
Pagi yang indah pun hadir. Sapuan kemilau pagi menyapa permukaan wajah Mira. Tirai yang bergoyang diterbang angin yang membawa nyanyian burung mengusik pendengaran Mira. Mira membuka matanya cepat dan melihat jam. Waktu menunjukkan pukul 07.00, Mira mengesah pelan dan menyibak selimutnya.
"Huh, kesiangan deh!" celetuknya pelan dan segera melangkah menuju kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian, Mira keluar dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sebuah dress berwarna mint, melekat indah di tubuh cantiknya.
"Huh, mengapa harus mimpi gituan pula? Heih Mira segitu kesepiannya dirimya hingga memimpikan bercinta dengan pria itu? Ahgg … bisa hancur reputasiku jika ada yang mengetahuinya!"
Mira menggerutu. Bibirnya mengerucut melengkapi wajah kesalnya. Dengan kasar, melempar handuknya ke ranjang dan meraih sisir. Memandangani wajahnya di cermin. Mira lalu memejamkan matanya sejenak, saat membuka mata. Mira tertegun dan tampak mengerjap. Sosok pria tampan berbaju putih, yang tak lain adalah suaminya, ia melihat itu di pantulan cermin. Sosok itu memegang kedua pundaknya dan menciumi pucuk rambutnya.
"Mas," panggil lirik Mira. Sosok itu hanya menggumam, tangannya berpindah menyentuh pipi Mira. Tatapan pria itu sangat sendu, terpantul jelas di cermin. Senyum ia sunggingkan dengan teramat sempurna. Mira tidak dapat berkata-kata.
Ini nyata atau hanya sekedar rasa rindu yang menjelma menjadi dirimu? Mira kacau di dalam batin. Akhirnya, Mira memilih memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan sosok yang ia kenal sebagai suaminya itu menyentuh pipi.
"Hiduplah dengan bahagia. Aku senang kamu sudah ikhlas. Mira, lanjutkan hidupmu. Kelak, kita akan kembali bertemu di keabadian."
Suara itu terdengar jelas di telinga Mira. Mira meremang dan terkaget saat ada suara berisik. Mira membuka mata dan mengedarkan pandangannya.
"Hilang? Aku … berhalusinasi?" gumam Mira kebingungan. Mira mengesah pelan dan menghembuskan nafas kasar.
Dering nada panggilan membuat Mira meraih handphonenya. Ia memiringkan kepalanya seraya mengeryit mendapati Gerry yang menelponnya.
"Mau apa Pria ini menelponku pagi-pagi?" gumam Mira menscrol icon telepon ke warna hijau dan menjawab panggilan itu.
"Pagi Dokter selendang masa depanku," sapa Gerry riang. Setitik rona merah, hinggap di pipi Mira.
"Apa maumu? Aku sibuk," ketus Mira.
"Hei-hei. Jangan ketus-ketus dong. Cukup Karina saja yang mengetusiku, jangan kamu. Hm, aku hanya ingin menyapa, mengobrol dan mendengar suaramu. Ada masalah dengan itu?" sahut Gerry dengan nada yang masih ceria.
"Ada, kamu menganggu pagiku. Aku sibuk." Masih dengan nada ketus Mira berujar. Terdengar suara helaan nafas dari Gerry.
"Baiklah kalau begitu. Aku mohon maaf karena mengganggu pagimu. Aku hanya rindu, apakah rasa rindu itu salah? Mira, will you to be my wife?" tanya Gerry serius.
Mira membeku. Ini? Ini apa? Gerry melamarnya? Hello, mereka hanya bertemu dua kali dan berbicara 2 kali, bagaimana bisa Gerry, orang yang terkenal sulit jatuh hati menyatakan lamaran padanya? Tapi, apakah setiap lamaran harus disertakan cinta? Mira tersenyum sinis.
"Hei Tuan, ini bukan April Mop. Jadi jangan mengeprank diriku. Kamu tidak mempan!" ucap Mira meledek.
"Nona, apa ucapanku terdengar seperti candaan? Aku serius. Mau kah dirimu menjadi masa depanku? Menua bersama dengan tangan yang saling bergandengan?" tanya Gerry sekali lagi.
Kini, Mira terdiam, dengan semburat merah memenuhi wajahnya. Pipi memanas dengan hati yang kian berdebar dan jantung yang berdetak lebih cepat. Mira beranjak dan berjalan mendekati jendela. Menyibak tirai dan melihat pemandangan di luar.
