Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
Rumah Karina


__ADS_3

Suasana duka masih menyelimuti Karina. Kini ia berdiri di samping makan Enji yang baru selesai dikebumikan. Ia menatap datar gundukan tanah itu.


Keluarga Wijaya yang lain sudah menuju mobil masing masing. Di sampingnya ada Arion yang setia memenaminya dan memayunginya.


"Sudahlah ayo kita kembali pulang. Hari sudah mau hujan," bujuk Arion


Hening. Tak ada jawaban. Hanya ada awan mendung yang menutupi matahari.


"Jika kau sedih bagaimana aku bisa menepati janjiku padanya? Aku berjanji tidak akan membuatmu meneteskan air mata walaupun hanya setitik. Lagipula apa dia bahagia dan tenang di sana melihat kamu menangis terus menerus?" tanya lembut Arion memegang pundak Karina seraya membujuk nya lagi.


Karina memalingkan pandangannya ke arah Arion. Arion tersenyum lembut. Sungguh ia pun tak menyangka bahwa hari bahagianya karena pernikahan dan dukanya Karina karena kehilangan salah satu orang yang sayangi dan paling dekat dengan Karina sebelum dirinya sendiri.


Namun, sebenarnya Arion sudah dekat dengan Karina sejak lama. 


Arion menghapus air mata Karina yang masih menetes.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri ... ini juga kesalahanku," ujar Arion lagi.


"Kau benar ... aku seharusnya tidak seperti ini ... aku hanya akan mengecewakannya jika aku berlarut-larut menyalahkan diriku sendiri. Aku sudah merelakan dia pergi ... aku akan selalu mengingatnya sebagai Zizi kecilku," ujar Karina tersenyum kecil.


Arion tersenyum puas mendengar itu.


"Kalau begitu mari kita pulang ... air hujan sudah mulai turun," ajak Arion 


Memang benar rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi dimana Arion dan Karina berada.


"Ayo kita pulang," ujar Karina yang kembali dalam mode datarnya.


Arion terkejut dengan perubahan Karina yang dari duka menjadi datar. Namun, ia tak mempermasalahkannya. Baginya wajah datar dan dingin sudah jadi bagian dari Karina.


"Selamat jalan Enji.Terima kasih untuk selama ini," gumam Karina.


Setelah itu ia dan Arion berjalan meninggalkan makam Enji menuju mobil Arion. Di parkiran ternyata Li dan Gerry masih menunggu Karina di depan mobil yang digunakan membawa Enji ke rumah sakit.


Di depan mobil itu ada mobil Amri dan Wijaya serta Kakek Bram. Dan di belakangnya adalah mobil Arion.


"Nona ... apa Anda baik-baik saja??" tanya Li khawatir


"Aku tak apa!! Mengapa kalian masih di sini? Bukannya masih banyak pekerjaan?" tanya selidik Karina dengan menatap mereka.


Li dan Gerry tersenyum kaku. Mereka serentak menggaruk kepala mereka yang tak gatal.


"Kami menunggumu Nona," sahut Gerry.


"Tunggu kalian dari kemarin malam manggil istriku Nona. Memang kalian ini siapa ya?" tanya Arion bingung.


Wajar saja Arion yang mengetahui siapa mereka karena semuanya serba cepat dan tak bisa berkenalan. 


"Perkenalkan saya Gerry dan Ini Li. Kami ini adalah …." Perkenalan mereka dipotong Karina.


"Mereka itu salah satu pegawai cafeku yang letaknya tepat di samping hotel kemarin," ujar Karina memberikan kode pada Li dan Gerry untuk segera pergi kembali ke markas.


"Oh ... tapi setahuku nama cafenya Blue Cafe lah ... mengapa bisa jadi milikmu??" tanya Arion penasaran.


"Karena aku punya banyak cabang dan setiap cabang namanya berbeda," jelas Karina.


Karina masih memberi kode pada Li dan Gerry. Menangkap kode dari Queennya Li dan Gerry langsung berpamitan.


"Kalau begitu kami duluan yang nona,tuan muda … kami masih banyak pekerjaan," pamit Li.


"Baiklah …," ucap Karina.


Li dan Gerry segera masuk ke mobil dan pulang menuju markas Pedang Biru.


Arion masih mengawasi mereka dari mulai masuk ke dalam mobil dan sampai hilang dari pandangannya.


