Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 127


__ADS_3

Pukul 09.00 Arion, Karina, Maria, Amri dan Bayu sudah berada di kamar masing-masing. Tentunya dengan perut yang sudah terisi bakpau.


Arion dan Karina bergantian mandi. Arion awalnya menyarankan mandi bersama. Namun Karina yang curiga menolaknya tegas. Karina tahu pasti ada udang di balik batu. Ada niat terselubung di balik ajakan mandi bersama.


Arion mencembikkan bibirnya kala itu. Gagal lagi deh niat mau bermesraan di kamar. Ia akhirnya hanya bisa menunggu Karina selesai membersihkan tubuh.


Sekitar 30 menit kemudian, Karina selesai. Arion segera masuk setelah Karina keluar. Karina melangkahkan kakinya mendekati ranjang.


Meraih dan membuka koper mini berwarna biru miliknya dan Arion. Ya setelah Calvin bangun, bertepatan dengan kembalinya Karina. Calvin langsung mengantar koper miliknya kembali padanya.


Selesai berpakaian, tentunya dengan pakaian berwarna gelap untuk berziarah ke makam Enji. Karina yakin sebentar lagi pasti Li dan Elina akan datang.


Karina tersenyum simpul mengingat Enji. Merindukan anak laki-laki yang ia selamatkan dari tempat pembuangan sampah, anak laki-laki yang ia rawat sepenuh hati walaupun dengan kedinginannya. Karina sungguh merindukan Enji. Andainya keajaiban itu ada, Karina ingin bertemu dan memeluk Enji.


Karina hanyut dalam lamunannya. Suara ketukan pintu kamarnya diketuk membuyarkan lamunannya. Karina yang telah selesai berpakaian segera beranjak membuka pintu. 


Elina dengan Li, memakai baju yang juga berwarna gelap, berdiri di depannya dengan wajah ramah. Di belakangnya ada Gerry dan Marlena. 


"Anda sudah siap Queen?" tanya Li. Karina mengangguk.


"Kita bisa berangkat sekarang? Kami harus kembali ke kediaman kami pukul 11.00 nanti," tanya Marlena.


"Ya. Tunggu suamiku sebentar," sahut Karina. Marlena mengangguk.


"Kalau begitu kami menunggu di lobby saja ya," ujar Elina. Karina menatap Li dan Elina. Pegangan tangan sejak Karina membuka pintu tak kunjung lepas.


Karina memberikan tatapan menyelidik pada Li yang hanya mampu diterka oleh anggota Pedang Biru. Li tersenyum canggung. Tahu apa arti tatapan selidik itu. 


"Kami tak melakukan apapun, Queen. Eli tidur dengan ibunya tadi malam," terang Li melirik Elina. Elina dan Marlena tampak heran.


"Iyakan, Eli? Kita tak melakukan apapun kan tadi malam."


Li menatap Elina. Elina yang memang tak melakukan apapun dengan Li mengiyakan pertanyaan itu.


"Memangnya kenapa kalau kami berbuat yang macam-macam?" tanya Elina yang tak tahu peraturan di markas Pedang Biru.


"Jika kalian macam-macam, maka sepertinya kau harus mencari pria lagi, sebab pria di sampingmu ini akan jadi kasim," jawab Karina santai, bersandar di bingkai pintu dengan senyum tipisnya. Elina  membulatkan matanya. Li meringis. 


"Syukurlah itu tak terjadi. Jika tidak bagaimana aku bisa mendapatkan cucu?" ucap lega Marlena girang. 


"Hehehe …," kekeh Li menggaruk kepalanya. Pada akhirnya, Elina, Li, Merlena dan Gerry tak jadi menunggu di lobby.


Tak berselang lama, ada yang menyentuh pundak Karina. Karina menoleh. Arion dengan setelah kasual berwarna hitam senada dengan pakaian yang ia gunakan tersenyum manis.


"Kita berangkat?" tanya Arion.


"Ya," jawab Karina.


Keenamnya langsung melangkah menuju lift, sebelum Karina masuk ada yang memanggilnya. Pintu lift menutup, Arion dan lainnya turun duluan setelah mendapat arahan lambainya tangan Karina.


"Kakak mau kemana? Bayu ikut ya."


