
Robot burung kolibrinya bertengger manis di meja tepat di hadapannya. Li dan Gerry segera mengetuk-ngetuk dinding dan mencari apa yang di maksudkan oleh Karina.
Tak lama kesepuluh anggota pasukan elit masuk ke ruangan VVIP di mana Karina berada.
"Ini adalah misi pertama kalian bukan?"tanya Karina. Mereka bersepuluh mengangguk. Ini adalah misi pertama mereka setelah lolos seleksi pasukan elit serta setelah pelatihan selama 2 tahun lamanya.
"Queen saya sudah menemukannya," seru Li menatap Karina. Karina tersenyum kecil di balik topengnya. Ia segera berdiri dan mendekati Li. Gerry dan kesepuluh lainnya tetap berdiri di tempat semula.
Karina meraba-raba dinding itu mencari sesuatu namun tak didapat. Dahinya mengerut.
"Bagaimana bisa tak ada? Seharusnya kan ada di sekitar dinding ini?" tanya Karina memainkan jarinya.
"Tunggu. Maksud Queen di balik dinding ini adalah ruang rahasia?" tanya Gerry memastikan.
Karina mengangguk. Karina sibuk berpikir dan menghitung di mana tuas atau tombol untuk membuka pintu rahasia ini. Kakinya dia hentak-hentakkan pada lantai.
**Klik.
Krek**.
Dinding itu terbuka menampilkan tangga menuju ke arah bawah. Karina tersenyum sinis. Ternyata kunci untuk membuka pintu adalah hentakkan kaki pada salah satu lantai yaitu lantai di mana Karina berdiri saat ini.
"Sungguh mekanisme yang licik," pasti tidak ada yang menyangka bila kuncinya adalah di lantai. Pasti orang lain akan fokus pada dinding.
Li dan Gerry melongo tak percaya.
"Kenapa melamun? Ayo cepat! Siapkan granat asap."
Suara datar Karina mengagetkan mereka berdua serta kesepuluh anggota pasukan elit. Karina masuk perlahan menuruni tangga. Di belakang Li dan Gerry waspada dengan pistol berjenis Desert Eagle di tangan. Sedangkan kesepuluh anggota elit siap sedia dengan granat asap dan katana.
**Tak.
Tak.
Tak**.
Ternyata anak tangga itu sangat banyak sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuruni.
Di anak tangga terakhir terdapat 2 orang penjaga, namun tak menyadari kehadiran Karina dan pasukannya sebab tangga yang dibangun berbentuk zig-zag.
Karina segera memberi instruksi untuk melempar satu granat asap kepada dua penjaga itu.
**Cling ....
Cling ....
Boom ....
Wossh** ....
Saat melihat ke arah tangga, dengan cepat dua penjaga itu berteriak namun sudah jatuh pingsan duluan.
"Hehehehehe … lebih baik kalian mimpi indah saja sebelum bye-bye dari dunia ini," kekeh Karina. Ia memerintahkan pasukannya mengikat dan menutup mulut keduanya.
Kemudian, mereka melanjutkan langkah mereka. Karina tetap mengontrol robot burung kolibrinya untuk mencari di mana Berto berada. Satu lagi, ruangan bawah tanah ini menggunakan genset sebagai sumber aliran listriknya sehingga tidak terdampak oleh padamnya listrik kota.
Tepat sepuluh langkah dari mereka terdengar suara tawa yang menggema. Suara itu berasal dari ruangan di hadapan mereka. Tidak ada penjaga di sana. Namun, tak ada cela untuk mengintip.
Tak kurang akal, Karina mengeluarkan robot yang lebih kecil agar bisa masuk melalui lubang kunci pintu. Robot seukuran kulit kacang itu dengan mudahnya melewati pintu.
"Wah wah wah … ternyata mereka menyembunyikan tambang emas di sini," ucap Karina takjub dan berbinar melihat apa yang direkam oleh kamera pengawas robotnya di layar remote control.
Ternyata ruangan di hadapan mereka adalah sebuah kasino bawah tanah alias tempat perjudian yang sangat ramai dikunjungi. Karina dapat melihat targetnya sedang duduk dan berbincang riang dengan beberapa orang.
"Heh … dua target dalam satu kandang. Plus aku dapat banyak emas," ucap Karina tersenyum licik.
"Queen?" panggil Gerry pelan.
"Hmm …," jawab Karina tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor remote control.
"Seperti itu tak akan mudah, Queen," ujar Gerry pelan.
"Memang. Siapa bilang ini mudah?" tanya balik Karina.
