
Malam harinya pukul 08.00, Amri dan Maria tiba di rumah Karina. Hujan ringan yang turun membuat keduanya saling memeluk sembari menunggu Karina atau siapapun membuka pintu untuk mereka.
"Eh Tuan, Nyonya, silahkan masuk," ujar Bik Mirna.
"Terima kasih Bik," ujar Maria. Bik Mirna mengangguk dan memberi jalan.
"Assalamualaikum," ucap Amri dan Maria bersamaan saat melangkah kaki mereka masuk.
"Waalaikumsalam, Mama, Papa?" sahut Arion yang berada di anak tangga terakhir.
Ia tampak heran dengan kedatangan kedua orang tuanya. Mengesampingkan keheranannya, Arion segera menyalami kedua orang tuanya.
"Mana Karina Ar?" tanya Maria, mengedarkan pandangannya di sekitar ruang tengah dan dapur.
"Di kamar Ma," jawab Arion. Kini ketiganya duduk nyaman di atas empuknya sofa ruang tengah. Bik Mirna sedia menyiapkan minum dan makanan ringan.
"Ada apa Mama sama Papa malam-malam begini kemari?" tanya Arion menatap Amri dan Maria bergantian. Amri dan Maria saling pandang.
Amri menghela nafas panjang dan mencoba mencari cara bicara yang tepat.
"Sebenarnya ini tentang Karina, tentang jati diri istrimu sebenarnya," ujar Maria, mendahului Amri. Arion diam.
"Ih Ma, kan seharusnya Papa yang ngomong itu," keluh Amri, merasa bagian diambil oleh Maria.
"Papa lama banget ngomongnya, Mama kan gak sabar," sahut Maria disambung dengan memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Tapikan …."
"Loh ada Mama dan Papa, tumben malam begini kemari? Ada apa Ma? Pa?"
Ucapan Amri terpotong oleh sapaan Karina. Ketiga orang itu menoleh ke arah sumber suara yang berjalan menghampiri mereka.
Karina menyalami kedua mertuanya dan duduk di samping Arion. Tak lupa menyeruput teh yang seharusnya untuk Arion.
"Mau bahas tentang jati diri kamu sebenarnya Karina. Papa yakin kamu masih punya rahasia lain, kamu bukan hanya seorang CEO kan?" Amri mengubah nadanya menjadi serius.
Karina menyipitkan matanya menatap selidik Maria dan Amri. Tatapan itu membuat Amri dan Maria bergidik takut.
"Apa yang mau Mama dan Papa tahu lagi dari Karina?" tanya Karina serius. Arion menatap Karina dengan tatapan rumit.
"Yang kamu serius mau memberitahu siapa dirimu sebenarnya? Apa tidak terlalu cepat?" tanya Arion berbisik pada Karina.
"Aku serius, malam ini bukan hanya aku yang akan mengungkap jati diriku tapi juga dirimu," jawab Karina, berbisik juga.
Tak lama terdengar kembali Amri menghela nafas. Ia menatap Karina dan Arion bergantian.
"Sebenarkan kami telah lama menerka siapa dirimu Karina, kami tak bertanya tentang keluargamu sebab takut kau menjadi sedih. Kami tahu orang dingin kalau sedih akan sangat susah dibuat ceria kembali. Akan tetapi, kami penasaran dengan siapa sebenarnya keluargamu. Apakah benar kau putri dari David Tirta Sanjaya?" tanya Amri serius.
Karina terdiam, kemudian menatap Arion. Arion menggeleng. Karina kembali menatap Amri dan mengangguk.
__ADS_1
Amri dan Maria membulatkan mata mereka tak percaya.
"Lalu mengapa kau berbohong pada publik Karina?" tanya Maria heran.
"Agar tak membuat ikan yang mau Karina tangkap waspada dan melarikan diri. Tapi syukurlah, ikannya sudah tertangkap dan telah dilahap habis olehku," jawab Karina, dengan nada santainya.
"Apa kau diasingkan semasa kecilmu? Karena publik hanya tahu bahwa seluruh keluarga David Tirta Sanjaya tewas dalam pembunuhan itu serta adik kandungnya juga tak diketahui di mana rimbanya," ujar Amri.
"Benar, dari aku lahir ke dunia ini, aku telah dititipkan pada Pak Arsuf, pemilik Arsuf Company yang kini berganti nama menjadi KS Tirta Grub," jelas Karina.
