
Semakin malam, acara semakin meriah. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Karina pamit ke kamar duluan. Matanya sudah mengantuk berat ingin diistirahatkan. Arion ingin mengantar, namun ditolak oleh Karina.
Karina segera keluar dari ballroom. Naik ke lantai di mana kamarnya dan kamar pada keluarga maupun sahabat menginap malam ini. Karina melangkahkan kakinya memasuki salah satu kamar. Tanpa berbersih dulu, Karina langsung melemparkan tubuhnya ke atas empuknya ranjang.
Tak terasa tengah malam pun telah tiba. Acara sudah berakhir. Para tamu undangan segera get out keluar ballroom dan hotel tentunya menuju rumah masing-masing.
Tinggallah keluarga mempelai yang tinggal, pastinya keluarga Karina juga tinggal ya. Bayu sudah tidur sejak pukul 21.30 tadi, lelah berdebat dan menghadapi sikap gadis kecil yang mengucapkan janji akan melelehkannya, siapa lagi kalau bukan Silsilia Amanda Graham.
Sam dan Lila on the way pamit menuju kamar pengantin mereka. Hamdan dan Rasti juga masuk ke kamar mereka, iya kali kamar tetangga. Bisa runyam masalahnya.
Arion langsung menyusul Karina, bersiap memeluk Karina dalam tidurnya. Begitupun dengan kedua orang tuanya. Nenek Asmina dan kakek Tio yang pasti sama dong.
Kini, tinggallah Calvin, Raina, Angga dan Rasti. Mereka berhenti di depan kamar pengantin Calvin dan Raina.
"Tunggu Vin, Mama mau ngomong bentar," ucap Santi saat Calvin hendak membuka pintu kamarnya. Otomatis gerakan itu terhenti. Calvin menoleh ke arah mamanya.
"Aku masuk duluan ya," ujar Raina. Calvin mengangguk. Raina memutar handle pintu dan segera masuk. Menutup pintu rapat.
Setelah Raina masuk, Santi langsung menarik Calvin beranjak dan menjauh dari pintu kamar. Calvin mengikut saja dan menoleh ke arah Angga dengan tanda tanya. Angga tersenyum kecut. Calvin menjadi waspada. Mencoba menduga apalagi yang akan mamanya ini lakukan padanya.
Sekitar sepuluh meter dari pintu kamar Calvin dan Raina, Santi menghentikan langkahnya dan melepaskan pegangan tangannya. Kemudian, Santi menepuk kedua tangannya. Tak lama, datanglah seorang pelayan membawa nampan, segelas minuman berwarna khas jamu tersaji di atasnya.
"Ini minum dulu sebelum tempur," ucap Santi menyodorkan gelas jamu itu pada Calvin. Calvin mengedipkan kedua matanya bingung.
"Ini apa Ma? Jamu kuat?" tanya Calvin menerka. Santi mengangguk.
"Iya," jawab Santi singkat. Calvin membelalakan matanya.
"Mama gak percaya sama kekuatan Calvin? Ya walaupun Calvin belum pernah melakukan itu sama sekali, hanya tahu teori semasa SMA, tapi ada yang bilang kekuatan pria yang puasa akan berkali-kali lipat dari yang jarang atau gak berpuasa. Jadi Calvin rasa, Calvin gak perlu minum jamu itu Ma," tutur Calvin menolak minum jamu kuat. Ia yakin dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan obat, apapun itu.
"Dari mana kamu dapat teori itu? Ada buktinya?" sewot Santi tak setuju dengan teori yang Calvin ucapkan.
"Dari komik online," jawab Calvin dengan kekehan khasnya. membulatkan matanya.
Teori dari komik direalisasikan di dunia nyata. Tidak. Pokoknya Calvin harus minum jamu buatannya. Apapun caranya. Pikir Rasti mengatur siasat.
"Papa sudah bilang sama Mamamu. Tapi, mamamu ini ngotot binti bandel serta keras kepala. Katanya biar cepat hamil Rainanya. Mamamu gak sabar nimang cucu. Kakek sama nenekmu juga gak sabar nimang cicit."tutur Angga. Rasti mendelik kesal pada Angga. Calvin mengusap wajahnya kasar
"Ma, Calvin gak mau minum jamu itu. Kasih sama Papa saja. Biar Papa jadi kuat. Calvin mau balik ke kamar," ujar Calvin tegas membuat Rasti menunjukkan wajah sedihnya.
