Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 155


__ADS_3

Pukul 19.00, Karina, Arion, Li, Gerry, Elina serta Blue Boys berkumpul di meja meja panjang yang terletak di pinggir pantai. Di atas meja telah tersaji makan malam yang mereka buat. Lampu-lampu pantai yang berbentuk bulat sebesar bola kaki dan berwarna warni menghiasi acara makan malam tersebut.  Canda tawa, semilir angin serta rembulan yang memantul di permukaan air pantai menambah suasana.


Kini tibalah mereka menikmati makanan penutup yang Karina dengan Arion, ketiga tangan kanannya serta Koya buat tadi. Karina hanya mengambil wajik tersebut untuk menyuapi Arion, sedang dia sendiri lebih memilih menikmati coklat hangat. Padahal member Blue Boys dan tangan kanannya menikmati wine.


Ternyata hal itu dilirik oleh Agus. Ia heran, mengapa susah payah membuatnya, setelah jadi tak dikonsumsi?


Sedangkan rasa wajik itu lezat, cocok dengan lidahnya maupun lainnya.


"Karina? Mengapa kamu tak memakan ini?"tanya Agus penasaran menunjuk piring berisi wajik di hadapannya.


Para member lain ikut menatap Karina dengan tatapan ingin tahu, terutama Koya.


"Aku sudah memakannya tadi, tapi hanya secuil. Perutku tak tahan jika aku makan makanan yang terbuat dari ketan," jawab Karina tersenyum.


"Istriku punya penyakit lambung, perutnya akan terasa dililit," tambah Arion yang tahu kondisi Karina.


"Oh begitu, tapi mengapa Anda membuatnya jika tak bisa Anda makan?" tanya Koya.


"Hobi, aku menikmati prosesnya, masalah hasil itu hal belakangan," jawab Karina santai.


"Lambungmu, lambung karet. Aku kira apapun bisa masuk. Tapi aku salah, ternyata kau kalah dari butiran beras ketas," kekeh Kuki. 


"Ya lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Kau juga luar biasa. Beli makanan ringan di mesin makanan otomatis pakai black card, lucu sekali." Karina balas meledek Kuki. Skat mat. Kuki langsung diam dan menikmati santapannya.


Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan bergurau dan berbincang. Karina yang tahu akan akhir cerita jika para member Blue Boys mabuk, membatasi jumlah alkohol yang masuk ke dalam tubuh mereka. Hingga larut tiba, mereka pun memasuki bangunan di mana mereka akan tidur. Ya, Karina memutuskan untuk menginap di markas. 


***


Darwis yang berada di klinik markas untuk mengobati luka akibat hukuman yang ia terima terdiam. Ia mengamati tetes demi tetes infus yang mengalir dan masuk ke dalam tubuhnya. 


"Kasihan Joya," gumam Darwis.


"Tidurlah Darwis, pulihkan dulu dirimu baru pikirkan anak dan istrimu. Lagian itu juga akibat tindakan gegabah istrimu. Dia malah berulah kala Queen di markas, entah apa yang akan Queen lakukan padanya besok," ujar Dokter Ren yang datang untuk memeriksa infus Darwis.


"Aku ambil andil dalam hal ini, Ren. Aku lupa memperingatinya," ucap lirik Darwis memejamkan matanya.


Dokter Ren diam saja tak menanggapi, ia mengambil suntik dan menyuntikkan obat tidur agar Darwis tidur dengan nyenyak tanpa beban pikiran. Tak lama terdengar dengkuran halus yang beraturan.


"Semoga saja Queen masih punya toleransi lebih untukmu dan istrimu," gumam harap Dokter Ren keluar dari ruang rawat Darwis.


***


Pagi telah tiba, di kediaman Alantas aktivitas telah berjalan ramai. Di kamarnya dengan Calvin, Raina telah bersiap dengan pakaian formalnya. Ia tengah memeriksa ulang isi kopernya. Calvin yang melihat itu mencembikkan bibirnya. Raina akan dinas luar negeri selama seminggu bersama dengan Lila. Calvin pun telah memakai pakaian kerjanya, tinggal kurang dasi dan jas saja.


Satu hari saja tak bertemu, rasanya setahun. Apalagi seminggu, tak tertahan lagi rasa rindu di hati. 


"Kenapa kau cemberut? Aku hanya seminggu saja," tanya Raina menatap Calvin yang bersedekap tangan. Posisi mereka berseberangan. Raina di sisi kanan dan Calvin di sisi kiri.


