
Bayu mengeram keras, menggertakkan gigi. Ia menyentuh rantai yang mengikat lehernya, tidak bisa dilepas. Bayu memeriksa dirinya.
Jam? Jam tanganku tidak ada? Akh … sial!
Bayu mengedarkan pandangannya. Matanya membulat menemukan Enji terbaring di kandang sebelah dengan kondisi yang sama. Bayu menerka apa yang terjadi.
Ayah, kau pria cerdas tapi bod*h. Kau sudah memarahiku tapi kau datang menjemputku. Ayah … bagaimana bisa kau juga terjebak di sini?
Bayu bergeser mendekati Enji. Tangan kecilnya melalui cela jeruji mengguncang tubuh Enji.
"Bangun. Bangun Ayah!"ucap Bayu serak.
Enji masih dalam pengaruh obat bius. Bayu menyerah membangunkan Enji.
Toh nanti juga bangun sendiri.
Bayu memilih untuk mencari cara untuk kabur dari sini. Ia kembali mengedarkan pandangan. Ia terbelalak melihat apa saja yang ada di ruangan ini.
"Sial! Apa aku dan Ayah akan mati di sini?"
"Kakak … selamatkan kami. Aku takut," gumam Bayu.
Air mata menetes tanpa diminta.
"Ayah cepatlah bangun. Kita dalam bahaya kau malah nyenyak tidur. Setidaknya jika kau bangun aku ada teman bicara, bisa mengurangi rasa takutku. Setidaknya biarkan aku meminta maaf atas perilaku burukku padamu. Ayah … aku minta maaf. Cepatlah bangun. Kalau kau bangun aku akan memperbolehkanmu memberi kabar padanya. Aihs mengapa kau tuli sekali sih?"
"AYAH BANGUN!"teriak Bayu, menggema di ruang ini.
"Ruang bawah tanah?"
Bayu segera menyadari.
"Ayah bangun. Aku takut. Ayah mengapa kau diam saja? Mengapa matamu masih tertutup? Kau mau membuatku mati ketakutan? Lihat saja kalau aku keluar dari sini aku akan memukul pinggangmu. Aku akan memberi tahu Kakak kelakuan mesummu. Aku akan memberitahu Kakak kalau kau sudah melakukan hal yang diharuskan dilakukan setelah menikah. Aku akan me … Ayah cepat bangun!"
Bayu menangis, memegang jeruji besi. Ia sangat takut. Terlebih melihat Enji yang tidak kunjung sadar.
"Uh bocah tengil mengapa kau menangis?"
Bayu mendongak ketika mendengar suara lemah meledeknya. Bayu merasa senang melihat Enji yang perlahan duduk.
"Ayah bangun? Bagaimana perasaanmu?"
"Huh. Aku juga dirantai?"
"Hm. Aku baik, hanya sedikit pusing dan haus. Kau bocah? Enak rasanya dirantai?"tanya Enji.
"Heh?"
Bayu tersenyum lebar.
"Kita sama Ayah. Jadi kita harus cari cara agar bisa keluar. Lihat mereka mengambil semua barangku. Eh jam tanganmu juga diambil?"
Enji melihat tangannya.
"Biarkan mereka senang dulu. Kita akan keluar dari sini. Tinggal menunggu waktu."
Enji percaya pada Syaka. Bayu juga percaya pada Syaka. Ia yakin bahwa rekannya itu akan segera menolong mereka.
"Artinya kita harus mengulur waktu sebelum mereka datang," ujar Bayu.
Enji mengangguk.
"Ayah sembari menunggu nasib bagaimana jika kita mengobrol? Tentang pertengkaran kita tadi," saran Bayu.
Kini keduanya saling bersandar punggung walau dibatasi oleh jeruji.
"Hm?"
Enji bergumam. Ia memejamkan mata, Enji merasa sakit di beberapa bagian.
Aku ingat tadi aku sempat berkelahi. Huh tidak ku sangka mereka membayar gangster, gerutu Enji dalam hati.
"Ayah … maaf," ucap Bayu pelan.
Enji menoleh ke samping.
"Ini bukan salahmu Nak," sahut Enji.
"Tidak. Ini adalah akibat keegoisanku. Seharusnya aku membiarkanmu menghubunginya. Aku egois, aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan Ayah tanpa gangguan siapapun. Tapi itu membuat kita dalam masalah," tutur Bayu.
Enji menghela nafas, kemudian tersenyum. Ia menatap langit-langit dengan tangan kanan menepuk - nepuk lantai.
"Ini adalah dampak keegoisan kita Bayu. Ayah juga minta maaf karena telah memukul dan memarahimu. Ayah janji Ayah tidak akan pernah kasar lagi padamu. Kau mau kan memaafkan Ayahmu yang egois ini?"tanya Enji, dengan mata berkaca-kaca.
"Ya sepertinya Ayah benar. Kita saling memaafkan bukan?"