"Iya Queen. Masalahnya sekarang kita dikepung Queen," seru Gerry. Karina mengalihkan pandangannya ke arah belakang mereka.
Terdapat sekitar 20 orang penjaga berpakaian serba hitam dengan masing-masing dari mereka memegang katana. Karina berdecak sebal.
"Siapa kalian?" tanya salah seorang dari mereka.
"Orang lewat. Ya jelas penyusup lah," jawab santai menyerahkan remote control di tangannya pada Gerry.
"Menyerah atau mati," ujarnya lagi to the point. Karina menyilangkan tangannya menatap malas kedua puluh orang itu.
"Aku mau kalian yang mati!!" ketus Karina menyambar Katana dari tangan satu anggota elitnya dan maju ke hadapan ke dua puluh orang itu seorang diri.
"Queen!" cegah Gerry,Li serta kesepuluh orang pasukan elitnya.
Karina menaikkan tangan menyuruh mereka diam.
"Hari ini hariku. Mangsa sudah di depan mata untuk apa aku abaikan. Kebetulan sudah lama aku tak berolahraga," ujar Karina merenggangkan lehernya.
__ADS_1
"Heh wanita bertopeng! Sungguh besar nyalimu. Lebih baik kau jadi wanita kami saja. Akan kami ampuni nyawamu,"ledek salah seorang dari mereka seraya mendekati dan memutari Karina.
Wajah geram tercetak jelas pada wajah Li dan Gerry. Mereka menaikkan pistol mereka bersiap menembak serta kesepuluh anggota elit menyiagakan katana mereka siap menyerang.
"Turunkan senjata kalian. Sudah kukatakan ini mainanku," perintah Karina tegas langsung mengayunkan katananya memotong tangan kanan penjaga yang mengitarinya.
"Auh … dasar jal*ng. Dikasih hati minta jantung. Serang mereka," seru marahnya. Karina tertawa sinis di balik topengnya.
"Seharusnya aku yang mengatakannya. Cukup aku saja lawan kalian," ujar Karina berlari dan mengayunkan katananya memotong apa saja yang di dekatnya.
Plass ....
Satu kepala menggelinding di lantai. Darah menetes dari ujung katananya. Karina menjilat darah yang menempel di tangannya.
"Puih … darahnya bahkan tak enak," umpat Karina meludahkan kembali darah yang ia jilat.
"Hoho masih ada lima belas orang lagi rupanya. Apa kalian tak takut?" tanya Karina santai.
"Mau mati dengan cara apa? Dipotong satu-satu atau ditembak langsung mati?" tanya Karina lagi. Terlihat wajah takut pada wajah mereka namun berusaha mereka tutupi.
"Ahh kelamaan langsung saja deh " ujar Karina langsung berlari lagi menyerbu lima belas orang yang tersisa.
Kali ini lebih sulit lagi ternyata. Walaupun rasa takut mendera mereka menyerang Karina membabi buta.
"Huh rasa takut memang memang paling ampuh untuk menggali potensi. Tapi sayang aku buru-buru," puji Karina melompat tinggi dan menendang dada beberapa dari mereka.
Yang dadanya tertendang langsung menyingkir menabrak dinding. Setengguk darah mereka keluarkan.
"Hmm … tinggal 10. Capek deh. Sudah ah mending langsung tembak saja," gumam Karina mengeluarkan dua pistol dari balik bajunya dan langsung menembak.
**Dor ....
Dor ....
Dor** ....
Suara tembakan bergema dan langsung membuat kesepuluh sisanya dead alias mati. Karina berjalan dan menginjak mayat orang yang sudah ia habisi.
Ada sekitar lima orang yang kepalanya berpisah dari tubuhnya sedang lima lainnya ada yang hilang tangan maupun kaki akibat tajamnya katana yang Karina mainkan.
"Hmm sepertinya ini pimpinannya," ujar Karina berjongkok di sisi salah satu mayat yang terkena tembakan di dada. Matanya masih terbuka melotot ke arah Karina.
Sepertinya ia albino deh, matanya berwarna biru, batin Karina.
"Li berikan aku pisau silet," ucap Karina. Li langsung mendekat dan memberikannya. Sedang yang lain melihat apa yang akan dilakukan Karina.
"Hehehe lebih baik mata kamu buat koleksi aku saja. Kan sayang ikut dibuang," ujar Karina santai langsung mencongkel kedua mata dengan manik biru itu. Darah langsung keluar dari mata yang sudah di ambil Karina.
Li dan Gerry yang sudah terbiasa dengan aksi Queennya hanya bisa tersenyum lebar. Sedangkan kesepuluh anggota pasukan elitnya masih menggigil melihat langsung aksi Karina. Wajar saja. Sebab baru pertama kali mereka menjalankan misi bersama Queennya.
