Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 322


__ADS_3

Arion mendengus menatap layar handphone yang menampilkan wallpaper fotonya dengan Karina yang sudah hamil tua. Saat ini Arion sudah berada di dalam pesawat. Lima menit lagi pesawat pribadi keluarga Wijaya itu akan lepas landas menuju Singapura. 


Ferry terlihat dengan berbicara dengan Siska via video call. 


Arion kembali memilih aplikasi kontak, menghubungi bawahannya.


"Lindungi isteriku. Ingat secara terang-terangan! Jika tidak kalian akan dikira penguntit olehnya," perintah Arion tegas. 


Arion tahu bahwa perlindungan Karina dua puluh empat jam. Akan tetapi hatinya tetap tidak tenang. Lebih banyak penjaga, agar lebih aman. 


Tak berselang lama, pesawat pribadi Wijaya lepas landas dari bandara, mengudara menuju Singapura Internasional Airport. 


*


*


*


Gedung yang saat siang saja sudah memberikan kesan angker, kini lebih seram dari saat matahari tenggelam. 


Gedung ini dulunya adalah  salah satu pusat perbelanjaan yang terbakar beberapa tahun yang lalu dan menimbulkan banyak korban jiwa. Pengelola menelantarkan bangunannya tanpa ada niat untuk membangun kembali. 


Ya pasti akan sulit karena gedung ini sudah memakan korban jiwa, masyarakat pasti enggan menginjakkan kaki di sini. Dijual pun tidak akan laku. 


Gedung ini adalah milik Karina. Karina mengalihfungsikan gedung ini menjadi tempat interogasi lawan yang tidak ada kaitannya dengan mafia.


Gedung empat lantai ini juga Karina gunakan untuk menjadi rumah mahkluk kasat mata yang mengganggu dirinya. Karina akan menyuruh para hantu membuat musuh ketakutan agar mereka mengaku.


Karina selalu percaya, menakutkan apapun hantu atau mahkluk tidak kasat mata lebih menyeramkan lagi manusia. 


Hantu hanya menakuti, sedangkan manusia lebih dari itu. Tidak pernah terdengar hantu yang menusuk hantu. Yang ada manusia yang manusia lainnya, dan yang parahnya lagi teman menusuk teman. Parah sakitnya.


Karina bahkan merasa dirinya lebih menyeramkan dari hantu. Hantu dibacakan ayat saja sudah kabur, manusia? Belum tentu. Terkadang Sang Pencipta saja tidak ditakuti apalagi ciptaan-Nya?


Mengingat mengenai takut, Karina mengingat sesuatu.


Manusia bisa tidak takut mati, tapi manusia tidak bisa menahan rasa takut.


Salah satu kata mutiara dari drama korea yang Karina ikuti sejak awal tayang. 


Meskipun jika Tuhan itu tidak ditakuti, pasti ada yang ditakuti oleh apapun itu. Karina bisa mempergunakan ketakutan itu untuk menang. 


Mengancam? Itu salah satu cara kerjanya. Membunuh? Tangannya sudah berlumuran banyak darah. Kejam? Dunia yang membuatnya begini. 


Sulit bahkan Karina merasa mustahil untuk meninggalkan hal tersebut. Sudah menyatu dengan darah dan dagingnya. 


Ah kembali ke membahas gedung. Pasti akan menyenangkan juga menegangkan jika gedung ini dijadikan wahana rumah hantu. Karina tidak perlu mengeluarkan banyak modal untuk memperkerjakan manusia sebagai hantu. Tapi Karina juga memasang tarif jika ada yang ingin melakukan penelusuran atau uji nyali di gedungnya ini. 


Pukul 08.00 Karina keluar dari halaman masjid raya. White melaju dengan kecepatan sedang karena jalanan yang cukup ramai. Karina melihat pemandangan malam. Stand-stand jajanan ramai dengan pembeli. Trotoar ramai dengan pejalan kaki. 


Karina tersenyum mengingat kenangannya berbulan madu dengan Arion. Mengingat permintaan unik Arion yang merupakan bawaan bayi yang belum diketahui kehadirannya. 


Mengingat kenangan berjalan bersama di trotoar menuju pasar malam, juga makan di kaki lima dengan menu yang unik.


Kebetulan jalur yang Karina lewati melewati pasar malam. Karina menatap bianglala. Teringat kenangan berciuman di puncak bianglala yang diakhiri dengan tembakan musuh yang sekarang menjadi rekan.