Enji terkekeh senang.
"Ayah apa yang akan kita lakukan sekarang selain menunggu? Haruskah kita kembali pingsan saat mereka datang?"tanya Bayu.
"Kau menebak dengan benar."
__ADS_1
Bayu mengangguk, tak lama ia berbaring seperti semula, matanya menatap langit - langit. Enji melakukan hal yang sama, hanya saja Enji meletakkan kedua tangan di belakang kepala sebagai bantal.
"Berapa lama mereka akan datang Yah? Aku sudah merasa sesak di sini."
Sekali lagi Bayu mengedarkan pandangan.
"Jika sesuai perkiraan Ayah, dalam 30 menit mereka akan sampai," jawab Enji, berganti posisi seperti saat ia sadar.
Enji menutup mata.
"Yah, penjahat ini cukup hebat. Ku rasa dulunya mereka bukan penjahat," ujar Bayu.
"Mengapa?"tanya Enji tanpa membuka mata.
"Dari pengamatanku mereka berdua adalah orang yang pernah bekerja di bidang umum akan tetapi karena suatu hal mereka kehilangan pekerjaan secara tidak hormat," jawab Bayu.
"Alasannya?"tanya Enji lagi.
"Dilihat dari tempat pembedahan itu, sangat rinci dan rapi. Aku menerka bahkan salah seorang dari mereka adalah seorang dokter bedah. Lalu satu lagi dilihat dari tingkat pengamatan lokasi serta ketajaman instingnya, ia adalah orang yang ahli di bidang IT dan komputer. Aku khawatir tempat ini adalah perangkap yang digunakan saat terdesak, kita harus waspada Yah!"papar Bayu.
Enji tersenyum.
"Bagus!"
Mereka buru-buru menutup mata dan berakting seolah masih pingsan saat mendengar suara seperti pintu dibuka, disusul dengan suara langkah kaki.
"Woi berapa dosis yang kau kasih untuk membius mereka? Mengapa belum saja juga? Coba kau cek mereka, itu pingsan apa mati?!"
"Menyebalkan. Ini bukan pertama kali aku membius. Kau sabar sedikit dong!"
Menggerutu, melangkah memeriksa denyut nadi Enji dan Bayu.
"Mereka masih hidup, sebentar lagi akan sadar."
"His langsung eksekusi sajalah. Tidak sabar aku menunggu lagi!"
"Tunggu dulu. Ini harus bersabar sebentar lagi."
Dasar penjahat aneh. Mau membunuh tapi mau mendapat titel penjahat bermoral. Hei kalian itu penjahat tidak punya otak!umpat Bayu dalam hati.
"Ah terserahmu lah!"
Satu cemberut dan satu lagi tersenyum tipis.
Mereka berdua terkejut ketika mendengar suara alarm yang berartikan ada bahaya atau penyusup. Yang ahli di bidang IT langsung berlari keluar ruangan ini.
"Ya benar saja? Siapa yang menyusup?"
Menyusul temannya.
*
*
*
"Apa yang terjadi Jack?"
"Ada yang memecah pemancar sinyal kita," jawab Jack, penjahat yang ahli di bidang IT.
"Apa itu keluarga mereka?"
"Sebenarnya siapa mereka? Mereka punya orang yang sangat hebat? Aku khawatir kita menyinggung orang yang tak seharusnya kita singgung," ujar Kevin, sang dokter bedah, mengacak-acak rambut.
"Hanya ada beberapa, tapi dilihat dari apanya mereka adalah …."
Belum selesai Jack berbicara, sudah dipotong oleh teriakan dari luar.
"Wahai penculik baj * ngan segera keluar dan lepaskan korban kalian! Serahkan sandera dan diri kalian, maka kalian akan aman!"
"Wanita? Yang benar saja?"
Kevin kesal. Jack membuka rekaman CCTV.
"Gelap? Mereka menghancurkan CCTV kita?"ujar Jack.
"Dari semua ruangan, ruangan ini yang paling aman, kita tetap di sini, jangan keluar," ucap Kevin, merasa takut.
"Kawan, jika kita di sini mereka akan masuk dan menyelamatkan Ayah dan Anak itu. Sama saja kita tetap dalam bahaya. Mereka sudah melihat wajah kita," tolak Jack.
"Lantas?"
"Kau lupa kah? Di sana ada bom yang pengaturannya ada di sini, jadi aku lebih memiliki mati bersama mereka dalam ledakan itu daripada harus menjadi buronan. Kalau kau mau pergi, silahkan. Aku penjahat sejati, tidak akan kabur karena ada penyelamat korban," jawab Jack. Lokasi ruang bawah tanah tepat berada di bawah ruangan ini. Jika ruang bawah tanah meledak, otomatis ruangan ini juga akan hancur.
"Kau waras kah? Kau mau mati sendiri? Kau kau berencana mati, aku juga akan ikut!"