"Hmm … katana ini bagus. Produksi mana ya? Bodoh ah ambil saja," seru Karina memerintahkan pasukannya mengambil satu persatu katana yang ada di tangan musuh.
Mata Karina memang berbinar jika melihat barang bagus. Terutama yang berwujud tambang emas dan ilmu pengetahuan termasuk senjata.
Selepas mengumpulkan semua katana, Karina langsung memerintahkan mereka membuka pintu kasino menggunakan laser. Awalnya Karina sempat heran tak ada satu orang pun yang keluar dari sana.
Padahal di luar teriakan kesakitan sempat bergema. Ternyata jawabannya adalah ruangan kasino itu kedap suara. Jadi apapun yang terjadi di luar tidak akan terdengar hingga ke dalam.
Lalu apa tak ada kamera pengawasnya? Jawabannya tidak. Sebab orang yang masuk ke kasino bawah tanah ini harus diperiksa ketat dan diantar sampai dalam kasino.
Brak.
Pintu terbuka. Hening. Semua tatapan mata mengarah pada Karina dan pasukannya. Berto berdiri dari duduknya dan menatap heran. Bagaimana bisa tamu tak diundang masuk ke dalam kasino bawah tanahnya?
Karina tersenyum sinis melihat pria tua bermata satu yang menatapnya heran.
"Hei kenapa semua menatap kami?" tanya tengil Karina melenggang masuk seolah ini kadang kawan bukan kandang lawan.
"Penyusup," teriak keras seseorang.
Dor.
Karina menembak orang itu dan melepas satu tembakan ke atap.
"Selain Pria tua mata satu itu dan Pria yang berada di sampingnya semuanya keluar!" seru Karina lantang. Dengan cepat, pengunjung kasino langsung keluar dengan melindungi kepala mereka menggunakan tangan atau tas mereka.
"Siapa kalian?" tanya Berto heran. Ia merasa tak pernah bermasalah dengan wanita bertopeng itu.
"Bagaimana kalian bisa masuk? Padahal bar ini sudah tutup. Apa kalian perampok?" timpal pria di sebelahnya yang tak lain adalah Albert Bertan.
"Benar Pak tua aku perampok yang akan merampok harta dan nyawa kalian berdua," jawab Karina terkekeh memainkan pistol di tangan kanannya.
"Beraninya kalian tikus kecil. Pengawal," teriak marah Berton memanggil pengawal bayangannya.
"Uh? Pengawal bayangan? Mana? Kok gak ada?" ledek Karina berkacak pinggang. Berton heran mengapa pengawal bayangannya tak muncul.
"Apa ini pengawal bayanganmu?" tanya Karina menunjukkan kepala orang yang di penggalnya tadi yang sedari tadi dibawa oleh Li.
"Kalian membunuh mereka?" teriak marah Berton. Sedang Albert menatap tak percaya. Bagaimana bisa pengawal bayangan yang tak pernah terluka kini terpisah dari anggota tubuhnya.
"Kamu salah mata satu. Aku sendiri yang mengambil nyawa mereka. Siapa suruh menghalangiku?" jawab Karina santai melemparkan kepala di tangannya ke arah Berton.
__ADS_1
"Hadiah pertemuan pertama dariku, Berto Aleksus dan juga Albert Bertan," ujar Karina tengil. Wajah Albert dan Berto memerah padam menahan amarah.
Dor.
Satu tembakan ia layangkan pada Karina.
"Ugghh …," ringis Karina memegang dada kanannya.
"Bangs*t!!" umpat Karina.
"Sekarang lempar saja semua granat yang kalian bawa," perintah Karina. Li dan Gerry yang khawatir pada Queennya langsung menarik Karina keluar.
**Cling ....
Cling ....
Boomm ....
Bommm ....
Whosh** ….
Granat langsung meledak mengeluarkan asap yang membuat Berto dan Albert terbatuk dan menutup hidung mereka. Namun, sayang ternyata asap granat itu dapat masuk melalui kulit.
**Bruk ....
Bruk** ....
Mereka jatuh pingsan berurutan. Kesepuluh pasukan elit langsung mengikat dan membawa mereka berdua menuju mobil untuk seterusnya dibawa ke markas Pedang Biru.
Di luar kasino, bukannya meringis lagi malah tertawa kencang. Li dan Gerry hanya memutar bola mata mereka malas. Sia-sia sudah kekhawatiran mereka. Ternyata Karina memakai rompi anti peluru di balik baju hitamnya.