"Pasti akan sangat menyenangkan jika mengulang kenangan itu," gumam Karina, berharap Arion cepat pulang. 


 *


*


*


Gerbang hitam yang sudah tampak rapuh itu dibuka saat mobil Karina memasuki area gedung terlantar ini. Gedung hanya dilengkapi beberapa penerangan yang nyalanya pun sudah meredup. 


Tim khusus yang terdiri ada lima orang yang diberi nama Tim Sinus itu sudah menunggu kehadiran Karina di depan gedung. Pintu mobil terbuka otomatis. Karina melangkah keluar sembari melepas kacamatanya.

__ADS_1


Karina merasakan perbedaan hawa. Sedikit panas. 


"Queen," sapa Tim Sinus membungkuk hormat. 


Karina mengangguk. Karina lantas mengedarkan pandangan ke beberapa bagian gedung. Sudah cukup lama ia tidak menginjakkan kaki di sini.


Mata Karina menatap dingin lantai ketiga. Senyum tipis Karina sunggingkan. 


"Kalian sudah menetapkan penghuni mana saja yang akan bertugas?"tanya Karina menatap Tim Sinus.


"Sudah Queen. Kami sudah menyuruh satu dari mereka untuk langsung bekerja," jawab K sebagai ketua tim.


"Hm, kalian bawa dia kepadaku. Sepertinya dia menantangku. Matanya memerah menatapku." 


Karina menatap kembali lantai tiga. Kelima orang itu ikut melihat ke lantai 3. 


"Dia? Apakah penghuni baru?"tanya J, merasa tidak pernah melihat itu.


"Ku dengar dari para hantu lain dia menguasai lantai 3 sendirian. Dia mengusir semua hantu yang tinggal di sana. Kejam sekali," sahut M merasa sedikit takut melihat apa yang mereka lihat.


"Ah dia pergi. Wajahnya cantik tapi terlihat kejam dan penuh kebencian. Kira-kira apa penyebab kematiannya ya?"timpal L berpikir.


"Apapun itu dia tidak bisa seenaknya. Kita jadi repot mengurus yang lain," kesal N.


"Tapi tatapannya tadi hanya tertuju pada Queen. Queen Anda mengenalnya?"tanya K menatap Karina yang kini malah asyik memainkan handphone.


"Oh dia menatap perutku. Kalian tugaskan saja beberapa untuk menjaga lantai 3. Aku tidak ingin dia menganggu pekerjaan ini," jawab Karina, acuh kemudian menyimpan handphone ke dalam mobil. 


Karina meninggalkan semua barang bawaannya dalam mobil, kecuali pisau lipat favoritnya.


Tim Sinus tidak heran dengan reaski Karina. Tim ini memiliki kemampuan khusus untuk melihat hantu, berbicara dengan mereka bahkan berteman. 


Karina memakai masker hitamnya, diikuti oleh Tim Sinus.


"Ayo."


"Ini milikku. Kalian menumpang di sini jadi jangan banyak tingkah dan bermain-main denganku! Dasar hantu tidak tahu terima kasih!"ketus Karina, melirik kanan dan kiri.


Suasana suram memudar. Angin malam berhembus menyapa kulit yang tidak tertutup benang. 


Karina kembali melangkah, mereka menuju lantai dua. Suasana sama seperti di lantai satu. Di sini mereka melangkah menuju salah satu sudut gedung yang dindingnya sudah tidak ada. 


Di sana terdapat api unggun juga satu kursi kosong dan empat kursi yang diikat menjadi empat pasang. Delapan orang dilihat di empat pasang kursi tersebut. Mulut mereka disumpal dengan mata menunjukkan rasa takut yang besar. 


Karina sedikit memiringkan kepala melihat siapa yang disuruh untuk menakuti kedelapan orang tersebut.


"Mengapa dia? Mempelai berdarah?"tanya Karina.


"Karena dia yang meminta. Ia ingin melampiaskan amarahnya kepada mantan mempelai prianya yang mengkhianati dirinya tepat di hari pernikahan mereka," jelas M.


"Oh cukup tragis," sahut Karina mengangguk kecil.


"Tugasmu sudah selesai. Pergilah!"


Karina melambaikan tangan menyuruh hantu pengantin berdarah itu pergi.


