
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Perusahaan Karina sudah sepi, kecuali bagi yang lembur. Lila sudah pulang bersama dengan Sam. Sasha dan Aleza masih di meja mereka, menunggu Karina pulang baru mereka pulang.
Kilauan lampu yang menjadikan kota gemerlap, terlihat jelas dari tempat Karina duduk. Warna - warni lampu bak pelangi, menghidupkan kota di malam hari. Karina menyunggingkan senyum, hanya senyum tipis. Senyum yang mengukir kesan misterius.
POV Karina.
Hanya ada aku sendiri di ruangan ini, ah ralat. Hanya aku sendiri manusia hidup, ada mahkluk tak kasat mata yang menemaniku di sini. Contohnya saja di dekat pintu masuk, ada sosok wanita berbaju merah menyala dengan riasan dan tatanan rambut bak negeri kincir angin. Ia selalu menunduk, jarang sekali menunjukkan wajahnya padaku. Mungkin dia takut padaku. Wajahnya, sepenglihatanku sih cantik, tapi pernah sekali aku mendapati wajahnya sangatlah buruk. Bagiku wajah mereka seburuk apapun sudah biasa. Tentu saja, bahkan aku sering membuat manusia yang sempurna menjadi seperti mereka.
Tapi … sudah lama sekali aku belum melakukan kegiatan yang menjadi kesenanganku. Tidak masalah, masih banyak waktu melampiaskan jiwa psikopatku. Seusai mereka lahir, aku bisa melakukannya lagi.
Ku ketukan jari telunjukku ke meja. Bayu sudah kembali tadi sore, sekitar pukul lima dijemput oleh Pak Anton. Ya aku memang sedikit malas mengajak Bayu untuk menjenguk Calvin.
Ah mengingat Pak Anton, aku menoleh ke arah meja sofa. Bungkusan putih yang sedikit transparan, membuatku melihat warna hijau sedikit kekuningan di sana. Tadi memang aku menyuruh Pak Anton kemari sekalian menjemput Bayu dengan membawa jambu biji merah tadi rumah.
Dengan sedikit perhatian, aku bisa mendapatkan hati mereka.
Dengan sedikit bantuan, aku mendapatkan kepercayaan mereka. Dengan mengikat Calvin bersama Raina, secara tidak langsung aku mengontrol mereka. Hanya belum kelihatan saja. Begitu juga yang ku lakukan pada Satya dan Gerry.
Jika pernikahan Satya dan Riska berjalan dengan lancar, maka secara tidak langsung juga aku bisa mengontrol militer yang dipimpin oleh Adiguna. Aku bisa menjadikan mereka kawan, dan anak buah.
Selama mendirikan organisasi mafia Pedang Biru, tidak sedikitpun terlintas di pikiranku untuk menjadikan militer, pemerintahan, kepolisian, atau pihak berwajib lainnya sebagai musuh. Akan lebih baik jika aku menjalin kerja sama, seiring waktu, aku membuat mereka selalu membutuhkan bantuanku. Menempatkan orang - orangku di kursi pemerintahan untuk mengontrol jalannya negeri ini. Tapi tetap saja, sumpah setia mereka saat dilantik, tetaplah utama, bagi mereka setara dengan janji kepadaku.
Kekuasaan dan kekayaan milikku aku rasa jauh lebih besar dari yang keluargaku bayangkan. Aku bahkan tidak perlu khawatir jika tidak berkerja seumur hidup. Tapi itu bukan gayaku. Kerja sudah jadi bagian dari hidupku.
Bukan kan kalian tahu aku orang yang ambisius, itu tetap ada padaku. Aku gila? Aku akui. Aku orang berdarah dan berhati dingin? Memang. Tidak sedikit pun berkurang. Hanya saja semua itu ku tutupi dengan sikap tenang. Cinta? Aku memang mencintai Arion.
Semua senyum dan air mata serta tawaku bersama dengannya adalah nyata, begitu pun bersama dengan yang lain.
Sejujurnya, aku harus belajar tersenyum saat mulai jatuh hati pada Arion. Bukan tanpa alasan, selama ini, aku hanya menampilkan raut wajah dingin, datar, jikalau tertawa, kata bawahanku sangat menyeramkan. Sekali senyum, malah menyeringai. Akhirnya, paling best senyum tipis.
Tapi sejak jatuh cinta, aku mulai belajar tersenyum. Kata orang, asal hati senang, senyum bisa terbit sendiri. Bahkan terkadang ada yang bisa senyum tanpa alasan. Tapi bagiku berat. Jikapun bisa, kemungkinan tanpa sadar aku tersenyum. Itupun tidak tahu bagaimana caranya.