"Jadi itu mobilmu apa mobil mereka?" tanya Arion yang masih penasaran.


"Punyaku," jawab Karina acuh tak acuh.


Rintik hujan semakin deras. Karina dan Arion menuju mobil mereka dan pulang menuju kediaman Karina terlebih dahulu diikuti 2 mobil Keluarga Wijaya.


Selama perjalanan hanya ada suara mesin mobil yang menderu.


"Emmm ... apa kau masih sedih?" tanya Arion memecah suasana.

__ADS_1


"Tidak ... aku sudah rela dan ikhlas dia pergi," sahut Karina datar.


Suasana kembali canggung. 30 menit kemudian ketiga mobil mewah itu memasuki halaman depan rumah Karina.


Di sana mereka sudah disambut oleh Bik Mirna dan Pak Anton.


"Selamat datang kembali Nona, Tuan, Nyonya, Tuan Besar dan juga Kakek," sapa Bik Mirna.


Kelimanya mengangguk. Kakek Bram melihat kanan kiri bagian halaman depan Karina. Kakek Bram menemukan sesuatu yang menarik menurutnya. Kolam ikan di tengah halaman menarik perhatiannya.


"Ayo masuk Ma, Pa, Kakek …," ajak Karina.


"Ayo," ujar Maria.


"Hmmm … kalian duluan saja masuk ... Kakek mau lihat lihat dulu ... suasana di sini membuat Kakek bernostalgia," ujar kakek Bram.


"Tapi Ayah apa tidak papa Ayah sendirian?tanya Khawatir Amri.


"Apa perlu aku temani?" tanya Amri lagi.


"Gak usah ... Kakek masih kuat," tolak kakek Bram.


"Ya sudah Ayah hati-hati ya."


"Ar, Ma, Pa kalian masuk duluan saja," ujar Karina.


"Oke ... aku tunggu kamu di ruang tamu ya," ucap Arion.


Maria, Amri dan Arion masuk ke dalam duluan meninggalkan kakek Bram dan Karina serta Bik Mirna dan Pak Anton.


Karina lantas memanggil seseorang.


"Nita ... Nita ... Anita ...," panggil Karina.


Tak lama muncullah seorang wanita yang usia masih terbilang muda sekitar 30 tahunan. Ia datang dari arah samping rumah. 


"Ya saya Nona," ujar Nita.


"Nita kamu temani Kakek Bram keliling rumah ini ya," perintah Karina.


"Eh ... tidak usah cucu menantu. Aku sendiri saja," tolak kakek Bram.


"Kakek ... Kakek belum mengenal tempat ini dengan baik ... jadi lebih baik kakek ada yang menemani ... anggap saja ini seperti tur kelilin," bujuk Karina.


"Baiklah jika kau memaksa," ujar kakek Bram tersenyum.


"Ayo Kakek," ajak Nita.


"Semoga kau menemukan hal menarik Kakek," ucap Karina.


Setelah kakek Bram dan Nita pergi berkeliling rumahnya,Karina di ikuti Bik Mirna masuk ke dalam menyusul ke ruang tamu. Sedangkan pak Anton menuju garasi mobil.


Bik Mirna langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam karena waktu menunjukkan pukul 17.00.


"Ma ... Pa ... malam ini menginap di rumah aku saja ya," ujar Karina dengan nada datar seperti biasa.


"Tapi kan masih sore ... kami kan bisa pulang Kar?" tanya Maria. Ia sebenarnya ingin membuat Arion dan Karina lebih dekat lagi.


"Sesekali menginap di sini kan tak masalah," ujar Karina dengan mimik wajah yang berubah menjadi memelas.


"Ya sudah malam ini Papa sama Mama menginap di sini," ucap Amri.


Ia memberi kode pada istrinya yang mana artinya jangan membuatnya sedih. Menantu kita baru kehilangan Enji.


"Ya sudah," ujar Maria.


"Kalau gitu ... Karina ke kamar dulu ya."


"Aku ikut," ucap Arion.


Karina diikuti Arion naik menuju kamar Karina. Sedangkan Maria dan Enji menuju kamar tamu diantar oleh salah satu pelayan Karina yang lain.


***


Di luar kakek Bram antusias mendengar penjelasan Nita. Rumah Karina yang berdominasi berwarna biru dan dilengkapi dengan pepohonan menambah kesan keindahannya.

