Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 221


__ADS_3

Pagi pun tiba, siulan burung di pepohonan menjadi melodi pagi yang indah. Semerbak bunga yang bermekaran dengan kumbang dan lebah di atasnya menjadi wewangian alami.


Silau cahaya mentari pagi menerobos jendela kaca kamar Enji dan Bayu. Yang pertama membuka mata adalah Bayu. Ia mengucek matanya lalu menguap beberapa kali. Menyingkirkan tangan sang ayah dari tubuhnya dan menyikap selimut. Enji masih memejamkan mata dan berada di alam mimpi. Bayu mengeryir dengan senyum di wajahnya.


Ayah, mimpi apa dia? Apa jangan-jangan mimpi bertemu kekasih? batin Bayu.


Bayu mengendikkan bahunya lalu beranjak turun ranjang dan menyibak tirai jendela. Cahaya pagi menerpa wajahnya. Rasa kantuk yang masih membayangi seketika hilang. 


"Em?" Bayu mendengar suara dari belakang. Terlihat sang ayah sudah bangun dan melakukan peregangan di atas ranjang. Wajah sang ayah masih kusut, begitupun dengan wajahnya. 


"Bayu." Suara serak Enji memanggil Bayu. Bayu mendekat.


"Iya Yah," jawab Bayu.


"Sepertinya kita harus jalan-jalan berdua saja," ujar Enji. Bayu mengeryit lagi dan menunjukkan wajah bertanyanya.


"Kedua kakakmu akan ke markas, sedangkan Mama dan Papa akan pergi ke negara B. Mungkin saja mereka sudah berangkat," lanjut Enji. Bayu mendesah pelan. 


"Tak apa Yah, kita ikut saja ke markas, bukankah di sana ada banyak kegiatan? Berkuda, memanah, menembak, renang, panahan, dan pelajaran komputer," ucap Bayu dengan senyum di wajah. 


Enji tersenyum dan segera menyuruh Bayu untuk mandi duluan. 


Di kolam renang, Karina duduk bersandar pada kursi santai menemani Arion yang berenang. 


Dengan menghidupkan lagu ditemani sebuah buku di tangan, Karina diam membaca.


Setelah tiga kali putaran gaya dada, Arion melepas kacamata renangnya dan memegang tepi kolam tepat di hadapan Karina. Wajahnya menunjukkan kekesalan.


Dengan senyum jahil, Arion menyiramkan air ke kaki Karina. Karina menaikkan pandangannya. Dan menaikkan alisnya.


"Apa?" tanya Karina datar.


Arion menggerakkan tubuhnya mengajak Karina mandi bersama di kolam renang. Karina menggeleng. 


"Ayolah," bujuk Arion. Karina menghela nafas dan meletakkan buku yang ia baca.


Dengan kesal menggulung rambutnya agar tidak terlalu berat dan berdiri. Karina lalu duduk di tepi kolam dengan kedua kaki berada di dalam air di dekat Arion. 


Karina menjulurkan kedua tangannya di pundak Arion dan turun perlahan. Kedua tangan berada di leher Arion dengan kaki berayun agar tidak tenggelam. Arion memeluk Karina. Wajah mereka saling bertatapan dengan senyum menghiasi wajah Arion.


Karina menarik senyum tipis. Untunglah ia memakai baju yang tidak terlalu tebal jadi tidak berat juga. Perutnya yang membuncit, bersentuhan dengan perut Arion yang datar dan tidak berbalut pakaian.


Perlahan tapi pasti, wajah keduanya semakin mendekat dan akhirnya bibir mereka bertemu. Langsung saja mereka berciuman. Kedua kaki terus digerakkan menuju bagian yang tidak terlalu dalam, sebab kolam ini dirancang seperti jalan menurun.


"Ups?"


Enji menutup matanya melihat adegan romantis di kolam renang. Ia memang berniat berenang namun malah disuguhi kemesraan kakaknya. Ia mengira, kedua kakaknya itu berada di lantai dasar. Malah dia sudah bertelanjang dada lagi dengan kacamata dan handuk di tangan.


Ingin kembali, rasanya sayang, air dengan lantai merah itu sungguh menggoda. Dengan memantapkan hati, Enji melangkah tanpa suara. Setelah memakai kacamatanya.


Byur!