"Mangsa sudah didapat. Sekarang waktunya menyiksa," ujar Karina tertawa kencang.
Mereka segera menaiki tangga keluar dari ruang bawah tanah meninggalkan mayat yang masih belum disingkirkan.
****
Ruang penyiksaan Pedang Biru Mafia.
Berto dan Albert didudukkan pada kursi dan merantai kaki serta tangan keduanya. Sudah lebih dari dua jam mereka pingsan. Karina berdecak sebal kemudian memerintahkan bawahannya mengambil air dingin dan menyiramkannya pada Berto lebih dulu.
**Pyarr.
Woah**.
Berton langsung terbangun dan mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. Matanya membulat melihat isi ruangan. Di mana-mana ada poster tengkorak bukan itu tengkorak asli yang digantungkan menjadi hiasan.
"Sudah bangun?" tanya Karina datar.
"Siapa sebenarnya dirimu? Ada masalah apa aku denganmu?" tanya Berto berusaha melepaskan rantai pada tangannya.
"Aku? Coba kau perhatikan lambang di topengku baik-baik!" jawab Karina.
"Pedang Biru? Kau leader Pedang Biru?" Suara Berto terdengar tak percaya.
"Ya begitulah," acuh Karina. Ia mengisyaratkan agar Albert dipindahkan ke ruangan sebelah.
Tinggallah Karina dengan Berto di ruangan ini. Tak lama Gerry masuk dengan membawa pisau silet di tangannya.
"Kau siap Tuan?" tanya Gerry tersenyum devil. Wajah Berto mengerut heran.
"Sudahlah Gerry. Langsung saja!" seru Karina tak sabar memulai.
"Tapi Queen apakah kita tak perlu memperkenalkan diri dulu?" tanya Gerry menatap tajam Berto.
"Saran bagus. Tapi lebih bagus lagi sekali mendayung dua pulau tersebrangi. Alias sekalian menyiksa plus perkenalan,"tawa Karina melepas topengnya dan tersenyum lebar ke arah Berto. Berto yang masih belum paham hanya bisa meronta berusaha melepaskan diri.
"Dimulai dari dirimu," perintah Karina mulai mengarahkan pisau silet di tangannya menuju tangan Berto yang terantai.
Slasshhh ....
Satu goresan Karina torehkan pada tangan kanan Berto. Berto meringis tertahan.
"Namaku Gerry. Kau ingat dengaku Tuan? Kau membunuh Ayah dan memperkosa Ibuku di hadapannku sebelum membunuhnya."
Gerry memulai ceritanya serta menambah goresan di tangan kiri Berto. Berto menggeleng. Bagaimana bisa ia mengingatnya? Sudah banyak yang ia bunuh dan perkosa. Lima tahun belakangan inilah dia pensiun dan beralih menjadi pengusaha perjudian bawah tanah berkedok bar.
"Tak ingat? Aku akan mengingatkanmu," ucap Gerry mencekam dagu Berto.
"Kau ingat dengan Davian? Davian Herlambang dan keluarga kecilnya yang kau habisi sembilan tahun lalu?" tanya Gerry menahan emosi. Mata Berto membulat mendengar nama Davian Herlambang disebutkan.
"Siapa kau?" tanya Berto susah payah sebab dagunya dicengkram oleh Gerry.
"Seorang anak yang bersembunyi di bawah tempat tidur. Menangis dalam diam. Mendengar suara Ayahnya merintih dan terbunuh. Suara putus asa dan teriakan sumpah serapan dari ibunya yang tubuhnya dijamah oleh pembunuh ayahnya. Suara teriakan amarah yang dirampas kehormatan yang selama ini ia jaga untuk suaminya. Aku mendengar dan melihat semua itu. Baj*ngan. Aku Gerry Herlambang," teriak marah Gerry. Matanya memerah menahan tangis dan amarah.
Gerry melampiaskan emosinya dengan mengukir nama Herlambang di tangan kiri Berto dengan pisau siletnya. Darah mengucur deras dari bekas ukiran.
Tak mau kalah, Karina juga mengukir nama Sanjaya di tangan kanan Berto sembari bercerita. Berto meringis tertahan. Matanya terpejam. Karina gemas sebab tak ada teriakan putus asa.
"Apa yang kau ingat jika mendengar nama Sanjaya? Tepatnya Tirta Sanjaya?" tanya Karina memulai ceritanya.
__ADS_1
Mata Berto terbuka tak lama kembali terpejam menahan perih di tangan kanannya. Gerry menambahkan asam cuka serta garam ke bekas ukirannya. Mungkin ia mau membuat sushi dari lengan kiri Berto.