
Selepas makan siang Karina langsung membayar semua pesanan tetapi ternyata sudah dibayar duluan oleh Rizki.
Karina menunjukkan raut wajah tak suka. Dengan segera ia permisi pamit berserta kedua sekretarisnya.
Tapi lagi-lagi ia ditahan oleh Rizki. Karina menatap kesal Rizki. Rizki tetap setia dengan senyum di wajahnya.
"Mohon maaf sebelumnya Tuan Muda kedua, ada urusan apa lagi? Ini sudah jam kerja. Kami harus segera kembali ke perusahaan!" ujar Aleza tegas dan penuh tekanan.
Rizki melihat jam tangannya kemudian menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Jika ada yang mau dibahas lagi, silahkan atur jadwal lagi sebab jadwal kami dengan Anda sudah selesai!" ucap Raina.
Kesal dan emosi dengan Rizki tetapi mereka harus tetap profesional. Harus pandai mengendalikan emosi.
"Ya kalian berdua benar. Akan tetapi yang ini di luar urusan kerja. Pribadi dengan Presdir Karina," ucap Rizki, memberitahu.
Karina menaikkan satu alisnya. Ia menarik lengkung bibir yang samar.
"Kalian berdua kembali duluan. Biar aku tuntaskan urusanku dengannya!" ucap Karina, memberi perintah pada Aleza dan Raina.
Aleza hendak membantah. Namun tatapan Karina mengurungkan niatnya dan segera undur diri bersama dengan Raina.
"Kak, aku takut akan terjadi sesuatu pada Nona. Tatapan Tuan Muda Kedua Aditya itu seperti tatapan seorang kekasih kepada pasangannya. Penuh cinta," ucap Aleza cemas, saat mereka memasuki mobil dengan Aleza sebagai pengemudi.
Raina menoleh ke arah Aleza dan tersenyum.
"Tenanglah. Dia tahu apa yang dia lakukan, percaya padanya. Dan masalah Rizki itu, biarlah Nona yang menyelesaikan. Dan aku berharap itu bukan cinta dalam diam. Sebab itu menyakitkan," sahut Raina, menenangkan Aleza.
Aleza mengangguk dan segera menginjak pedal gas melaju meninggalkan parkiran mall.
Karina melipat kedua tangannya di dada dan menatap Rizki tajam, mengisyarat agar cepat tak membuang waktunya yang berharga.
Rizki sendiri masih gugup untuk mengatakan keperluannya. Ia menatap manik mata Karina dan menarik nafas.
"Kau ingat janji yang ku ucapkan waktu acara kelulusan?" tanya pelan Rizki.
"Ya aku ingat. Janji yang ku ucapkan atau diucapkan oleh lain kepadaku. Aku selalu mengingatnya jelas, kau mau menuntaskan janjimu sekarang?" jawab Karina, mengembangkan senyumnya, menjadi senyum tipis.
Mata Rizki berbinar.
"Syukurlah. Kalau begitu ayo kita ke toko perhiasan," ucap Rizki, berniat memeluk Karina.
Akan tetapi Karina sudah melenggang jalan duluan sembari melihat handphone-nya.
Rizki tersenyum simpul dan segera menyusul Karina.
Astaga! Sampai sekarang nggak dijawab juga? Ayolah, dia sedang apa sih? Coba aku cek saja CCTV kantornya, batin Karina, mengesah kesal karena panggilannya pada Arion melalui handphone tak kunjung dijawab.
Karina melirik sampingnya sesaat saat Rizki mensejajarkan langkahnya dengannya.
"Aku masih tak menyangka dirimu adalah seorang pengusaha hebat Karina. Dulu aku mengira kau itu murid beasiswa. Sebab penampilanmu sangatlah sederhana. Tak ada satupun aksesoris yang menempel pada dirimu dulu walaupun hanya seutas gelang benang. Yang ada hanyalah sebuah pita rambut," tutur Rizki.
Karina acuh dan memilih meretas CCTV ruangan Arion.
Dan dulu aku berharap aku adalah pria yang menyematkan cincin di jari manismu. Tapi tak apa, masih keburu kok, lanjut Rizki dalam hati, menatap Karina yang sibuk dengan handphonenya.