"Dan pamannya Karina itu adalah ayahnya Joya, yaitu Reza Argantara," tambah Arion yang membuat Maria dan Amri kembali membulatkan mata mereka.
"Serius?" tanya keduanya.
Karina dan Arion mengangguk.
"Tunggu, jangan katakan pada kami bahwa ikan yang mau kau telah kau tangkap itu adalah Reza?"
Maria meminta jawaban kepastian.
"Benar, tapi aku hanya mendorong saja menemui ajal, sedangkan kematiannya karena penyakit kanker dan mungkin sudah ajalnya dengan Karina sebagai perantara." Karina menjawab santai, tak ada rasa bersalah ataupun takut.
"Astaga!" seru Amri dan Maria shock kembali tak percaya.
"You know Pedang Biru Mafia?" tanya Karina masih dengan nada santainya.
"I'm Queen of Pedang Biru Mafia," tambah Karina, menyilangkan kedua kakinya.
Amri dan Maria saling pandang lagi, tak lama mereka tertawa dan tersenyum menatap Karina.
"Dugaan kami tak meleset lagi, kau memang mafia, tak tambah mengherankan kalau kau itu sering keluar malam dan waktu itu pulang dengan kaki terluka," ucap Amri.
"Lah? Kapan kalian berdua menduganya?" tanya Arion penasaran.
"Kau kira kami berdua ini buta dan tak bisa merasakan apapun? Ingat Ar, Papa juga mafia dulu jadi bisa merasakan aura mafia, hm cuma sama Karina Papa masih ragu kemarin, makanya kami kemarin untuk memastikan," jawab Amri.
"Mafia?" beo Karina.
"Papa juga mafia?" tanya Arion tak percaya, sebab selama yang ia tahu Papanya ini hanya seorang pengusaha.
"Dulu, Papa keluar dari dunia Mafia tepat setelah Mamamu melahirkan kamu," jelas Amri.
"Sekarang mafia itu berada di tangan kakekmu, tapi sudah tak ternama lagi seperti dulu, namanya Oaska Mafia," tambah Maria.
Karina dan Arion saling tatap, kemudian tersenyum dan tertawa.
"Ternyata kita satu keluarga mafia semua," kekeh Karina mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya. Amri dan Maria melongo tak paham dan keheranan.
"Anak kalian ini juga mafia Ma, Pa, Black Diamond Mafia. Arion mendirikannya sekitar 7 atau 8 tahun lalu bersama dengan Calvin dan Sam," jelas Arion menjawab keheranan orang tuanya.
__ADS_1
"Oh begitu, jadi alasan kalian koma dulu karena perang dengan Pedang Biru kan? Biar Papa sudah keluar dari dunia mafia tetap saja Papa tahu perkembangannya." Amri mengangguk mengerti.
"Lalu mengapa Papa keluar dari Oaska Mafia? Bukankah itu juga mafia besar dan termasyur di zamannya?" tanya heran Arion.
"Papa konflik dengan kakekmu. Mungkin tak banyak yang tahu kalau dulu kakekmu itu punya satu anak angkat bernama Azri. Nah kalian pasti pernah baca cerita anak angkat merasa dirinya anak kandung dan raja di rumah orang tua angkatnya. Itulah yang terjadi pada Papa. Papa selalu dipojokkan olehnya dan kakekmu sangat percaya padanya melebihi kepercayaannya pada Papa," terang Amri.
"Nah setelah kami berdua menikah, kami memutuskan untuk pisah rumah dengan mereka, awalnya nenekmu melarang, tetapi dengan seribu alasan yang Mama dan Papa utarakan akhirnya nenekmu luluh," timpal Maria.
"Apa hubungannya dengan Papa yang keluar?" tanya Arion yang masih belum paham.
"Pasti masalah pewarisan kedudukan Ketua Mafia, pasti kakek menunjuk adik angkat Papa itu sebagai penggantinya. Papa yang merasa selama ini berjasa dan Papa lah bekerja keras agar mafia itu besar dan disegani serta seharusnya Papa lah yang menjadi pewarisnya merasa marah dan tak terima. Jika adik kandung tak terlalu masalah, akan tetapi ini adik angkat serigala berbulu domba dan bermuka tembok," ucap Karina panjang.
