
Suara alat makan yang beradu menjadi melodi alami menemani sarapan Karina, Arion, dan Bayu. Arion, sembari terus menyuapkan sarapan ke dalam mulutnya, mencuri pandang terhadap Karina. Entahlah, semenjak bangun, Karina tidak bicara sepatah katapun. Ditanya, jawabannya hanya mengangguk, menggeleng, dan melirik. Raut wajah Karina dingin.
Arion menerka dalam hati bahwa Karina pasti mendengar sesuatu yang tidak mengenakkan, yang membuat Karina tidak senang.
Arion memberikan Karina waktu tersendiri untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Ia akan membantu, jika Karina meminta, ataupun melihat Karina tidak bisa menyelesaikan. Sebab, dari yang ia pelajari selama ini, cukup percaya pada Karina makan semua akan baik - baik saja.
Sedangkan Bayu, melirik bergantian Karina dan Arion. Jujur, ia sedikit tidak nyaman dengan suasana ini. Melihat wajah Karina yang dingin dengan sorot mata tajam, membuat Bayu bergidik sendiri. Ia bertanya- tanya dalam hati, ada apa gerangan yang membuat Karina seperti ini di pagi yang cerah ini.
"Yang," panggil Arion lembut saat mereka telah selesai sarapan.
Bik Mirna dan dua pelayan lain segera membereskan meja makan. Karina yang baru selesai meminum susu ibu hamil menoleh dengan mengangkat alis.
Sepertinya sudah lebih baik, batin Arion sedikit lega.
"Ada masalah apa?" tanya Arion memberanikan diri untuk bertanya lagi setelah sekian jam tidak ditanggapi oleh Karina secara lisan, juga tidak tahan dengan suasana hening yang tercipta sebab Bayu pun tidak buka mulut.
Karina menggeleng. Hanya menggeleng, tidak ada tanggapan lain.
"Apa sangat tidak menyenangkan hingga membuatmu begitu marah? Ceritakan padaku, agar bebanmu juga berkurang. Atau adakah yang menggangu pikiranmu?" bujuk Arion. Lagi, Karina hanya menggeleng.
Arion menghembuskan nafas, ia meraih jemari tangan Karina dan menggenggam erat.
"Ayolah, aku yakin ada yang kamu sembunyikan. Jika kamu diam seperti ini, pasti kamu sedang marah atau merencanakan sesuatu. Aku tidak ingin tahu rencanamu, aku hanya ingin tahu sebab kemarahanmu. Barangkali aku bisa memadamkan atau mengurangi api amarah dalam dirimu. Karina, Sayang ," tutur Arion, tersenyum teduh.
Mata Karina bergerak, menatap Arion cukup lama. Tatapan mata datar itu berubah menjadi tatapan penasaran. Arion mengeryit.
"Mengapa kamu tidak penasaran dengan rencanaku?"
Akhirnya Arion mendengar suara Karina di awal pagi yang cerah ini. Bayu mendengar obrolan Karina dan Arion seraya bermain handphone.
"Apa kamu tidak ingin yang pertama tahu apa rencanaku?"tanya Karina lagi, mendesak Arion untuk menjawab.
Arion tersenyum, satu tangannya lagi bergerak menyentuh pipi Karina.
"Karena pada akhirnya kamu akan memberitahu diriku. Ya, kamu benar. Aku ingin menjadi yang pertama tahu rencanamu. Akan tetapi, seandainya rencana yang kamu rencanakan berhubungan dengan perusahaanmu, berhubungan dengan rahasia perusahaan, apakah layak untukku mendesakmu berbagi denganku? Secara dalam bisnis tidak kenal apakah kita keluarga atau bukan. Kamu adalah seorang CEO, saat ini memang perusahaan kita sedang menjalin kerja sama, akan tetapi itu akan berakhir kurang dari satu bulan lagi. Selanjutnya? Kita bisa jadi kawan kembali, atau jadi lawan," jelas Arion panjang diakhiri dengan senyum menawan. Karina menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring.
"Benarkah?" Arion mengangguk menyakinkan.
"Akan ke beritahu. Memang aku merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan perusahan dan mafia milikku yakni rahasia."
Arion mendengus, seharusnya ia tidak berharap Karina buka apa yang ada di otaknya. Tapi ya sudahlah, sudah biasa.
"Ya rahasia. Aku akan menunggu hasil rencanamu. Selagi menunggu, aku akan mempersiapkan diri sebagai suami dan CEO untuk melihat apa hasil rencana kamu. Buatlah yang mencengangkan dan membuat namamu tercatat dalam sejarah," tukas Arion.
"Pasti!"sahut Karina mantap dengan senyum misterius miliknya.
"Ehem." Bayu mendehem, membuat Karina dan Arion menoleh pada Bayu.
Arion menarik tangan dari pipi Karina, tapi jemari tangan mereka masih bertautan.