"Kamu gak mau minum? Padahal mama susah payah membuatnya untuk kamu. Khusus untuk kamu. Apa mama salah berusaha memberikan dukungan terbaik agar kamu sukses malam ini. Butuh usaha keras loh, Vin. Jangan kayak papamu. Tiga kali percobaan baru jebol," tutur Rasti sedih.
__ADS_1
Air mata buaya pun Rasti keluarkan. Angga memutar bola matanya malas. Ia memilih ke kamar duluan. Biarkan ibu dan anak itu menyelesaikan masalah mereka. Calvin malah gelagapan.
Dalam hidupnya, Ia berjanji tak akan pernah menyakiti hato seorang wanita apalagi wanita yang mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkannya.
Tangis haru dan bahagia silahkan saja. Namun tangis sakit hati dan kecewa, jangan sampai. Bisa kena laknat Tuhan dia. Setetes air mata susu saja tak dapat ia balas, masa mau membuat air mata seorang ibu menetes walaupun hanya setetes. Itu tidak boleh terjadi padanya.
Makanya, sejak Calvin beranjak dewasa, Calvin tak mau memberi harapan palsu pada wanita yang menyukainya.
Ia mencari wanita yang mau langsung diajak ke pelaminan daripada ajak ke pacaran. Terikat dengan agama dan hukum yang berlaku. Memberikan kepastian akan hati dengan nama istri tertulis di kartu keluarga.
Hingga, pencariannya berhenti di Raina. Cocok sama cocok yang langsung minta izin keluarga atau wali kedua pihak dan setelah tunangan langsung ke pelaminan. Dan hari ini semuanya terwujud.
"Oke. Calvin akan minum jamunya. Tapi please Mama jangan nangis. Calvin gak bisa lihat Mama nangis kayak gini. Maaf Calvin buat Mama sedih," final Calvin mengambil gelas dan dengan cepat meminumnya.
Dengan menutup hidung, dengan tiga kali tenggakan, jamu di gelas meluncur masuk ke tubuh Calvin. Rasa pahit khas jamu terecap di lidahnya.
Rasti tersenyum licik. Air mata buaya berhasil mengecoh Calvin dan memuluskan tujuannya. Calvin mengembalikan gelas dan pamit ke kamarnya. Rasti malah melambaikan tangannya senang memberi semangat.
"Hehehe … cucuku sebentar lagi akan dibuat," gumam Rasti menyusul Angga ke kamar.
Calvin membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya masuk. Langkahnya terhenti melihat Raina yang masih dalam balutan gaun pengantin duduk di tepi ranjang dengan wajah rumit. Calvin menatap ranjang bertabur bunga mawar itu.
Terlihat ada seorang wanita selain istrinya tidur di sana. Gaun yang digunakan wanita itu persis seperti gaun yang kakak iparnya pakai tadi, Karina. Raina juga sopan, tak mencak-mencak marah ataupun emosi tetapi hanya wajah heran yang terukir.
Akg. Sial! Disaat jamunya mulai bereaksi dan siap memulai malam yang indah bersama Raina, malah kehalang kakak iparnya yang seenaknya jidatnya masuk dan tidur di ranjang pengantinnya. Malah posisinya nyeleneh lagi. Tangan terlentang bebas di ranjang, untung saja hanya mendengkur halus bukan ngorok.
Dan untungnya lagi, kaki Karina menutup rapat, tidak terbuka lebar. Bisa khilaf nantinya.
"Kok gak kamu selimutin?" tanya Calvin lagi.
"Astaga. Aku lupa," seru Raina, segera menarik selimut sebatas dada untuk Karina.
Calvin menggerutu kesal. Ia segera keluar kamar dan menuju kamar Arion.
"Ar …." Belum selesai Calvin memanggil Arion, pintu sudah terbuka duluan.
"Vin, loe lihat istri gue gak? Karina gak ada di kamar, sudah gue cari dari ujung sampai ujung koridor lantai ini sama sudut kamar terkecil, Karina tetap gak ada," cercah Arion dengan nada khawatir dan nyeleneh agak berlebihan.
"Itu kakak ipar …," jawab Calvin.