Jack tersenyum lebar. Mereka berpelukan.
Entah itu rasa setia kawan atau memang mereka yang sudah gila, keduanya sepakat mati bersama.
*
__ADS_1
*
*
"Kalian sisir rumah ini. Jangan lewatkan apapun. Hati-hati ketika bergerak. Rumah ini penuh jebakan dan nyawa kalian bisa hilang kapan saja. Aku tidak ingin kalian kehilangan nyawa, kembalikan dengan selamat!"
Aleza memberi perintah. Para anggota yang menjadi bawahannya mengangguk. Mereka dengan senjata lengkap lansung bergerak.
"Kau mau kemana anak muda?"tanya Aleza melihat Syaka yang keluar mobil dengan membawa sebuah senapan.
"Menyelamatkan Bayu!"jawab Syaka mantap.
"Tetap di sini. Biarkan para ahli yang bekerja," ucap tegas Aleza.
"Tidak!"
"Tetap di sini, di dalam berbahaya. Jangan menambah beban!"
Aleza menatap tajam Syaka.
"Tapi …."
"Kau tuli?"
"Baiklah."
Syaka melangkah mundur, duduk di mobil yang pintunya terbuka.
Para anggota menyisir bangunan di hadapan Aleza dan Syaka ini. Bangunan ini tampak suram karena kurangnya cahaya. Pepohonan rimbun di sekitar menghalangi cahaya. Aleza menilik sekitar, barangkali kedua penculik kabur.
"Aku peringatkan sekali lagi! Segera bebaskan kedua korban dan serahkan diri kalian! Jika tidak terima balasan dari kami."
Tidak ada respon. Aleza berdecak sebal.
"Mereka penjahat gila. Pasti akan melakukan hal gila," ucap Syaka.
Aleza menatap Syaka.
"Kami ini lebih gila anak muda," sahut Aleza.
"Ketua kami sudah melumpuhkan kedua penculik, tapi tidak ditemukan kedua korban di seluruh ruangan," lapor salah satu bawahan Aleza.
Aleza tersenyum.
"Periksa lantai atau dinding."
*
*
*
"Ayah mengapa lama sekali. Leherku sudah lecet," keluh Bayu.
"Tidak bisakah kamu diam? Jangan mengeluh. Tunggu saja!"ketus Enji, jengah dengan rengekan Bayu.
Bayu mendengus.
Mereka berdua kompak memegang jeruji besi saat mendengar suara keras dari atas. Ada suara langkah kaki turun. Mereka berdua tersenyum lebar mengetahui itu adalah orang-orang Karina dan Arion.
"Tuan Muda, kalian baik-baik saja kan?"tanya salah seorang anggota. Enji dan Bayu mengangguk.
Dua anggota membuka gembok kandang, melepaskan rantai yang mengikat leher Enji dan Bayu.
"Mari Tuan Muda."
Mengajak Enji dan Bayu agar segera keluar dari ruang bawah tanah ini.
"Aiyo leherku sakit," kesal Enji menyentuh lehernya.
"Kita selamat," gumam Bayu bahagia.
Mereka segera menaiki tangga, akan tetapi baru saja beberapa anak tangga, terjadi ledakan beruntun. Tangga yang mereka pijaki runtuh disusul runtuhnya ruangan di atasnya. Enji dengan sigap melindungi Bayu.
Aleza tercengang dengan apa yang ia lihat. Rumah yang termasuk besar untuk perlahan runtuh dan kini hanya tersisa separuh. Memang ia curiga ketika mendengar suara benturan keras tapi tidak menduga itu akan menghancurkan rumah. Syaka membeku, yang semula merasa agak lega kini kembali tegang dengan rasa takut yang semakin menjadi.
Aleza menanyakan kabar para bawahannya, tentu saja tidak dijawab. Syaka bergegas turun mobil, ingin masuk.
"Jangan! Bangunan itu sudah rapuh. Kita masuk dari samping."
Aleza menarik kerah baju Syaka, melangkah menuju samping rumah. Tak lupa Eleza juga menghubungi markas untuk mengirim bantuan.
Apakah aku gagal?
Aleza sendiri ketar-ketir dalam hati. Melihat ledakan tersebut, kemungkinan untuk selamat kecil. Jika para anggotanya gugur dalam misi, ia sudah ikhlas, memang itu sebuah resiko yang tidak bisa dihilangkan.
Akan tetapi bagaimana pertanggung jawabannya kepada Karina? Karina pasti akan marah besar plus bersedih jika adik dan keponakannya tidak selamat atau berada dalam kondisi kritis.
Tuan Muda kalian harus bertahan!
Dengan kekuatan yang ada Syaka dan Aleza menyingkirkan reruntuhan, mencari keberadaan Enji dan lainnya.
__ADS_1
Ku mohon bertahanlah!
Syaka mengusap matanya yang terasa panas.