Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 341


__ADS_3

Karina berdecak sebal, jenuh menunggu Arion yang tidak kunjung turun. Karina menerka apakah Arion bersiap untuk acara penting atau untuk berbelanja di hari libur? Akankah suaminya itu mengenakan pakaian formal? 


Ah 


Menghela nafas kasar. Memalingkan wajah ke meja ketika mendengar dering handphone. Sebuah panggilan video. Karina menjawab panggilan tersebut yang berasal dari Rian sembari menggaruk leher yang gatal.


"Good morning, my Queen," sapa Rian di sana, masih dengan wajah bangun tidur dan berada di atas ranjang. 


Rambut acak-acakan dengan hanya mengenakan kaus single tipis. Karina mengeryit tipis.


"Morning? Bukankah di sana sudah pukul sepuluh?"sarkas Karina yang disambut tawa Rian.


"Kau bangun siang hah?"


"Hm. Ayolah. Di sini memang sudah siang tapi di sana kan masih pagi. Karina aku lelah sekali setelah menjalankan misi, wajar bukan jika aku bangun siang?"


Mengaduh menunjukkan wajah minta disayang. Karina mendengus senyum.


"Baiklah. Bagaimana misimu?"tanya Karina.


"Lancar sih. Tapi aku kehilangan kesucianku," aduh Rian lagi.


"Maksudmu?"


Karina tidak mengerti.


"Dia selalu memeluk diriku, mencium pipiku, meraba dadaku, mencium leher, dan mengoyak bajuku. Huhu Karina aku sangat tersiksa batin selama misi. Aku merasa aromanya masih tertinggal di tubuhku. Dia bahkan ingin memperkosa diriku. Aku butuh istirahat untuk memulihkan mentalku,"  jelas Rian dengan wajah tersiksa, memeluk tubuhnya dengan satu tangan. 


"Astaga. Kasihan sekali kakakku ini," kaget Karina dengan nada prihatin, hanya pura-pura. 


Karina tahu misi Rian berhubungan dengan gay tapi tidak menyangka bahwa hubungan Rian dan targetnya sampai sejauh ini. Selain itu Karina juga cukup kagum dengan Rian yang sangat mendalami aktingnya.


"Lalu apa yang kau inginkan?"tanya Karina to the point menjawab ucapan terakhir Rian.


"Liburan, 3 hari di Maldives," jawab Rian seraya mengusap sudut mata.


"Aku tidak bisa mengabulkannya sekarang, Rian. Aku tahu misimu berat dan menekan batin. Akan tetapi itu adalah resiko yang harus ditanggung," tolak Karina tegas, menggelengkan kepala.


Jika ia menyetujuinya, maka akan menimbulkan kecemburuan bagi Satya dan Darwis, terlebih pada Darwis yang masih sedih dengan keadaan Joya.


"Lantas kapan?"


Meminta Karina berjanji.


"Setelah Joya dan Enji sadar. Kita akan ke liburan bersama ke Maldives," jawab Karina.


"Menunggu mereka sadar? Baikkah aku mengerti. Tapi bolehkan aku meminta sesuatu sebagai gantinya?"


Menatap Karina penuh harap. Karina mengembuskan nafas pelan. 


"Katakan!"


"Aku membawa seorang wanita dari New York. Lulusan keuangan dari universitas New York dan handal dalam hak investasi. Aku berniat untuk mengirimnya ke perusahan bidang keuangan. Menunggu kantornya di resmikan, ia akan magang di kasino, bolehkan?"tutur Rian.


"Wanita dari New York?"


Karina memberikan tatapan selidiknya. Rian menunjukkan wajah tegang. Karina menangkap sesuatu dari wajah tegang Rian.


"Kau bawa dari mana?"tanya Karina, berubah serius.


"Jalanan. Dia kabur dari pernikahan. Kau bisa mengecek sendiri identitasnya. Ia putri dari pemeluk Diamond Corp sebelumnya," ujar Rian.


Karina tidak segera menjawab. Dahinya berkerut tipis, menimbang baik buruknya. Seputar satu menit kemudian Karina kembali menatap Rian yang menanti tak sabar.