"Yes, that's alright, tapi karma itu nyata, setelah satu tahu menjabat sebagai Ketua baru Oaska Mafia, tak ada penambahan dari segi apapun, yang ada adalah penurunan. Kakekmu yang heran mencari tahu dan rahasia besar pun terbongkar. Ternyata Azri adalah mata-mata yang dikirimkan oleh musuh. Kakekmu yang geram langsung saja menembak mati Azri tanpa mengucapkan apapun," terang Amri.
"Sakit dan luka di tubuh bisa sembuh dan hilang bersama dengan waktu akan tetapi pasti meninggakkan bekas, apalagi sakit hati, lebih sulit menyembuhkan dan menghilangkan bekasnya layaknya gelas yang telah hancur berkeping-keping. Seusai itu Kakekmu datang kepada Papa dan meminta Papa untuk menjadi ketua Oaska, akan tetapi Papa yang kala itu sudah merintis sebuah perusahaan menolak dan enggan berurusan lagi dengan mafia. Sadar akan kesalahannya, Kakekmu mau tak mau menerima keputusan Papa. Hingga saat ini dialah yang memegang posisi ketua Oaska, mungkin akan diwariskan pada anak yang dilahirkan oleh istri mudanya itu."
Selesai sudah cerita Amri. Lega bercampur kesal mewarnai nada bicaranya. Amri masih kesal dengan Nita. Padahal itu sudah hampir satu tahun lalu.
"Hm semua sudah jelas dan transparan, rencana liburan kita jadi kan?" tanya Karina.
"Tentu saja jadi, Papa juga mau mengunjungi kawan lama Papa di sana, semoga saja dia masih tinggal di sana," sahut Amri, berubah menjadi semangat.
"Mama mah ngikut Papamu ini, kalau kalian berdua jadi gak jadi kalian tetap berangkat bukan?" Maria menaikan satu alisnya.
"Ya," jawab Arion dan Karina bersamaan.
"Kalau begitu ayo kita istirahat, besok kita berangkat pukul 05.45 seusai Subuh, karena acara pertemuan Arion di sana pukul 09.00," ajak Arion.
"Papa sama Mama kemari gak tangan kosong kan?" tanya Karina.
"Tentu tidak, barang-barang kami sudah rapi di bagasi mobil, Mama sama Papa menginap di sini biar gak ribet nanti," jawab Maria tersenyum.
Akhirnya setelah semua kejelasan di atas, Arion dan Karina menuju kamar mereka sedangkan Amri dan Maria menuju dan memilih kamar yang akan mereka tempati untuk satu malam ini. Kamar yang pernah ditempati oleh Koya dan Tata pun menjadi pilihan.
"Lah apa-apaan tuh anak, menantu kita sepertinya kecanduan sama mereka Ma, banyak sekali album mereka di sini, malah yang terbaru sudah ada lagi," keluh Amri.
Maria mendekati lemari yang berisi jajaran album-album BTS mengambil satu yang bersampul tulisan Love Yourself.
"Mereka itu harusnya menjadi inspirasi untuk kaum muda agar bisa menggapai cita dan keinginan mereka. Apa yang mereka dapat dan rasakan saat ini itu adalah buah kerja keras mereka, serta dukungan dari pada fans mereka. Kembangkan saja keahlian dan bakat kita di bidang apa, niscaya kalau kita bekerja keras dan berdoa pasti bisa mendapatkan hasil yang gemilang. Jika gagal, kita harus tahu di mana sumber kegagalannya. Pepatah bilang kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, tapi jangan gagal terus, itu keledai namanya. Cuma Mama heran dengan Author, bakatnya entah di bidang apa? Makanya Author bingung mau ngembangkan yang mana," ujar Maria menutup apa yang ia buka.
Kemudian membaringkan tubuhnya di samping Amri.
"Apapun itu yang pasti kita harus berdoa agar ia berhasil dan sukses. Terserah dia mau mengembangkan yang mana, jika mau jadi petani ya jadilah petani yang sukses, dan bisa memasuki pasar global. Ambil jurusan pertanian juga oke, tapi sebelum itu Papa lebih berdoa agar dia mendapatkan jati dirinya lebih dahulu, BTS bisa dijadikan semangat dalam menggapai impian, jadikan impian itu nyata bukan hanya sekedar angan. Berhentilah menghalu dan berusahalah agar haluan itu tercapai! Sudah ayo tidur," ajak Amri. Maria mengangguk. Keduanya akhirnya memejamkam mata dan tertidur dengan lelap.
***
Hai kak mampir juga yuk ke karya terbaru aku. Judulnya Hati yang Terpilih. Semoga suka ya.
__ADS_1