"Hei, lihat jalanmu Karina," tegur Rizki melihat keseriusan Karina pada handphone.
Karina menggumam.
Dia sudah keluar ruangan pukul 10.00 dan belum kembali sampai sekarang. Meeting dengan siapa ya? batin Karina menyimpan handphonenya sebab kini mereka sudah tiba di salah satu toko perhiasan terbesar di mall ini.
"Pilihlah yang kau suka. Aku akan membelikannya untukmu," ucap Rizki, meminta cincin terbaik di toko ini.
Karina mengedarkan pandangannya melihat etalase di bawah lengannya. Ia memilih dengan serius.
"Kau tetap cantik seperti dulu," cetus Rizki tanpa sadar menyentuh wajah Karina.
Plak!
Langsung saja tangannya kena pukulan keras dari Karina ditambah tatapan membunuh Karina.
"Jaga sikapmu! Aku sudah menikah atau kau akan benar-benar kehilangan tanganmu," ancam Karina.
Rizki diam saja tidak menjawab. Pegawai toko mengeryit melihat dan mendengar obrolan Karina dan Rizki.
__ADS_1
"Duh, Tuan, Nyonya, jangan sering bertengkar, tak baik. Suaminya perhatian jangan diketusin, nanti berpaling loh. Nyonya juga sedang hamil bukan?" ucap pegawai toko yang mengira Karina dan Rizki adalah pasangan suami istri yang tengah bertengkar.
Rizki tersenyum lebar mendengar itu. Ia tersenyum menatap Karina yang kini mengeluarkan aura suramnya.
Wajahnya yang dingin menatap pegawai toko tersebut seperti hendak menelannya hidup-hidup.
"Dia bukan suamiku! Dia hanya rekan kerja yang berhutang janji padaku! Jangan asal bicara! Apa kau tak pernah membaca atau menonton berita?" tegas Karina dengan nada dinginnya.
Wajah pegawai toko itu campur aduk, antara bersalah, takut, ngeri juga kaki yang lemas.
Untunglah pemilik toko segera datang dan mengambil alih tugas melayani Karina.
"Selamat datang Presdir, Anda mencari cincin? Lihatlah .. ini semua yang terbaik dan terbaru di toko saya yang kecil ini," ujar pemilik toko dengan senyum mengembang dicampur was-was.
"Aku ambil yang ini!" ucap Karina menunjuk sebuah cincin.
"Wah, selera Anda memang yang terbaik. Ini adalah yang paling-,"
Belum selesai pemilik toko menjelaskan, Karina sudah memotongnya.
"Cepat sedikit. Penjelasanmu lain kali saja. Aku ada urusan lain!" ucap Karina.
Rizki menunjukkan raut wajah tak senangnya. Namun segera berganti dengan senyum mengembang.
"Jangan cepat emosi," ucapnya lembut.
Pemilik toko memilih bungkam sebelum ditanya atau diajak bicara daripada usahanya yang tutup.
"Aku akan memakaikannya," ucap Rizki segera mengambil cincin pilihan Karina dan meraih tangan kanan Karina dan menyematkan cincin di jari manisnya.
Karina tak sempat menolak ataupun menahan. Gerakannya sangat cepat.
"Lancang dirimu," desis Karina.
Rizki malah semakin tersenyum dan mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya.
Rizki meringis dalam hati saat mengetahui harganya. Hampir setengah isi kartunya lenyap karena satu benda. Untunglah itu untuk orang yang spesial, jika tidak bisa gila dirinya.
Karina tersenyum dalam hati. Iasudah tahu harga dari cincin yang ia pilih. Ini maksud menangih janjinya tadi.
Karina menoleh ke belakang dan mendapati suaminya dan Ferry dengan wajah menyelidik.
"Ar," ucap Karina, membuat Rizki terkesiap dan menoleh ke arah Karina lalu ke arah Arion.
Arion menunjukkan tatapan tajamnya pada Rizki.
"Sedang apa dan mengapa kau bersama dengan Tuan Muda kedua keluarga Aditya Alamsyah?" tanya Arion datar, menatap Karina meminta penjelasan.