"Okay. Akan aku pertimbangan dulu. Lulus atau tidaknya, poin magang menjadi salah satu acuan. Ku harap kau membawa orang yang berkualitas, Rian. Ah ya katamu tadi ia handal dalam hal investasi, aku perlu bukti dalam tiga hari ke depan," putus Karina.


Senyum Rian mengembang.


"Aku yakin kau pasti puas!"


Entah mendapat keyakinan dari mana, Rian sangat berani menjamin Angela. Karina tersenyum tipis menanggapinya.


"Ah ya apakah Gerry sudah pulang?"tanya Karina.


"Aku tidak tahu. Aku kan baru bangun. Tapi kemungkinan sudah. Kemarin ia menyatakan akan pulang hari ini," jawab Rian.


Karina menepuk dahinya pelan. Lupa bahwa Rian baru bangun. 


Rian mengalihkan wajahnya dari layar. Karina mendengar ada suara yang memanggil Rian dengan nada keras dan kesal. Rian mendengus.


"Dasar pengganggu kau, Ya!"seru Rian yang tahu siapa yang menganggu waktunya dengan Karina.


"Sudahlah. Kau lekaslah bersiap. Jangan lupa laporan tertulis misimu. Aku juga ada acara," suruh Karina.


"Hm. Bye Karina. Aku akan menghubungimu lagi nanti malam," ujar Rian.


"Baiklah."


Karina mengakhiri panggilan video, menoleh ke arah pintu. Berdecak sebal mendapati Arion yang baru muncul. Padahal hanya menggunakan celana panjang, sweater berwarna coklat susu dan topi hitam serta kacamata, mengapa lama sekali?


"Ayo," ajak Arion, menyimpan kedua telapak tangan di dalam saku sweater.


*


*


*


Arion menyetir dengan kecepatan sedang, tidak ingin buru-buru menghabiskan waktu dengan Karina. Selama perjalanan, canda tawa dan rayuan silih berganti mereka lemparkan.


Pembicaraan mereka kini memasuki topik mengenai anak.


"Ar kamu sudah menyiapkan nama lengkap untuk kedua anak kita?"tanya Karina.


"Sudah dong."


Menjawab mantap, menoleh sekilas ke arah Karina memberikan senyum lembutnya.


Karina mengangguk.


"Tapi sepertinya kamu harus merubahnya lagi karena aku ingin ada nama keluargaku di dalamnya," ujar Karina.


Karina sedikit tidak rela jika nama anak-anaknya hanya menyandang nama keluarga Wijaya. 

__ADS_1


"Nama keluargamu? Sanjaya. Wijaya. Sawijaya?"


Arion sendiri kaget dengan apa yang ia ucapkan. Alhasil menjawab tatapan maut dari Karina.


"Enak saja! Kau pikir anakku sayuran hah?"seru Karina.


"Aku juga refleks. Itu yang terlintas di pikiranku. Please jangan marah."


Menjelaskan, takut Karina ngamuk.


Karina memalingkan wajahnya kesal. Tangan bersedekap di dada, bukannya seram Karina malah terlihat menggemaskan.


"Lantas apa?"


Meminta saran Karina.


"Sebutkan nama lengkapku," sahut ketus Karina.


"Nyonya Karina Tirta Sanjaya. Istri dari Arion Wijaya. Nyonya muda dari Wijaya Grub, istri dan ibu anak-anakku. Bidadari surgaku," jawab Arion.


Karina tersenyum tipis mendengar jawaban Arion.


"Ah aku tahu!"


Arion mendapatkan pencerahan ketika menyebutkan nama lengkap Karina.


Karina melirik.


"Tirta bukan?"


"Huh harus dikode dulu baru paham!"ketus Karina.


"Hehehehe … maafkan suamimu ini, ya," rayu Arion.


"Nanti aku belikan es krim," lanjut Arion yang melihat Karina acuh.


"Serius?"


Mata Karina berbinar. Pasalnya selama sebulan terakhir Arion melarang Karina untuk mengonsumsi es krim. Tapi yang namanya Karina mana nurut ketika hal kesukaannya dilarang. Karina tetap mengonsumsi es, hanya saja dalam porsi kecil serta berasal dari dapur cafe miliknya.