"Mengapa tak Sasha atau Aleza saja yang pergi? Mengapa harus kau dan Lila?"tanya Calvin. Mencoba membatalkan hal itu.


"Ini tugas kami Vin, sudah disusun sebagai jadwal tahunan kami, tak bisa diubah sebab sudah tanda tangan Nona," jelas Raina sekali lagi. Ya tadi malam mereka sudah membahas hal itu. 

__ADS_1


Calvin menghela nafas. Jika sudah ditandangani, mau dikata apa lagi. Mau dilarang atai dibujuk cara apapun tak bisa diubah.


"Baiklah, tapi dengan syarat dariku. Oke," ucap Calvin.


"Ya, apapun itu," balas Raina.


***


"Rara Sayang, mengapa tak berhenti saja dari pekerjaanmu? Tanpa bekerjapun sekarang kamu dapat mendapat apa yang kamu ingin. Ada suami serta kami," ujar Ranti saat telah selesai sarapan.


Raina mengerutkan dahinya tanda tidak suka. Raina menggeleng. Calvin menatap aneh mamanya. Sudah tahu Raina cinta mati dengan pekerjaan dan Karina, malah disuruh berhenti. Bisa perang nanti menantu dan mertua.


"Maaf Ma, Raina gak bisa. Selain karena kontrak seumur hidup, pekerjaan adalah jiwa Raina selain Calvin," tolak Raina.


"Ah baiklah." Ranti menghela nafas panjang. Semua pemain bisnis besar, tahu bahwa kontrak di KS Tirta Grun adalah seumur hidup. Tak bisa mengundurkan diri, akan tetapi bisa dipecat. Itupun hanya untuk kesalahan yang tidak dapat ditoleransi. Itupun nasibnya akan dipecat juga dari dunia. 


Oleh karena itu, untuk bekerja di KS Tirta Grub harus punya kualifikasi yang tinggi serta keroyalitas yang besar. Maka dari itu, tak heran KS Tirta Grub menjelma sebagai perusahaan raksasa dunia.


Raina di antar ke bandara oleh Calvin. Di bandara, Lila yang juga diantar oleh Sam telah menunggu di landasan pacu dekat dengan pesawat yang akan mereka naiki nanti. 


"Hubungi aku setelah kau tiba di sana," ucap Sam.


"Tentu," sahut Karina santai. 


"Jangan lama-lama. Percepat saja," pinta Sam.


"Akan ku usahakan," jawab Raina. 


Tak lama, Raina dan Calvin tiba. Setelah drama yang unfaedah, dan dilepas dengan peluka, akhirnya Lila dan Raina lepas landas juga menuju negara K. Negara awal perjalanan dinas Raina dan Lila.


"Nasib punya istri gila kerja," ujar Sam.


"Ya, nasib juga punya istri anggota Pedang Biru. Mereka sangat mencintai pekerjaan dan Karina," sahut Calvin menaikkan satu alisnya.


"Kau benar. Sudahlah ayo kita bekerja di perusahaan masing-masing," ajak Sam.


"Ayo," ucap Calvin. Mereka segera menuju mobil masing-masing dan berangkat ke perusahaan.


***


Di pavilium barat markas cabang Pedang Biru, seorang wanita berada di dekat jendela. Kedua tangannya bertumpu pada bingkai dasar jendela. Ia menatap indahnya taman mawar di samping luar jendela.


Wanita menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ia mengulas senyum tipis.


"Putriku, sebentar lagi kita akan bertemu. Bertahanlah Nak," gumam Wanita itu.


Wanita itu adalah Elsa Rianti. Istri sah Reza serta ibu kandung Joya. Karina menemukannya sekitar satu tahun lalu. Dan Elsa baru sembuh dari traumanya satu bulan belakangan. 


Senyuman Elsa berubah jadi wajah datar kala mengingat sang suami. Selama pernikahan hanya duka yang ia terima, sakit hati dan penderitaan membuatnya dendam dan berniat balas dendam. Lukisan serta teror yang ia lakukan pada Reza adalah bagian dari balas dendamnya. 