"Kau, apakah kau tahu siapa keluargaku? Aku ini bukan …."
"Tak peduli dari keluarga mana dirimu. Aku yakin bisa mendapatkanmu. Mira Rahmawati, hatiku sudah kamu curi, maka aku akan mengejar pencurinya sampai dapat. Okey, sampai sini dulu ya. Pikirkan jawaban atas lamaranku tadi. Aku harap, jawabanmu sama dengan harapanku. Dan bantulah aku mengakhiri kejombloan yang mengikat diriku. I love you," tutur Gerry cepat, memotong ucapan Mira. Dan tut … tut, panggilan terputus. Mira menunduk dengan bibir yang terasa keluh.
Pagi yang mendebarkan baginya. Seseorang melamarnya? Dan Mira tidak tahu apa jawabannya.
__ADS_1
Lamunannya buyar saat mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Diikuti dengan suara Riska.
"Kak, kau sudah bangun?" panggil Riska.
"Ah, iya Ris, kakak akan segera turun," sahut Mira cepat.
Mira meletakkan gawai pintarnya di atas nakas dan segera membuka pintu. Riska, terlihat rapi dengan seragam sekolahnya. Rok maroon di bawa lutut, dilengkapi dengan kemeja putih dan rompi senada dengan roknya, serta rambut yang digerai, membuat dara muda itu tampak anggun dan manis.
"Loh, kamu belum berangkat Ris? Bukankah ini sudah terlambat?" heran Mira.
"Hari ada hari guru kak, dan kegiatan belajar mengajar juga free. Cuma ada acara upacara, sama happy-happy bareng guru. Acaranya mulai pukul 09.00. Palingan para panitia atau yang terlibat di acara itu yang datang seperti biasanya," jelas Riska.
"Oh, begitu. Sudah sarapan?" tanya Mira, berjalan duluan menuju meja makan.
"Belum, maunya sarapan bareng kakak," sahut Riska manja.
Mira tersenyum lebar. Di meja makan, hanya ada suara dentingan alat makan yang saling beradu. Para pelayan, berdiri di belakang mereka, siap sedia bila mana Nona muda mereka membutuhkan sesuatu.
"Kapan Mama dan Papa akan pulang?" tanya Mira setelah mereka selesai sarapan.
"Kayaknya lusa deh kak. Tapi kurang tahu juga, soalnya jadwal Papa bisa berubah-ubah. Sejak kakak pergi, aku jadi sering sendiri di rumah. Mama lebih sering nemeni Papa, kakak tahu sendirikan kondisi Papa?" jawab Riska dengan nada lesunya.
Mira mengangguk pelan.
"Ya, aku tahu. Papa, belum rela Mas Eko pergi," tutur Mira sedih.
Setelah mencium sekilas pipi kanan dan kiri Mira, Riska berlari keluar. Tak lama, terdengar deru kendaraan yang kian menjauh. Di tempatnya, Mira kembali merenung. Dia memanglah anak yatim piatu, dengan dibiayai oleh keluarga Adiguna yang sebenarnya adalah donatur utama di panti asuhannya dulu, Mira bisa jadi seperti ini. Karena kedekatannya dengan keluarga Adiguna, ia pun dijodohkan dengan suaminya.
Selama ini mereka memendam cinta dan saling mengagumi dan mencintai tanpa terucap oleh kata, mereka dengan senang hati menerima perjodohan itu. Makanya, walaupun suami Mira sudah tiada, keluarga Adiguna tetap menganggap Mira adalah anak mereka, bukan menantu lebih kepada seorang putri kandung.
"Nona, Anda sakit? Kening Anda mengerut, apakah Anda memiliki banyak pikiran?" tanya pelayan khawatir. Mira menggeleng pelan.
"Aku baik. Aku akan berkeliling rumah sejenak. Aku merindukan suasana rumah ini," jawab Mira, beranjak dan melangkah kaki menyusuri rumah mencari sesuatu yang baru dari rumah ini.
Ya, setelah tiba di sini, Mira langsung masuk kamar dan baru turun saat matahari berada di atas kepala. Baru sorenya, ia hanya bersepeda. Setelah itu, masuk kamar lagi, dan turun hanya untuk makan malam.
*
*
*
Di arena tembak Pedang Biru, Gerry menembak sasaran dengan tidak karuan, ada yang meleset dan hanya menembus lingkaran ke lima. Li yang melihat itu mengeryit dan segera menghampiri Gerry.
