Li, menggendong Syaka.
Bayu mengikut dengan segudang pertanyaan di benak. Li terdengar menghela nafas lega saat keluar dari pintu taman. Diikuti dengan dua penjaga yang wajahnya pucat pias berubah lega.
Salah seorang penjaga mengunci rapat pintu masuk taman.
"Apa yang bahaya dari taman ini? Perasaan aman - aman saja." Bayu mengutarakan keheranannya.
"Kita ke klinik dulu," ucap Li, melangkah menaiki. Bayu ikut naik.
"Ayo lah Paman. Apa yang tersimpan di taman itu?"desak Bayu.
"Itu salah satu tempat terlarang bagi siapapun di markas ini. Syaka mendapat tugas hari ini menjaga pintu masuk tapi Anda berhasil masuk. Bagaimana caranya?"
"Tempat terlarang?"
"Aku masuk tentu saja dengan otakku."
__ADS_1
"Oh. Nanti akan aku jelaskan detailnya, sekarang kalian harus diperiksa dulu," tegas Li. Bayu mengangguk.