Bayu  menghampiri Karina. Karina menimang. Tak ada salahnya mengajak Bayu, toh Bayu juga adalah darah daging Enji. Sampai saat ini Karina belum membuka hal ini pada orang lain, hanya dirinya dan yang terlibat dalam pencarian dan penyidikan yang tahu.

__ADS_1


"Kakak mau ziarah. Bayu mau ikut? Kakak mau ke kuburan loh," jawab Karina menguji Bayu. 


"Ke kuburan? Ikut kak. Kakak mau ziarah tempat siapa?" tanya Bayu lagi dengan wajah sumringah.


Karina tertegun sejenak. Tak lama senyum tipis ia tampikan. Hubungan ayah dan anak tak dapat dipisahkan, walaupun sudah berbeda dunia.


"Ke makam Enji. Adik kakak," ucap Karina. Bayu mangut-mangut mengerti.


"Bayu ikut," ujar Bayu untuk yang ketiga kalinya.


"Hm … oke," sahut Karina.  Mereka segera memasuki lift, Karina menekan tombol turun ke lantai dasar.


Tak lupa ia mengirim pesan pada Maria agar tak heboh saat Bayu tak berada di kamar ataupun di hotel ini.


Sesampainya di lobby, tiga mobil sudah terparkir di depannya. Karina dan Bayu menuju mobil hitam yang berada di paling depan. Itu adalah mobil Arion. 


Karina langsung membuka pintu samping pengemudi dan Bayu membuka pintu penumpang. Mereka segera naik.


 


Mobil Arion mulai melaju, diikuti mobil yang dikemudikan Li dan Gerry.


Perjalanan ke pemakaman umum kota hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit. 


Pukul 10.00, mereka tiba di pemakaman, memarkirkan mobil di area parkir. 


Karena ini hari Minggu, lumayan banyak juga orang yang berziarah. Karina dan lainnya segera melangkahkan kakinya menuju makam Enji. Sesampainya di makam Enji, mereka menatap makam itu dalam diam.


Elina terlihat meneteskan air mata. Namun dengan segera menghapusnya. Li yang berada di sampingnya pun memeluknya memberikan rasa nyaman.


"Bayu, kamu mengapa menangis?" tanya Arion khawatir. Karina tersenyum tipis. 


Anakmu datang mengunjungimu, Zizi.batin Karina menatap nisan Enji.


Bayu menggeleng seraya mengusap air matanya.


"Aku pun tak tahu kak. Hatiku sedih melihat makam ini. Seperti ada ikatan batin antara aku dan paman ini. Tapi aku tak tahu hubungan denganku," jawab Bayu, memeluk Karina dengan tubuh kecilnya.


"Ikatan batin?" beo Arion. Ia mengalihkan pandangannya menatap Karina. Karina hanya menunjukkan senyum tipis yan sedari tadi ia sunggingkan.


Dahi Arion mengeryit. Jika Karina tersenyum seperti ini, maka Karina pasti tahu sesuatu.


Rahasia apa lagi kau aku tak tahu? batin Arion bertanya.


"Kakak apa aku ada hubungannya dengan paman itu?" tanya Bayu. Karina mengusap kepala Bayu.


"Ada saatnya kau tahu," sahut Karina. Bayu mengangguk. Biarlah kakaknya ini memberitahu padanya saat waktunya tiba. Li dan Gerry yang tahu saling bertatapan. 


"Hai Ji. Sudah dua tahun berlalu. Apa kau mengingatku?" sapa Elina berjongkok di samping pusaran makam Enji.


Ia membersihkan dedaunan kering yang terdapat di atas makam Enji. Tatapannya bercampur namun paling banyak adalah sedih.


"Aku harap kau masih ingat. Hehehe … aku aneh ya? Apa kau ingat pertemuan kita? Di bawah daun maple yang berguguran di kota B?" Elina berbicara dengan nada sedih.

__ADS_1


"Aku tertarik padamu kala itu. Kau yang cuek menambah rasa ketertarikanku. Hingga akhirnya aku menculikmu untuk menikah, tak ku sangka kau adalah adik dari wanita es di dunia bawah. Aku ceroboh yang mencari tahu dulu. Aku tahu kau orang yang baik, bahkan pada saat Kau dibawa lari dari pernikahan oleh wanita es ini kau masih sempat mengatakan aku harus mencari orang yang benar-benar aku cintai, bukan sekedar tertarik," ujar Elina. Karina mendengus kesal mendengar Elina yang menyebutnya wanita es. 