"Kau kenapa Gerry? Pikiranmu berkelana, apa ada sesuatu yang membuatmu tidak fokus? Tembakanmu tadi payah!" tanya Li, merebut pistol di tangan Gerry dan membidik sasaran tepat di tengah.
Gerry tampak terkejut dan menoleh ke arah Li.
__ADS_1
"Hm, sepertinya aku akan ditolak olehnya. Li, aku sudah gila! Aku menyatakan rasanya dan melamarnya sekaligus! Aduh malunya diriku jika Mira menolaknya," oceh Gerry dengan nada sedih. Li menaikkan satu alisnya, tampak tidak terkejut dengan ocehan Gerry.
"Oh, kau melamar Mira dan jawabannya digantung? Kau lebih baik dariku, Gerry!"
Li mengacungkan kedua jempolnya untuk Gerry. Gerry menyipit dan tidak mengerti.
"Hehehe, kau tidak ingatkah saat Elina yang melamarku? Seketika rasa lelaki menurun. Tapi, tak apalah, yang penting hasilnya. Mira, dia itu dilema Gerry." Li menatap langit dan tersenyum tipis.
"Maksudmu? Dilema bagaimana? Diakan tidak memiliki sangkutan dengan suaminya? Anak tidak ada, pisah pun karena maut, apa yang ditakutkan?" tanya Gerry yang tidak paham. Li mengubah senyumnya menjadi senyum remeh untuk Gerry.
"Maka cari tahulah sendiri. Yang dicari dengan keringat sendiri itu lebih nikmat daripada keringat orang, semangat Gerry Herlambang. Kamu pasti menang!" Seusai mengatakan itu, Li melenggang pergi.
Gerry seakan de javu, kata-kata Li, seperti kata-kata Karina. Gerry menghela nafas. Jujur, ia sudah mencari, namun hanya profil umum.
"Okelah. Akan aku gunakan kekuasanku. Tapi setelah mengajari anak ini menembak," tekad Gerry, melambaikan tangannya pada Syaka yang berjalan lambat. Syaka berjalan layaknya sedang fashion show, oh ayolah, Gerry bukan penyabar kecuali urusan Mira dan Karina.
Gerry segera mengajari Syaka, bagian awal yaitu pengenalan senjata, masuk bagaimana cara merakit dan memasukkan amunisi berikut jenis amunisinya. Cara memegang senjata yang benar, dan cara menembak yang benar. Setelah teori praktek yang dilakukan Gerry, Gerry meminta Syaka untuk menembak sasaran berupa botol kaca berisi air dengan jarak 10 meteran.
"Daebak!" puji Gerry pada Syaka. Baru satu kali percobaan, Syaka sudah berhasil, pas sasaran. Gerry bertepuk tangan dan Syaka tersenyum lebar.
"Ini hal kecil bagiku Tuan. Di tempatku, Ayah selalu mengajariku menembak. Bahkan itu benda bergerak. Aku sering menembaknya di desa kalau dia mengganggu padi dan perkebunan kami," terang Syaka bangga.
"Oh, memangnya apa yang kau tembak?" tanya Gerry penasaran.
"M*nyet, kadang juga b*bi hutan, dan selalu tepat," jawab Syaka dengan nada bangga juga.
Gerry lupa membaca keterangan tentang Syaka dari Karina. Gerry lantas, merogoh saku celana dan mencari sesuatu. Tak lama, ia membalikkan badan dan membaca kertas putih yang Karina berikan padanya.
"Pantas saja, orang tuanya kan pembunuh bayaran, wajar anaknya jago main senjata. Karina, maaf meragukanmu semalam," gumam Gerry.
"Tuan, Anda kenapa?" tanya Syaka heran. Gerry berbalik dan menepuk pundak Syaka.
"Kelak, jika ada yang menyebalkan seperti hewan yang kau tembak itu, tembak saja dia," ucap Gerry.
"Termasuk manusia kah?" tanya Syaka.
"Ya, manusia yang sifatnya seperti itu, habisi saja!" jawab Gerry dengan seringainya.
...****************...
...****************...
...****************...
Hai kakak, dukung terus karya ini ya. like, comment and vote. mari saling mendukung.
Dan, mampir yuk ke story teman aku. Semoga suka ya, salam hangat dari IKYD.
__ADS_1