"Sudah jam berapa? Apa kalian tidak ke kantor?"tanya Bayu sembari menunjuk jam dinding.
Karina dan Arion serentak menoleh ke arah jam. Reaksi mereka hanya mengangkat alis melihat jarum pendek berada di angka 08. Sedangkan jarum panjang di antara 1 dan 2.
"Kamu mau tinggal di rumah saja?"tanya Karina.
__ADS_1
Bayu mengangguk.
"Enggak mau ikut? Nanti kamu mati kebosanan di sini," tawar Karina.
Bayu tampak berpikir.
"Bayu takut ganggu Kakak. Bayu enggak mau buat Kakak ataupun ketiga Kakak kemarin repot. Kakak kan sibuk sekali di kantor," ungkap Bayu menunduk.
"Ke rumah Mama dan Papa bagaimana?"tanya Arion, ia juga tidak mungkin membawa anak seperti Bayu ke perusahannya. Bayu menggeleng.
"Mereka sudah sibuk mengurus Alia. Aku tahu Alia sekarang punya penyakit pernafasan, mereka harus ekstra waspada terhadap kesehatan Alia. Jadi aku di rumah saja. Di sini banyak yang bisa dilakukan, jadi aku tidak akan bosan terlebih stok makanan yang selalu aman, bagai hidup di surga," jawab Bayu meyakinkan.
"Ah … bagaimana jika kamu berkunjung ke rumah calon mertua?"
Arion tersenyum menggoda pada Bayu. Bayu mengeryit tidak mengerti.
"Maksudnya?"
Karina sangat tidak nyaman dengan ucapan Arion barusan.
"Jadi kalian belum tahu?"tanya Arion terkejut.
"Tahu apa Kak? Calon mertua apa? Apa ini perjodohan dini? Ini sudah zaman modern, bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Perjodohan bukan zamannya lagi. Aku belum lulus SD sudah sibuk dicarikan jodoh. Memangnya aku tidak bisa mencari jodoh sendiri?"gerutu Bayu mengubah raut wajahnya jadi kesal.
"Serius belum tahu?" Arion masih memastikan.
"Jelaskan saja atau aku mencari tahu sendiri. Siapa yang berani mengatur perjodohan untuk Bayu?"ancam Karina, mengeluarkan aura menindasnya.
Arion terkaku sejenak. Arion lalu menarik nafas dan menghembuskan perlahan.
"Oke."
"Hah? Gila ya? Berani sekali keluarga itu berterus terang! Pasti ini ulah gadis gila itu! Tidak! Aku menolaknya. Aku tidak mau dijodohkan dengannya. Gila benar - benar gila. Apa dia anak berusia 8 tahun? Aku ragu, otaknya sudah terlalu jauh memikirkan hal yang seharusnya untuk orang dewasa. Apa keluarga juga tidak punya muka? Aku tidak mau."
Bayu mencak - mencak geram dengan Alia dan keluarga Graham. Karina tidak memberi reaksi berlebihan atau wajar, ia hanya memberikan tatapan bertanya pada Arion.
Lihat saja kau Alia! Akan ku buat kau menyesali permintaan b*dohmu ini juga keluargamu!geram Bayu dalam hati. Matanya memancarkan sorot mata membunuh dengan tangan mengepal.
"Papa belum memberikan jawaban."
Arion menghela nafas lega saat Karina tersenyum.
"Baguslah! Tidak terbayang jika Papa menerimanya," ucap lega Bayu, wajah geram, sorot mata membunuh, dan kepalan tangan seketika sirna, wajahnya berseru senang.
"Jikapun menerima, tidak akan terlaksana, Papa bukan Ayahmu. Kalian tidak memiliki ikatan darah. Jadi, mereka baik Papa ataupun Mama tidak ada hak mengatur ataupun memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan hidup kalian. Mereka hanya bisa memberi saran ataupun menasehati kalian. Tidak sekalipun bisa!"tegas Karina.
"Ah benar juga!" Bayu bernafas lega lagi.
"Aku sudah putuskan!"ucap Bayu lagi.
"Memutuskan apa?"tanya Arion penasaran.
Ia tidak tersinggung dengan ucapan Karina karena memang fakta.
"Aku akan ke markas Kakak saja. Di sana aku bisa belajar banyak sekaligus bisa mendapat mentor," jawab Bayu.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Karina setuju.
"Baiklah, mari kita berangkat," ajak Arion. Karina dan Bayu mengangguk.
Bayu bergegas menuju kamar untuk mengambil tas berisi keperluannya selama di markas nanti sedangkan Karina dan Arion langsung menuju ke depan. Kedua mobil berbeda warna sudah menunggu manis berikut dengan sopir. Sopir Arion membukakan pintu untuk Arion. Sedangkan Arion, membukakan pintu mobil Karina dan mempersilakan Karina masuk.