Elina mengalihkan pandangannya, menatap Li yang berdiri di sampingnya. Li tersenyum dan ikut berjongkok. Li memegang tangan Elina.


"Sekarang aku sudah menemukannya, kau senang kan?" ujar Elina memberi tahu. 


"Elina, sayang, lekaslah sedikit. Kita harus segera kembali."


Marlena mengingatkan Elina. Elina mengangguk. Mereka segera berdoa. Selesai berdoa, mereka kembali melangkahkan kaki menuju mobil.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan sedih. Di balik pohon beringin dengan pakaian putih, sepasang mata itu memegang dadanya nyeri. Air matanya lolos menetes ke tanah. 


"Aku di sini," gumamnya. Tak lama ia segera beranjak pergi. 


***


"Kami pamit pulang ya," ujar Elina. Karina mengangguk.


"Elina, apa kau sudah bertemu Miu?" tanya Karina. Elina mengangguk. Namun wajahnya muram.


"Miu terlalu nyaman denganmu, dia tak mau ikut dengan Elina lagi. Kau adalah majikan satu-satunya bagi Miu," terang Marlena menjawab keheranan Karina.


"Tapi diakan mau bertemu denganmu cuma tak mau ikut bersamamu. Kau masih bebas bertemu dengannya," hibur Karina. 


"Benar Eli. Jika kita menikah, kau bisa setiap hari bertemu dengannya," timpal Li.


Elina tersenyum dan mengangguk. Elina dan Li berpelukan sejenak. Kemudian Elina menjabat tangan Karina serta menangkupkan kedua tangannya pamit pada Arion dan Gerry.


Merlena melakukan hal yang sama. Tak apakan memeluk calon menantu? Selepas berpamitan, Elina dan Marlena langsung masuk ke dalam mobil mereka. Sebagai tanda berpisah, Elina membunyikan klakson.


Perlahan mobil mustang classic itu meninggalkan area parkir pemakaman. Setelah mobil tak terlihat lagi, barulah Karina dan lainnya beranjak.


Li dan Gerry pulang menuju markas, Karina dan Arion serta Bayu kembali ke hotel mengambil barang-barang mereka.


"Kak, sebenarnya siapa paman yang berada di dalam makam itu? Mengapa aku bisa menangis?" tanya Bayu di tengah perjalanan pulang ke hotel.


Arion melirik Karina. Terlihat Karina diam dengan memejamkan matanya. 


Bayu sudah dewasa. Ada baiknya aku kasih tahu saja dia. Daripada akar kebencian timbul nantinya. Aku tak mau Bayu membenci Enji pikir Karina. Karina membuka matanya. 


"Dia adalah …," jawab Karina seraya memalingkan wajahnya ke samping ke arah jendela menatap jalanan.


Belum selesai Karina menjawab, mata Karina menangkap sosok familiar di dalam mobil putih, sekilas saja. Mobil putih itu segera melaju mendahului mobil Arion.


"Ar. Kejar mobil putih itu," seru Karina.


Arion menurut, menambah laju mobilnya. Jalanan lumayan padat, namun mobil putih itu bergerak dengan lincahnya di kepadatan itu. Ada cela sedikit saja, dia langsung jalan, seakan tahu bahwa dia sedang dikejar.


Arion dengan skillnya berusaha mengejar, menyalip kanan-kiri kendaraan. Hingga di pertigaan jalan, mereka kehilangan jejak akibat truk yang menyembrang menutupi pandangan mereka. Untuk saja rem mobil merespon dengan baik.


"Sial. Padahal sedikit lagi," kesal Arion. Bayu mengkerut di jok belakang. Terkejut dengan Arion yang membawa mobil seperti kesurupan.


Karina malah terdiam. Sosok di dalam mobil itu sangat familiar.

__ADS_1


"Enji …," gumam Karina yang membuat Arion membelakakan matanya.


"Enji?" beo Arion bingung. 


__ADS_2