Enji langsung lombat lalu muncul dengan renang gaya kupu-kupu. Alhasil, Karina dan Arion terkejut dan menatap Enji yang berenang dengan tatapan kaget, kesal dan juga malu.


"Adikmu mengganggu saja," gerutu Arion, menarik Karina ke tepi sebab mereka kini berada di tengah. Karina terkekeh.

__ADS_1


Kedua lantas segera naik dan keluar kolam renang menuju kamar.


Enji fokus pada renangnya. Tubuhnya seakan serasa merenggang dengan semua gerakan yang ia buat. Gaya ini termasuk gaya yang sulit, selain hentakkan kaki yang harus sesuai, juga tarikan tangan yang kuat ditambah pernafasan, semua harus sesuai agar tidak menimbulkan cedera. 


Selepas puas dengan dengan gaya kupu-kupu, Enji membalikkan badannya menghadap tepi dan melakukan gaya punggung. Menatap langit yang cerah dengan merangkai harapan.


*


*


*


Saat di meja makan, Karina dan Arion hanya menemukan Bayu yang sedang sarapan roti bakar ditemani Bik Mirna. 


"Mana Ayahmu Yu?" tanya Karina sembari menggerek kursi untuknya duduk.


"Masih mandi kayaknya Kak," jawab Bayu.


"Hm, Bayu, maaf ya kakak dan kak Karina tidak bisa menemani kamu jalan-jalan. Tapi tenang saja, saat hari Minggu nanti, jika tidak ada halangan kita jalan-jalan, okey?" ucap Arion pada Bayu. Bayu menoleh sesaat kemudian mengangguk. Karina menarik senyum tipis lalu menikmati sarapannya. Begitupun Arion.


"Tidak apa Kak. Bayu paham kok. Tapi Bayu akan tetap traveling kok, di markas kakak," ujar Bayu sembari mengambil tisu untuk mengelap bibirnya, kiranya ada noda susu yang tertinggal di sana.


"Oh, anak itu sudah memberitahumu?" terka Karina dan tepat sasaran. Bayu mengiyakan. 


Tak lama, Enji datang dengan setelan kasualnya. Ia menebar senyum dan ikut bergabung untuk sarapan. Hening, tidak ada pembicaraan. Setelah selesai sarapan, Karina dan Arion langsung menuju mobil Karina, meluncur menuju markas Pedang Biru.


Enji dan Bayu, menyusul setelah Enji selesai sarapan. Enji memakaikan helm pada Bayu. Bayu segera naik ke kursi penumpang motor sang ayah. Enji segera memutar gas motornya, memanaskannya sesaat dan melaju menuju markas Pedang Biru.


*


*


*


"Tuan, dari orang lama yang kami intrograsi, makam Azri ada di pinggir hutan kota, tandanya hanya sebuah batu bulat dan di bawah pohon kayu raja," terang Asisten Rian, membaca tabletnya.


"Hm, kalau Ibu Andini?" tanya Amri.


"Kami belum menemukannya, kemungkinan tugas ini sudah Nyonya dan Tuan Muda limpahkan kepada orang mereka. Jika lancar, dalam tiga hari kita sudah bisa menemukan lokasinya," jawab Asisten Rian.


"Baiklah," jawab Amri. Amri lalu menuju kamar di mana Maria sedang memberi Alia susu dari botol susu.


"Ma, sepulangnya nanti dari masalah ini, kita ke makam Ayah ya," ujar Amri duduk di samping Maria.


"Mama mengikut saja Pa, asalkan sama Papa ke gurun pun Mama ikut," jawab Maria dengan senyumannya. Amri tersenyum.


"Kalau gurunnya piramida mesir sih Mama okey, kalau gurun sahara?" ledek Papa mencubit hidung Mama.


"Ih, sakit tahu Pak, kan Mama bilang ke mana pun Papa pergi, Mama ikut," kesal Maria, ucapan tulusnya dianggap candaan.


"Hihi, Papa bercanda Ma," ujar Amri. Maria mendengus.


"Uluh, sudah habis susunya, kurang Dik?" tanya Amri menatap Alia, Alia hanya mengerjap dan tertawa menunjukkan giginya yang baru tumbuh.


"Sudah kakak, Alia sudah kenyang," sahut Maria dengan suara anak kecilnya.