"Hanya hitungan hari, kau akan melayang di tanganku!"gumam Elsa lagi. Menatap jauh ke arah depan. Matanya membara dengan gelojak emosi di hati. Elsa mengepalkan tangannya. Tak lama ia berbalik dan menuju papan lukis untuknya mengekspresikan perasaannya. Goresan demi goresan ia torehkan hingga membentuk sosok pria yang wajah penuh penderitaan dan keputuasaan. Elsa tersenyum sinis kala ia membubuhkan tanda tangan di sudut kertas.

__ADS_1


"Aku tak sabar melihat wajah ini di wajahmu," ucap dingin Elsa.


***


Setelah rangkaian kegiatan pagi hingga pukul 10.00, para anggota Pedang Biru yang merupakan peserta kegiatan menghela nafas panjang. Tak terkecuali Blue Boys yang duduk dengan mengipasi tubuh mereka di pendopo. Karina yang berada di pendopo khususnya, mengamati hal tersebut. Wajah  puas terpatri di wajahnya. 


"Panggil Darwis dan Joya ke ruanganku!"titah Karina pada pengawalnya.


"Baik," jawab pengawal tersebut.


"Pulihkan tenaga kalian, latihan selanjutnya aku yang akan membawanya," tegas Karina pada bawahannya yang sedang beristirahat.


"Baik Queen!"jawab semarak mereka. Sangat jarang Karina turun tangan melatih mereka. 


"Dan kalian, nikmati waktu kalian, jika mau berkeliling, berkelilinglah. Ada kendaraan yang memudahkan kalian jalan-jalan, so enjoy your time," ucap Karina pada Blue Boys. 


"Bebas ke mana pun kan?"tanya RJ.


"Ya, selagi masih kawasan markas, tapi perhatikan tanda. Jika ada tanda silang lebih baik tinggalkan jangan dikunjungi. Oke," tegas Karina. Blue Boys mengangguk. Karina segera beranjak menuju ruangannya. Arion tak bersamanya. Arion tengah berada di kamar Karina. Ia mempersiapkan dirinya untuk operasi lusa.


***


"Apa jawabanmu tentang pertanyaanku kemarin, Joya?"tanya Karina datar menatap Joya dan Darwis bergantian. Posisi mereka berhadapa, namun kepala Joya dan Darwis menunduk.


Joya diam, kedua tangannya ia satukan dan ia gesekkan. Aura Karina sangat menekan dirinya. Keberaniannya sirna diterpa tatapan dingin Karina.


Karina tersenyum sinis, Karina lantas menatap Darwis, dengan tatapan menyelidik.


"Sudah intropeksi diri? Sudah sadar kesalahan dan batasanmu?"tanya Karina datar.


Darwis mengangkat pandangannya, menatap Karina dengan takut.


"Sudah! Aku sudah sadar," jawab Darwis, pelan namun tegas.


"Baguslah. Tapi ingat, jangan kau ulangi lagi. Persiapkan dirimu, kau akan kembali ke negara K. Rian dan Satya kewalahan mengerjakan tanggung jawab kalian bertiga!"titah Karina. Joya melirik Darwis dan Karina.


"Lantas istriku bagaimana?"tanya Darwis.


"Ya ikut denganmu lah, siapa yang mau mengurusnya di sini?" sarkas Karina.


"Baik!"jawab Darwis, Darwis berdiri dan mencium singkat dahi Joya lalu keluar dari ruangan Karina.


Kini tinggallah Karina dan Joya berdua. Karina bertopang dagu, satu tangannya lagi memainkan pena lasernya. Suara ketukan pena dan meja membuat suasana menjadi serius.


"Belum ada jawaban kah?"tanya Karina.


Joya menaikkan pandangannya, hingga mata keduanya beradu pandang. Karina menaikkan satu sudut bibirnya. 


"Kau tak bisa menjawabnya?"tanya Karina lagi.


"Jawaban apa yang mau kau dengar Karina? Mustahil bahwa keturunan Tirta Sanjaya masih hidup. Aku dengar sendiri dari Papa kalau keluarga itu telah habis tak tersisa dari dunia ini. Bagaimana mungkin kita ini sepupun? Tak masuk akal sekali," jawab Joya ikut tersenyum sinis.

__ADS_1


Karina menaikkan satu alisnya. 


"Oh ya? Tak mungkin ya? Oke dapat aku maklumi. Lantas untuk pertanyaan kedua? Apa jawabannya?" Karina ingin mendengar jawaban Joya. Tetapi agaknya Joya lupa dengan pertanyaan kedua, yang diingat hanyalah pertanyaan pertama dan ketiga.


__ADS_2