"Ah, begini Tuan Arion. Saya hanya berniat membelikan istri Anda sebuah cincin sebab saya melihat kesepuluh jari istri Anda kosong tak ada pengikat. Andainya saya tidak mendengar kabar kalian sudah menikah, saya akan mengira bahwa Karina masih single atau janda muda dengan kehamilannya. Oleh sebab itu saya membawa beliau kemari dan menyematkan cincin di jari manisnya, bagaimana cantik tidak?"
Rizki bukannya menjelaskan yang benar malah seakan memanas-manasin Arion.
"Kau! Sialan!" umpat Karina menunjuk wajah Rizki dengan telunjuk kanannya.
Arion mengeryit dan melihat jari-jari tangan Karina. Jari manis lengan kanan tersemat cincin yang dibelikan oleh Rizki.
"Karina, mana cincin pernikahan kita?" tanya Arion menangkap tangan Karina.
"Ada kok," jawab Karina spontan.
Tak ada raut wajah takut mengenai cincin tapi takut dengan Arion yang menunjukkan aura suram dan mencekamnya.
"Kau sudah menikah dan tak seharusnya cincin itu lepas dari jarimu! Apa kau mau dikira single dan mencari pria lain di luar rumah Karina? Sadar! Kamu sudah menikah dan mengandung. Apa penghasilanku dan penghasilanmu kurang banyak hingga kau memilih tak memakai cincin nikah atau perhiasan apapun agar kau bisa dibelikan oleh pria lain?" marah Arion, mencengkram erat pergelangan Karina.
Karina mengerakkan matanya merasa sakit.
Mati! Dia cemburu dan marah! Hei beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya. Si sialan ini lagi, awas kau! Bersiaplah terima akibatnya! batin Karina mengumpat kesal pada Rizki.
"Hei, lepaskan Karina! Kau menyakitinya!" seru Rizki.
"Diam! Kau siapa?" tanya Arion kesal.
"Ar, tenanglah sejenak!" ucap Karina.
Arion abai dan mengeratkan cengkramannya pada Karina. Karina berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
"Tuan muda, lebih baik kita segera pergi dari sini, saya khawatir ini akan jadi trending topik beberapa saat ke depan jika ini terus berlangsung!" ucap Ferry berbisik pada Arion.
Menyadari pasang mata yang menonton mereka, membuat Arion menatap Karina, masih dengan wajah datarnya.
"Kita pulang dan terima kasih atas perhatian besar Tuan Muda Kedua Aditya!" ujar Arion, menarik Karina keluar dari toko perhiasan.
Ferry tinggal sejenak untuk membereskan oknum yang ingin memviralkan kejadian ini melalui handphone mereka.
"Ternyata kau adalah penguji rumah tangga mereka. Jangan teruskan, kau tak akan kuat menanggung akibatnya. Cukup sampai sini saja dan cari wanita lain, jangan jadi pebinor!" ucap Ferry memperingati Rizki yang menatap dalam diam kepergian Karina dan Arion.
Rizki melirik sinis lalu mendengus dan meninggalkan toko perhiasan.
"Sekalipun mereka sudah menikah dan bahagia. Aku akan merusak dan menjadikan Karina wanitaku. Biar bagaimanapun aku yang lebih dulu kenal dan cinta pada Karina," gumam Rizki.
Tersenyum penuh misteri.
"Hei pelanlah sedikit! Aku hamil dan kau emosi!" seru Karina kesal pada Arion yang menariknya tanpa memperhatikan langkah Karina.
Arion cuek. Karina tak berhenti dengan mulut bebeknya. Itu berhasil membuat telinga Arion panas dan menghentikan langkahnya mendadak. Membuat Karina terkejut dan menabrak punggung Arion keras.
"Auh, pakai lampu tangan kalau mau berhenti!" ringis Karina menyentuh hidungnya.
Arion membalikkan badannya dan menatap Karina. Tanpa aba-aba, Arion langsung mengendong Karina ala bydal style. Karina mengalungkan kedua tangannya pada leher Arion dan tersenyum manis.