__ADS_1


"Jadi Kakek ... karena rumah ini hampir keseluruhannya berwarna biru maka rumah ini dinamakan Blue House. Lagipula di sepanjang jalan menuju gerbang ditanami pohon cemara yang dijaga ketinggiannya. Agar apabila ada angin kencang pohon tidak tumbang," terang Nita.


Saat ini mereka berada di dekat kolam berbentuk persegi panjang. Air kolam itu berwarna biru yang mana membuat mata tak dapat melihat apa isinya. Kolam inilah yang menarik perhatian kakek Bram.


"Apa isi kolam ini? Mengapa aku tak dapat melihat isinya?" tanya kakek Bram penasaran.


"Apa Kakek yakin mau melihatnya?" tanya ragu Nita.


"Mengapa tidak?"


"Baiklah Kakek."


Nita lantas mengambil kayu panjang yang memiliki capit pada ujungnya dan menuju frezer yang terletak tak jauh dari kolam. Ia mengambil potongan daging dan mecapitnya.


Ia kembali ke sisi kakek Bram.


"Mundur sedikit Kakek," seru Nita.


Kakek Bram mundur beberapa langkah. Nita mendekatkan daging yang dicapit tadi di tengah kolam. Tak lama air kolam yang semula tenang mulai beriak.


Nita menjatuhkan daging itu. Dari dalam kolam mulailah muncul ikan berwarna hitam bergradasi merah dengan gigi tajam langsung menyambar dan mengoyak daging tadi. Tak sampai 10 detik daging itu sudah habis tak tersisa. Air kolam kembali tenang.


"Piranha??" gumam kaget kakek Bram.


Namun masih bisa terdengar oleh Nita.


"Benar kakek ini Piranha. Ini adalah salah satu peliharaan Nona di sini."


"Astaga ... selera cucu menantu luar biasa."


"Jadi apalagi yang ada di rumah ini?" tanya kakek Bram.


"Ayo Kakek kita lanjutkan tur kita ini."


Mereka melanjutkan berkeliling. Setelah berjalan sekitar 30 meter mereka tiba di kebun tanaman. Ada yang unik darinya yaitu terdapat seperti parit atau kolam kecil yang panjang dan berliku teratur.


"Apa saja isi kebun ini?"


"Kebun isi berisi sebagian tanaman obat yang Nona tanam sendiri dan ada juga tanaman langka ...," terang Nita.


"Begitu yah ... lantas apa kegunaan dari parit-parit ini?"


"Sebenarnya Nona sendiri yang merancangnya. Untuk apa kegunaannya saya kurang mengerti sebab jika ditanya Nona hanya menjawab salah desain. Tapi sekarang parit-parit ini dihuni oleh ikan cu*ang."


"Boleh aku melihatnya?"


"Tentu Kakek,"


Nita mengambil pakan ikan cu*ang di tempat yang disediakan. Ia lantas menaburkannya di parit yang berisi ikan ******. Tak lama mulai muncul satu persatu ikan untuk makan. Semakin lama semakin banyak. Ada beragam warna ikan antara lain merah, biru dan merah muda.


"Wow …."


"Apakah Kakek lelah??" tanya Nita.


"Sedikit."


"Kalau begitu apa kakek mau istirahat di dalam atau kita ke sana saja." ujar Nita menunjuk gazebo tak jauh dari tempat mereka berdiri. Hanya sekitar 15 meter saja.


"Kita ke sana saja." jawab kakek Bram.


Nita menuntun kakek Bram menuju gazebo. Di sana Nita kembali menerangkan tentang rumah Karina.


"Jadi di belakang rumah ada pintu yang menuju ke taman belakang yang mana itu berisi kebun buah seperti anggur dan strawberry dan juga kebun sayuran dengan sistem hidroponik," terang Nita.


"Di sana juga ada taman reptil mini," sambung Nita.


"Taman reptil? Seperti apa itu?"


"Ya isinya adalah hewan hewan reptil seperti ular, iguana, buaya, juga biawak."


"Astaga ... apa rumah cucuku ini hutan? Apa disini juga ada harimau? Singa? Atau ada yang lain?"


"Mungkin ada tapi saya tidak tahu dikandangkan di mana Kakek." ucap acuh Nita.


"Begitukah?"

__ADS_1


Nita mengangguk.


__ADS_2