__ADS_1


"Tapi kakak belum kenyang, kakak juga mau minum susu," balas Amri, membuat Maria mengeryit dan melotot kesal pada Amri. Amri dengan senyum mesum menatap gundukan dada Maria.


"Papa! Ingat ini pesawat, jangan macam-macam, ada Alia!" peringat Maria tegas.


Tatapan Amri naik ke wajah Maria.


"Papa tidak macam-macam, hanya satu macam yaitu Mama," ucap mantap Amri.


Maria mendengus kesal dan meminta Amri untuk memundurkan tubuhnya dari Maria.


Melihat wajah takut, cemas dan malu Maria, Amri tertawa keras dan mencium kening serta pipi Alia dan Maria. Alia tertawa, Maria memerah malu.


"Dasar!" ketus Maria.


*


*


*


Saat sebentar lagi mencapai markas, beberapa motor menghadang mobil Karina dan Arion. Mereka memblokir jalan dan beberapa memutari mobil Karina dan Arion yang berhenti. Pak Anton mencari jalan, Karina dan Arion hanya saling lirik dan tersenyum tipis. Kedua tangan berada di atas kaki dan tatapan ke depan.


"Ada permainan, mau main atau tidak?" tanya Karina.


"Mereka mengajak, tidak baik rasanya menolaknya. Apalagi mereka sepertinya sangat bersemangat. Lihatnya pria kekar itu, wajah garangnya membuatku ingin memukulnya," sahut Arion mengepalkan tangannya.


Sekarang keenam sepeda motor itu mengelilingi mobil. Pak Anton menoleh ke arah Karina.


"Non, kita tabrak saja ya, satu kilo lagi kita sampai," ujar Pak Anton.


Terlihat para penghadang itu meneriaki Karina dan Arion, meneriaki mereka untuk keluar. Sayang, mode kedap suara dan mode malas Karina, membuat mereka berdua acuh dan memilih diam.


"Tidak! Mereka, mangsa kami," tegas Karina.


"Hei Ar, mau main cepat atau lama?" tanya Karina lagi, melihat penumpang dari masing-masing motor menodongkan senjata api dan bersiap melepas peluru. 


"Cepat saja, kamu juga banyak pekerjaan," sahut Arion, memasukkan aminisi ke pistolnya dan bersiap membuka atap mobil di mana ia duduk.


 


Mobil mulai ditembaki, namun tidak satupun berhasil membuat mobil berlubang dan kaca pecah. Para penghadang meruntuk kesal. Mereka bingung dengan bahan pembuatan. mobil Karina.


Sedangkan Karina dan Arion menunggu amunisi senjata mereka habis. Setelah habis, barulah Arion bertindak. Satu pertama dari kedua belas orang itu jatuh menghantam aspal dengan luka tembak, antara mati dan setengah mati. 


Melihat rekannya yang sudah tumbang, dua motor lainnya berniat melarikan diri. Sayangnya, peluru yang Arion lontarkan lebih cepat. Akhirnya mereka semua tumbang dengan motor dan tubuh tidur di aspal.


Tak lama, datangnya sebuah mobil bak terbuka yang merupakan orang Karina, mereka mengurus para penghadang itu, yang masih ada nafasnya, langsung saja mereka habisi nafasnya.


Sedangkan Karina dan Arion lanjut jalan. Setibanya di markas, Li, Elina dan Gerry menunggu Karina dengan wajah tegang.


"Selidiki sampai ke akar!" Empat kata itu membuat Gerry mengangguk dan segera melangkah pergi. 


"Li, letakkan semua laporan di ruanganku!" titah Karina. Li mengangguk.


"Dan kamu, ikut aku ke lab," tegas Karina pada Elina. Elina mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku ke ruang latihan," ujar Arion. Karina mengangguk. Mereka segera melangkah menuju tujuan masing-masing.


Tak lama, Bayu dan Enji tiba. Mereka berdua masuk dan menanyakan pasal Karina dan Arion. Setelah mendapat jawaban, keduanya memilih ke pantai dengan Enji membawa papan selancar, Bayu pun membawanya, Enji berniat mengajari Bayu bermain selancar. Kebetulan juga, ombak pantai sangat cocok untuk olahraga itu.


__ADS_2