Belajar, aku belajar berbagai macam ekspresi. Mulai mengajak perasaan, hati dingin ini serta tubuhku untuk bekerja sama. Menilik orang sekitar, mempelajarinya dari internet.
Tapi, ada satu yang awalnya tidak aku pahami. Ini jauh sebelum aku bertemu dengan Arion. Saat itu aku mendengar sebuah suara yang sangat merdu dan berhasil menyentuh relung hatiku. Saat itu, aku merasa nyaman untuk pertama kalinya. Aku merasa, seperti seorang musafir yang kehausan di gurun yang menemukan air. Sangat segar dan menyejukkan.
Setelah aku tahu itu suara apa yang tidak lain adalah lantunan ayat suci al- Qur'an, aku mulai mencari dan mendalami mereka. Ku cari guru untuk membimbing diriku.
Aku merasa lebih baik, tapi tetap saja, tidak bisa menghilangkan ataupun memudarkan sifatku yang sebelumnya.
Dan setelah aku pikirkan lebih dalam, sepertinya memang berkurang sedikit.
Ah.
Aku menghela nafas, ku lirik jam tangan. Sudah dua puluh menit berlalu. Arion tidak kunjung hadir. Membuatku kesal dan ingin marah.
Bosan, aku menghadap laptop, ku letakkan tangan kiriku di mouse dengan tatapan fokus ke layar monitor. Ku gerakkan mouse, aku ingin melihat pasar saham, manatahu ada yang menarik dan bisa aku beli.
"Hm, semua saham perusahan ini terlihat stabil. Sayang sekali, bukan rezeki untukku," gumamku sedikit kesal. Akhirnya, laptop aku tutup. Aku berdiri dan melangkah mendekati jendela.
Aish, aku memutar bola mata jengah saat sosok anak kecil dengan wajah penuh luka dan pakaian penuh noda darah muncul tiba - tiba di depanku.
"Dasar setan!"umpatku kesal. Ia malah tampak menyeringai. Ah setan sialan ini! Dia pasti akan hadir saat aku kesal. Entah bagaimana ia bisa berada di sini. Dari yang ku selidiki, anak ini korban pembunuhan belasan tahun silam, apa tempat ini nyaman bagi setan - setan ini? Apa mereka menganggapku bagian dari mereka? Ck, aku lebih tepat menjadi malaikat maut.
"Pergilah. Kau membuatku marah!"ketusku, melewatinya dan berdiri melihat kehidupan kota malam. Ku dengar ia terkikik dan langkah kaki menjauh, ku lihat ke belakang sekilas, ia sudah menghilang.
__ADS_1
Kesal!
Bosan!
Apa aku main game saja? Atau nonton drama? Aih aku muak dengan dua hal itu. Dunia drama sangat berbeda dengan dunia nyata. Perang di dunia game memang seru, tapi menurutku lebih seru lagi perang dunia nyata.
Aku berbalik badan saat mendengar suara pintu terbuka. Aku mendengus, Arion masuk dengan tenang, tidak lupa senyum manis ia tujukan untukku, ya jelas untukku, mana mungkin untuk setan merah itu.
Ia berjalan mendekatiku, meraih jemariku, lalu menciumnya dan mencium dahiku.
"Maaf," ucapnya menyesal.
"Aku masih ada pekerjaan tadi, jalanan juga macet," tambahnya.
Aku hanya mengangguk dengan wajah datar.
"Ayo," ajakku mengambil tas.
"Oke."
Aku menunjuk bungkusan jambu biji merah di meja untuk ia bawa. Arion menaikkan alisnya, aku menjawab dengan menaikkan bahu. Ia lalu tersenyum lebar.
Dengan segera kami melangkah keluar dari ruanganku. Ku lirik sinis setan merah yang melirik suamiku. Ia langsung menunduk dalam lalu menghilang dari penglihatanku.
Aku tidak hanya protektif pada Arion dari para wanita nyata, tapi juga dari pada makhluk tidak kasat mata.
POV KARINA END.
*
*
*
"Kita makan malam dulu. Mau makan di mana?"tanya Arion lembut.
"Kaki lima," jawab Karina cepat.
Arion menaikkan alisnya. Karina segera memberitahu tempatnya ingin makan malam, sang sopir mengangguk.
Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah tempat makan pinggir dengan atap tenda dan dinding juga tenda, berupa spanduk nama tempat serta nama menu.