"Tapi satu mangkuk saja."


Karina langsung cemberut. 


"Eh tidak-tidak. Dua saja tidak lebih. Ingat twins, Sayang," ralat Arion cepat.


"Okay."


Arion menghela nafas lega saat senyum Karina kembali mengembang.


*


*


*


Kini Arion dan Karina tengah berada di toko perlengkapan bayi. Awalnya Karina dan Arion ingin mengajak Maria ikut akan tetapi Amri dan Maria serta Alia tengah berada di luar kota. Jika hari ini ditunda, takutnya tidak keburu lagi untuk berbelanja. Hari lahiran tinggal menghitung hari saja.


Akan tetapi hal itu kurang memuaskan Karina. Ia ingin melihat langsung barang yang akan ia beli. Selain itu ia juga bisa menghabiskan waktu berdua dengan Arion.


Memilih model dan warna box bayi, mereka berdua masih berdiskusi mengenai warna. Hanya satu warna lagi. 


"Sayang, bintangkan berwarna kuning, bagaimana jika warna kuning?"


Saran Arion menunjuk box berwarna kuning.


Mata Karina melebar tidak setuju.


"Kau kira anak-anak kita Upin dan Ipin?"gerutu Karina.


Arion menyengir, menggaruk leher yang tegak gatal. Manager toko menahan tawa mendengar hal tersebut.


"Coklat?"


"Hitam?"


"Abu-abu?"


"Biru juga?


"Merah?"


"Jingga?"


"Biru dan Jingga? Aku tidak mau nama anakku kembar dengan anak keluarga Kusuma," tolak Karina tegas.


"Hah?"


"Semua warna yang kau pilih tidak cocok dengan nama Bintang. Terlebih kita belum tahu siapa dulu yang akan lahir," lanjut Karina. 


Arion tersenyum frustasi. 


"Bukankah Jingga berhubungan dengan bintang? Bintang Kejora, Venus."


"Ya jika yang pertama lahir perempuan  tidak masalah. Bagaimana jika laki-laki duluan?"


"Warna merah. Mars," jawab Arion.


"Aku tahu!"


Setelah semua warna yang Arion sebutkan ditolak, akhirnya Karina mengambil keputusan.


"Apa?"tanya Arion penasaran.


"Kita beli semua warna," ujar Karina dengan mata berbinar. 


Arion tersedak sedangkan sang manager toko tersenyum lebar.


"Seriously?"


Menatap Karina tidak percaya, berharap Karina hanya asal bicara.


"Siapkan masing-masing set satu warna, kirim ke alamat ini."

__ADS_1


Karina memberikan alamat rumahnya pada manager toko. Manager toko menerima dengan hati yang berbunga-bunga, terlebih saat Arion memberikan black card untuk membayar semua belanjaan. 


Hah.


Tak apa. Yang penting istri dan anak bahagia. 


*


*


*


Selesai berbelanja perlengkapan  bayi, Karina mengajak Arion ke kedai es krim. Kedai es krim gelato khas Italia pun menjadi pilihan. 


Arion memesan sedangkan Karina mengambil tempat duduk. Setelah memesan, Arion menyusul Karina, duduk menunggu pesanan datang. 


Beberapa saat kemudian, pesanan Arion datang. Tiga porsi es krim berbeda varian rasa. Ada rasa tiramisu dengan topping taburan bubuk kopi, ekspreso, dan mint dengan campuran coklat chips.


Arion tersenyum was-was melihat Karina yang lahap menghabiskan es krim tiramisu yang menggunakan wafer sebagai wadah.


"Ar," panggil Karina setelah menghabiskan satu porsi es krim.


"Hm, kenapa?"tanya Arion.


"Aku ingin mie," beritahu Karina.


"Ya sudah nanti kita mampir di tempat biasa," jawab Arion.


"Maunya buat sendiri. Kamu yang buat."


"Aku yang membuat?"


Menunjuk dirinya sendiri, Arion heran dengan keinginan Karina hari ini. Apakah pada kehamilan tua juga masih ada istilah ngidam?