Setelah hantu itu pergi, Karina duduk di kursi kosong itu. Kedelapan orang itu berwajah lega ketika hantu itu pergi. Tapi ketakutan mereka kembali saat melihat orang-orang yang menculik mereka lengkap dengan Karina yang mengeluarkan aura mencekam. 


"Jaksa curang, pengacara tapi preman, polisi tidak taat hukum, kepala tim visi brengs*k, dokter sial*n, dan dua orang yang sangat setia pada Angkasa Grub, kalian tahu apa yang membuat kalian berada di sini?"


Karina memberikan tatapan tajam.


"Gedung ini terkenal angker di penjuru kota ini. Juga ini sangat tinggi. Apakah kalian akan selamat jika jatuh dari sini?  Jarak dari sini ke tanah sekitar enam meter. Jika pun selamat kalian akan cacat atau lumpuh," ujar Karina.


K menjatuhkan batu bata ke tanah, suaranya nyaring dan begitu jelas. 


Mata kedelapan orang itu terbelalak kaget. Mereka saling lirik dengan menelan ludah. 

__ADS_1


"Katakan di mana kalian menyimpan kecurangan kalian!"ucap Karina.


Karina melirik M untuk membuka penutup mulut jaksa.


"Siapa kalian? Aku akan menuntut kalian semua!"teriak jaksa tersebut menggertak Karina. 


Karina menyentuh telinga, menatap remeh jaksa tersebut.


"Menuntut? Kau gila ya?" 


Karina terkekeh dan menggeleng mendengar itu.


"Di mana kau menyimpan semua kecurangan yang kau lakukan?"


"Kecurangan apa? Aku tidak melakukan kecurangan apapun!"tegas jaksa.


"Benarkah?"


Karina menunjukkan tatapan tidak percaya. Jelas tidak percaya. Tim Sinus tertawa tertahan mendengarnya.


"Kau pria yang melakukan kecurangan tapi mengaku tidak melakukan kecurangan apapun? Bukankah istri simpananmu hamil sedangkan isteri sahmu juga tengah hamil tua?"


Karina berujar dengan nada mengejek. Jaksa tersebut membeku. Matanya mengerjap menatap Karina tidak percaya.


"Da - dari mana kau tahu?"tanya gugup dengan mata bergerak tidak teratur.


"Ya rahasia," jawab Karina. 


K maju dan menunjukkan beberapa foto yang sengaja dicetak full kertas juga menyertakan catatan bank jaksa tersebut.


"Isterimu lebih kaya dari dirimu. Isterimu adalah anak perempuan tunggal keluarga yang cukup terpandang. Jika kau tidak jatuh karena kecuranganmu di hukum, kau akan jatuh karena perselingkuhan. Aku yakin kau pasti akan dibunuh di tempat oleh mertuamu nanti."


"Pilih yang mana?"


Karina memainkan pisau lipat dengan alis naik satu.


Jaksa tersebut diam berpikir.


Dapat!


"Siapa sebenarnya kalian?"tanya jaksa yang dijawab gelengan kepala oleh Karina.


Karina menyuruh M kembali menutup mulut jaksa.


"Aku rasa aku tidak perlu lagi berbicara panjang lebar terhadap kalian. Katakan saja dimana kalian menyembunyikan kejahatan kalian maka kalian akan segera bebas," ucap Karina.


"Katakan segera atau kalian akan menderita!"tegas K. 


Ketujuh orang itu hanya saling lirik dengan mata tidak bersedia. Entah memang mereka merasa sangat bersih atau merasa Karina tidak akan mampu menemukan bukti kecurangan mereka. Mereka tetap diam.


"Oh tidak mau mengaku? Baiklah, lepaskan penutup mulut mereka, saatnya kita mendengar lagu." 


Karina berdiri, sebelum pergi , Karina melirik jaksa.


"Apa keputusanmu?"tanya Karina. 


Jaksa tersebut mengangguk.


"Baiklah. Bawa dia."


Tim Sinus sudah selesai melepas sumpal mulut ketujuh orang itu. K membuka ikatan jaksa, M memadamkan api unggun.


Karina melangkah pergi diikuti Tim Sinus dan jaksa tersebut. 


Tiba di dekat tangga berjalan yang sudah lama tidak berfungsi lagi, mereka mendengar teriakan ketakutan dari ke tujuh orang tersebut.


Karina tertawa. 

__ADS_1


"Mereka ternyata sangat pemberani," ujar Karina. 


__ADS_2