"Akan ku jelaskan apa yang terjadi," ucap Karina, menyandarkan kepalanya pada dada Arion dan memejamkan matanya.
Tanpa keduanya sadari, ada yang terbakar amarah dan hati dengan itu. Siapa lagi kalau bukan Rizki. Ia mengepalkan tangannya dan bertekad bulat dalam hati.
Setibanya di mobil Arion, sang sopir langsung membukakan pintu. Arion mendudukan Karina lalu baru masuk. Arion langsung menarik sekat penutup antara kursi penumpang dan kursi pengemudi. Tak lupa mengaktifkan mode kedap suara.
"Astaga, baru sebentar saja sudah tidur."
Arion menggelengkan kepalanya mendengar dengkuran halus dari Karina. Arion lantas memegang telapak tangan kanan Karina dan memcoba membuka cincin yang tersemat di sana.
Akan tetapi, cincin itu tak mau keluar dan menimbulkan rasa sakit pada jari Karina. Dan membuat Karina terbangun.
"Tak bisa dibuka?" tanya Karina dengan mata mengantuk.
"Hm, mana cincin nikah kita dan semua perhiasan yang aku belikan. Penampilan kamu terlalu sederhana dan polos, berbeda jauh dengan derajat sosial kita," ucap Arion. Menyelidik Karina. Karina tersenyum.
Karina mengarahkan tangan kirinya ke leher dan menarik sesuatu dari sana. Karina menunjukkan kalung berwarna putih dan sebuah cincin sebagai liontinnya.
"Nih, cincin nikah milikku. Kau tahu bukan aku risih memakai aksesoris lebih dari dua. Dan untuk lebih enaknya aku gabungkan keduanya jadi kalung dan ini lebih dekat di hati daripada di jari. Jika di jari, aku harus menarik tanganku dan meletakkannya di dada, jauh, bagusan begini," jelas Karina. Arion menelaah. Tak lama ia mengembangkan senyumnya.
"Mengapa tak kamu jelaskan tadi?" tanya Arion.
"Aku kira kamu tahu, huh dasar gak peka!" cibir Karina.
"Lalu yang tadi itu apa? Kamu membuatku cemburu. Lihat cincinnya tidak mau lepas. Yang, dia itu menyukaimu!" ucap Arion, mengeraskan wajahnya mengingat kejadian tadi.
"Apa harus memotong jariku untuk melepaskan cincin ini?" tanya Karina, serius. Arion menggeleng.
"Tangan pria itu yang harus dipotong. Lancang sekali memakaikan cincin padamu!" tegas Arion.
"Tunggu, kau bilang dia menyukaiku?" heran Karina. Memang dia tidak peka terhadap perasaan orang, oleh karena itu ia memilih menikah dengan Arion tanpa ada sesi pacaran dan seletingannya.
"Kau memang tidak peka. Tidakkah kau lihat tatapan matanya?" keluh Arion.
"Mana aku tahu," ucap Karina. Karina segera menjelaskan semua masalah dari A-Z tentang kejadian hari ini.
"Aku percaya padamu. Mana mungkin kamu menghianatiku. Di depan umum lagi," ucap Arion mencium kening Karina.
"Jadi kamu tadi akting?" tanya Karina.
"Sebagian," jawab Arion.
"Tapi kau berhasil membuatku cemburu dan kau harus menanggung akibatnya. Mau di sini atau nanti malam?" ucap Arion menaikkan sudut bibirnya smirk.
"Kalau di sini?" tanya Karina memperjelas.
"Kalau di sini aku akan segera menerkammu!" jawab Arion.
"Oh, kau mau membuatku patah kaki? Lihat akibat ulahmu! Kakiku sakit! Cepat pijat dan biarkan aku istirahat. Aku lelah," ucap Karina, menyetel tempat duduk agar ia lebih nyaman. Arion mendengus dan segera memijat kaki Karina dengan perlahan.
"Eksekusi orang ini. Foto akan segera aku kirimkan. Ingat, patahkan tangan kanannya!" titah Karina pada seseorang melalui jam tangannya.
__ADS_1