Tak lama Bayu menyusul. Arion menutup pintu. Pak Anton menunduk hormat dan langsung menuju kursi kemudi. Barulah Arion masuk ke dalam mobilnya.
Kedua mobil itu melaju beriringan meninggalkan kediaman Karina menuju tujuan masing - masing. Mereka berpisah di perempatan, Arion menunggu lampu merah menjadi hijau sedangkan Karina lanjut sebab tujuan mereka belok kiri yang mana kiri jalan terus.
Setibanya di markas, Karina tidak langsung menuju perusahaan. Ia memanggil Li dan Gerry ke ruangannya. Sedangkan Bayu, diantar oleh pengawal menuju kamar untuknya istirahat.
"Sesulit itukah menanganinya?"tanya Karina dengan nada mencibir.
"Kami sudah sebisa mungkin meredam keinginannya. Tapi dia tetap kekeh sekalipun kami mengancamnya. Ia ingin Queen menghadiri sendiri acara tahunan itu. Ia tidak menerima lagi Anda hadir melalui sambungan video ataupun perwakilan. Ia menegaskan acara tahun ini berbeda dari acara tahun - tahun sebelumnya. Maafkan kami Queen, kamu tidak becus."
Gerry menunduk setelah menjelaskan.
"Dia mengancam akan bunuh diri di hadapan Anda langsung jika Anda menolak. Ia tidak menerima penolakan apapun. Queen, apa Anda akan hadir?"tambah Li. Karina memijat dahi.
"Pak Tua ini sungguh banyak tingkah. Tahun kemarin ia memintaku mengganti topengku, sekarang memintaku datang langsung? Apa dia sudah bosan hidup? Jika mau mati, mati saja di tempatnya sana. Mengapa harus repot - repot datang kemari? Lagipula usianya sudah cukup untuk mati! Andai saja jika ia bukan adik guru, sudah ku bunuh duluan ia. Kerjanya hanya membuatku kesal," gerutu Karina kesal.
"Queen, biar bagaimanapun beliau …."
"Aku tahu Li. Tapi tetap saja, ia membuatku kesal," potong Karina.
"Lantas apa yang harus kami sampaikan nanti, ia akan menelepon lagi meminta jawaban," tanya Gerry.
"Ish! Perjalanan ke sana cukup jauh. Empat bulan. Minta ia mengundur acara sampai bulan empat. Jika tidak mau, aku tidak keberatan menyaksikan dia mati," tukas Karina.
Memang tidak berubah, darah dingin, batin Li.
Queen tetaplah Queen, batin Gerry.
"Baik Queen," jawab Li dan Gerry bersamaan.
"Ah ya, bagaimana dengan Syaka?"tanya Karina, penasaran dengan perkembangan Syaka di sini.
"Anak itu, ia lebih dominan kepada fisik dan senjata, terutama senjata api. Untuk urusan otak sendiri, sudah cukup tapi tertutup oleh kemampuan fisiknya," jelas Gerry.
"Syaka, fisik. Bayu otak?"gumam Karina.
"Aku setuju. Syaka dan Bayu akan menjadi rekan yang sangat kuat jika digabung. Mereka saling melengkapi. Queen, mereka bisa menjadi aset berharga Pedang Biru," ucap Li semangat.
"Begitu ya?" Li mengangguk, diikuti oleh Gerry yang setuju.
"Kalau begitu, akan lebih baik jika Bayu tinggal di sini," ujar Karina.
"Ya, mereka harus dikenalkan dan didekatkan lebih dulu. Mereka harus mendapat kenyamanan untuk menjadi rekan. Selain itu, dengan Bayu tinggal di sini, bisa mengefektifkan pembelajaran serta tingkat solidaritas mereka. Bayu akan mendapat mentor terbaik untuk pengetahuannya. Tapi, ia harus keluar dari sekolah umum, apa Bayu mau?" Gerry menimpali ucapan Karina.
"Biar ku pikirkan dulu. Kalian lakukan semuanya dengan baik. Hubungi aku jika Pak Tua itu sudah membuat keputusan," ucap Karina. Setelah melalukan beberapa pekerjaan lagi, Karina berangkat menuju perusahan.
Setibanya di perusahaan, ternyata para karyawan sudah selesai melalukan kerja bakti dan kembali ke meja masing - masing. Setibanya di ruangan, Karina langsung disambut dengan uraian jadwal dari Sasha.
"Baiklah, persiapkan semuanya. Aku akan meeting dengan perusahaan Zhi Yi Teknologi, selesai makan siang kita berangkat," ucap Karina.
__ADS_1
"Baik," jawab Sasha, berlalu keluar.
"Benar. Rencanaku akan mengejutkan dunia, terkhusus bidang teknologi. Zhi Yi, aku harap kalian tidak mengecewakan kepercayaanku," gumam Karina