"Ya ya ya ya," rayu Karina mengedipkan mata menggoda.


"Kalau begitu apa bahan-bahannya ada di dapur?"


"Yes! Kita beli tepung saja."


*


*


*


Setibanya di rumah, Arion langsung menuju dapur. Tapi sebelum mencapai dapur, Arion menghentikan langkah, membeku melihat ada yang duduk di sofa ruang tengah.


Karina yang berada di belakang Arion heran dan melihat ke arah sofa.


"Miu!"pekik Karina bahagia.


Kucing jantan itu langsung turun dari soda dan mengitari Karina. 


"Akhirnya kau pulang juga."


"Sayang … siapa yang mengantarnya ke rumah?"


Arion melangkah mendekati sofa, kembali membeku dan membulatkan mata.


"Aku rasa Li. Hei kau pasti sangat merindukkanku bukan?"


Karina mengusap kepala Miu. Black panther itu mengeram, mengajak Karina menuju sofa.


Karina kembali berseru senang menemukan empat ekor jaguar kecil berwarna hitam di sofa.


Karina langsung duduk dan melihat lebih dekat keempat jaguar kecil itu. Arion sendiri menuju dapur dulu untuk menyimpan tepung yang ia bawa.


"Hei Miu beberapa bulan tidak bertemu kau sudah jadi ayah anak empat ya."


Miu yang duduk di samping Karina menatap Karina dengan tatapan kesal. 


"Tapi mengapa Li membawa anak-anakmu yang belum berisi dua minggu ini kemari? Ah ya bagaimana dengan ibu mereka?"


Kepergian Miu dari rumah ini bukan tanpa sebab. Waktu itu sudah musim kawin bagi Miu. Karina menginginkan keturunan dari Miu. Sudah cukup bagi Miu bertugas sebagai g*golo. Sudah waktunya menemukan pasangan sesama jenis. 


"Jaguarmu ini memang berbeda dari yang lain, Karina."


Karina menoleh ketika mendengar suara Li. Menaikkan alis meminta penjelasan Li.


"Biasanya jaguar jantan tidak ikut campur dalam mengurus anak. Tapi Miu ini sebaliknya. Dia bahkan menemani pasangannya melahirkan. Kau tahu dia juga selalu menunggu dirimu di markas setelah anaknya lahir. Hari ini ia terus merengek menarikku untuk membawanya dan keluarga pindah ke rumahmu," jelas Li, duduk di sofa, menatap Miu yang menjilati anak-anaknya.


"Lalu di mana pasangannya?"tanya Karina.


"Aku kandangkan di belakang," jawab Li.


"Dasar tidak sabaran kau! Anak belum buka mata sudah sibuk pindah," gerutu Li kesal.


"Bukankah di sana ada Elina?"


Menatap Miu heran.


"Sayang dia lebih lama denganmu tentu saja ia memilih dirimu," sahut Arion, duduk di samping Karina.


Mengusap dengan lembut kepala anak jaguar yang berada dalam pangkuan Karina.


"Gara-gara dia Elina ngambek di markas. Jika bukan karena dia hewan kesayanganmu aku benar-benar akan menjadikannya jaguar guling."


"Oh ya?"


Tatapan mata Karina berubah tajam pada Li. Begitu juga dengan Miu, memberikan tatapan maut disertai dengan menunjukan taringnya, mengeram.


"Oke-oke. Aku salah. Lebih baik aku segera kembali ke markas untuk menghibur Elina."


Li mengangkat kedua tangan ke atas. 


Li segera berdiri, membungkuk hormat pada Karina kemudian melangkah keluar.


"Anakmu masih butuh ASI. Minta Naina untuk membantumu membawa mereka ke kandang," ujar Karina.


Miu menatap Karina, memberi penolakan. Miu kemudian membawa salah satu anaknya dalam mulut, berlari menuju kandang. Hal tersebut dilakukan berulang sampai semua anaknya berada di kandang bersama dengan ibunya.


"Baiklah. Kau jantan yang  bertanggungjawab," puji Karina.

__ADS_1


__ADS_2