"Di mana?" tanya Arion tak sabar. Lagi-lagi memotong ucapan Calvin. Calvin mendengus. Efek jamu semakin terasa.
__ADS_1
"Di kamar gue sama istri gue. Tidur di sana kakak ipar," jawab Calvin. Arion membulatkan matanya. Khawatirnya seketika hilangnya digantikan senyum canggung Arion.
Pamitnya sih memang ke kamar untuk tidur. Tapi kan seharusnya ke kamar mereka sendiri. Bukannya malah nyasar ke kamar orang lain sih? Kamar pengantin lagi. Malah pengantinnya sudah ngebet lagi.
Wajah Calvin mulai berubah. Wajahnya memerah menahan gairah. Arion segera ke kamar Calvin dan Raina. Ia menggelengkan kepalanya melihat Karina yang tidur dengan nyenyak di sana.
"Tuan," sapa Raina bangkit dari ranjang. Arion duduk di samping Karina dan memegang tangannya lembut. Karina terdengar menggumam.
"Ambyar dah malam pengantin gue," kesal Calvin bersandar pada daun pintu. Arion menatap Calvin dan Raina bergantian. Ia terdiam sesaat.
"Gini saja. Kamar loe berdua jadi kamar gua sama Karina. Kita tukaran kamar saja. Kalian berdua malamnya di kamar gue. Gue gak tega bangunin Karina. Kalian gak papakan?" saran Arion. Calvin melirik Raina. Raina mengangguk. Bagi Raina, di matanya yang penting tidur. Asalkan jangan di tempat terbuka.
Calvin mengikut, toh yang penting malam bersejarah baginya melepaskan masa perjaka terlaksana. Birahi mulai menguasai Calvin. Dengan segera Calvin menarik tangan Raina yang menurutnya berjalan lambat.
Sesampainya di kamar, Calvin langsung mengunci pintu dan bersiap menyerang Raina yang masih sibuk membuka gaun pengantinnya. Tak perlu membersihkan badan yang lengket, Calvin langsung menerkam Raina. Melemparnya ke atas ranjang dan memulai malam pertamanya.
Birahi yang menggebu ditambah lagi dengan jamu membuat Calvin menggila. Raina pasrah saja. Ya walaupun ada sesi sakit saat menjebol kehormatannya tapi yang akhirnya Raina menikmati sentuhan demi sentuhan pria yang sudah sah dan halal baginya ini.
Dari kamar Calvin dan Raina yang penuh bunga cinta, beralihlah dulu ke kamar Karina dan Arion. Setelah kepergian Calvin dan Raina. Tercetak senyum mesum Arion.
"Karena kamu tidur di kamar pengantin, maka kamu akan jadi pengantinku lagi. Dan yang dilakukan pengantin baru adalah …," ucap Arion pelan dengan nada menggoda. Ia mengusap wajah Karina.
Karina yang semenjak hamil, susah bangun kalau sudah tidur tetap terjaga dalam tidurnya.
Arion membuka pakaian sendiri, menyisakan celana boxernya saja. Ia mulai menyikap selimut Karina. Perlahan mendekatkan wajahnya hendak mencium Karina. Baru saja bibirnya menempel belum yang lain hal yang terjadi adalah satu tamparan mendarat di pipi kanannya. Arion mengusap pipinya dan menatap Karina bingung.
"Nyamuk kok ngeselin sih? Mesum lagi, pakai acara cium bibir lagi," gerutu Karina yang masih memejamkan matanya.
Hah? Nyamuk? Karina anggap bibir aku nyamuk? batin Arion.
Arion mencoba lagi. Kali ini bukan bibir, namun leher. Dan.
Plak.
Satu pukulan mendarat di kepalanya dan pelakunya masih tertidur.
"Tadi bibir, sekarang leher. Nyamuknya mau kawin ya? Dasar vampir cilik mesum," gerutu Karina lagi. Arion menggaruk kepalanya. Menatap rumit Karina.
"Haih, sudahlah tunda dulu. Daripada wajahku lebam sana lebam sini besok pagi," gumam Arion membaringkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya dan Karina.
__ADS_1
Karina mendekatkan dirinya pada Arion. Arion tersenyum kecil.
Tadi nolak, sekarang mendekat. Dasar bumil, batin Arion memeluk Karina.