Arion dan Karina segera turun dan memesan. Pengunjung cukup ramai. Jelas, ini salah satu tempat makan favorit bagi pecinta mie. Aneka jenis olahan mie terdapat di sini.
Karina dan Arion memesan ifumie goreng. Mereka makan dengan lahap. Tak lupa, sopir mereka juga ikut makan. Kan kasihan, kalau hanya disuruh nunggu.
Tak butuh waktu lama, santapan malam mereka telah masuk ke lambung semua. Lima menit kemudian, mereka beranjak membayar dan melanjutkan perjalanan menuju kediaman Alantas.
*
*
*
Ternyata Sam dan Lila masih berada di rumah Calvin. Mereka menunggu Karina dan Arion. Percakapan antara Sam dan Calvin bukannya saling dukung, malah Sam meledek Calvin. Calvin yang kesal langsung berusaha menjangkau Sam. Tapi tidak kuat, ia malah terjatuh ke lantai yang membuat Sam panik. Lila dan Raina yang berada di luar kamar langsung masuk mendengar pekikan Sam. Untung saja Hamdan dan Santi sedang pergi keluar, jadi mereka tidak akan kena omel.
__ADS_1
Sam membantu Calvin untuk kembali tidur di ranjang, memperbaiki jarum infus juga menaikan selimut Calvin.
"Kau ini!"seru Lila mencubit pinggang Sam.
"Auh sakit Lil," aduh Sam menggelinjang nyeri.
Raina lebih fokus pada Calvin, terlihat Calvin meringis, merasa sakit pada punggung tangannya.
Raina memeriksa jarum infus Calvin.
"Sempat lepas tadi?"tanya Raina datar.
"Enggak," jawab Sam sembari mengusap pinggang.
"Mengapa kalian bertengkar?"tanya Lila.
"Apalagi kalau bukan saling ejek, itukan kebiasaan mereka." Raina menjawab sembari mengecek suhu tubuh Calvin. Panasnya masih belum turun. Ia menghela nafas kasar.
"Aku hanya penasaran, dari mana Calvin bisa terkena DBD. Walaupun Calvin bukan pembersih, tapi Calvin tidak pernah sakit akibat tidak menjaga kebersihan," jelas Sam membela diri.
"Ya tempat nya yang kotor. Memangnya Calvin hanya diam diri di ruangan saja?"sahut Raina, menjadi juru bicara Calvin yang sulit membalas Sam.
"Berarti harus ada kegiatan pembersihan tempat kerja atau proyek yang ditangani dong?" Lila teringat perintah Karina tadi siang.
"Benar!"sahut Sam setuju.
Saat tengah diskusi tentang kegiatan kebersihan, Karina dan Arion masuk dengan mengucap salam, serentak mereka berempat menjawab.
"Nah," ucap Arion meletakan jambu biji merah di atas meja samping ranjang.
"Apa itu?"tanya lemah Calvin, berusaha duduk. Arion membantu.
"Obat untukmu," ucap Karina, hanya melihat sekilas kondisi Calvin lalu duduk di sofa.
"Jambu merah?"gumam Raina.
Bagaimana aku bisa lupa?batin Raina.
"Ada perubahan?"tanya Arion.
Calvin menggeleng.
"Masih sama kayak tadi pagi, masih lemas badan gue. Malah nyeri lagi otot dan sendi gue. Setiap makan, muntah. Jadi cuma infus ini makanan dan minum gue," keluh Calvin dengan wajah lesu.
"Ya elah Vin, yang penting kan elo tetap makan. Lambung loe enggak kosong. Orang koma berbulan - bulan saja tetap hidup dengan infus kok," ledek Sam, seketika mendapat tatapan tajam dari Raina, Lila, dan Arion tentunya.
"Kan kita bertiga sudah pernah ngerasain." Sam berkata dengan raut wajah takut.
"Ya gue tahu," sahut Arion, menghela nafas kasar.
Mereka berbincang cukup lama, mulai dari membahas penyakit Calvin sampai melebar ke urusan bisnis. Walaupun sakit, Calvin tetap bisa mengerti pembicaraan mereka.
Lila dan Raina memilih duduk. Mereka tersenyum melihat Karina yang tertidur di sofa.
Akhirnya, sekitar pukul 22.00, Arion dan Sam pamit. Mereka malah mendapati istri mereka tidur di sofa. Tidak mau membangunkan mereka, Sam menggendong Lila, begitupun dengan Arion yang menggendong Karina. Sedangkan Raina, terbangun saat Calvin memanggilnya dan menyuruh Raina tidur di ranjang.
__ADS_1